NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:22k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Katakutan Warga

"Sekarang desa terasa sudah tidak aman lagi." Ujar warga yang saat itu sedang berkumpul minum kopi di warung Bu Tati.

"Iya. Saya juga jadi takut keluar malam." Sahut salah satu yang ada di warung itu.

"Saya juga biasanya buka warung sampai malam sekarang jadi was-was. Sudah terasa tidak aman lagi." Bu Tati ikut nimbrung.

"Bukan cuma masalah aman atau tidak aman," sahut Pak Darmo, salah satu warga senior yang sejak tadi hanya terdiam menyesap kopi pahitnya.

"Ini masalahnya kita tidak tahu siapa, atau apa, yang kita hadapi. Kalau maling, kita bisa kepung pakai dan hajar. Tapi kalau leher bisa terpilin dan sampai membusuk dalam sekejap, apa yang mau kita lawan?"

Warung Bu Tati mendadak hening. Ucapan Pak Darmo membuat beberapa orang di sana spontan membetulkan posisi duduk mereka agar saling berdekatan. Mengingat kondisi mayat Herman membuat bulu kuduk mereka kembali berdiri.

"Saya dengar dari si Udin tadi," lanjut seorang pemuda bernama Andi dengan suara rendah.

"Polisi saja bingung setengah mati. Tidak ada jejak kaki sama sekali di sekitar jasad Herman. Padahal tanah sawah itu becek. Logikanya, kalau ada orang yang memiting Herman sampai lehernya patah, pasti ada bekas pergulatan. Tapi ini... Ini semuanya bersih. Seolah-olah Herman diangkat ke udara lalu dipelintir begitu saja."

Bu Tati menghentikan aktivitas mengelap mejanya.

"Apa mungkin ini ada kaitannya dengan kematian Aning? Kasihan anak itu. Waktu dikuburkan, wajahnya pucat sekali, tapi matanya tidak bisa tertutup rapat. Kata orang pintar, itu tandanya dia belum ikhlas."

Mendengar nama Aning disebut, suasana semakin berat, Namun tidak ada yang berani menuduh Sapri dan Herman secara terang-terangan karena takut jatuhnya menjadi fitnah.

"Oiya, ngomong-ngomong, sejak kematian Aning, aku sudah jarang melihat Bu Darsia." Kata salah satunya.

"Iya, dia juga sudah tidak pernah ke sawah lagi." Ujar yang lain.

"Ya, jelas dia tidak pernah ke sawah lagi. Itu pasti akan mengingatkan dia pada kematian Aning." Timpal Bu Tati.

"Kasian Bu Darsia," lanjut Bu Tati sambil meletakkan kain lapnya, matanya nampak berkaca-kaca.

"Sejak Aning pergi, nyawanya seolah ikut terkubur. Rumahnya yang dulu rapi sekarang rimbun ditumbuhi rumput. Kalau malam, tidak ada lampu yang menyala. Orang-orang bilang dia sering bicara sendiri di pojok rumah sambil memegang baju terakhir yang dipakai Aning."

Percakapan itu membuat warga terdiam. Mereka membayangkan betapa hancurnya hati seorang ibu yang kehilangan anak semata wayangnya dalam kondisi yang misterius, namun di putuskan sebagai kecelakaan.

"Sebenarnya," Andi berbisik sambil memajukan kursinya, membuat yang lain ikut mendekat.

"Waktu malam Aning sebelum mayat Aning di temukan, saya sempat lewat di di jalan itu dan melihat motor Herman terparkir di sana. Ada Sapri juga di atas motor. Tapi saya tidak berani menyapa karena muka mereka berdua nampak seperti akan melahap saya. Saya pikir mereka cuma mau kumpul dan mabuk-mabukan seperti biasanya."

"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu, Ndi?" tanya Pak Darmo dengan nada menyalahkan.

Andi menciut.

"Siapa yang berani, Pak? Herman itu kalau tidak suka sama orang, besoknya rumah orang itu pasti akan di datangi lalu diancam dengan parang. Sekarang saja, setelah mereka berdua mati, saya baru berani bicara."

Tiba-tiba, suara kepakan sayap burung gagak terdengar nyaring dari arah atap warung, disusul oleh suara cakaran di atas seng yang membuat bulu kuduk berdiri. Suasana yang tadinya hangat karena uap kopi berubah menjadi dingin yang menggigit.

"Sudahlah, jangan bicarakan orang mati terus," ujar salah satu warga dengan suara gemetar.

"Lihat itu, jam baru menunjuk angka lima tapi jalanan sudah sepi seperti kuburan. Biasanya jam segini anak-anak muda masih pada main."

"Boro-boro main," sahut Bu Tati.

"Si Gondo dan keluarga saja sekarang kabarnya sudah mengungsi ke rumah saudaranya di luar kota. Tadi sore saya lihat dia angkut barang-barang pakai tas besar. Karena begitu ketakutan dengan apa yang terjadi di desa." Jelasnya lagi.

"Sebaiknya kalian pulang saja, saya susah mau tutup warung sekarang, tapi Bapak-bapak. Tolong kalau pulang bareng-bareng saja sama saya, saya takut pulang sendirian." pinta Bu Tati dengan nada memohon.

"Iya, Bu Tati. Kita barengan saja. Kebetulan rumah kita searah lewat jalan depan," sahut Pak Darmo sambil mengenakan jaketnya rapat-rapat. Karena memang jalan ke rumah dia, Andi dan Bu Tati searah.

Warga yang tersisa segera berdiri, membantu Bu Tati merapikan kursi-kursi kayu ke atas meja dengan gerakan serba cepat. Suasana yang biasanya santai kini berubah menjadi operasi penyelamatan diri sebelum mereka memisah diri. Bu Tati pun cepat-cepat mengunci pintu depan warungnya, tangannya berkali-kali meleset saat memasukkan anak kunci ke dalam lubang gembok karena panik.

"Cepat sedikit, Bu," bisik Andi yang terus memindai jalan yang sudah hampir gelap.

Saat rombongan itu melewati tikungan dekat rumah Bu Darsia, langkah mereka mendadak melambat. Bau melati yang tercium samar.

"Apa Bu Darsia bakar kemenyan ya?" Tanya Andi yang tak bisa menahan diri untuk tak bertanya.

"Hush, ini itu bukan bau kemenyan, tapi bau melati." Ucap Bu Tati.

"Bukannya melati itu biasanya, tanda kedatangan tamu tak di undang ya?" bisik Andi dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Bulu kuduknya berdiri tegak, dan ia merasa seolah-olah suhu di sekitarnya turun beberapa derajat.

"Sudah, jangan banyak tanya! Jalan saja terus!" Pak Darmo memperingatkan dengan nada yang lebih keras, meski matanya sendiri melirik gelisah ke arah jendela rumah Bu Darsia yang tertutup rapat.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, bau melati yang semula samar tiba-tiba berubah menjadi aroma anyir yang tajam, seperti bau daging yang dibiarkan membusuk di bawah terik matahari. Bu Tati refleks menutup hidungnya dengan ujung kerudung, bau itu begitu menusuk.

Bau anyir itu semakin menjadi-jadi, seolah-olah sumber bau tersebut berada tepat di depan wajah mereka. Pak Darmo yang biasanya tegar kini tampak berkeringat dingin, langkahnya kian cepat namun terasa berat seperti kaki yang terbenam lumpur. Di balik jendela rumah Bu Darsia yang tertutup rapat, mereka sempat menangkap gerakan bayangan yang aneh.

"Cepat, jangan ada yang menoleh!" perintah Pak Darmo dengan suara tertahan.

Namun, rasa penasaran yang beradu dengan ketakutan membuat Andi secara tak sengaja mengarahkan senternya ke arah lubang angin di atas pintu rumah Bu Darsia. Cahaya lampu senter itu menangkap sepasang mata merah yang menatap tajam dari balik kegelapan.

"Pak, itu apa?" Tanya Andi dengan senter yang masih menyadari mata merah itu. Namun, saat Pak Darmo dan Bu Tati serentak melihat, sepasang mata merah itu menghilang.

"Sudah, sebaiknya kita segera pergi." Ujar Pak Darmo lali mereka pun pergi dengan langkah yang cepat tanpa menoleh lagi ke arah rumah Bu Darsia.

1
Gadis misterius
Jaka udin gk usah dbntu biarin aza'di urus warsito dan kau karmin cs akan mati lebih mengenaskan di tngan aning
Gadis misterius
Sdh berkurang nunggu yg lainya
Gadis misterius
Giliranmu yg akan mati anton
Aisyah Ashik
kenapa aning balas dendamnya lambat bgt😄, keburu keluarga jaka dan undin jadi korban
Gadis misterius
kepala desa tdk adil.pilih kasih mentang2 budarsia miskin dan karmin kaya jd condong ke yg kaya pkoknya jngn kasih ampun semua aning
Maple latte
🤗🤗🤗
Gadis misterius
Apa sih yg ditunggu aning knp gk langsng dibunuh karmin cs
Gadis misterius
Jngn smpai jaka udin knp2 cukup budarsia aza
Gadis misterius
Ya Allah sungguh pilu dan sedih tk terasa air mata menetes,Selamatkan budarsis dan jaka udin semoga mereka tdk knp2....blas ning jngn kasih ampun apa lg yg kau tunggu bunuh mereka yg menyiksa ibumu bak hewan
Santi mutia Rahayu
lanjut thor🤭cerita nya sungguh menarik👍
月亮星星 ( yueliang xingxing )🌟🌙
untung BPK nya Seno gk ikutan .. mngkin msh bsa selamat ..
Yati Susilawati
sampai ngeri bacanya.
tega kalian!!
Srikandi_putri
It's a good story 👍👍👍👍
Delisa
Keren sih ini. dari awal menengangkan banget. suka aku sama cerita ini
Gadis misterius
Jngn kasih ampun aning bikin mereka mati berbarengan ,melebihi iblis dngn alasan balas dendam tp sesungguhnya mreka hnya mencari pelampiasan krn sejatinya mereka bertiga adalah iblis berwujud manusia,,,siksa mereka aning sebelum mati tarik tubuhnya dijalan yg berbatu menyesalpun tiada guna
Gadis misterius
pak warsito udin dan jaka yg paling waras dan yg baik tnpa pamrih dan yg paling sibuk mengurus orang2 mati walaupun takut masih aza'membntu smpai selesai
Gadis misterius
Karmin cs jngn lma2 ning sdh cukup mereka memfitnah dan menyiksa ibumu
Mega Arum
terasa ikut nyesek
Mega Arum
semakin menegangkan... Lanjuut thor
Gadis misterius
lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!