Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Upah dari Keringat Sendiri
Suasana di dalam Kedai Satu Mangkuk masih ramai.
Pelanggan datang dan pergi, kursi yang kosong segera terisi lagi. Aroma ramen, sup iga, dan nasi goreng memenuhi udara. Tawa serta percakapan hangat bersatu menjadi suara yang hidup—sesuatu yang jarang sekali terjadi di kota kecil Pingxi.
Namun di salah satu sudut kedai, waktu terasa berjalan lebih lambat.
Shen Ning masih berdiri di sana.
Tangannya saling menggenggam di depan tubuh.
Wajahnya sedikit tegang.
Matanya menatap Zhao dan Yueling dengan gugup.
Ia sudah mengatakan keinginannya.
Sekarang… keputusan ada di tangan mereka.
Sementara itu—
Zhao dan Yueling sedikit menjauh, berdiri dekat dapur. Yueling menatap Shen Ning sebentar, lalu berbisik pada Zhao.
“Dia gadis yang dapat diandalkan.”
Nada suaranya yakin.
“Aku yakin kita akan sangat terbantu.”
Zhao tidak langsung menjawab.
Ia masih menatap Shen Ning.
Gadis itu berdiri tegak meski terlihat gugup. Bahunya kecil, tubuhnya kurus, namun ada tekad yang jelas di matanya.
Zhao menghela napas pelan.
“Aku tahu…Tapi…”
Ia menggaruk tengkuknya.
“Aku merasa tidak tega membuatnya bekerja.”
Yueling mengangkat alis.
“Tidak tega?”
Zhao menatap Shen Ning lagi.
“Dia… masih anak-anak.”
Kata-katanya keluar pelan.
Bukan karena meragukan kemampuan Shen Ning.
Justru sebaliknya.
Karena ia terlalu mengerti.
Yueling memandang Zhao lebih dalam.
Ia perlahan memegang tangan Zhao.
Sentuhan lembut itu membuat Zhao menoleh padanya.
Zhao tersenyum tipis.
“Bukan berarti aku akan menolaknya.”
Ia menghela napas lagi.
“Hanya saja…Melihatnya…”
“Seperti melihat diriku di masa lalu.”
Untuk sesaat, matanya menjadi jauh.
Seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Seorang anak.
Yang dipaksa dewasa oleh keadaan.
Yang harus bekerja keras sebelum waktunya.
Yueling menatapnya dengan lembut.
Ia tahu Zhao tidak sedang berbicara sebagai seorang pemilik kedai.
Ia berbicara sebagai seseorang yang pernah berjalan di jalan yang sama.
Yueling menepuk tangan Zhao pelan.
“Sayang.”
Nada suaranya lembut.
“Terkadang membantu seseorang bukan berarti melindunginya dari kesulitan.”
Zhao menatapnya.
Yueling tersenyum kecil.
“Justru berarti memberi mereka kesempatan untuk berdiri sendiri.”
Zhao terdiam.
Yueling melanjutkan.
“Shen Ning bukan meminta belas kasihan. Dia meminta kesempatan.”
Ia menatap gadis itu lagi.
“Dan jika kita menolaknya hanya karena kita merasa kasihan…”
“Bukankah itu justru meremehkan tekadnya?”
Kata-kata itu sederhana. Namun tepat mengenai sesuatu di hati Zhao.
Ia terdiam beberapa saat.
Lalu tiba-tiba tertawa kecil.
“Kau benar.”
Ia menggeleng pelan.
“Aku terlalu khawatir.”
Yueling tersenyum puas.
“Tentu saja. Siapa yang lebih bijak di rumah ini?”
Zhao menatapnya dengan tatapan datar.
“Jelas aku.”
Yueling langsung mencubit lengannya.
“Berani sekali kau.”
Zhao tertawa.
Ketegangan itu pun menghilang.
Ia menarik napas dalam.
Lalu berjalan menuju Shen Ning.
Sementara itu—
Shen Ning masih menunggu.
Setiap detik terasa lama.
Ia berusaha terlihat tenang, namun jantungnya berdegup kencang.
Bagaimana jika mereka menolak?
Bagaimana jika aku dianggap merepotkan?
Namun tiba-tiba—
Langkah kaki berhenti di depannya.
Shen Ning mendongak.
Zhao berdiri di sana.
Ekspresinya tenang.
Ia menatap Shen Ning beberapa detik.
Lalu bertanya.
“Apakah kau yakin?”
Shen Ning langsung mengangguk. Cepat. Penuh semangat.
“Iya!”
Matanya bersinar.
“Aku akan bekerja keras!”
Zhao tersenyum kecil.
Ia melirik ke arah meja pelanggan.
Beberapa pelanggan baru saja masuk.
Ada yang melambaikan tangan.
“Bos! Tambah satu ramen!”
“Sup iganya juga satu lagi!”
Zhao kembali menatap Shen Ning.
“Kalau begitu…”
Ia menunjuk ke arah pelanggan itu.
“Kenapa tidak kau mulai dengan menerima pesanan mereka?”
Shen Ning berkedip.
Otaknya butuh satu detik untuk memproses.
Lalu—
Matanya langsung berbinar.
“Benarkah!?”
Zhao mengangguk.
Shen Ning langsung membungkuk dalam-dalam.
“Terima kasih paman!”
Ia bahkan hampir menjatuhkan keranjang topinya karena terlalu bersemangat.
Lalu ia berlari kecil menuju meja pelanggan.
“Se-Selamat datang!”
“Apakah kalian sudah memilih menu?”
Para pelanggan sedikit terkejut melihat gadis kecil itu.
Namun senyumnya begitu tulus hingga mereka ikut tersenyum.
“Aku pesan ramen!”
“Tolong satu sup iga dan kimchi!"
Shen Ning mencatat dengan sangat serius.
Yueling menepuk bahu Zhao sambil tersenyum.
“Lihat? Dia langsung bekerja dengan baik.”
Zhao menyilangkan tangan.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Ya.”
Hari itu—
Shen Ning resmi menjadi bagian dari Kedai Satu Mangkuk.
Waktu berlalu cepat.
Sore berubah menjadi malam.
Sepanjang hari Shen Ning hampir tidak berhenti bergerak.
Ia menerima pesanan.
Mengantarkan makanan.
Membersihkan meja.
Bahkan membantu membawa air.
Meski beberapa kali hampir menjatuhkan mangkuk karena gugup, ia selalu cepat memperbaiki kesalahan.
Energinya seperti tidak ada habisnya.
Yueling beberapa kali tertawa melihat kesungguhannya.
“Pelan-pelan Ning’er!”
“Jangan sampai kau pingsan karena terlalu semangat!”
Namun Shen Ning hanya tertawa.
“Aku baik-baik saja!”
Akhirnya—
Pelanggan terakhir berdiri dari kursinya.
“Terima kasih atas makanannya!”
Pintu kedai tertutup.
Malam benar-benar tiba.
Lampu minyak menerangi ruangan hangat itu.
Shen Ning menghela napas panjang.
“Fuh…”
Namun pekerjaan belum selesai.
Ia langsung mengambil kain dan mulai membersihkan meja dan kursi.
Yueling mencuci piring di dapur.
Suara air mengalir terdengar pelan.
Sementara Zhao merapikan alat masak dan menyiapkan bahan untuk besok.
Ketiganya bekerja dalam diam yang nyaman.
Bukan diam yang canggung.
Melainkan diam yang terasa seperti… rumah.
Beberapa waktu kemudian—
Semua pekerjaan selesai.
Shen Ning duduk di kursi sambil mengusap keringat di dahinya.
Ia tersenyum lega.
“Ah…”
Yueling menghampirinya.
“Kerja bagus, Ning’er.”
Shen Ning tersenyum lebar.
“Terima kasih, Bibi.”
Ia mengepalkan tangan kecilnya.
“Aku akan terus belajar dan berkembang!”
Zhao keluar dari dapur sambil membawa sesuatu.
“Itu bagus. Pertahankan semangatmu.”
Shen Ning mengangguk penuh semangat.
“Baik, Paman!”
Zhao lalu memberikan kantung kecil padanya.
“Ini.”
Shen Ning menerimanya dengan bingung.
Ia membuka kantung itu.
Dan langsung tertegun.
Matanya membesar.
Di dalamnya ada— sepuluh tael perak.
“Ta… tapi…”
Ia menatap Zhao dengan panik.
“Aku baru bekerja setengah hari! Ini terlalu banyak!”
“Seharusnya aku hanya mendapat setengahnya!”
Zhao tersenyum santai.
Ia menepuk bahu Shen Ning.
“Itu memang setengahnya.”
Shen Ning berkedip.
“Eh?”
Zhao melanjutkan.
“Jika kau mulai bekerja dari pagi besok…”
“Upahmu dua puluh tael perak.”
Shen Ning terdiam. Matanya berkaca-kaca.
Ia menggenggam kantung itu erat.
Namun tiba-tiba—
Ia membuka kantungnya lagi.
Lalu mengeluarkan enam tael perak.
Dengan wajah sedikit gugup ia berkata.
“Ka… kalau begitu…”
Ia menatap Zhao dan Yueling.
“Bisakah aku membeli… dua ramen?”
Zhao dan Yueling tertegun.
Beberapa detik mereka hanya menatap Shen Ning.
Lalu—
keduanya tertawa kecil.
Yueling menyilangkan tangan sambil tersenyum.
“Tentu saja.”
“Selama kompor masih menyala…”
Zhao menambahkan.
“Aku akan membuatkannya.”
Mata Shen Ning langsung berbinar.
Yueling berkata dengan nada bercanda.
“Kalau begitu…”
“Harganya enam tael perak, pelanggan.”
Shen Ning langsung tertawa malu.
Ia menyerahkan uang itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih!”
Zhao kembali ke dapur.
Saat menyalakan api dan mulai memasak ramen—
ia tersenyum kecil.
Di dalam hatinya ia berkata pelan.
“Ya… Tidak ada yang lebih memuaskan…”
Ia mengaduk kuah ramen.
“…daripada membeli sesuatu…”
Ia menaruh mie ke dalam mangkuk.
“…dengan uang dari keringat sendiri.”