Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Spektrum Terakhir
Suara bor pneumatik di atas kepala mereka terdengar seperti geraman monster kelaparan yang sedang mengunyah beton. Debu halus jatuh dari sela-sela langit-langit bunker, mengotori peralatan presisi yang sedang dirakit Arlan dengan tangan gemetar. Di sudut ruangan, Bara berdiri dengan senapan laras panjang yang diarahkan ke pintu besi, matanya setajam elang yang menunggu mangsa. Sementara itu, Maya membantu Arlan menyusun deretan klise kaca ke dalam sebuah alat pemindai kuno yang telah dimodifikasi.
"Tinggal tujuh menit lagi, Lan! Satelit cuaca NOAA-19 bakal melintas tepat di atas koordinat ini!" teriak Maya sambil melirik jam tangan digitalnya yang retak.
Arlan tidak menjawab. Fokusnya tersedot sepenuhnya pada rangkaian kabel tembaga dan tabung gas argon yang terhubung ke sebuah proyektor laser raksasa di tengah ruangan. Ini adalah warisan terakhir kakeknya—sebuah pemancar fotonik yang mampu mengubah kepadatan perak pada klise film menjadi pulsa cahaya koheren. Jika berhasil, data ini akan terpantul di lapisan ionosfer dan tertangkap oleh stasiun bumi mana pun yang memiliki dekoder frekuensi radio amatir.
"Gue butuh daya lebih besar!" Arlan berseru frustrasi. "Baterai cadangan ini nggak bakal kuat nembus rimbunnya pohon beringin di atas!"
Bara menoleh tanpa menurunkan senjatanya. "Cek panel di balik lemari tahun '95. Ada generator engkol manual di sana. Itu didesain buat keadaan darurat total."
Maya segera berlari menuju lemari besi tersebut. Dengan tenaga yang tersisa, ia mulai memutar tuas besi itu. Suara derit logam yang bergesekan memenuhi ruangan, diikuti oleh suara dengung rendah dari kapasitor yang mulai terisi. Lampu-lampu indikator di meja Arlan perlahan berubah dari merah menjadi kuning.
DUM!
Pintu beton di atas meledak. Suara reruntuhan batu bergema hebat. Unit Pemotong sudah berhasil menembus lapisan pertama.
"Mereka masuk!" Bara berteriak. Ia melepaskan satu tembakan peringatan ke arah lubang tangga darurat. "Arlan, lakukan sekarang atau tidak sama sekali!"
"Dikit lagi... dikit lagi..." jari Arlan menari di atas tombol-tombol analog. Ia memasukkan klise merah yang berisi bukti keterlibatan Johan dalam pembantaian jurnalis tahun 90-an.
Tiba-tiba, suara tenang yang sangat dibenci Arlan terdengar dari sistem interkom bunker yang entah bagaimana berhasil diretas.
"Arlan, hentikan sandiwara ini," suara Johan bergema, dingin dan berwibawa. "Kau sedang mencoba menyalakan mercusuar di tengah badai. Kau hanya akan memancing petir untuk menyambar dirimu sendiri. Serahkan buku itu, dan aku janji Maya akan keluar dari hutan ini hidup-hidup."
Arlan membeku sejenak. Ia menatap Maya yang masih terus memutar engkol generator dengan peluh bercucuran. Maya menatap balik, matanya memerah namun penuh keyakinan. "Jangan dengerin dia, Lan! Tembakkan!"
Arlan mengatupkan rahangnya. Ia menekan saklar utama.
ZAP!
Sebuah garis cahaya biru elektrik melesat dari moncong proyektor, melewati lubang ventilasi sempit yang tersembunyi di batang pohon beringin raksasa. Cahaya itu begitu murni, seolah-olah membelah kegelapan hutan Sancang menjadi dua. Di layar monitor kecil, grafik transmisi mulai berjalan. 10%... 25%... data sedang terkirim ke langit.
"Sialan!" teriak suara dari atas. Suara tembakan beruntun menghujani pintu dalam bunker. Bara membalas tembakan itu dengan tenang, satu per satu, menahan laju pasukan Johan di tangga sempit yang mematikan bagi penyerang.
Namun, Johan tidak bodoh. Ia tahu ia tidak bisa masuk lewat pintu depan tanpa risiko kematian tinggi. Di layar pengawas bunker yang buram, Arlan melihat dua orang Unit Pemotong membawa tabung gas berwarna kuning.
"Bara! Mereka mau ngebakar oksigen di sini!" Arlan berteriak.
"Selesaikan pengirimannya, Arlan! Jangan pedulikan aku!" balas Bara. Ia melempar sebuah granat asap ke arah tangga untuk mengaburkan pandangan musuh, namun ia sendiri mulai terbatuk-batuk karena udara yang menipis.
Data mencapai 65%. Klise kedua, yang berisi daftar aliran dana Konsorsium ke bank-bank luar negeri, mulai terpindai. Cahaya laser di ruangan itu semakin terang, menciptakan efek Tyndall yang magis di tengah debu-debu yang beterbangan. Arlan merasa seolah kakeknya sedang berdiri di sampingnya, membimbing tangannya untuk menjaga agar lensa tetap pada porosnya.
Tiba-tiba, sebuah ledakan besar mengguncang seluruh bunker. Bagian langit-langit dekat rak tahun '80-an runtuh, menimpa lemari-lemari besi tersebut. Ledakan itu bukan dari Unit Pemotong, melainkan dari sistem self-destruct yang dipicu Johan dari luar untuk mengubur bukti tersebut selamanya.
"Arlan! Keluar!" Bara menerjang Arlan dan Maya saat bongkahan beton sebesar mobil jatuh tepat di tempat generator berada.
Generator itu hancur. Transmisi terhenti di angka 88%.
"Nggak! Sedikit lagi!" Arlan mencoba merangkak menuju proyektor yang kini miring tertimbun puing.
"Waktunya habis, Lan!" Maya menarik jaket Arlan. Ruangan mulai dipenuhi api dari kabel-kabel yang korslet. "Kita harus pergi lewat saluran pembuangan air yang dibilang kakek di buku!"
Arlan melihat proyektor itu. 88% mungkin cukup untuk menghancurkan Johan, tapi tidak cukup untuk meruntuhkan seluruh Konsorsium. Namun, ia tidak punya pilihan. Api mulai menjilat tumpukan film seluloid yang sangat mudah terbakar. Ruangan itu kini menjadi tungku raksasa.
Bara membantu mereka masuk ke dalam celah sempit di balik meja cuci cetak. "Kalian duluan! Aku akan menahan mereka di sini agar kalian punya waktu untuk sampai ke sungai di bawah lembah!"
"Nggak, Bara! Kita pergi bareng!" Arlan memegang lengan pria itu.
Bara tersenyum pahit, memperlihatkan wajahnya yang kini penuh jelaga. "Tugas kakekmu sudah selesai lewat kamu, Lan. Tugas saya adalah memastikan 'kamera' ini tidak pecah lagi. Pergi!"
Bara mendorong mereka masuk ke dalam lorong gelap yang lembap dan dingin. Saat Arlan dan Maya merosot turun ke dalam kegelapan saluran air, suara terakhir yang mereka dengar adalah rentetan tembakan otomatis Bara dan ledakan besar yang meruntuhkan seluruh bunker Sancang ke dalam perut bumi.
Tiga jam kemudian.
Arlan dan Maya muncul dari balik rimbunnya semak di pinggiran sungai Cikaso. Tubuh mereka penuh lumpur, luka sayatan, dan kedinginan yang menusuk tulang. Mereka tidak memiliki apa-apa lagi. Kamera analog Arlan hancur, buku catatan kakeknya terbakar di dalam bunker, dan Bara... Arlan tidak berani memikirkannya.
Namun, saat Arlan meraba saku celananya yang paling dalam, ia merasakan sesuatu yang keras. Kartu memori cadangan yang ia gunakan untuk merekam proses transmisi tadi.
Ia duduk bersandar di sebuah batu besar, menatap matahari pagi yang mulai muncul di ufuk timur. Cahayanya hangat, sangat berbeda dengan cahaya laser biru yang dingin di dalam bunker. Maya duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu Arlan. Mereka selamat, tapi mereka kini adalah hantu di negara mereka sendiri.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara siaran radio dari sebuah gubuk pemancing.
"...Berita utama pagi ini, sebuah transmisi misterius yang memuat dokumen-dokumen rahasia negara telah diterima oleh berbagai stasiun radio amatir dan lembaga pers internasional. Dokumen yang disebut sebagai 'Arsip Cahaya' ini mengungkap keterlibatan sejumlah tokoh penting dalam skandal korupsi dan pelanggaran HAM berat. Pemerintah pusat menyatakan akan melakukan penyelidikan menyeluruh, sementara keberadaan Johan, CEO dari beberapa perusahaan telekomunikasi besar, dilaporkan menghilang..."
Arlan memejamkan mata. Air mata mengalir di pipinya yang kotor. 88% ternyata sudah cukup untuk menyulut api revolusi informasi.
"Kita menang, Lan?" bisik Maya dengan suara parau.
Arlan menatap kartu memori di tangannya. Ia tahu, Johan tidak benar-benar menghilang. Orang seperti dia hanyalah bagian dari sistem yang lebih besar. Perang ini tidak berakhir dengan satu ledakan di hutan.
"Belum menang, May," jawab Arlan tenang. "Tapi setidaknya, sekarang semua orang sudah melihat apa yang selama ini mereka butakan. Fokus dunia sudah berpindah."
Arlan berdiri, membantu Maya bangkit. Di kejauhan, ia melihat sebuah menara telekomunikasi yang menjulang tinggi di atas bukit—simbol kekuasaan Konsorsium yang kini mulai retak. Arlan tahu, ia harus terus bergerak. Ia bukan lagi seorang mahasiswa yang mencari jati diri lewat lensa, melainkan penjaga sebuah rahasia yang akan terus diburu.
Ia tidak lagi butuh kamera untuk melihat dunia dengan jelas.
Di sebuah kantor mewah di pusat Jakarta yang gelap.
Seorang pria dengan setelan jas mahal berdiri menatap layar monitor yang menampilkan wajah Arlan. Pria itu bukan Johan. Ia lebih muda, lebih tenang, dan memiliki tanda tato kecil berbentuk lensa di pergelangan tangannya.
"Subjek Arlan Rayyan telah melampaui ekspektasi," ucap pria itu ke dalam gagang telepon emas. "Aktifkan Protokol Lensa Kedua. Jika kita tidak bisa menghancurkan kebenaran, kita akan membuatnya menjadi terlalu banyak sehingga orang tidak tahu mana yang asli."
Pria itu mematikan lampu kantornya, meninggalkan kegelapan yang sama pekatnya dengan ruang gelap di bunker Sancang.