Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Bikin Pusing
"Kejar!" teriak Emeery saat kodok tersebut melompat-lompat. Ethan masih bergeming, sedangkan Sansan sudah tak memedulikan kebingungannya.
Dia ikut asyik mengejar binatang tersebut bersama Emeery yang terlihat sangat bersemangat.
Jangan salah, kodok adalah salah satu hewan yang paling diburu gadis itu ketika masih kecil. Jadi, tidak ada ketakutan sedikit pun. Bagi Emeery ini masih kecil iwil-iwil.
Cuaca gerimis dan tanah yang mulai basah menjadi penyempurna permainan mereka kali ini. Tawa Sansan melengking, Ethan mulai masa bodoh, dia juga mau ikut main. Sehingga menciptakan suara-suara di taman belakang.
Bugh!
Tendangan Ethan mengenai salah satu jendela kamar. Membuat weekend seseorang merasa terganggu dengan suara bising tersebut. Sang penghuni berdecak, karena lagi-lagi jendelanya terkena bola.
"Eetthh ...." Panggilan marah Anjas terputus karena pemandangan di depannya. Padahal tadi dia sudah mau emosi, tapi setelah melihat Emeery dengan badan basah kuyup dan rambut lepek. Rasa kantuknya malah jadi hilang. "Kamu—"
"Apa? Kenapa? Kami lagi main!" cetus Emeery langsung. Jika ingin balas dendam seharusnya Emeery menunjukkan penampilan awal yang masih stay di badannya, tapi jika begini sudah tentu penilaian Anjas terhadap dirinya sangat tepat. Namun, dia tidak peduli.
Anjas sudah tak habis pikir, Emeery benar-benar berusaha mendekati anak-anak kakak sepupunya.
"Iya, tapi nggak ke jendela orang juga dong. Ethan, mainnya agak jauhan," balas Anjas sambil membuat gerakan mengusir pada bocah itu.
Namun, sebagai calon ibu dan dendam pribadi, tentu Emeery akan membela Ethan.
"Ih ini kan rumah mereka terserah mereka dong mau main di mana. Kalo kamu tahu diri, kamar kamu aja yang pindah!"
Cetasss!
Balasan Emeery benar-benar sangat menohok, hingga membuat dada Anjas seperti terbakar. Padahal cuaca cukup dingin hari ini. Namun, Emeery tidak merasa bersalah sama sekali, dia kembali mengajak dua bocah itu main tanpa memedulikan sang mantan kekasih.
"Ayo main lagi!"
Anjas mendengus kasar, tak bisa membalas argumen dia langsung menutup kembali jendela dan berdiri cukup lama di sana.
"Aku yakin banget, Emeery cuma mau bales aku. Aku harus cegah Kak Gerry buat nikahin dia. Pokoknya jangan sampe kita jadi sodara!" gumam Anjas penuh tekad.
Sementara itu Gerry yang sedari tadi berkutat di ruang kerja jadi penasaran, kenapa anak-anaknya anteng sekali bersama Emeery. Sebenarnya proyek apa yang sedang mereka kerjakan.
"Nggak biasanya nih bocah pada begitu. Gue musti curiga," gumam Gerry sambil beranjak dari duduk.
Akhirnya pria itu keluar untuk sekedar mengecek, karena saking fokusnya dia sampai tak sadar jika sedari tadi hujan sudah mengguyur kota Jakarta.
"Ahahahaha ...."
Deg!
Tiga suara tawa itu membuat jantung Gerry seakan berhenti berdegup, begitu juga dengan langkahnya. Dia tidak salah dengar? Kedua anaknya tertawa dengan seorang gadis yang dikatai tengil itu.
Gerry melanjutkan langkah, namun baru sampai kepalanya sudah menghindar dari serangan lumpur yang mengarah padanya. Mata Gerry makin melotot tajam karena ketiganya sudah seperti manusia silver yang suka minta-minta di lampu merah, tapi yang ini coklat.
Ini sih namanya bukan punya istri, tapi nambah anak lagi.
"Kalian ngapain?!" tanya Gerry dengan nada sedikit menyentak. Seumur-umur dia belum pernah membiarkan putra-putrinya main dengan alam sampai penuh lumpur begini. Hujan-hujanan saja langsung dia larang.
Bukannya menjawab Sansan langsung bersembunyi di balik tubuh Ethan, sementara bocah laki-laki itu terdiam sesaat. Emeery menatap ayah dan anak itu secara bergantian untuk mencerna situasi ini.
"Kami sedang main, emangnya Om nggak liat?" jawab Emeery dengan enteng sambil melipat kedua tangan, tak memikirkan bagaimana penampilannya yang sangat berantakan.
"Eum, kami akan langsung mandi, Dad," jawab Ethan setelahnya, melihat wajah sang ayah yang sudah mulai tak ramah.
"Eh tapikan kita belum selesai—" Emeery langsung memotong saat melihat Ethan menarik Sansan masuk ke dalam. Hingga kini tersisa dua orang. Emeery masih bersikap cuek, karena dia merasa tidak salah mengajak calon anak-anaknya bermain seperti tadi.
"Belum selesai apa? Niat kamu ke sini itu ngapain? Mau bikin anak-anakku sakit?" balas Gerry yang merasa pusing dengan tingkah Emeery.
"Ya ... Ya ... Nggak dong, Om, orang mereka seneng-seneng aja kok aku ajak main kayak tadi," jawab Emeery dengan gagap tak mau disalahkan.
"Iya tapi kalo nanti mereka demam gimana?" Gerry masih saja mengomel sambil berkacak pinggang, seperti sedang memarahi anak tertuanya.
"Itu karena omongan Om sendiri. Air hujan itu bagus tahu, tapi kalo Om bilang anak Om bakal sakit, ya pasti sakitlah anaknya. Omongan itu doa!"
"Sssttt kamu!" Duda anak dua itu melakukan gerakan ingin meremas, dan amarahnya malah tertahan karena kedatangan sang ibu yang tiba-tiba membela orang baru di rumah mereka.
"Bener tuh, Ger, makanya Mommy suka bilang kan ucapan itu dijaga. Anak-anak jangan terlalu dikekang," ujar Anggun, sudah seperti angin surga untuk Emeery. Bibir yang semula mengerucut, kini langsung kembali sumringah.
"Aku cuma nurutin apa yang mereka mau, Tante," timpal Emeery seraya mendekat.
"Iya-iya, Tante tahu, kamu juga mandi gih. Tante udah siapin air hangat, nanti kita makan siang sama-sama," jawab Anggun tersenyum ramah. Lalu mengajak Emeery ke dalam, meninggalkan Gerry yang masih mematung.
Wlek!
Emeery menjulurkan sedikit lidahnya meledek Gerry. Melihat itu, Gerry hanya bisa menganga sambil menggerutu.
"Semua orang kenapa sih? Kok tiba-tiba jadi mihak dia?"
***
Setelah selesai makan siang, Emeery diajak ngeteh di ruang TV, tetapi karena kekenyangan Emeery yang sudah berganti pakaian malah tertidur pulas. Tidak sadar mobil miliknya sedang menjadi sasaran satu bocil yang masih berkeliaran.
Saat hendak pulang dia hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar melihat pemandangan di depan matanya. Mobilnya sudah penuh dengan lukisan tangan yang cantik.
Tak hanya Emeery, semua orang juga menunjukkan reaksi yang sama. Dan mereka sudah pasti tahu siapa pelakunya.
"Sansan," panggil Gerry dengan panik.
"I—iya, Daddy," jawab Sansan sambil menggigit bibirnya. Menggoyangkan badan ke kanan dan ke kiri.
Namun, sebelum Gerry memarahi gadis kecil itu, Emeery langsung pasang badan.
"Hehehe, nggak apa-apa kok. Mobilku emang udah saatnya masuk bengkel. Dan lukisan Sansan juga bagus, cuma salah tempat aja. Nggak apa-apa, lagian masih banyak mobilku di rumah, Om," cerocos Emeery yang sudah tentu tak didengarkan dengan baik oleh Gerry.
"Kamu mau bela yang salah lagi?" tanya Gerry berhadapan langsung dengan Emeery.
"Ger, udah! Baiknya kamu anterin Emeery aja, biar mobil dan Sansan jadi urusan Daddy," sergah Jerry supaya sang anak tidak meledak-ledak.
Gerry menarik napas.
"Tapi, Dad—"
"Udah sore, nanti kemaleman Mery nyampe rumahnya. Nggak enak Daddy sama Pak Bryan," jelas Jerry segera menggendong sang cucu untuk dinasehati.
Hah!
Akhirnya Gerry mengalah lagi.
***
Minal Aidin Wal Faizin ya semuanya, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang mengerjakan ✨🥰