Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 5
Bukan hanya Alfath yang mendapat telpon untuk segera datang ke pondok pesantren.Namun juga Altheza yang bertanya-tanya kenapa anaknya meminta dirinya dan sang istri untuk datang ke sebuah tempat yang jaraknya begitu jauh dari tempat tinggalnya.
"Ada apa boy? Apa terjadi sesuatu sama kamu?" Tanya Altheza ke sekian kalinya,namun pesannya sama sekali tidak di balas sang anak.Bahkan beberapa pesan belum di baca oleh sang anak.
Fara menatap sang suami dengan intens,perasaannya mendadak tak nyaman.Apakah terjadi sesuatu pada sang anak.
"Mas,bukankah Arka bilang akan pergi ke Kota Sukabumi? Terus kenapa dia malah ada di kampung itu?" Tanya Fara
"Aku juga gak tau sayang,tapi aku merasa familiar sama alamat ini." Kata Altheza yang membaca pesan yang di kirim sang anak tadi.Sebuah alamat tempat sang anak berada saat ini.
"Mas tau tempat itu?"
"Entah lah,tapi rasanya gak asing sama nama tempat ini."
Fara meremas ujung hijabnya "Mas,Arka baik-baik saja kan? Perasaan aku mendadak gak tenang mas."
Altheza menarik sang istri kedalam pelukannya."InsyaAllah,kita berdo'a aja ya sayang semoga anak kita baik-baik aja."
Fara mengangguk,suaminya benar hanya do'alah yang saat ini biasa ia lakukan.Semoga anaknya baik-baik saja di sana.
Perjalanan menuju pondok butuh waktu beberapa jam.Altheza dan Fara buru-buru berangkat saat sang anak kembali mengirimkannya pesan jika nanti akan di jelaskan apa yang terjadi pada dirinya.
Altheza menatap jalanan menuju pondok,terasa sejuk dan asri.Pikirannya melayang,memikirkan sang anak dan juga alamat yang rasanya tak asing di telinganya.
Begitu mendekati pondok,Altheza dan Fara menatap sekitarnya.Pondok pesantren yang cukup besar dan luas.Terdapat gapura yang menjulang tinggi dan juga gerbang besi yang berdiri kokoh seakan menjadi perisai bagi para penghuninya.Namun Altheza di buat bingung dengan keadaan pondok yang berbeda,nampak beberapa orang berbaju hitam berjaga di area pondok.
Altheza tau mereka bukanlah warga sekitar.Sebagai seorang mantan mafia tentunya ia tau jika orang-orang itu adalah para bodyguard namun yang menjadi pertanyaan di benak Altheza,siapakah pemilik pondok ini? Apakah orang penting,sehingga di jaga dengan begitu ketatnya.
Mobil terus masuk saat satpam mebuka gerbang lebar-lebar.Salah satu satpam yang mengecek tadi langsung mengarahkan mobil yang di kendarai Altheza untuk terus maju menuju kediaman Gus Ilham.
Begitu tiba di depan sebuah rumah yang begitu besar,Fara dan Altheza semakin tak karuan.Dadanya berdebar cepat.Ada apa sebenarnya? Hanya itulah kalimat yang sejak tadi berputar di pikirannya.
Pintu mobil di buka dari luar,Altheza turun terlebih dahulu kemudian membantu sang istri untuk turun.
"Mas,rumah siapa ini?" Tanya Fara bingung.
"Aku juga gak tau,sayang.Sepertinya pemilik pondok pesantren ini " Jawab Altheza.
Mata keduanya menatap sekeling pondok.Fara tersenyum melihat beberapa santri yang hilir mudik.Begitupun dengan Altheza,rasanya begitu nyaman melihat pemandangan indah di depannya ini.Dimana wajah-wajah para penghuni syurga sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Altheza dan Fara terdiam sejenak saat melihat sang anak yang berdiri di depan rumah bersama seseorang.Fara bergegas menghampirinya.
"Arka, kamu baik-baik aja Nak?" Tanya Fara sambil memeluk sang anak.
"Ada apa boy? Apa yang terjadi? " Tanya Altheza menimpali.
"Ayah..Bun.. " Ucap Arka terbata, ia bingung harus menceritakan dari mana.
"Assalamu'alaikum Pak. Bu. " Sapa seseorang.
"Perkenalkan saya Malik, mari Pak, Bu.. sebaiknya kita masuk. Kita bicarakan di dalam saja." Ucap Gus Malik, adik ipar Gus Ilham.
"Oh iya, maafkan kami." Ucap Altheza.
Keempatnya langsung masuk kedalam rumah.Pintu terbuka lebar, nampak beberapa orang berkumpul di ruang tamu. Dan betapa terkejutnya Altheza saat melihat beberapa orang yang ia kenal.
"Alfath"
"Altheza"
Panggil keduanya bersamaan.Mata keduanya nampak melotot, sebuah pertemuan yang tidak di rencanakan.
Begitu Altheza mendekat, dirinya semakin terkejut melihat dua orang paruh baya yang juga berada di sana sedang menatap.
"Abi, Umma.. " panggil Altheza. "Ya Allah Abi, Umma apa kabar? " Lanjut Altheza. Kemudian ia menyalami keduanya dengan ta'zim.
"Alhamdulillah baik, Nak Altheza apa kabar? " Tanya balik Gus Ilham yang ternyata juga sudah mengenal Altheza.
"Alhamdulillah saya baik Bi. Ya ampun, pantas saja saya merasa tidak asing dengan alamat yang anak saya kirim. Ternyata ini pondok Abi dan Umma yang dulu sempat di beritahukan pada saya. "
"Anak?"
Tanya Al spontan membuat suasana berubah canggung.
"Iya,anak." Jawab Altheza, kemudian ia menunjuk Arka yang sedang berdiri sambil menunduk di samping sang bunda. "Itu anak gue Al, masa lo lupa. Dulu waktu kecil pernah ketemu kan. "
Duarr...
Bagai tersambar petir, Al menyandarkan punggungnya.Dunianya terasa berputar,kepalanya semakin pusing. Ternyata pemuda yang melecehkan sang putri tercinta adalah anak dari temannya sendiri.
Altheza mengerutkan keningnya melihat suasana berubah hening, ia melihat sekitarnya. Namun fokusnya langsung terpusat pada seorang gadis yang berada dalam pelukan seorang wanita.Wajahnya tidak terlalu terlihat namun dari sekilas sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
"Jadi pemuda ini anak lo? " Tunjuk Al pada Arka.
"Iya, ini sebenarnya ada apa sih?" Tanya Altheza semakin bingung. Ia menoleh ke arah sang anak "Arka, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu suruh ayah dan bunda datang kesini?"
Bukannya mendapat jawaban, Altheza hanya mendapat sebuah kata maaf dari sang anak.
"Maaf.." Ucap Arka pelan, dirinya tak berani menatap wajah sang Ayah.
"Nak, ada apa? Kenapa kamu kaya yang takut gitu? Kamu gak bikin masalah kan? Bilang sama bunda? " Cecar Fara.
"Bun..maaf, Arka..Arka.." Jawabnya terbata
"Yang jelas boy, ada apa?" Tanya Altheza tak sabar,"Ayah gak ngerti, terus kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu bilang mau ke Kota Sukabumi?"
"Itu yah..ee.. Arka.. Arka.."
Melihat Arka yang tak mampu bicara membuat Gus Ilham langsung mengambil alis situasi.
"Duduk dulu Nak, Abi akan jelaskan semuanya." Ucap Gus Ilham pada Altheza.
Altheza mengangguk, ia menarik sang istri untuk duduk bersamanya di dekat Abi Ilham.
"Sebelumnya Abi minta maaf,Abi tidak menyangka pertemuan kita dalam keadaan seperti ini. Alhamdulillah, walaupun silahturahmi kita dengan cara seperti ini namun Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dan bersilaturahmi."
Abi Ilham diam sejenak, wajahnya berubah serius. " Nak Altheza, maaf jika nanti kabar yang Abi sampaikan adalah kabar yang tidak enak.Tapi bagaimanapun kabar ini harus tetap Abi sampaikan.."
Gus Ilham menghela napasnya sejenak, kemudian ia menjelaskan semuanya yang terjadi pada sang cucu dan juga Arka.
Lagi-lagi Altheza dan Fara bagai tersambar petir.Altheza diam mematung, sedangkan Fara langsung menangis.
Rasanya seperti mimpi,ia tidak menyangka anaknya bisa melakukan hal seperti itu.
Tanpa di duga Altheza langsung menarik sang anak, satu tamparan keras mendarat di pipi mulus sang anak.
"Apa pernah Ayah mengajarkanmu hal seperti itu hah?" Teriak Altheza, matanya memerah.Hatinya bercampur marah, kecewa, dan sakit.
"Astaghfirullah, istighfar yah.." Ucap Fara namun sayang amarah menguasai Altheza sehingga dirinya tak di hiraukan sang suami.
"JAWAB ARKA! APA PERNAH AYAH MENGAJARKANMU MENJADI LAKI-LAKI BERENGSEK?!" Teriak Altheza kembali.
Melihat Altheza yang di selimuti amarah, Gus Ilham, Gus Malik, dan Ustadz Yusuf buru-buru menenangkannya. Mereka tak ingin terjadi hal buruk antara keduanya.
Alyana hanya bisa menangis kembali,begitupun Alisya dan Fara.Ketiga wanita berhati lembut itu hanya bisa menangis melihat suasana yang semakin kacau itu.
...🌻🌻🌻...
Apa yg dilakukan Arka setelah menikah,bahkan dia malu kalau bertemu teman teman nya bahwa dia sdh menikah.Laki kaki model gini buang aja' ditempat sampah gak berharga.
semangat
semoga mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik.