𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35| Identitas Aluna
Dahi Aluna berlipat ketika pintu terbuka lebar, senyum lembut menyapa indera penglihatan Aluna. Kedua kelopak mata Aluna berkedip dua kali, ia melangkah keluar dari kamar. Pintu kamar ditutup rapat, anak gadisnya telah lengkap dengan setelan seragam sekolah dan tas sandang.
"Ada apa, Dad?" tanya Aluna, kerutan di dahinya semakin dalam terlihat.
Fandi mengulum senyum, dan berkata, "Daddy boleh minta waktu-nya Aluna. Ada beberapa hal penting yang mau Daddy omongin sama Aluna, empat mata. Buat hari ini Aluna mungkin boleh libur dulu."
'Ada apa nih? Kok gue ngerasa bakalan ada kejutan gede gini ya. Jantung gue jadi dag dig dug seer.' Aluna mengangguk perlahan, menyetujui permintaan Fandi.
"Kalo gitu aku ngehubungin Wali kelas dulu, Dad. Sekaligus ganti baju seragam," jawab Aluna setelah mengangguk.
"Ya, Daddy tunggu di ruangan kerja ya." Fandi mengangkat tangannya mengusap lembut puncak kepala Aluna, sebelum menarik tangannya kembali.
Fandi berbalik melangkah menuju ke arah tangga, Aluna menarik dan mengembuskan napas kasar. Mata Aluna menatap intens punggung belakang Fandi yang kian menjauh, kedua matanya menyipit.
"Tadi malam Mommy Sonya yang keliatan aneh, pagi ini malah Daddy. Hm..., benar-benar bikin gue penasaran aja deh." Aluna mengangguk-angguk kecil.
Aluna berbalik saat punggung belakang Fandi menghilang, ia harus bergegas berganti seragam sekolahnya dengan pakaian santai. Sebelum menghubungi wali kelasnya via telepon.
...***...
Hening yang tercipta di saat kisah lama selesai diceritakan secara rinci dan jelas, beberapa bukti tergeletak di atas meja kerja Fandi satu persatu. Tidak ada yang luput dari saksi bisu masa lalu, termasuk tes DNA milik Aluna. Aluna mematung, seakan tengah mencerna semua fakta yang telah lama disimpan oleh Fandi. Lidah Aluna mendadak kelu, ia tak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini.
Karena dirinya bukanlah tokoh Aluna asli, ia hanya jiwa pengganti untuk tokoh Aluna-figuran. Perasaan rendah diri, kebencian, kemarahan, dan rasa kesepian tokoh Aluna selama ini tercipta hanya karena ia tahu siapa ibunya. Wanita panggilan yang melayani lelaki hidung belang, tanpa tahu ada fakta lain tentang identitas dirinya.
"Aluna," panggil Fandi lirih, setelah sekian lama menunggu reaksi Aluna. "Kami ingin mengatakan semua fakta ini padamu, hanya saja kami berdua tidak pernah memiliki waktu yang tepat untuk berbicara. Apalagi selama ini kamu selalu menutup diri, dan dia pun tidak pernah mendatangimu. Kali ini, jika kami tidak menjelaskannya. Kamu bisa saja kembali hilang seperti dulu, Daddy tau. Ini pasti sangat amat mengejutkan untukmu, kamu butuh waktu untuk menerima fakta ini secara perlahan. Kami berdua akan memberikan kamu waktu, Sayang."
Bibir Aluna terbuka, lalu kembali tertutup. Jari jemari lentik Aluna saling bertautan, mengembuskan napas berat.
"..., jadi dia bukan Ibu kandungku? Lantas kenapa dia segitunya?" tanya Aluna pada akhirnya bersuara, "jangan-jangan dia mencintaimu, Dad?"
Aluna telah banyak membaca buku novel, ada banyak alasan kenapa Mawar memilih untuk membawa janin di kandungnya kabur begitu saja. Fandi tertunduk, menghela napas berat melalui mulutnya. Cinta yang salah, Fandi tak pernah menaruh hati pada wanita mana pun selain istrinya. Bahkan di saat istrinya divonis kesulitan untuk mengandung, ia tak pernah merasa jika itu merupakan kekurangan Sonya.
Perhatikan Fandi pada Mawar di saat itu murni karena janin yang ada di rahim Mawar, ia dan Sonya menginginkan anak itu lahir dengan selamat tanpa cacat terlepas apapun jenis kelaminnya. Nyatanya Fandi salah besar saat memberikan perhatian disalah artikan oleh Mawar, Aluna memulai mengerti.
"Tapi Daddy tidak mencintainya, kayak gitukan cerita yang tersembunyi?" tanya Aluna kembali bersuara.
Kini Fandi menganggukkan kepalanya. "Ya, itulah yang terjadi. Daddy ingin mengklarifikasi ini sedari lama, kondisi Mommy-mu tidak sebaik yang terlihat. Dia mungkin terlihat begitu hidup saat ini, sebelum bertemu denganmu. Kondisi jauh lebih menyedihkan, karena itu. Kamu tidak marah dengan kami berdua 'kan?" Fandi melirik ke depan, hati-hati menatap Aluna.
Memperhatikan guratan ekspresi wajahnya, Aluna mengulum bibirnya yang kering. Jika boleh jujur ia merasa sedikit lega, tokoh Aluna bukan anak haram. Aluna menarik kedua sisi sudut bibirnya ke atas, melengkung senyuman lepas.
"Semuanya sesuai alur aja, eh. Maksudnya aku, semuanya udah takdirnya kek gini Dad. Ini bukan salah Daddy maupun Mommy, aku malah merasa bahagia. Karena orang tua kandungku benar-benar Mommy dan Daddy," sahut Aluna, ia membalas tatapan mata Fandi.
Mata Fandi berkaca-kaca, ia sudah bersiap untuk disalahkan oleh Aluna-putrinya. Jika bukan karena kebodohannya di masa lalu, bagaimana bisa Mawar salah paham. Bagaimana bisa wanita yang dia bayar untuk mengandung dan melahirkan putrinya bisa kabur begitu saja, Fandi masih berhati lembut. Setelah menemukan Aluna, serta mengetahui tentang keberadaan Mawar. Fandi melepaskan kemarahan dan kekecewaan di dalam hatinya, tanpa menuntut Mawar secara hukum.
Aluna berdiri dari posisi duduknya, mengitari meja kerja. Ia menunduk dan memeluk Fandi, menyandarkan dagunya di bahu lebar Fandi.
"Daddy nggak salah sama sekali, Daddy adalah pria paling terbaik serta Ayah terbaik. Untukku maupun untuk Mommy so, jangan salahin diri Daddy lagi. Yang terpenting saat ini aku di sisi bersama Daddy, fakta bahwa aku adalah putri kalian berdua membuat aku sangat amat bahagia." Aluna selembut intonasi nada suaranya, menepuk-nepuk kecil punggung Fandi.
Fandi mengusap matanya yang basah dan membalas pelukan Aluna, ia diam-diam berjanji tidak akan pernah menjadi ayah yang bodoh lagi. Fandi akan melindungi putri serta istrinya, membahagiakan kedua wanita yang berarti dalam kehidupannya.
'Hm..., betapa beruntungnya tokoh Aluna, dia punya Nyokap dan Bokap sesayang ini. Sebaik ini beda banget sama gue, yang kayak orang nggak punya ortu. Apalagi dengan tuntunan harus ngebayar jasa ngebesarin gue, bahkan harus tanggungjawab buat adik-adik gue. Ah..., gue iri.' Aluna memeluk erat Fandi, sosok ayah yang dinilai sangat manis pada anaknya.
...***...
"Hai sweet girl," sapa deep voice Kai mengalun di saat Aluna memasuki ruang tamu mansion keluarganya.
Dahi Aluna berkerut, "Ngapain lo ke sini?"
Seringai nakal di bibir Kai mendadak surut, baru kemarin ia merasa kesal karena ulah Gavino bertelanjang dada dihadapan gadis cantik di depannya ini. Niat Kai yang awalnya ingin melancarkan serangan demi serangan untuk mendapatkan Aluna di hari ini mendadak kandas dikarenakan Aluna tidak masuk sekolah.
Malamnya ia sudah menyusun rencananya untuk bisa mencuri hati serta perhatian Aluna, sialnya malah ditanggapi dengan pertanyaan tak menyenangkan oleh Aluna.
"Lo gitu amat sama gue, Lun. Gue ngapelin lo ke sini karena gue kangen tau sama lo," balas Kai setengah merajuk.
Ekspresi Kai si mesum saat merajuk terdeteksi lucu di mata Aluna, gadis remaja itu berdehem kecil. Duduk di sofa, bersebelahan dengan Kai.
"Yaelah! Modus lo, gue cuman sehari doang nggak masuk sekolah ya. Udah kayak setahun aja nggak keliatan di mata lo."
"Sayangnya bagi gue, semenit aja gue nggak liat wajah cantik lo. Rasanya ada yang ilang dari diri gue," sahut Kai serak, ia mencondongkan miring ke samping.
Aluna melotot, "Mundur! Lo mau mati di tangan Bokap gue, huh!"
Kai sama sekali tidak mengindahkan peringatan Aluna, manik matanya bergerak melirik ke arah dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga. Tidak didapati tanda-tanda kehadiran Fandi, Kai melirik ke depan kembali.
"Gue nggak keberatan asalkan bisa jadi calon mantu Bokap lo. Apa sih yang nggak buat cewek secantik lo, hm?" Kai mengedipkan sebelah matanya.
Kehabisan kata-kata, Aluna mendorong dahi Kai menjauh dengan jari telunjuknya. Kai tersenyum miring, disentuh oleh jari telunjuk Aluna.
"Lo kenapa huh?" tanya Aluna saat atensinya menangkap senyum kesenangan dari bibir Kai.
Kai menoleh ke samping, dan berkata, "Gue senang kalo lo sentuh, mau lagi dong."
Kai meringis dan mengusap pinggangnya yang dicubit oleh Aluna, ia terkekeh kecil.
'Wah! Ini cowok kayaknya selain omes juga masokis keknya.' Aluna menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti dengan reaksi aneh Kai.
Suara klakson mobil mengalun jelas, di sambut oleh gesekan roda besi pintu pagar depan yang terbuka. Aluna melirik ke arah pintu yang terbuka lebar, Kai tertegun mendapati mobil yang ia kenal memasuki perkaraan mansion Aluna. Berhenti tepat di samping mobilnya, diam-diam ia mengerang kesal.