Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Diajak Main
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Gerry dengan kening berkerut dalam. Dia celingukan memastikan dengan siapa Emeery datang. Namun, ternyata tidak ada siapa-siapa di belakang gadis itu, setelah dari salon dan belanja Talita langsung disuruh pulang. Kampreet memang.
"Aku, mau ngunjungi calon suami, calon mertua, calon anak-anak aku lah," jawab Emeery dengan enteng. Padahal awalnya sikapnya kemarin menunjukkan bahwa dia tidak setuju dengan perjodohan ini.
Dia menjulurkan beberapa tentengan yang dia bawa sebagai buah tangan, kata Talita itu bagus untuk pancingan. Jangan sampai dia dicap sebagai orang pelit.
Namun, bukannya menerima, Gerry malah terlihat frustasi dengan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
'Tahu dari mana sih alamat rumah gue? Tiba-tiba banget dateng pake dandanan kayak gini. Mau gue embat, tapi nanti disangka pedopil.'
"Walaupun hari libur, aku banyak kerjaan. Jadi nggak bisa ngeladenin kamu, lagian bukannya kamu nggak setuju dengan perjodohan kita ini?" ujar Gerry, dia pikir sekali pun bukan dengan Mona, tapi tidak dengan Emeery juga.
"Siapa bilang? Aku udah ngenalin diri ke anak-anak Om sebagai Mommy baru loh, artinya aku mau lanjut. Terlebih sekarang aku udah ada di sini, kalo Om mau kerja ya kerja aja, anak-anak ada kan?" balas Emeery dengan penuh percaya diri. Emeery makin maju, tapi pinggangnya ditahan oleh Gerry.
"Siapa, Ger?"
"Bukan—"
Mendengar suara dari dalam, Emeery langsung melongok mencari siapa pemiliknya. Dia langsung tersenyum lebar dan menggeser tubuh Gerry yang sebenarnya lebih tinggi dan lebih besar, dia gentoyoran hampir terjatuh, apalagi dengan hak tinggi yang belum biasa dia pakai.
"Emeery, Tante, Om," seru gadis cantik itu memperkenalkan diri ke kedua orang tua Gerry. Melihat itu Gerry hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, sedangkan ayahnya yang sudah merencanakan perjodohan tampak tersenyum sumringah.
"Oh anaknya Pak Bryan ya?" tebak Jerry tepat sekali. Emeery langsung mengangguk gemulai, padahal sehari-harinya mana pernah dia bersikap demikian.
"Wah ternyata benar, kamu luar biasa cantik, lebih cantik dari yang di foto," puji Jerry dilebih-lebihkan sambil melirik putranya yang membalas dengan mengernyitkan bibir.
"Ah Om bisa aja," balas Emeery kembali sempoyongan karena pergelangan kakinya sempat tertekuk, beruntung Anggun—ibu Gerry langsung menangkapnya.
"Kamu nggak apa-apa? Sepatu kamu kayaknya ketinggian, Nak."
"Nggak apa-apa kok, Tan, aku udah biasa pake."
Cih! Pembohong besar.
"Kalo gitu ayo masuk, Nak, nanti Tante siapin minuman dan cemilan," lanjut Anggun, lalu matanya melirik sang anak yang bergeming di tempat. "Ger, kenapa diem aja sih? Ajak Emeery-nya dong."
Gerry menghembuskan napas panjang, mau tidak mau dia harus meladeni gadis tengil ini terlebih dahulu.
'Hah, masuk jebakan curut senior nih gue.'
***
Di saat mereka sedang ngobrol-ngobrol di ruang tamu, Ethan dan Sansan kompak keluar. Awalnya mereka berjalan pelan untuk mengintip, tapi aksi mereka tertangkap basah oleh sang kakek.
"Ethan, Sansan, sini ...."
Seruan itu membuat keduanya terlonjak di balik dinding, sedangkan yang lain langsung mengalihkan atensi masing-masing. Kedua bocah itu pun ragu-ragu melangkah untuk mendekat, kernyitan di dahi mereka jelas sekali saat melihat ternyata Emeery yang datang.
"Kakak yang kemalin," ceplos Sansan, yang masih ingat betul wajah Emeery tapi dengan penampilan yang sangat berbeda.
"Nah, kalian sudah kenal kan?" ucap Jerry.
Keduanya mengangguk polos.
"Ini—"
"Calon Mommy, mereka sudah tahu, Om, Tante, kalo aku calon Mommy baru mereka," potong Emeery yang membuat Gerry terlonjak.
"Heh!" sentak Gerry keceplosan.
"Heh apa, Ger? Emang bener kok Emeery calon ibu anak-anak kamu. Liat, mereka aja nggak sekaget kamu reaksinya," pungkas Jerry tersenyum senang. Sepertinya calon mantunya yang satu ini cukup unik dan mampu memberikan warna di keluarga mereka.
"Iya, Sayang, kenapa berlebihan begitu sih?" timpal Anggun yang kurang suka dengan respon putranya.
"Bukan gitu, Mom, Dad, tapi—"
Ucapan Gerry langsung terpotong, bukan oleh kedua orang tuanya, melainkan anaknya sendiri.
"Kalo gitu ayo main sama kami!" ajak Ethan kepada Emeery yang sedang minum dengan kemayu. Mendengar itu, Emeery hampir saja tersedak, karena sikap Ethan pun sekarang agak lain.
"Main?"
Kedua bocah itu saling pandang kemudian mengangguk.
"Oh tentu saja boleh, kita mau main apa?" tanya Emeery dengan penuh antusias. Dia sudah begitu percaya diri, anak-anak ini akan menyukainya. Tanpa banyak bicara, Sansan pun menggandeng tangan Emeery untuk diajak ke taman belakang.
Jerry dan Anggun tampak tersenyum melihat pemandangan tersebut. Sedangkan sang duda? Dia memutar leher dengan tampang terheran-heran, ada apa dengan anak-anaknya ini? Mona saja tidak diperlakukan begitu loh.
"Oke kan pilihan Daddy?" Jerry menepuk dada bangga. Sedangkan Gerry merasa ada yang tidak beres.
'Nggak-nggak, kayaknya ini ada yang salah.'
****
"Kalian cari apa sih? Kok dari tadi ngendap-ngendap terus, nggak dapet-dapet," tanya Emeery sambil memantau pergerakan anak-anak itu.
"Kakak sabar, kami punya sesuatu di taman ini, nanti Kakak juga tahu," jawab Ethan yang terlihat sangat fokus. Hingga akhirnya mereka menemukan apa yang sedari tadi mereka cari. Ethan menangkapnya, cukup besar hingga tangan kecilnya hampir tak bisa menutup.
"Ayo, ini pasti akan seru," bisik Ethan kepada Sansan. Gadis cilik itu langsung mengangguk sambil tersenyum lebar.
Setelah keduanya mendekat dengan tampang sumringah, Emeery masih belum curiga. Dia malah ikut antusias.
"Jadi, apa yang ingin kalian tunjukkan?" tanya Emeery sambil menatap Ethan dan Sansan secara bergantian.
Diiringi senyum smirk Ethan mengangkat kedua tangannya hingga ke hadapan Emeery, seekor kodok besar melompat ke arah gadis itu.
"Aaaaaa!!!" Emeery berteriak kencang.
Ethan dan Sansan langsung menyambar dengan tawa. Namun, bukan suara teriakan histeris, tampang ketakutan ataupun frustasi. Padahal itulah yang diharapkan dua bocah nakal itu.
"Ya ampun kok kalian tahu hewan kesukaanku?" sambung Emeery yang membuat tawa Ethan dan Sansan langsung surut.
"HAH?!"