NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tebasan Amarah

​Matahari siang bolong menyengat atap seng rumah Sugeng, menciptakan hawa pengap yang menyesakkan dada. Di dapur yang sempit, Wiwin mencoba menulikan telinga dan mematikan perasaannya. Tangannya sibuk menguleni adonan kue bolu pesanan arisan ibu-ibu PKK besok pagi. Keringat bercucuran di pelipisnya, namun hatinya jauh lebih panas dari suhu oven di sampingnya.

​Pertengkaran hebat hingga subuh tadi menyisakan luka batin yang menganga. Sugeng benar-benar berubah. Pria itu tidak lagi memandangnya sebagai istri, melainkan sebagai pengganggu.

​Sekitar jam sepuluh tadi, Sugeng pulang dengan muka kusut dan mata yang merah, entah habis keluyuran dari mana. Tanpa menyapa, tanpa menoleh, pria itu langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Wiwin hanya bisa menghela napas panjang, menelan bulat-bulat rasa sakit hatinya demi menyelesaikan pesanan kue yang menjadi satu-satunya sumber uang tambahannya.

​"Diam lebih baik, daripada ribut lagi," gumam Wiwin sambil memasukkan loyang ke dalam panggangan.

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di tengah suara gemericik air dan denting loyang, telinga Wiwin menangkap suara yang sangat ia kenali—suara yang membuatnya terjaga sepanjang malam tadi.

​“Ahhh... mmmhh... terus, Sayang... jangan berhenti...”

​Suara erangan kenikmatan itu keluar dari balik pintu kamar yang tertutup rapat. Wiwin mematung. Tangannya yang berlumuran tepung gemetar. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah igauan Sugeng yang kelelahan, namun suara itu semakin jelas, semakin ritmis, dan semakin menjijikkan.

​Dengan langkah kaki yang diringankan, Wiwin mendekati pintu kamar. Ia menempelkan telinganya ke kayu pintu yang kasar. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.

​“Oohh... Sayang... nikmat sekali, Sayang...”

​Darah Wiwin seolah berhenti mengalir saat panggilan itu meluncur dari bibir suaminya. Meskipun samar, ia sangat yakin mendengar panggilan wanita itu. Namun, yang lebih mengerikan adalah ketika Wiwin mengintip melalui celah lubang kunci yang sudah longgar.

​Di dalam keremangan kamar yang gordennya tertutup rapat, Wiwin melihat sekelebat bayangan wanita. Bayangan itu samar, seolah-olah terbuat dari asap hitam yang pekat, namun memiliki lekuk tubuh yang sempurna. Wanita itu tampak sedang merunduk di atas tubuh Sugeng.

​Wiwin mengucek matanya, jantungnya berpacu gila. Saat ia melihat kembali, bayangan itu seolah menyatu dengan kegelapan sudut kamar, namun suara desahan wanita yang halus dan memuakkan itu masih terdengar jelas di sela-sela erangan suaminya yang menggila.

​"Setan! Kamu bawa lacur ke dalam kamarku!" desis Wiwin. Amarah yang sudah menumpuk sejak kemarin kini meledak, membakar habis sisa kesabaran dan akal sehatnya.

​Ia berbalik dengan cepat menuju dapur. Matanya liar mencari sesuatu. Pandangannya jatuh pada sebuah golok panjang dengan gagang kayu yang biasa dipakai Sugeng untuk membabat rumput dan ilalang di kebun. Golok itu baru saja diasah tajam tempo hari.

​Wiwin menyambar golok itu. Logam dinginnya seolah memberikan kekuatan gelap pada tangannya yang gemetar. Ia tidak lagi peduli pada nasibnya, tidak peduli pada anak-anaknya yang sedang bermain di luar. Yang ia inginkan hanyalah menghentikan kenikmatan jahanam yang sedang dirasakan suaminya di atas ranjang mereka.

​Krieeet...

​Wiwin mendorong pintu kamar dengan pelan namun pasti. Suara derit kayu ranjang bambu yang beradu dengan lantai terdengar semakin kencang, seirama dengan napas Sugeng yang memburu.

​Di dalam kamar, Wiwin melihat pemandangan yang membuatnya benar-benar gila. Sugeng sedang telanjang bulat. Matanya terpejam rapat dengan raut wajah yang penuh dengan kepuasan surgawi. Pria itu sedang menindih guling panjang dengan posisi yang sangat menjijikkan, menggesekkan bagian pribadinya ke guling itu seolah-olah guling itu adalah sosok wanita yang paling ia dambakan.

​Kemaluan Sugeng berdiri tegak , menegang sangat keras hingga urat-uratnya terlihat menonjol. Itulah sisa-sisa energi ghaib dari "perjamuan" semu yang dikirimkan oleh susuk Suanggi milik Ratri. Sugeng benar-benar terhipnotis; dalam otaknya, ia sedang memeluk tubuh Ratri yang kenyal dan wangi, sedang memuaskan dahaga nafsu yang tak pernah berakhir.

​Wiwin melangkah maju. Bayangan wanita asap yang ia lihat tadi sudah hilang, namun aroma melati yang busuk masih tercium menyengat. Ia berdiri tepat di samping ranjang. Sugeng sama sekali tidak menyadari kehadiran istrinya. Ia terus mengerang, pinggulnya bergerak liar menindih guling.

​"Kamu mau ini, Mas? Kamu mau burungmu ini dipakai untuk wanita lain?!" suara Wiwin terdengar sangat dingin, hampir seperti suara dari liang kubur.

​Sugeng masih tidak bangun. Ia justru mendesah lebih kencang, seolah merespons suara Wiwin sebagai bagian dari fantasinya.

​Tanpa pikir panjang, dengan gerakan yang didorong oleh dendam dan sakit hati yang memuncak, Wiwin mengangkat golok itu tinggi-tinggi. Ia membalikkan badan suaminya dengan kaki kiri, membuat Sugeng terlentang dalam kondisi masih terpejam dan ereksi maksimal.

​SRAKKKK!

​Mata golok yang tajam itu menebas tepat ke arah pangkal kemaluan Sugeng. Tebasan itu begitu kuat dan telak, memutus urat dan daging dalam satu ayunan yang membabi buta.

​"AAAGGGHHHHHHH!!!!"

​Jeritan Sugeng membelah kesunyian siang itu. Suara itu bukan lagi suara manusia, melainkan suara binatang yang sedang disembelih. Seketika, halusinasi indahnya bersama Ratri hancur lebur. Rasa nikmat surgawi berganti menjadi neraka yang paling nyata.

​Sugeng melonjak, matanya melotot tajam menatap langit-langit kamar sebelum akhirnya ia berguling ke lantai. Darah segar menyembur keluar, memerahkan seprai, lantai, dan memercik ke wajah Wiwin yang masih memegang golok dengan tangan gemetar.

​"SAKITTTTT! WIWIN, APA YANG KAMU LAKUKAN?! TOLOOOONGGG!" Sugeng menjerit-jerit sambil memegangi selangkangannya yang kini hancur bersimbah darah. Potongan daging yang dulu ia bangga-banggakan kini tergeletak tak berdaya di atas seprai yang mulai basah oleh cairan merah.

​Wiwin hanya berdiri mematung, menatap suaminya yang menggeliat-geliat seperti cacing yang disiram garam. Ia tidak menangis. Ia justru tersenyum getir melihat laki-laki yang telah menghina harga dirinya itu kini merangkak di bawah kakinya dengan kondisi yang mengerikan.

​"Makan itu mimpimu, Mas! Makan itu kesayangan-mu!" teriak Wiwin sambil melemparkan golok berdarah itu ke samping Sugeng.

​Di saat yang bersamaan, Bambang sedang berjalan menuju rumah Sugeng. Ia membawa joran pancing di bahunya, berniat mengajak sahabatnya itu memancing di sungai untuk mendinginkan kepala setelah obrolan panas di warung tadi pagi.

​Baru saja ia sampai di depan pintu rumah yang terbuka sedikit, telinganya menangkap suara jeritan yang memilukan.

​"Sugeng? Geng?!" Bambang berlari masuk. Ia mengira ada maling atau musibah lain.

​Begitu ia sampai di ambang pintu kamar yang terbuka, langkah kaki Bambang terkunci. Matanya membelalak horor. Ia melihat Wiwin berdiri dengan baju yang terkena percikan darah, sementara Sugeng telanjang bulat di lantai, berguling-guling dalam kubangan darahnya sendiri. Bau anyir darah segar yang menyengat memenuhi ruangan.

​"Ya Tuhan... Wiwin! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Bambang, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Wiwin menoleh ke arah Bambang. Matanya kosong, tidak ada penyesalan di sana. Ia menunjuk ke arah ranjang dengan dagunya. "Dia lebih suka guling daripada aku, Bang. Jadi aku bantu dia melepaskannya."

​Bambang menatap ke arah ranjang dan melihat potongan daging yang terputus di sana. Ia merasa mual yang luar biasa. Perutnya bergejolak. Pemandangan itu jauh lebih mengerikan dari film horor mana pun yang pernah ia tonton.

​"TOLOOOONGGG! ! TOLOOOONGGG!"

​Bambang langsung berbalik dan berlari keluar rumah secepat yang ia bisa. Ia berteriak-teriak sepanjang jalan desa, mengundang perhatian warga yang sedang beristirahat siang.

​"SUGENG DIBACOK ISTRINYA! SUGENG MATI! TOLOOOONGGG!"

​Dalam hitungan menit, rumah Sugeng yang tadinya tenang berubah menjadi lautan manusia yang panik. Namun di tengah kegaduhan itu, tidak ada yang menyadari bahwa di kejauhan, di batas desa, seekor anjing hitam besar tampak duduk tenang di bawah pohon beringin, menatap ke arah rumah Sugeng sebelum akhirnya menghilang di balik kabut siang yang ganjil.

1
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!