Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 SEBUAH PERTEMUAN (Bagian Kedelapan)
"KRIIIING... KRIIIING... KRIIIING..."
Alarm di HP milik Zaki berbunyi cukup keras. Membuatnya mulai bergerak perlahan. Lalu dengan mata yang cukup mengantuk, ia mencoba bangun dan duduk sebentar.
"KRIIIING... KRIIIING... KRIIIING..."
Alarm kembali berbunyi. Dan segera Zaki membuka tas, lalu mematikan alarm di HP nya itu.
"Alhamdulillah Ya Alloh... Bisa tidur nyenyak juga..." ucapnya sambil menatap layar HP yang sudah menunjukkan pukul 05:00 pagi.
Zaki mengucek sebentar ke dua matanya, menguap, dan mengusap wajahnya supaya bisa segera sadar sepenuhnya dari tidur nyenyaknya.
Kemudian ia menatap ke arah luar jendela. Ternyata kereta sudah tiba dan berhenti di Stasiun Semarang.
"Wah, udah sampai Semarang ternyata. Sedikit lagi aku pulang ke rumah." gumamnya dalam hati.
Lantas, ia segera berdiri perlahan, menuju ke toilet gerbong. Sekedar untuk membasuh wajahnya dengan air di wastafel yang ada di dalamnya.
Tak lama, ia pun kembali ke bangku. Dan melihat Nisa ternyata tertidur lelap namun dengan posisi yang menurutnya tak nyaman.
Padahal wanita manis itu pingsan, tapi Zaki tak mengetahui apa yang sebelumnya terjadi pada Nisa saat dirinya terlelap tidur.
"Aku bangunin aja kali ya, kasian... Pasti sakit pundaknya karena posisi tidur kayak gitu." gumamnya.
Dan ia pun mencoba membangunkan Nisa, "Mbak Nisa... Bangun Mbak..."
Nisa tak bergeming, tak ada respon. Zaki mencoba lagi, "Mbak... Mbak Nisa... Bangun Mbak... Mbak..." sambil menggoyangkan lengan kanan Nisa.
Akhirnya Nisa perlahan terbangun...
"Aduuuh... Ughhh..." gumam Nisa saat ke dua matanya terbuka pelan-pelan.
"Mbak, bangun..."
"Loh? Ughhh... Aduuuh... Mas Zaki?" ucap Nisa sambil memegangi pundaknya, dan mencoba untuk duduk.
"Mbak, posisi tidurnya jangan kayak gitu, kan jadi sakit pundaknya Mbak..."
"Eh? Apa? Tidur?"
"Iya, Mbak tuh tidur jangan begitu posisinya. Kalau mau tidur, lebih enak diselonjorkan aja kakinya. Kepalanya diganjal tas biar gak sakit pundaknya." jelas Zaki.
"Loh? Aku ketiduran kah Mas?"
"Hm... Iya Mbak... Ketiduran kamu."
"Oh... Gitu..."
Zaki segera berjalan menuju ujung gerbong. Ia merasa lapar. Berniat untuk mencari makanan terlebih dahulu sebelum kereta melanjutkan perjalanannya dari Stasiun Semarang ini.
Ketika Zaki turun, bersamaan dengan beberapa penumpang lain, segera dihirupnya dalam-dalam udara sejuk kota Semarang. Tampak ia juga meregangkan ke dua tangannya yang terasa sedikit pegal.
Sejurus kemudian, ia melihat seorang ibu-ibu yang menjual nasi rames. Tanpa pikir panjang, segera dihampiri ibu-ibu itu.
"Bu, nasi ramesnya satu porsi ya."
"Eh, nggeh Mas, mau pake lauk apa?" tanya si Ibu penjual.
"Em... Pakai sayurannya sedikit aja... Terus tempe goreng, sama paha ayam goreng aja satu."
"Nggeh Mas... Pake sambel gak?"
"Enggak usah Bu, saya gak suka pedes soalnya."
"Owalah... nggeh Mas..." jawabnya. Lalu si Ibu penjual segera menyiapkan nasi rames yang di pesan oleh Zaki.
Zaki pun sedikit terkejut saat melihat Nisa yang ternyata sudah berdiri di sampingnya...
"Loh, ikut turun?" tanya Zaki.
"Em... Hehe..." malah cengengesan Nisa.
"Pegel ya badannya?"
"Hehe... Iya..."
"Ya udah, dibawa santai dulu di luar sini Mbak."
Si Ibu penjual segera memberikan satu porsi nasi rames yang sudah siap di santap kepada Zaki. Lalu ia segera mencari tempat duduk yang cukup nyaman, tak jauh dari posisi si Ibu penjual. Dan dengan membaca doa terlebih dahulu, disantaplah nasi rames yang penuh cita rasa itu. Sesekali, dirinya melirik ke arah Nisa yang tampaknya memesan satu porsi yang sama.
"Laper juga ternyata dia..." gumamnya dalam hati sambil menggigit paha ayam goreng yang gurih.
Tak lama kemudian Nisa pun ikut duduk di sebelahnya. Saat Zaki melirik lagi ke arah wanita manis itu, sedikit terasa sesuatu yang berbeda dalam hatinya.
Seolah... Mulai mengalir syahdu perasaan suka pada Nisa. Mungkin didukung momen makan berdua untuk pertama kalinya ya... 🤭🤭🤭
Dan mereka berdua pun menikmati nasi rames. Ditemani udara sejuk kota Semarang, lalu lalang orang-orang yang ramai, dan aroma rel kereta api.
Beberapa menit berlalu, nasi rames di atas piring mereka berdua pun habis tak bersisa. Menandakan bahwa memang dua insan berstatus lajang ini sedang lapar. Dan kini perut ke duanya terasa kenyang.
"Bu, saya mau cuci tangan dulu ya sebentar..." ucap Zaki saat kembali berdiri.
"Nggeh Mas, monggo..." jawab si Ibu penjual dengan sopannya.
Disusul juga oleh Nisa, "Saya juga ya Bu..."
Setelah bersih tangan mereka berdua, Zaki kembali kepada si Ibu penjual untuk membayar.
"Bu, berapa harganya semua?"
"Semuanya jadi 25.000,- aja Mas..."
"Hah? Berapa Bu?" tanya Nisa yang kaget mendengar harga yang barusan disebut.
"25.000,- Mbak... Kenapa toh? Kemahalan ya?" si Ibu penjual malah balik bertanya.
"Eh, enggak kok Bu, justru murah banget itu..." respon Nisa.
Zaki pun merasakan kaget yang sama seperti Nisa, "Ini beneran 25.000,- harganya Bu?" tanyanya mencoba memastikan lagi.
"Iya Mas, yang porsi Mas nya itu harganya 15.000,- ditambah porsi Mbaknya 10.000,-. Jadi semuanya 25.000,-..."
Mendengar penjelasan si Ibu penjual, Zaki tak banyak bicara lagi. Langsung ia mengeluarkan uang sejumlah 30.000,-.
"Loh, Mas, aku bayar sendiri aja..." kata Nisa.
"Ah, enggak apa-apa. Aku aja yang bayar. Lagian juga harganya murah banget loh kita berdua." jawab Zaki dengan santai.
Ketika si Ibu penjual hendak memberikan uang kembalian kepada Zaki, dirinya malah menolak dan meminta si Ibu penjual untuk mengambil saja kembalian itu. Zaki merasa tak seberapa uang kembalian tersebut jika dibandingkan dengan cita rasa nasi rames yang dibuat oleh si Ibu penjual. Dan tampak si Ibu penjual pun berterima kasih dengan senyuman.
Tak lama kemudian, terdengar petugas stasiun membunyikan peluit, diiringi dengan pengumuman dari pengeras suara bahwa kereta sebentar lagi akan melanjutkan perjalanan.
Bersamaan dengan penumpang lain, mereka berdua pun bergegas untuk kembali naik ke gerbong.
Tapi... Sepersekian detik sebelum Zaki naik...
Matanya melihat dua tanaman di area taman kecil dekat peron...
Dengan pandangannya yang jeli, ia segera mengetahui bahwa itu adalah tanaman bunga kantil merah dan bunga kantil putih.
Dengan langkah yang sedikit berlari, Zaki malah menuju dua tanaman itu dan memetik satu kantil merah dan satu kantil putih. Baru setelahnya ia bergegas naik ke gerbong, dan kembali duduk di bangku bersama Nisa.
"Mas, kamu petik apa barusan?" tanya Nisa sambil melihat tangan kanan Zaki menggenggam bunga kantil barusan.
"Hehe, bukan apa-apa kok..."
"Apa sih Mas? Kasih tau aku dong..."
Zaki yang tahu kalau Nisa penasaran, malah tersenyum sedikit ekspresi meledeknya, "Hemmm... Penasaran ya kamu Mbak?"
"Sebentar ya... Aku mau ke gerbong dapur dulu..." sambil Zaki mengeluarkan sebungkus teh celup dan dua gelas plastik dari dalam tasnya. Berniat untuk membuatkan teh juga untuk diminum berdua.
Sedikit obrolan mereka saat Zaki hendak menyeduh teh itu, dan segera ia meninggalkan Nisa sendirian. Tanpa disadari oleh Zaki, sikap dan tingkahnya itu semakin membuat Nisa menyukai dirinya. 🤭🤭🤭
Selang beberapa waktu... Zaki pun kembali dengan membawa dua gelas teh hangat di tangannya. Salah satunya segera ia serahkan ke Nisa.
"Naaah... Ini tehnya Mbak Nisa... Ayok diminum, mumpung masih anget loh..."
"Waaah... Makasih banyak ya Mas... Udah repot-repot sampe bikin teh anget juga buat saya."
"Ah, enggak apa-apa Mbak, santai aja..."
Ketika Nisa hendak menyeruput teh itu, tiba-tiba...
"Eh iya, sebentar Mbak, jangan diminum dulu..." ucap Zaki.
"Loh, kenapa Mas?" Nisa keheranan.
"Hehe... Sebentar... Taruh dulu gelasnya di atas meja."
Dengan polosnya, sambil ekspresi wajahnya yang makin keheranan, Nisa menuruti apa yang dikatakan olehnya. Dan Zaki pun menaruh juga gelas tehnya.
"Hehe... Aku kerjain sedikit aaah..." gumam Zaki dalam hatinya saat melihat kepolosan wanita manis di hadapannya itu.
Lalu, Zaki merogoh kantong bajunya, dan menunjukkan dua buah bunga kantil yang tadi dipetiknya itu.
"Loh... Tunggu dulu Mas, tunggu... Ngapain kamu petik bunga kantil itu Mas? Buat apa?"
Zaki tak menjawabnya. Malah ia bergumam lagi dalam hati, "Waaah... Beneran bisa aku kerjain niiih Mbak Nisa... Hehehe..."
Lalu, dengan gestur yang cukup meyakinkan, Zaki menoleh ke sekitar. Seolah memastikan bahwa tak ada orang lain yang akan menyadari kelakukan usilnya itu.
Dan, Zaki memberikan kode agar wajah Nisa sedikit mendekat ke arahnya...
"Apa Mas? Kamu mau ngomong apa?" Nisa tampak sudah tak sabar.
"Kamu tau gak? Kenapa... Aku petik dua bunga kantil merah dan putih ini?" dengan ekspresi wajah yang semakin membuat Nisa penasaran.
"Enggak tau... Emang kenapa?"
Sebenarnya Zaki hampir tertawa, tapi ia tahan. 🤭🤭🤭
"Karena..."
"Iiiihhhh... Apa toh Mas?"
"Karenaaa..." lalu dengan cepat Zaki menepuk lengan kanan Nisa sambil, "DAAAR!!!"
"Astaghfirulloh!!!" Nisa langsung memegangi dadanya karena kaget bukan main.
"Mas!!! Apa-apaan sih kamu!!! Kaget tau!!!"
"Ahahaha... Hahaha... Maaf-maaf Mbak... Aku cuma bercanda kok... Hahaha..." Zaki tertawa geli melihat Nisa berhasil ia kerjai.
"Aaahhh... Gak lucu ah Mas... Kaget beneran akuuu..." Nisa pun sambil merengut.
"Hahaha... Hihihi... Maaf-maaf Mbak Nisa... Ya Alloh... Aku cuma bercanda... Habis kamu orangnya kayak selalu serius sih..."
"Aaaahhhh... Jangan gitu lagi dong, aku gak suka dikagetin Maaas..."
"Hihihi... Iya Mbak, iya... Maaf ya... Jangan ngambek... Hihihi..."
Zaki terus saja masih tertawa geli sambil agak meledek Nisa, padahal terlihat seperti ngambek wajah wanita manis itu...
Dan semakin terasa oleh mereka berdua, namun tanpa diketahui oleh masing-masing, rasa suka semakin mengembang di dalam hati mereka berdua... 🤭🤭🤭
Setelahnya obrolan mereka berdua kembali mengalir dengan suasana yang santai dan semakin di bumbui oleh perasaan masing-masing...
Seiring dengan laju kereta yang cepat, alam pun mulai menunjukkan kehidupannya...
Matahari terbit memberikan pertanda bahwa hari telah berganti...
Sampai tiba di suatu momen, Zaki menyadari bahwa dirinya akan tiba di tujuan akhir dari perjalanannya itu. Ia pun menyadari bahwa hati kecilnya terasa tak ingin segera turun dan berpisah dengan Nisa.
Namun... Mau tak mau, suka tak suka, Zaki pun harus bicara...
🥲🥲🥲🥲🥲