Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Mang Mamat yang sempat mendengar suara gedebuk, dan juga suara pekikan membuatnya dilanda penasaran karena setelahnya ia tidak mendengar apapun lagi.
Sangat sepi...
Karena jarak antara gerobak jualan dengan Pos Kamling lumayan jauh ya apalagi kelindung pohon besar yang cukup rimbun membuat jarak pandangan tidak leluasa.
Takut terjadi sesuatu hal yang buruk, Mang Mamat mendekat ke arah Pos Kamling matanya menyipit melihat disana ada 4 sandal sepasang tapi kok tidak ada wujud orang nya makin curiga.
Semakin dekat, semakin dekat.....
DUAR...
Dan disinilah kejadian nya saat ini dimulai...
" ASTAGFIRULLAH, USTADZ! KALIAN BER-ZINAH" tanpa sadar Mang Mamat berteriak nyaring kebetulan lagi ada segerombolan para pria setengah baya yang lewat mendengar teriakan Mang Mamat mereka mendekatlah.
" ADA APA? APA ADA MAL-"
" ASTAFIRULLAH! KALIAN? "
" lAH USTADZ BARU ? "
Disitu, Delina langsung sadar dan mendorong tubuh Agam yang menimpa nya dari atas membuat tubuh Agam oleng kesamping hingga terjatuh.
" INI GAK SEPERTI YANG KALIAN BAYANGKAN! KAMI GAK SENGAJA TERJATUH KARENA JALAN NYA LICIN! "
" IYakan Ustadz? jelaskan Om! " panik Delina ketakutan,menarik ujung baju Agam.
Agam yang tampak loading, lagnsung tersentak saat pukulan diwajahnya terasa sakit.
" Hah? oh iya, maaf bapak-bapak semuanya ini hanya salah paham. Kami tidak melakukan tindakan apapun murni karena saya tidak sengaja terjatuh." jelas Agam lagi mencoba tenang dengan suara berat dan dingin nya menatpa para bapak-bapak disana yang sepetinya tidak percaya.
" Tidak! ini tidak dibenarkan di desa kita, cepat panggil Ketua RT dan RW serta orang tua kalian kita selesaikan di rumah Pak Rt." ucap salah satu warga disana memprovokasi.
" Buat apa? kami tidak melakukan tindakan susila, tidak perlu sampai melaporkan ke RT." bela Delina.
" Tidakan kalian, sudah kelwat batas! kalian berani berbuat hal me-sum disini. "
" Delina, kau warga desa ini. Kau seharusnya tahu kalau didesa pantang bagi wanita yang belum menikah berbuat me-sum dengan pria lain apalagi sampai hamil."
" IYa bener! gak bisa dibiarkan ini cepet seret bawa ke Pak Rt, atau sekalian ke penghulu nikah kan saja."
Bapak -bapak disana heboh hingga mengundang para ibu-ibu yang duduk diteras rumah mereka ikut mendekat juga.
" Ada apa ini bapak-bapak pada ribut malam-malam." tanya salah satu ibu-ibu yang ikutin ibu-ibu yang lain juga mendekat.
" Ini loh, Delian sama pemuda yang dari kota berbuat mesum di pos kamling."
" Astagfriullah, Delina! gak nyangka, kamu gadis polos ternyata kelakuan nya mengerikan."
" INi gak seperti yang kalian bayangkan! jagna terpengaruh omongan nya bapak-bapak yang lain dong ibu-ibu." bela Delina.
" Halah! gak usah munafik Lin! kami semua tahu kalau kamu tuh memang kegatelan jadi perempuan, alasan aja centil segala gak mempan."
" Iya betul, kalian sudah berbuat zi-na gak perlu ditutupin! ngaku aja."
" Kalian harus dinikahkan secepat mungkin, biar tidak jadi aib didesa ini."
Sorak-sorak ibu-ibu yang saling menyahut dengan suara lantang tak luput tatapan tajam menuduh, dan langsung menghakimir mereka diiringi gumama setuju dari beberapa warga yang berdiri dibelakang.
" Kalian gak bisa menghakimi seenaknya dong! dengerkan penjelsan kami dulu!" pekik Delina masi membela dirinya.
" GAk perlu membela diri, nyatanya kalian berduaan di sini terus saling tindih dengan posisi begitu apalagi kalau bukan berbuat dosa?" sahut yang lain memandang sinis.
" Kalian bisa tanyakan ke Mang Mamat, kami bertiga sama Si Aldo. Dia lagi ke toilet. " ucap Deilna menujuk ke Mang Mamat yang hanya berdiam diri saja.
Semua pasang mata menatap ke arah Mang Mamat yang tampak gelgapan gugup.
" Bener Mat? " tanya salah satu ibu-ibu disana yang berdiri tak jauh.
" Eh, itu... memang dari awal Neng Delina sama Den Aldo sama Pak Agam. Cuman setelah ada Pak Adam datang Den Aldo tidak saya lihat lagi terus... gak lama saya denger suara gedebuk saya kira apaan tadi taunya Neng Delina sudah begitu dengan Pak Agam." ucap Mang Mamat.
" Jangan percaya Mat, akal-akalan mereka aja itu biar bisa berbuat dosa! " seru seorang ibu-ibu yang mulai makin memanas.
Delina semakin terperanjat, wajahnya pucat air matanya sudah jangan ditanya lagi. ia buru-buru menggeleng. " T-tidak! yang kalian tuduhkan tidaklah benar! tadi aku cuman mau menolong Om Agam saja yang mau jatuh karena tanah nya licin. Om... tolongi, kalau begini terus kita bakal diarak kampung." rengek Delina.
Ia menoleh kearah Agam berharap lelaki itu ikut menjelaskan juga. " Om.... " bisik Delina lirih.
Namun Agam hanya mampu terduduk diam, wajahnya yang datar tanpa ekspresi ia menyilangkah kedua tangan nya seakan tidak perduli dengan semua tuduhan yang diarahkan kepadanya.
" Halah! gak usah banyak alesan." sahut salah satu bapak yang memprovokator tadi.
Di tengah keributan, suara laki-laki berat tiba-tiba terdengar lantang menerobos kerumunan orang-orang membuatnya semuanya rekflek menoleh.
" Elin!" panggil Bapak Roslan memandang anaknya sendu.
" BApak..." Lirih Delina.
Gadis itu yang melihat kedatangan bapaknya, langsung berdiri dan memeluk nya. Menyembunyikan wajahnya di perut Pak Roslan menumpahkan rasa takut dan sedihnya.
" Hiks, hikss... bapak. Takut!" nangis Delina.
" Apa yang terjadi sebenarnya? saya diberitahu warga sekitar kalau ada masalah antara anak saya dengan Ustadz Agam? dan kenapa kalian malah berkumpul disini." tanya Pak Roslan mengelus puncak kepala sang anak.
Warga saling pandang, lalu bapak-bapa yang memprovokasi maju selangkah dengan sok nya ia berkata." Pak Roslan, kami... mendapati anak bapak dan Ustadz baru ini di pos kamling melakukan perbuata dosa. "
" Astagfirullah! jaga mulutmu Bonge! anak ku tidak akan berbuat hal memalukan seperti itu! " ucap Pak Roslan penuh tekanan.
" Tanyakan langsung saja pada anak sampean, kenyataan nya memang seperti itu. " sinisnya lagi.
" Dan kami semua sepakat, untuk menikahkan mereka malam ini juga dirumah Pak RT agar tidak menimbulkan fitnah apalagi bisa saja anak mu hamil diluar nikha." sahut bapak -bapak yang lain.
Pak Roslan tampak terdiam, wajah pria itu memerah menahan amarahnya, ia menunduk melihat wajah sang anak yang sudha berlinang air mata dengan tubuh bergetar, lalu menoleh kearah Agam yang masih terduduk tegak dengan wajah dingin tatapan nya datar tanpa menunjukkan rasa bersalah atau ingin membela diri.
" Anak ku tidak akan melakukan hal sehina itu, aku tau bagaimana sifat putriku." tegas Pak Roslan.
" Tidak usha mengelak Pak Roslan, nasi sudah jadi bubur. kami melihat sendiri dengan mata kepala mereka berada diposisi yang tak lazim bagi pria dan wanita jika mereka tidak berbuat dosa, tidak mungkin kami akan menuduh sembarangan. "
" Apa yang dilihat belum tentu sama dengan kejadian yang sebenarnya, dan kalian ada bukti jika anak ku akan berbuat seprti itu?" tantang Pak Roslan.
" Kalau ada buktinya gimana?" tanya balik lagi.
" Kalau buktinya, nikahkan mereka malam ini." ucap Pak Roslan final.
" BAPAKK!!! " sentak Delina menoleh ke Pak Roslan yang tidak menolehkan sedikitpun wjahnya menatapnya.
" Tapi kalian tidak ada buktinya toh? jadi anggap saja ini selesai disini, biar urusan semua ini menjadi pihak keluarga saya dan yang bersangkutan saja." ucap Pak Roslan tegas dan penuh penekanan.
" Tidak Bisa! saya ada buktinya, kalian semua bisa lihat sendiri. " ucap slah satu bapak-bapak disna mengangkat ponselnya ia maju kedepan memperleihatkan pada Pak Roslan.
Pak Roslan dan Mak Nurlela yang melihatnya hanya bisa pasrah saja, lelaki berumur itu memejam kan matanya. Sedangkan Mak Nurlela mentutup mulutnya tak percaya apa yang dilihat.
" Bagaimana? sampean harus menepati janji ke kita smeua." ucap Bonge menatap penuh kemenangan disorakin semua warga disana yang setuju.
Pak Roslan tampak terdiam sejenak, ia menarik nafas pelan dan menghembuskan nya kasar ia menatap sekali lagi ke arah anaknya sebelum menegakkan pandangan nya menatap semua orang.
" Baiklah, saya akan jadi wali anak saya." ucap Pak Roslan mantap.
" Bpak!!! gak, Elin gak mau nikah! kita gak ngelakuin apapun Mak! Pak! percaya sama Elin, Elin gak bohong. Hiks...hiks..."
" Halah, munafik kamu Lin."
" Giliran sudah kejadian malu, waktu jadi cewe kegatelan kecentilan gak mikir konsekuensinya." seru ibu-ibu disana meneriaki Delina.
" Gak mau\~! Om, lakuin sesuatu dong! kenapa cuman diam aja! jadi lakik jangan pengecut." kali ini Delina yang marah-marah kesal karena sejak tadi dirinya lah yang membela keadaan mereka berdua.
" Saya akan menikahi mu malam ini juga." ucapan yang keluar dari bibir AGam membuat Delina rasanya ingin membanting pria itu dan meraung sejadi-jadinya.
Seperti tidak ada yang membela nya sama sekali kali ini, termasuk Agam yang mengiyakan saja dan membuat para warga desa percaya bahwa yang mereka tuduhkan adalah kebenaran nya.
" Tuh lihat, lakiknya aja mengaku. mending dari awal gak usah terlalu bela diri kalau ujung-ujungnya juga bakalan ngaku. "
" Sudah-sudah hentikan, sekarang kita kerumah Pak Rt saja sekarang." ucap Pak Roslan.