NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Musuh Bisnis Ayah

Pernikahan Kontrak Dengan Musuh Bisnis Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

​"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.
​Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.
​"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."
​Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERANG DINGIN DI BALIK SELIMUT SUTRA

Setelah ketegangan di gudang tua dan ancaman video yang mencekam itu, Arkan memutuskan untuk memperketat penjagaan. Ia tidak membiarkan Aletta keluar dari jangkauan pandangannya lebih dari sepuluh meter. Namun, bagi Aletta, perlindungan ketat Arkan terasa seperti kurungan yang membosankan. Dan seorang Aletta Maheswari yang bosan adalah resep bencana bagi ketenangan jiwa Arkananta Dirgantara.

Malam itu, hujan turun dengan deras. Arkan sedang duduk di meja kerjanya di dalam kamar utama—yang kini terpaksa mereka bagi berdua sesuai kontrak. Ia sedang membedah data koordinat video yang dikirim penculik, wajahnya serius dan sangat maskulin di bawah pendar lampu kerja.

"Arkan," panggil Aletta dari atas tempat tidur.

"Mas Arkan, Aletta," koreksi Arkan tanpa menoleh. "Dan diamlah sebentar, aku sedang melacak alamat IP ini."

Aletta mendengus. Ia sedang duduk bersila, dikelilingi oleh tujuh boneka alpaka hasil "jarahan" mesin capit tadi siang. Ia merasa diabaikan. Dan saat Aletta merasa diabaikan, sisi random-nya mulai mengambil alih.

Ia mengambil sebuah isolasi kertas dari laci meja rias, lalu mulai menempelkannya di tengah-tengah tempat tidur king size itu, membaginya menjadi dua sisi yang sama persis.

Sret! Sret! Sret!

Suara isolasi yang ditarik kasar itu akhirnya membuat Arkan menoleh dengan kening berkerut. "Apa yang sedang kau lakukan di atas tempat tidurku, Nona Maheswari?"

Aletta menepuk-nepuk garis isolasi itu dengan bangga. "Ini adalah Garis Demarkasi Maheswari-Dirgantara. Sisi kiri adalah wilayah kedaulatanku, sisi kanan adalah wilayah kekuasaanmu. Siapa pun yang melanggar garis ini tanpa visa, wajib membayar denda satu juta rupiah atau melakukan push-up lima puluh kali."

Arkan menghela napas panjang, meletakkan tabletnya. Ia berdiri dan berjalan mendekat, sosoknya yang tinggi besar membayangi Aletta. "Kau sadar ini tempat tidurku, di rumahku, dan aku yang membayar tagihan listrik untuk lampu yang kau gunakan untuk menempel isolasi tidak berguna itu?"

Aletta mendongak, menatap Arkan dengan tatapan keras kepala yang menyebalkan namun entah kenapa terlihat menggemaskan karena ujung hidungnya memerah terkena flu ringan. "Secara hukum kontrak, ini adalah area bersama. Dan Shelly—tas kura-kuraku—sudah setuju dengan pembagian wilayah ini. Jadi, jangan coba-coba menaruh kakimu di wilayahku saat kau tidur nanti."

Arkan tidak membalas. Ia justru duduk di pinggir tempat tidur, di sisinya sendiri. Ia membuka kancing manset kemejanya satu per satu, memperlihatkan pergelangan tangan yang kokoh. "Bagaimana jika aku tidak sengaja melanggar saat bermimpi?"

"Maka kau adalah penjahat perang," jawab Aletta mantap.

Arkan tiba-tiba condong ke arah Aletta. Jarak mereka hanya tersisa beberapa inci. Aletta bisa mencium aroma sandalwood yang menenangkan dari tubuh Arkan. Jantungnya berkhianat lagi, berdegup seperti genderang perang.

"Bagaimana kalau dendanya bukan uang?" bisik Arkan, suaranya rendah dan sangat dewasa.

"L-lalu apa?" Aletta mendadak gagap.

"Setiap pelanggaran garis, kau harus memanggilku 'Mas Arkan' dengan lembut tanpa nada sarkasme selama satu jam penuh. Setuju?"

Aletta menelan ludah. Itu hukuman yang lebih berat daripada denda uang. "Setuju. Tapi kalau kau yang melanggar, kau harus membiarkanku mewarnai kuku kelingkingmu dengan kutek warna pink."

Arkan terdiam. Membayangkan dirinya, CEO Dirgantara Corp yang ditakuti, memimpin rapat dengan kuku pink adalah sebuah penghinaan terhadap maskulinitasnya. Namun, melihat binar menantang di mata Aletta, ia justru tertantang.

"Kesepakatan tercapai," ucap Arkan singkat.

Dua jam kemudian, lampu kamar sudah dipadamkan. Hanya ada cahaya rembulan yang masuk menembus tirai tipis. Aletta sudah tertidur lelap, memeluk boneka alpakanya yang paling besar.

Namun, seperti yang sudah diduga, Aletta adalah tipe orang yang tidurnya sangat "aktif". Dalam tidurnya, ia mulai berputar. Satu kaki mungilnya tiba-tiba mendarat telak di atas paha Arkan, melewati garis isolasi dengan sangat tidak hormat.

Arkan yang sebenarnya belum tidur, hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan pasrah. Ia melirik kakinya yang ditindih kaki Aletta.

Pelanggaran pertama, batin Arkan.

Tak lama kemudian, Aletta bergumam dalam tidurnya. "Jangan... jangan makan kaktusku... itu bukan brokoli..."

Arkan hampir saja tertawa jika ia tidak ingat citra dinginnya. Ia menoleh ke samping, menatap wajah Aletta yang tampak sangat damai saat tidur. Tanpa sadar, tangan Arkan terangkat, menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi dahi istrinya itu.

"Kenapa kau harus seberisik ini di dalam kepalaku, Al?" bisiknya sangat pelan.

Tiba-tiba, Aletta bergerak lagi. Kali ini ia benar-benar menggulingkan tubuhnya hingga kepalanya bersandar di lengan berotot Arkan. Garis isolasi itu kini berada tepat di bawah pinggang Aletta. Ia benar-benar telah melakukan invasi total ke wilayah Arkan.

Arkan seharusnya membangunkannya. Ia seharusnya menagih denda "Mas Arkan" itu. Namun, merasakan kepala Aletta yang bersandar nyaman di lengannya, Arkan justru merasakan kehangatan yang sudah lama hilang dari hidupnya. Ia membiarkan lengannya menjadi bantal bagi musuh bisnis ayahnya itu.

Hingga pagi menjelang...

"AAAAA! PENJAHAT PERANG!"

Arkan terbangun karena teriakan melengking tepat di telinganya. Ia membuka mata dan menemukan Aletta sudah duduk tegak, menunjuk ke arah tangan Arkan yang entah bagaimana sudah melingkar di pinggang Aletta.

"Kau melanggar garis! Kau memelukku! Kau... kau mencuri wilayah kedaulatanku saat aku tidak berdaya!" Aletta memukul bahu Arkan dengan bantal alpakanya.

Arkan duduk dengan tenang, mengacak rambutnya yang berantakan—tampilan messy hair yang justru membuatnya terlihat sepuluh kali lebih tampan di mata Aletta. "Coba kau lihat posisi kepalamu tadi, Nona Maheswari. Kau yang pertama kali menyeberang dan menjadikan lenganku bantal. Aku hanya mencoba menstabilkan posisimu agar kau tidak jatuh dari tempat tidur."

Aletta tertegun. Ia melihat posisinya. Benar saja, ia berada jauh di sisi Arkan.

"Itu... itu pasti karena gravitasi tempat tidurmu tidak stabil! Kau pasti sengaja memiringkan kasur ini agar aku merosot ke arahmu!" tuduh Aletta dengan logika yang sangat ajaib.

Arkan bangkit dari tempat tidur, bertelanjang dada, memamerkan otot perut yang terpahat sempurna. Aletta langsung menutup matanya dengan kedua tangan, meski ia tetap mengintip sedikit lewat celah jarinya.

"Pakai bajumu, Arkan! Ini pelecehan visual!"

"Ini kamarku, Al. Dan sesuai kesepakatan, karena kau melanggar garis, mulai sekarang sampai satu jam ke depan, panggil aku Mas Arkan. Dan aku ingin mendengar kau mengucapkannya sambil membawakanku kopi ke meja kerja," ucap Arkan sambil berjalan menuju kamar mandi dengan langkah angkuh yang maskulin.

Aletta menghentakkan kakinya ke kasur. "Menyebalkan! Benar-benar menyebalkan!"

Pukul delapan pagi, Aletta dengan wajah ditekuk berjalan menuju ruang kerja Arkan membawa nampan berisi kopi hitam tanpa gula. Ia masuk tanpa mengetuk, sengaja membuat suara gaduh dengan sepatunya.

Arkan sedang menelepon, bicaranya serius menggunakan bahasa Inggris dengan aksen yang sangat kental dan berwibawa. Namun, begitu melihat Aletta, ia memberikan isyarat dengan jarinya agar Aletta meletakkan kopi itu.

Aletta meletakkan cangkir itu dengan kasar. Brak!

Arkan mengakhiri teleponnya. Ia menatap kopi itu, lalu menatap Aletta. "Mana panggilannya?"

Aletta menarik napas dalam, wajahnya memerah padam. "Ini... kopinya... M-mas Arkan."

Arkan menaikkan alisnya. "Kurang lembut. Tadi terdengar seperti kau sedang mengajakku duel di pasar."

Aletta mengepalkan tinjunya. Ia mendekatkan wajahnya ke Arkan, lalu dengan suara yang dibuat-buat sangat manis hingga terdengar mengerikan, ia berbisik, "Ini kopi paling nikmat sedunia untuk Mas Arkan tersayang yang paling tampan tapi hatinya sekeras batu bata. Silakan diminum, Mas Arkan-ku sayang."

Arkan tertegun. Meskipun ia tahu itu sarkasme murni, namun mendengar kata "Sayang" dari bibir Aletta memberikan efek kejut yang lebih kuat daripada kafein di kopinya.

"Bagus. Pertahankan nada itu untuk lima puluh sembilan menit ke depan," ucap Arkan dingin, meski telinganya mulai sedikit memerah.

Aletta tidak menyerah begitu saja. Ia tidak keluar dari ruangan. Ia justru duduk di sofa panjang di ruang kerja itu dan mulai mengeluarkan koleksi kaktus mininya. Ia menata kaktus-kaktus itu di atas meja kopi mahal milik Arkan.

"Apa yang kau lakukan sekarang?" tanya Arkan sambil kembali fokus ke layar komputer.

"Kaktus-kaktusku butuh sosialisasi. Mereka bilang ruangan ini terlalu membosankan, jadi mereka ingin melihat 'Singa Dirgantara' bekerja," jawab Aletta asal. Ia mulai memberi nama pada kaktusnya satu per satu. "Ini kaktus namanya 'Duri Jahanam', dia mirip denganmu. Kalau yang ini 'Mawar Berduri', dia cantik sepertiku."

Arkan menggelengkan kepala. Ia mencoba mengabaikan ocehan random Aletta dan fokus pada laporan intelijen tentang Radit Verhoeven. Namun, sepuluh menit kemudian, keadaan menjadi sunyi.

Arkan melirik. Aletta ternyata sedang tertidur di sofa dengan kaktus di pelukannya. Sisi kuat dan keras kepalanya hilang, menyisakan gadis kecil yang tampak rapuh dan lelah.

Arkan berdiri, ia mengambil selimut dari dalam lemari rahasianya dan menyelimuti Aletta dengan sangat hati-hati. Ia menatap wajah istrinya itu cukup lama.

"Andai kau tahu, Al... ayahmu memang mungkin tidak menarik pelatuknya, tapi dia yang membiarkan pintunya terbuka," bisik Arkan sedih.

Ia kembali ke meja kerjanya, namun kali ini ia tidak mencari data penculik. Ia membuka sebuah folder digital tersembunyi yang berisi foto-foto Aletta sejak gadis itu lulus kuliah hingga sekarang. Arkan sudah memperhatikan Aletta dari jauh selama bertahun-tahun. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai seseorang yang ia lindungi dalam bayang-bayang.

Tiba-tiba, Aletta mengigau lagi. "Mas Arkan... jangan... jangan ambil bebekku..."

Arkan tersenyum tipis. "Bahkan dalam mimpimu pun, kau masih memanggilku Mas."

Namun, kedamaian itu pecah saat sekretaris Arkan masuk dengan terburu-buru tanpa mengetuk. "Tuan, ada kiriman paket misterius di lobi. Isinya... sebuah kancing manset perak yang pecah menjadi dua, dan ada noda darah segar di sana."

Arkan langsung berdiri, auranya berubah menjadi sangat gelap dan mematikan. Ia melirik Aletta yang masih tertidur. Ia tahu, masa tenang mereka sudah habis. Si pengkhianat sedang mengirimkan pesan bahwa mereka sedang diawasi, bahkan di dalam rumah yang paling aman sekalipun.

Siapa yang mengirimkan paket itu? Apakah Radit Verhoeven ada di sekitar mereka? Dan bagaimana reaksi Aletta saat ia tahu bahwa Arkan telah menyimpan foto-fotonya selama bertahun-tahun di dalam folder rahasia?

Jangan lewatkan bab selanjutnya: "Mata-mata di Balik Taman Kaktus", di mana Aletta akan mencoba memasang kamera pengintai di rumah Arkan hanya dengan menggunakan peralatan dapur.

1
Muft Smoker
lanjuuut kak
Muft Smoker
astgaaa si Aletta bakal punya cucu donk🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
astgaaa ,,
nnti tu kapal tanker klakson ny jd gntii klaksoon motor ,,
badan gede tp klakson ny ' tiiin ,, tiin ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hey mereka udh mulai me coba hidup sebagai manusia normal looo ,,
pengganggu bisa gx marahan dluu ,,
jgn deket2 sama pasangan ini truus ,,
sana cari serigala dn gadis kaktus yg lain ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
lanjuuut kaaak ,,

makiin seruu niih ,,
Muft Smoker
sir Lancelot di jdikan bebek hitam ,, bilang aj km yg kgen arkan ,, 😏😏😏🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
aduuuh kak msh ad ulet bulu yg tersisa kaaah ,, 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
Muft Smoker
astgaaaa ,,
gx kebayang siih seorang arkan tidur sambil meluk boneka bebek🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,

lanjuuut kak ,,
makiin seruu nih tiap bab ny ,,
Muft Smoker
kencan ny di tunda lgii yx duo A ,, 🤭🤭🤭🤭
kasus baruu udh muncuul ,,
Selamat menikmatiii,,,👏👏👏👏


lanjuuut kak
Muft Smoker
gx da yg gx mungkin Selama si gadis kaktus ajaib msh bernapas ,,
semua masalah pasti bisa di selesaikan dg taktik ajaib Aletta,,

lanjuuut kak
Muft Smoker
aduuuh sypa lgii tuh ,,
gx mungkin kn Aletta punya sekte kaktus ajaib 🤭🤭🤭🤭 ,,

lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
ni nma ny ke ajaiban yg sempurna kn mas arkan ,,
😁😁😁


lanjut kak ,,
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,,
tumbuhan ny emnk di setting bgtu Pak arkan ,,
😁😁😁
Rmauli💖: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,,
Muft Smoker
astgaaaa telur galaxi /Facepalm//Slight//Slight//Slight/ ,,
bsok2 bikin Tempe Amazon yx Al ,,
sxan pake sup palung Mariana biar makin joosssss ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker: ok kak ,,
dtggu menu ajaib dr Aletta kak ,, 🤭🤭🤭😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
keajaiban sang Ratu maheswari selalu menyelamatkan anda kn arkan ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
next kakak ,,
makiin seruuu ,,


pengkhianatan paling menyakitkan yg dtg dr org paling dekat dg qta ,,
Muft Smoker
next kak ,,
penasaran ma kelanjutan ny yx
Muft Smoker
dasar pasangan random ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker: tp mereka unik koq kak 🤭🤭🤣🤣
total 2 replies
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!