Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.
Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.
Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Evelyn yang Putus Asa
"Lebih baik aku segera pergi sebelum dia tersadar," ucapnya terburu-buru.
Namun, dewi keberuntungan tampaknya sedang enggan berpihak pada sang raja malam ini.
Karena kondisi kamar kecil itu sangat berantakan, kaki Damian tak sengaja menginjak sebuah botol kaleng bekas soda yang tergeletak di lantai.
KRETEK... GEDEBUK!
Alhasil, sang Raja Demon yang agung kehilangan keseimbangan. Bokongnya menghantam lantai kayu dengan bunyi yang cukup keras.
"Kurang ajar!" geram Damian penuh emosi.
Wajah tampannya memerah menahan malu sekaligus kesal. Ia melotot tajam menatap kaleng soda kosong yang baru saja menodai harga dirinya, lalu mencengkeramnya kuat-kuat hingga kaleng itu remuk tak berbentuk.
Tak sampai di situ, kobaran api hitam menyembur dari telapak tangannya, membakar habis kaleng sialan itu hingga menjadi abu dalam sekejap.
Dengan perasaan dongkol yang meluap-luap, Damian bangkit berdiri. Ia membersihkan jubah mewahnya dari debu, lalu menatap nyalang ke sekeliling ruangan yang penuh tumpukan barang.
"Dasar gadis pemalas, jorok, dan... ah, sudahlah! Aku tidak sudi berlama-lama di tempat sekumuh ini!" rutuk Damian sinis.
Ia kembali merapal mantranya dengan kilatan emosi di mata hitamnya, lalu lenyap dari kamar tersebut, meninggalkan keheningan malam yang kembali mencekam.
Beberapa jam kemudian...
Evelyn terbangun dengan sentakan hebat. Jantungnya bertalu-talu. Ia langsung turun dari ranjang dan menatap sekeliling dengan bingung.
"Bagaimana mungkin aku bisa ada di sini?"
Ia menunduk, memperhatikan penampilannya yang masih mengenakan sweter hitam semalam.
"Apa kejadian tadi itu hanya mimpi?"
Ia memejamkan mata erat-erat, berharap kengerian di hutan yang disaksikannya hanyalah sebuah bunga tidur yang buruk—meskipun kilasan ibunya yang terkoyak terasa terlalu nyata dan menyakitkan untuk disebut sebagai mimpi biasa.
Evelyn mendadak teringat sesuatu. "Ibu...!"
Ia panik, bergegas berlari keluar dari kamar. Namun, ruang tengah sepi senyap. Tidak ada siapapun di sana. Evelyn melangkah cepat menuju kamar Karina, tetapi ruangan itu pun kosong melompong.
"Ibu! Ibu di mana?!" teriaknya kencang.
Hening. Tidak ada sahutan sama sekali. Kesunyian itu justru membuat dadanya kian sesak oleh kepanikan yang mendera.
"Tidak mungkin..." Evelyn menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha mengusir kenyataan pahit.
Ia berniat lari keluar rumah untuk mencari ibunya. Namun, begitu tangannya meraih kenop pintu depan dan memutarnya, pintu itu bergeming.
Evelyn memutar kuncinya berkali-kali, tetapi daun pintu itu seolah telah menyatu dengan dinding. Tetap terkunci rapat.
"Kenapa tidak mau terbuka?! Pintu sialan ini rusak atau apa?!" jeritnya frustrasi.
DUG!
Evelyn menendang pintu kayu itu dengan putus asa. Kakinya kesakitan, namun pintu itu tidak bergeser satu milimeter pun.
Tak habis akal, ia berlari menuju pintu belakang. Hasilnya sama: terkunci. Evelyn mencoba membuka jendela, namun semua kaca dan bingkai kayu di rumah itu seolah menolak untuk terbuka.
Sudah satu jam lamanya Evelyn melakukan hal konyol itu. Ia bahkan nekat mengambil botol kaca dan benda berat lain untuk dilemparkan ke jendela.
Anehnya, benda-benda itu justru memantul kembali tanpa meninggalkan bekas goresan sedikit pun pada kaca. Rumah sewa ini seolah telah dikelilingi oleh dinding transparan yang tak kasat mata.
"Ada apa dengan rumah ini?!" jeritnya frustrasi, nyaris gila oleh keanehan yang di luar nalar tersebut.
Akhirnya, Evelyn menyerah. Ia berjalan gontai kembali ke kamar sang ibu, berniat mencari petunjuk apa saja yang bisa menjelaskan semua keanehan ini.
Namun, alih-alih menemukan jawaban, pandangannya justru tertuju pada jejeran botol wine milik Karina di sudut ruangan.
Tanpa banyak bicara, Evelyn menyambar dua botol sekaligus. Ia membuka tutupnya dengan kasar, lalu menenggaknya hingga tandas.
Rasa pahit dan panas alkohol seketika membakar tenggorokannya, bercampur dengan denyutan ekstrem di kepalanya akibat glioblastoma yang kembali bergejolak.
Dengan kesadaran yang mulai berputar, Evelyn berdiri di depan jendela, menatap hamparan langit malam. Ia menyunggingkan senyum—sebuah senyuman getir yang sarat akan kepahitan dan keputusasaan yang teramat dalam.
"Aku sudah muak dengan semua ini! Aku ingin dunia ini ikut hancur bersamaku!" Teriaknya parau pada langit malam.
Bertepatan dengan makiannya, sekelebat cahaya komet melesat cepat membelah kegelapan.
Evelyn berbalik lambat. Tatapan matanya yang mulai sayu mendapati seutas tali tambang mencuat dari laci meja ibunya.
Dengan langkah sempoyongan akibat mabuk, ia mengambil tali itu, menyeret sebuah kursi kayu ke dapur, lalu mengikatkan ujung tambang pada plafon rumah.
Ya, di titik terendah hidupnya ini, Evelyn memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Setelah simpulnya siap, Evelyn memandangi lubang tali yang berayun pelan di hadapannya.
"Aku sendirian sekarang. Tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Lebih baik aku pergi menyusul Ayah dan Ibu," bisiknya lirih, benar-benar telah kehilangan akal sehatnya.
Tanpa membuang waktu lagi, Evelyn mengalungkan tali tambang itu ke lehernya. Ia memejamkan mata, lalu menyentak kakinya untuk menjatuhkan kursi tumpuannya. Tubuhnya melayang di udara selama satu detik.
Namun, tepat di detik berikutnya...
KRAK!
Tali tambang tua itu putus karena lapuk.
BRUKK!
Tubuh kurus Evelyn menghantam ubin dapur yang keras dengan sangat telak.
"Arghhh!" Evelyn meringis kesakitan, memegangi pinggul dan punggungnya yang terasa remuk.
Ia menatap sisa tali yang menggantung di plafon dengan tatapan emosi yang meluap-luap. "Tali brengsek! Bahkan seutas tali pun ikut tertawa dan mengejek penderitaanku!" makinya sinis.
Tambang itu rupanya sudah terlalu lama disimpan di laci hingga lapuk dimakan usia.
Alih-alih mengantarkannya pada kematian, tali itu justru menjatuhkannya ke lantai, meninggalkannya dalam rasa sakit fisik yang nyata di tengah ruangan yang sunyi.
Sementara itu, di kastil megah milik Damian...
Sang Raja Demon sedang duduk santai di area balkon dengan kedua kaki yang sengaja dinaikkan ke atas meja kayu ek. Jemari kokohnya menggenggam secangkir porselen hitam berisi teh hangat. Di sampingnya, Dominic berdiri dengan postur tubuh kaku dan formal seperti biasa.
"Kau melihat komet yang melintas tadi, Dominic?" tanya Damian.
Matanya menatap lurus ke langit malam yang pekat, menyunggingkan senyum tipis yang sarat misteri. "Aku seolah mendengar teriakan penuh keputusasaan dari kejauhan. Dan teh ini... entah kenapa aku justru mencium aroma alkohol yang kuat di dalamnya."
Damian tersenyum puas. Berkat ikatan takdir yang mulai terjalin, ia bisa merasakan gejolak emosi dan apa pun yang sedang diteguk oleh Evelyn di rumah sewanya saat ini.
Dominic sedikit mengernyit, mencoba mencerna ucapan tuannya. "Apa maksud Anda, Yang Mulia? Tampaknya suasana hati Anda sedang sangat baik malam ini."
"Aku baru saja menemukan mainan baru yang menarik," sahut Damian. Ia menyipitkan mata dengan kilat jenaka.
"Begitu rupanya..." Dominic menganduk-angguk paham. Wajah pucat vampirnya tetap datar tanpa ekspresi. "Pantas saja koleksi kuas dan cat minyak Anda bertambah lagi di ruang kerja. Apa Anda baru saja membelinya dari pasar kota?"
Dominic tentu sangat hafal dengan hobi tersembunyi rajanya yang gemar melukis di kala senggang.
Mendengar tebakan yang melenceng jauh itu, Damian sontak mendengus kasar. Ia menenggak habis sisa tehnya dalam sekali teguk.
BRAK!
Ia menjatuhkan cangkir porselen mahal itu ke atas meja dengan sentakan keras yang disengaja. "Kau benar-benar tidak bisa diajak bicara dengan romantis, Dominic. Huh!"
Damian mengibaskan tangannya dengan gusar. "Pergi sana. Aku sedang ingin ketenangan malam ini."