Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.
Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.
SALAM DARI AUTHOR 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 7 : PERANG DINGIN DAN JEBAKAN JALUR JODOH
Langkah kaki Kalea Azzahra Putri dan Bi Minah yang menjauh dari ruang tindakan menyisakan kesunyian yang berat bagi Raditya Evan Baskara. Pria berusia 29 tahun itu menatap kartu nama hitam emasnya yang kini sudah tidak ada lagi di atas meja—berpindah ke tangan sang manajer hotel yang bar-bar. Raditya mengembuskan napas pendek. Ia melepaskan jubah tindakan hijau tuanya, menggantinya kembali dengan jas dokter putih formal kebanggaannya.
Sebagai seorang Dokter Spesialis Bedah Umum dan Traumatologi genius, jadwal Raditya hari ini sama sekali tidak memberikan ruang untuk bersantai. Hanya berselang sepuluh menit setelah menyelesaikan jahitan di dahi Kalea, sebuah panggilan darurat dari ruang operasi utama berdering. Ada pasien korban kecelakaan lalu lintas beruntun yang membutuhkan tindakan laparatomi eksplorasi segera akibat perdarahan internal yang hebat.
Radit melangkah cepat menyusuri koridor steril menuju gedung bedah sentral. Di dalam ruang operasi yang dingin dan dipenuhi monitor penanda detak jantung, Radit bertransformasi menjadi sosok yang sangat berbeda. Ia fokus, tenang, dan tangannya bergerak laksana pisau bedah yang dipandu oleh intuisi medis tingkat tinggi. Selama hampir tiga jam penuh, Radit bertaruh nyawa menyelamatkan pasien tersebut. Keringat yang menetes di pelipisnya diseka dengan cekatan oleh perawat instrumen. Baginya, menyelamatkan nyawa manusia adalah kepuasan tertinggi yang melampaui tumpukan harta miliknya.
Tepat pukul dua siang, operasi besar itu akhirnya selesai dengan keberhasilan mutlak. Radit melangkah keluar dari ruang operasi, melepaskan masker dan gaun sterilnya di ruang transisi. Tubuhnya terasa cukup lelah, namun pikirannya mendadak kembali teringat pada manajer hotel bermata biru alami yang sangat berani menampar pipinya tadi pagi.
Saat Radit sedang berjalan menyusuri koridor utama rumah sakit menuju ruang kerjanya untuk beristirahat, ponsel pintar di dalam saku celananya mendadak bergetar hebat. Layar ponsel menampilkan nama yang paling ia hormati sekaligus ia hindari saat ini: Mommy.
Radit menekan tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Assalamualaikum, Mommy. Ada apa? Radit baru saja selesai keluar dari ruang operasi."
"Waalaikumsalam, Radit!" suara Ambarwati Baskara terdengar sangat tegas dan tidak menerima bantahan dari seberang telepon. "Kamu sekarang juga harus pulang ke rumah! Cepat bersiap-siap!"
Radit mengernyitkan dahinya, langkah kakinya terhenti di dekat jendela koridor besar. "Pulang sekarang, Mom? Radit tidak bisa. Jadwal Radit hari ini sangat padat. Masih ada visitasi pasien VIP di bangsal pasca-operasi dan beberapa dokumen direksi yang harus Radit periksa. Radit sedang bekerja, Mommy."
"Mommy tidak mau tahu tentang alasan rumah sakitmu itu, Raditya Evan Baskara!" sahut Ambarwati dengan nada suara yang meninggi, tanda bahwa ia sedang sangat serius dan mulai marah. "Ada hal yang jauh lebih penting yang harus kita bicarakan di rumah siang ini! Ini soal masa depanmu!"
Radit menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa kaku. "Mommy, kalau soal perjodohan dengan anak Jeng Larasati yang Mommy bicarakan di meja makan tadi pagi, Radit sudah bilang kalau Radit menolak. Radit sudah punya pilihan sendiri."
"Pilihan sendiri yang mana?! Yang perempuan bermata biru mirip bidadari dongeng itu? Sampai sekarang kamu bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya pada Mommy!" omel Ambarwati dari balik telepon. "Jangan mencoba membohongi Mommy ya, Radit! Sekarang pilihannya cuma dua: kamu pulang ke rumah dalam waktu tiga puluh menit, atau Mommy akan datang ke rumah sakit bersama Jeng Larasati dan mengacaukan rapat direksimu besok pagi! Kamu tahu betul kalau Mommy tidak pernah main-main dengan ancaman Mommy!"
Mendengar ancaman mutlak dari sang ibunda, Raditya langsung terdiam. Ia tahu betul karakter Mommy-nya. Jika Ambarwati sudah mengeluarkan ancaman seperti itu, wanita paruh baya itu benar-benar akan melaksanakannya tanpa peduli reputasi Radit sebagai Direktur Utama di rumah sakit.
Radit menghela napas pasrah, bahunya merosot turun. "Baik, Mommy. Radit rapikan berkas dulu, setelah itu Radit langsung pulang. Jangan datang ke rumah sakit."
"Bagus! Mommy tunggu di ruang tamu. Jangan lewat dari tiga puluh menit!" Klik. Sambungan telepon diputus sepihak oleh Ambarwati.
Radit menatap layar ponselnya yang sudah menggelap dengan tatapan frustrasi. Ia menggerutu pelan dalam hati. Ia benar-benar tidak tahu hal mendesak apa lagi yang ingin dibicarakan ibunya sampai harus menggunakan ancaman seperti itu. Pria berusia 29 tahun itu bergegas kembali ke ruangannya, mengambil kunci mobil pengganti—mengingat Mercedes-Benz miliknya sedang diurus oleh bagian montir karena kaca depannya hancur—lalu melangkah menuju parkiran.
Tiga pukul menanti kemudian, mobil sedan hitam milik rumah sakit yang dikendarai Radit memasuki pekarangan rumah mewah keluarga Baskara. Radit mematikan mesin mobil, merapikan jas dokternya yang masih melekat di tubuh, lalu melangkah masuk melewati pintu utama yang menjulang tinggi.
Begitu kakinya melangkah masuk ke dalam ruang tamu luas bernuansa klasik modern itu, langkah Radit seketika mematung. Pemandangan di depannya langsung membuat firasatnya berubah menjadi sangat buruk.
Di atas sofa beludru mewah berwarna krem, sang Mommy sedang duduk berdampingan dengan seorang wanita paruh baya bermake-up tebal dan perhiasan berlian yang mencolok—Jeng Larasati. Dan yang paling mengejutkan, di sofa tunggal sebelah mereka, duduk seorang gadis muda yang mengenakan pakaian yang sangat berani dan seksi. Gadis itu mengenakan gaun pendek ketat berwarna merah menyala yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas serta potongan dada yang cukup rendah. Rambutnya dicat pirang bergelombang, dan wajahnya dipenuhi riasan tebal ala model papan atas. Dia tidak lain adalah Natasha Olivia Renata, wanita yang hendak dijodohkan dengan Radit.
Radit menarik napas dalam-dalam, mengunci ekspresi wajahnya kembali menjadi sedingin es dan sekaku batu batuan. Ia melangkah maju mendekati kerumunan wanita tersebut.
"Assalamualaikum," ucap Radit dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa.
Ambarwati langsung menengadah dengan senyuman lebar. "Waalaikumsalam. Nah, ini dia putra sulungku yang sedari tadi kita bicarakan, Jeng Laras."
Radit membungkuk hormat, meraih tangan ibunya lalu mencium punggung tangan Ambarwati dengan takzim. Ia kemudian beralih ke arah Jeng Larasati, melakukan hal yang sama sebagai bentuk sopan santun yang diajarkan mendiang ayahnya. "Selamat siang, Tante Laras."
"Aduh, tampan sekali ya, Jeng Ambar. Putih bersih, tinggi menjulang lagi. Benar-benar menantu idaman," puji Jeng Larasati dengan senyuman sumringah yang dibuat-buat, matanya berbinar melihat ketampanan Radit.
Setelah mencium tangan kedua wanita paruh baya itu, Radit menegakkan kembali tubuh jangkungnya yang setinggi 185 sentimeter. Pandangan matanya beralih, hanya melihat sekilas—tidak lebih dari satu detik—ke arah Natasha yang duduk di sofa sebelah kirinya dengan tatapan yang sangat dingin tanpa minat sedikit pun.
Melihat kehadiran Radit, Natasha langsung tersenyum sangat lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ia merasa sangat terpesona dengan ketampanan sang Direktur Utama yang memiliki lesung pipi samar tersebut. Natasha berdiri dari sofanya, melangkah mendekati Radit dengan gerakan yang sengaja dibuat gemulai, lalu mengulurkan tangan kanannya yang lentik untuk berkenalan.
"Halo, Dokter Radit. Kenalkan, aku Natasha Olivia Renata. Mommy Ambar sering sekali menceritakan tentang kamu ke aku," ucap Natasha dengan nada suara yang dibuat manja, matanya menatap Radit penuh kedipan menggoda.
Radit menatap uluran tangan Natasha dengan pandangan datar. Kedua tangannya justru tetap kokoh terlipat di depan dada atau dimasukkan ke dalam saku jas dokternya. Ia sama sekali tidak membalas uluran tangan tersebut, membuat tangan lentik Natasha menggantung di udara mengenaskan selama beberapa detik.
Suasana ruang tamu seketika berubah menjadi sangat canggung dan sedingin es. Jeng Larasati yang melihat itu langsung mengubah senyumannya menjadi kaku, sementara Ambarwati memberikan tatapan melotot tajam ke arah putra sulungnya sebagai teguran atas sikap tidak sopannya.
Natasha yang merasa malu akhirnya menarik kembali tangannya perlahan, lalu tersenyum canggung sambil membenarkan letak gaun merah pendeknya yang sedikit terangkat. "Ah... sepertinya Dokter Radit sedang sangat lelah ya setelah pulang dari rumah sakit."
"Radit, jaga sikapmu," tegur Ambarwati dengan suara rendah yang penuh penekanan dari atas sofa. "Natasha ini tamu kita, dia sengaja meluangkan waktu dari jadwal modeling-nya yang padat hanya untuk berkunjung dan berkenalan denganmu siang ini."
Radit melangkah mundur satu langkah, memperlebar jarak di antara dirinya dan Natasha. "Maaf, Mommy, Tante Laras, dan... Nona Natasha. Sikap saya memang seperti ini jika sedang berada di rumah atau di luar jam kerja. Saya tidak suka berbasa-basi."
Jeng Larasati berdeham kecil, mencoba mencairkan suasana yang kaku. "Ah, tidak apa-apa, Jeng Ambar. Dokter spesialis bedah dan direktur utama muda seperti Nak Radit ini pasti memang sibuk dan tegas pembawaannya. Justru pria yang serius seperti ini yang sangat bertanggung jawab untuk masa depan anak saya, Natasha."
Ambarwati kembali tersenyum, lalu menepuk-nepuk sofa di sampingnya. "Sudah, Radit, kamu duduk dulu di sini. Hari ini kita kumpul memang sengaja untuk membahas kelanjutan rencana perjodohan dan pertunangan kalian berdua yang akan diadakan bulan depan."
Mendengar kata 'pertunangan bulan depan', darah Raditya mendadak berdesir panas menahan rasa kesal yang luar biasa. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku jas dokter putihnya. Sifat perfeksionis dan ketegasannya menolak untuk terus ditekan ke dalam situasi yang tidak ia inginkan.
"Mommy, Tante Laras, tolong dengarkan saya baik-baik," ucap Radit dengan suara bariton yang sengaja dikeraskan dan penuh penekanan yang mutlak, membuat seluruh wanita di ruangan itu terdiam seketika. "Saya rasa pembicaraan tentang perjodohan atau pertunangan ini tidak perlu dilanjutkan lagi. Saya menolak perjodohan ini secara mutlak."
DEG!
Wajah Jeng Larasati langsung berubah merah padam karena merasa terhina dengan penolakan yang begitu blak-blakan di depan wajahnya. Natasha juga langsung melongo, matanya berkaca-kaca menahan rasa malu dan syok karena ditolak mentah-mentah oleh seorang pria untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai model papan atas.
"Raditya! Jaga bicaramu!" bentak Ambarwati, berdiri dari sofanya dengan wajah yang memerah murka atas kelakuan anaknya yang dianggap mempermalukan dirinya di depan sahabatnya sendiri. "Mommy tidak pernah mengajarimu bersikap sekasar ini pada tamu! Apa alasanmu menolak Natasha?! Dia cantik, mandiri, dan keluarganya terhormat!"
"Kekasih yang mana, Dokter Radit?! Jangan membuat alasan palsu hanya untuk menolak aku! Semua kolega bisnis dan media tahu kalau kamu itu jomblo seumur hidup dan tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun!" sahut Natasha yang tidak terima, suaranya meninggi karena kesal dengan penolakan blak-blakan itu.
Radit melirik Natasha dengan tatapan meremehkan yang sangat dingin. "Apakah seorang Direktur Utama harus mengumumkan kehidupan pribadinya ke media atau kepada orang asing seperti Anda, Nona Natasha? Hubungan kami berdua adalah privasi. Kekasih saya adalah seorang wanita terhormat yang memiliki karir cemerlang, bermata biru jernih yang indah alami, dan dia jauh lebih menawan daripada model berpakaian seksi seperti Anda!"
Mendengar pujian Radit yang begitu tinggi untuk kekasih fiktifnya—yang tanpa sadar ia deskripsikan menggunakan karakter Kalea—Ambarwati langsung mendengus sinis. "Radit! Cukup dengan bualan bidadari bermata birumu itu! Mommy kasih kamu waktu dua minggu, bawa perempuan itu ke sini! Kalau kamu tidak bisa membawanya, Mommy akan langsung mendaftarkan pernikahanmu dengan Natasha di KUA tanpa persetujuanmu lagi!"
"Baik! Dua minggu dari sekarang, saya akan membawa wanita bermata biru itu ke rumah ini untuk membuktikan kata-kata saya kepada Mommy!" jawab Radit dengan nada suara yang penuh tantangan mutlak, lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat.
Tanpa memedulikan teriakan panggilan ibunya dan tangisan manja Natasha yang mulai pecah di ruang tamu, Raditya Evan Baskara melangkah lebar meninggalkan rumah mewah itu menuju ke mobilnya kembali. Di dalam dadanya, jantung Radit berdegup kencang karena emosi yang meluap. Namun di balik kemarahannya, sebuah senyuman misterius perlahan terukir di sudut bibir tampannya saat ia teringat kartu nama hitam emas yang kini berada di tangan Kalea. Permainan besar sudah dimulai, dan ia tahu pasti bahwa besok malam jam tujuh, sang manajer hotel bar-bar itu akan menjadi satu-satunya kunci penyelamat dari belenggu perjodohan gila ibunya.
Di ruang tamu kediaman Baskara, tangisan Natasha Olivia Renata pecah begitu pintu utama tertutup rapat di belakang tubuh tegap Raditya Evan Baskara. Gaun pendek merah menyala yang dikenakannya tampak berguncang seiring dengan bahunya yang naik turun karena isakan yang sengaja dikeras-keraskan. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan sang ibu, Larasati murni Mahendra.
"Mama... hiks... aku malu sekali, Mah!" tangis Natasha sambil menyembunyikan wajah bermake-up tebalnya di pundak ibunya. "Dokter Radit keterlaluan! Bisa-bisanya dia menolak aku dan mengusir kita secara halus di depan Mommy Ambar? Aku ini model papan atas, Mah! Semua laki-laki berlutut mengejar aku, tapi dia malah menghina aku di depan mataku sendiri!"
Larasati mengusap punggung anaknya dengan wajah yang memerah padam karena menahan rasa dongkol yang luar biasa. "Sudah, Natasha sayang, jangan menangis lagi. Hapus air matamu, nanti maskaramu luntur. Jeng Ambar, lihat sendiri kan bagaimana kelakuan putra sulungmu itu? Anakku datang dengan niat baik, tapi malah diperlakukan seperti pengemis cinta!"
Ambarwati Baskara menghela napas panjang dengan raut wajah penuh rasa bersalah. Ia bergeser mendekati sofa tempat Natasha dan Larasati duduk, lalu memegang jemari Natasha dengan lembut untuk menenangkannya. "Natasha, Jeng Laras, Mommy benar-benar minta maaf atas sikap kaku dan ketus Radit tadi. Dia memang anak yang terlalu perfeksionis dan keras kepala kalau sudah menyangkut pekerjaan atau kehidupan pribadinya. Tolong jangan diambil hati ya, sayang."
Natasha mendongak, matanya yang dilapisi lensa kontak abu-abu tampak berkaca-kaca menatap Ambarwati dengan pandangan memelas. "Mommy... jujur, aku sangat sedih. Aku benar-benar mencintai Radit sejak pertama kali melihat foto tampannya yang ditunjukkan oleh Mama tiga bulan yang lalu. Saat itu juga, aku sudah jatuh cinta padanya, Mom. Aku mengagumi wibawanya, prestasinya sebagai direktur utama, semuanya! Aku sudah membayangkan bisa menjadi istri yang baik untuknya dan mendampinginya di setiap acara resmi rumah sakit. Tapi kenapa dia tega berbohong soal perempuan mata biru itu hanya untuk menolak aku, Mom?"
Ambarwati menepuk-nepuk tangan Natasha dengan penuh rasa sayang, binar matanya menunjukkan dukungan penuh yang mutlak untuk model seksi tersebut. "Mommy tahu, Natasha. Mommy tahu kamu anak yang baik dan sangat cocok untuk Radit. Jangan menyerah hanya karena gertakannya tadi. Perempuan bermata biru yang dia agung-agungkan itu pasti cuma karangan Radit saja karena dia panik mau Mommy jodohkan! Mommy sangat mendukungmu untuk mendapatkan hati Radit. Pokoknya, hanya kamu yang pantas menjadi menantu di rumah ini dan segera menikah dengan Radit. Mommy yang akan memasang badan untukmu!"
"Benar itu, Jeng Ambar? Kamu harus pegang janjimu," sahut Larasati sambil membenarkan letak gelang berliannya yang berkilau. "Jangan sampai anakku yang cantik ini digantungkan statusnya oleh bualan anakmu."
"Tentu saja, Jeng Laras. Dua minggu lagi, kita buktikan bersama di sini. Radit tidak akan bisa membawa siapa pun!" tegas Ambarwati dengan senyuman penuh intrik yang menenangkan hati Natasha.
...****************...
Sementara itu, di belahan kota Jakarta yang lain, taksi daring yang membawa Kalea Azzahra Putri Wijaya akhirnya berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman keluarga Wijaya. Setelah menempuh perjalanan yang sunyi dari rumah sakit dengan dahi yang kini dibungkus perban kasa steril, Kalea melangkah turun dengan tubuh yang terasa sangat lelah. Bi Minah berjalan di sampingnya, membawakan tas selempang kulit hitam milik Kalea yang talinya sudah putus mengenaskan akibat insiden copet tadi pagi.
Begitu Kalea mendorong pintu utama rumahnya dan melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang luas, langkah kakinya seketika terhenti. Matanya yang biru jernih membelalak kecil melihat pemandangan di hadapannya.
Ruang tengah rumah keluarga Wijaya siang itu mendadak berubah menjadi sangat ramai dan bising oleh gelak tawa. Di atas sofa-sofa mahal bernuansa emas, berkumpul belasan ibu-ibu sosialita kelas atas—teman-teman arisan Sarah Wijaya—yang mengenakan pakaian mewah dan perhiasan yang mencolok. Di sudut ruangan, beberapa anak gadis remaja yang ikut dengan ibunya tampak sedang sibuk berfoto. Dan di tengah-tengah kerumunan itu, duduk Shinta Kirana Wijaya dengan pakaian kasual bermerek, sedang sibuk menuangkan minuman ke gelas-gelas kristal.
Kehadiran Kalea yang mengenakan setelan blazer biru pastel dengan perban menempel di dahinya serta tangan yang membawa tas rusak langsung menarik perhatian seluruh pasang mata di ruangan itu. Suasana yang tadinya bising oleh tawa mendadak menjadi senyap selama beberapa detik.
Seorang wanita paruh baya dengan gaya rambut sanggul tinggi dan kipas sutra di tangannya—Jeng mardiah—menyipitkan matanya, menatap Kalea dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh selidik yang tidak bersahabat.
"Jeng Sarah... itu siapa ya yang baru datang?" tanya Jeng Mardiah dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, memecah kesunyian. "Wajahnya asing sekali. Tapi seragam blazer birunya bagus ya, seperti pegawai kantoran. Selama ini kan yang kami tahu, anak gadis di keluarga Wijaya ini cuma ada dua putri yang cantik-cantik. Dokter Spesialis Fitri yang hebat itu, dan si cantik Shinta yang influencer terkenal. Lalu... perempuan berhijab dengan dahi diperban ini siapa, Jeng?"
Mendengar pertanyaan dari sahabat sosialitanya, Sarah Wijaya yang sedang memegang cangkir teh porselen langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat dingin, kaku, dan dipenuhi rasa muak yang mendalam. Ia melirik Kalea dengan pandangan yang sangat jijik seolah-olah sedang melihat tumpukan kotoran di lantai rumahnya.
"Oh, dia?" Sarah tertawa mengejek yang sangat hambar, tawa yang penuh dengan penghinaan mutlak di depan teman-teman arisannya. "Jeng Mardiah dan ibu-ibu sekalian tidak usah heran. Perempuan yang baru pulang itu... dia cuma pembantu baru di rumah ini! Dia anak angkat tidak jelas asal-usulnya yang kami pekerjakan untuk membantu beres-beres rumah!"
Seketika, tawa mengejek langsung meledak bergemuruh di seluruh penjuru ruang tengah dari mulut para ibu-ibu sosialita tersebut. Mereka menutup mulut mereka dengan kipas, menatap Kalea dengan pandangan meremehkan yang sangat kejam.
Shinta tidak mau melewatkan kesempatan emas ini untuk ikut menginjak harga diri kakaknya di depan umum. Ia berdiri dari sofanya, melangkah mendekati Kalea dengan senyuman sinis dan licik yang menghiasi wajah cantiknya. "Hahaha! Benar kata Mama, Tante-tante sekalian! Dia itu cuma pembantu pembawa sial di rumah kami! Lihat saja dahinya sampai bocor begitu, pasti habis berantem di jalanan atau gatal menggoda suami orang di luar sana makanya digebukin warga! Dasar tidak tahu malu, statusnya cuma numpang hidup di rumah ini tapi gayanya sok anggun pakai blazer segala!"
Mendengar rentetan hinaan, fitnah keji, dan tawa mengejek dari ibu kandung dan adiknya sendiri di depan belasan orang asing, darah bar-bar di dalam diri Kalea langsung mendidih hebat sampai ke ujung kepala. Rasa pening di dahinya yang terluka seolah hilang menguap berganti amarah yang membara. Matanya yang berwarna biru jernih berkilat tajam laksana mata pisau yang siap menghunjam maut. Kalea mengepalkan tangannya kuat-kuat, menegakkan punggungnya, lalu melangkah maju mendekati sofa arisan tersebut tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Jaga mulut kalian semua, terutama Anda, Nyonya Sarah yang terhormat, dan kamu Shinta!" suara Kalea berdentang lantang, tegas, dan sangat menusuk memotong tawa para ibu-ibu sosialita hingga mereka terbungkam seketika. "Saya bukan pembantu di rumah ini! Saya adalah General Manager di Hotel Grand Luminance, sebuah posisi terhormat yang tidak akan pernah bisa didapatkan oleh anak manjamu yang cuma bisa dandan dan merusak rumah tangga orang lain ini! Dan untuk Ibu-ibu sekalian yang duduk di sana... sangat disayangkan ya, pakaian Anda semua bermerek miliaran rupiah, perhiasan berlian berderet, tapi sayang sekali kapasitas otak dan adab Anda semua tidak lebih tinggi dari tumpukan sampah di pinggir jalan karena sangat mudah menertawakan luka orang lain!"
DEG!
Wajah Jeng Mardiah dan para ibu-ibu sosialita lainnya langsung berubah merah padam karena merasa sangat terhina dan tertusuk oleh ucapan blak-blakan Kalea yang sangat berani tersebut.
"Apa kamu bilang?! Dasar pembantu kurang ajar! Berani sekali kamu mengatai kami sampah?!" bentak Jeng Mardiah murka. Dengan gerakan yang sangat cepat karena emosi yang meluap, Jeng Mardiah meraih sebuah gelas kristal berisi jus jeruk pekat dari atas meja, lalu menyiramkan seluruh isinya tepat ke arah wajah Kalea.
BYUURRR!
Cairan jus jeruk yang manis dan lengket seketika membasahi wajah cantik Kalea, merembes ke balik perban dahinya yang putih, dan mengotori jilbab voal biru pastel premium serta blazer birunya yang rapi.
Kalea memejamkan matanya sejenak, membiarkan cairan lengket itu menetes melewati pipinya. Di belakangnya, Bi Minah sudah memekik histeris ketakutan. "Ya Allah, Non Kalea!"
Belum sempat Kalea membuka matanya kembali, dua orang ibu sosialita lainnya langsung maju mendekat, mencengkeram bahu Kalea dengan kasar, lalu mendorong tubuh mungil Kalea dengan sekuat tenaga hingga Kalea terhuyung ke belakang dan jatuh tersungkur di atas lantai marmer dingin dekat pintu koridor.
"Hahaha! Rasakan itu! Cuma pembantu miskin tidak tahu diri saja berlagak sok suci di depan kami!" cemooh ibu-ibu tersebut sambil berkacak pinggang, kembali tertawa terpingkal-pingkal bersama Shinta dan Sarah yang tampak sangat puas menyaksikan penderitaan Kalea. "Ingat posisimu ya, perempuan sialan! Kamu itu cuma sampah di rumah keluarga Wijaya! Cepat pergi dari sini sebelum kami suruh sekuriti menyeretmu ke tempat pembuangan!"
Kalea perlahan membuka mata birunya yang kini tampak memerah menahan gemuruh badai emosi dan air mata yang mendesak ingin keluar. Ia mengusap sisa jus jeruk di wajahnya dengan punggung tangannya yang gemetar. Ia menatap ke arah ibunya, adiknya, dan seluruh wanita kejam di ruangan itu dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kebencian yang teramat sangat mendalam. Sifat tangguhnya menolak untuk membalas dengan tangisan cengeng di depan orang-orang berhati iblis ini.
Kalea bangkit berdiri dengan perlahan, mengabaikan rasa perih di dahinya yang kembali berdenyut menyakitkan akibat rembesan air jus. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia membalikkan tubuhnya dengan tegap dan langsung melangkah cepat setengah berlari menuju ke kamarnya di lantai atas, meninggalkan gaung tawa kepuasan dari ruang tengah yang terus mencabik-cabik sisa ketabahannya siang itu.