Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.
Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.
Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.
Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.
Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.
Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.
Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. MADNESS
Langit memerah dengan tenang di kediaman Rowan Desmond bersamaan dengan suara-suara pelayan, hingga Kesatria di luar sana yang berbincang di sela kegiatan mereka.
Di atas ranjang yang nyaman dalam kamar tamu, Cecilia tertidur. Napasnya teratur dengan wajah terlihat damai setelah bekerja keras berhari-hari berurusan dengan roh-roh jahat.
Namun kediaman itu tak bertahan lebih lama.
Tiba-tiba mata Cecilia terbuka. Membelalak. Tubuhnya menegang seketika karena sesuatu sedang mencekiknya.
Jari-jari dingin nan panjang dan kurus kini mencengkeram leher Cecilia dengan kekuatan luar biasa.
Cecilia langsung meraih tenggorokannya sambil terengah-engah.
Udara tidak masuk ke paru-paru. Dadanya terasa seperti diremas. Pandangannya mulai kabur.
Lalu perlahan Cecilia mendongak.
Dan rasa takut yang selama tiga tahun terakhir terus menghantuinya kembali muncul. Mengambang tepat di atas tempat tidur seperti noda hitam yang merusak dunia.
Entitas itu ada di sana.
Tubuh perempuan kurus dengan anggota badan yang terlalu panjang. Kulit seputih tulang dengan mulut terbelah hingga ke pipi. Mata putih kosong tanpa bola mata. Rambutnya berkibar ke segala arah seperti asap hitam hidup yang tidak pernah berhenti bergerak.
Sosok itu tersenyum. Senyuman yang selalu membuat darah Cecilia membeku setiap kali sosok itu hadir.
Madness, Sang Anak Iblis.
Begitulah Cecilia menamainya. Makhluk yang muncul sejak hari ketika ia membuka Gerbang Arwah tiga tahun lalu. Makhluk yang tidak pernah berhenti memburu Cecilia.
Dan yang paling menakutkan adalah sosok itu tidak dapat dihancurkan oleh Cecilia.
Madness tersenyum. Lalu kepalanya miring dengan gerakan patah-patah yang tidak manusiawi. Suara retakan tulang bergema memenuhi ruangan.
"Kau masih hidup ...."
Bisikan itu terdengar langsung di dalam kepala Cecilia, bukan di telinga. Melainkan di pikiran sang gadis.
"Kau masih hidup ...."
Madness tertawa.
"Berikan tubuhmu ..."
"Tubuh itu milikku ...."
"MILIKKU!!"
Udara kamar mendadak berubah dingin, dengan jejak es tergambar di kaca-kaca jendela dan cermin hingga sudut kamar
Napas Cecilia membentuk kabut putih karena intensitas suhu yang turun.
Tubuhnya gemetar.
"Tidak. Aku tidak akan menyerahkan tubuhku pada makhluk hina sepertimu," suara Cecilia bergetar.
Madness semakin mendekat. Wajah mengerikannya hampir menempel pada wajah Cecilia.
"Kau mencium bau mereka? Tubuh-tubuh yang mati. Tulang-tulang yang patah. Daging yang membusuk. Tidakkah kau merindukan rumahmu?"
Cecilia langsung memejamkan mata. "Tidak!"
Namun semuanya sudah terlambat karena ilusi buatan Madness telah dimulai.
Kamar tamu menghilang.
Tempat tidur menghilang.
Dinding menghilang.
Cecilia mendapati dirinya berdiri sendirian di sebuah dataran hitam yang tidak memiliki ujung.
Langit merah.
Tanah hitam.
Kabut kelabu.
Dan jutaan tangan manusia keluar dari tanah. Meraih dan berusaha menangkap. Mereka memohon, menjerit.
Jeritan orang-orang mati. Jeritan orang-orang yang pernah ia lihat di Gerbang Arwah.
Tubuh Cecilia membeku.
Tidak.
Tidak lagi.
Jangan tempat ini lagi!
Namun suara-suara itu terus berdatangan.
"Cecilia ...."
"Cecilia ...."
"Tolong kami ...."
"Kenapa kau meninggalkan kami?"
"Kenapa hanya kau yang kembali?"
Wajah-wajah mengerikan mulai muncul dari kabut.
Pria.
Wanita.
Anak-anak.
Semua orang yang Cecilia kenal di tanah kelahirannya dulu selalu menjadi bahan ilusi Madness. Dan itu selalu berhasil membangkitkan ketakutan dan rasa bersalah Cecilia setiap ilusi itu terjadi.
Semua orang dalam kondisi mengenaskan; mata terlepas, leher patah, perut terbuka, tubuh terkelupas seperti patung yang usang. Dan mereka semua menatap Cecilia.
Menyalahkannya.
Membencinya.
Mengutuknya.
"Karena kau membuka gerbang itu, kami semua jadi seperti ini, Cecilia!"
Air mata langsung mengalir dari mata Cecilia.
"Pergi. Tolong pergi. Hentikan, aku mohon," ucap Cecilia putus asa.
Namun mereka terus mendekat dengan Madness muncul di belakang mereka.
Mengambang. Tersenyum puas karena Cecilia sudah masuk dalam jebakan ilusi.
"Takutlah.. "
"Berikan rasa takutmu padaku ..."
"Berikan kewarasanmu ...."
"Sedikit lagi ...."
"Hanya sedikit lagi ...."
Lalu dunia berubah seketika.
Cecilia kini berdiri di tengah kerajaannya yang telah membatu. Langit dipenuhi debu dan menghitam tanpa cahaya matahari.
Istana runtuh. Jalanan kosong. Patung-patung batu memenuhi seluruh kota.
Namun kali ini berbeda. Patung-patung itu mulai retak, dan dari dalamnya keluar darah. Merah pekat yang mengalir seperti sungai. Kemudian satu per satu wajah orang-orang yang dikenalnya muncul.
Mereka menangis memanggil nama Cecilia. Mereka semua menyalahkan gadis itu karena telah membuka Gerbang Arwah.
Semua karena dirinya, kegagalannya, Cecilia terlambat untuk menyadari bahwa membuka Gerbang Arwah saat itu akan menimbulkan kutukan tak berujung untuk seluruh kerajaannya.
Madness tertawa. Suara itu bergema dari segala arah.
"Kau gagal ...."
"Kau akan gagal lagi ...."
"Kau tidak bisa menyelamatkan siapa pun ...."
"Kau bahkan tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri ...."
Tubuh Cecilia gemetar semakin keras. Napasnya tidak teratur. Air matanya mengalir tanpa henti.
Lalu ilusi berikutnya datang.
Yang paling mengerikan. Yang selalu membuatnya hancur.
Ribuan kuburan berjejer dengan nama-nama yang ia kenal; ibu, ayah, saudari-saudarinya, para bangsawan, hingga para pelayan yang selalu tertawa bersamanya sejak kecil.
Dan di tengah-tengahnya ... ada satu batu nisan. Batu nisan dengan namanya sendiri.
CECILIA DE LANDON DONOVAN.
Tahun kelahiran dan tahun kematian. Dua tahun lagi dari sekarang. Hanya dua tahun perjuangan Cecilia akan berakhir.
Madness berdiri di atas makam itu. Tersenyum.
"Kau tahu kapan kau akan mati."
"Kau bisa menghitung harinya."
"Kau bisa menghitung malamnya."
"Kau bisa menghitung napas yang tersisa."
"Tidak ada yang lebih indah daripada melihat manusia menunggu kematiannya sendiri."
"Cepat atau lambat. Kau akan menjadi milikku."
Bisikan-bisikan Madness benar-benar seperti racun untuk ketakutan Cecilia. Tidak ada yang kuat jika sudah dihadapkan dengan kematian sendiri.
Jeritan akhirnya keluar dari mulut Cecilia, penuh ketakutan yang menggema sampai ke seluruh kediaman Desmond.
BRAK!
Pintu kamar terbuka, seolah menghancurkan sedikit kegilaan yang Madness berikan dalam ruangan itu.
Rowan masuk pertama kali dengan wajah panik. Disusul Garrick dan beberapa kesatria.
Di luar para pelayan yang ketakutan sejak tadi saat mengecek Cecilia yang menjerit dari kamarnya ketika melihat gadis itu terduduk di tempat dengan mata terbelalak ke atas.
Para pelayan yang melihat justru menambah jeritan menjadi lebih ramai dalam kediaman itu.
"Apa yang terjadi?!" seru Rowan, matanya melebar ketika melihat ruangan sudah di penuhi es, dingin yang membekukan.
Namun langkahnya langsung terhenti begitu pula dengan rasa penasaran akan ruangan yang luar biasa mendingin saat di cuaca di luar panas. Rowan menatap Cecilia.
Cecilia duduk di atas tempat tidur. Tubuhnya gemetar luar biasa. Wajahnya pucat dengan napas mengembun layaknya berdiri di tengah badai salju. Air mata membasahi pipi Cecilia dengan matanya terbuka lebar menatap langit-langit.
"Cecilia?" panggil Rowan takut-takut akan keadaan gadis itu.
Namun tak ada jawaban dari sang gadis.
Rowan menyentuh tangan Cecilia dan memanggil sang gadis, "Cecilia? Kau baik-baik saja?"
Namun Rowan terkejut saat mendapati Cecilia sedingin batu es di musim dingin. Rasa panik dan takut kini merayapi Rowan sekarang karena belum pernah ia melihat kondisi seperti ini selama hidupnya.
Dan yang membuat Rowan semakin takut adalah, sesuatu seperti berbisik di telinga Rowan yang membuat jantung kesatria itu seolah berhenti.
"Dia akan segera mati ..."
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/