NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Cahaya matahari pagi mulai menyusup malu-malu melalui celah gorden sutra di kamar utama Mansion Maheswara. Dinda terbangun lebih dulu, matanya mengerjap menyesuaikan diri dengan binar terang yang menggantikan kegelapan mencekam semalam.

Namun, saat ia hendak menggerakkan tubuhnya, jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat. Ia menyadari posisinya sama sekali tidak berada di sisi ranjang yang jauh dari Alan. Alih-alih menjaga jarak, tubuh mereka justru bertaut sangat dekat. Lengan kokoh Alan melingkar protektif di pinggangnya, sementara wajah Dinda terkubur di ceruk leher pria itu—posisi yang sangat intim, seolah mereka adalah pasangan yang sudah lama saling mencintai.

Aroma maskulin bercampur sabun dari kulit Alan menyeruak ke indra penciuman Dinda, membuatnya terpaku sejenak. Panas menjalar ke pipinya.

Bagaimana bisa aku sedekat ini dengannya? batin Dinda panik.

Dengan sangat hati-hati, Dinda mencoba menggeser lengan Alan yang terasa berat dan hangat. Namun, alih-alih terlepas, gerakan itu justru membuat Alan mengerang rendah dalam tidurnya. Pelukan pria itu justru semakin mengerat, menarik tubuh Dinda lebih dalam ke dekapannya, seolah ia tidak ingin kehilangan pegangan pada mimpinya.

Dinda menahan napas, mematung selama beberapa saat. Ia bisa merasakan deru napas Alan yang teratur menyentuh puncak kepalanya. Ada rasa aman yang asing menyelinap di hatinya, namun logika segera menepisnya. Setelah memastikan Alan kembali terlelap dalam tidurnya yang dalam, Dinda bergerak selembut mungkin, melepaskan diri dari jeratan lengan itu dan turun dari ranjang dengan gerakan yang nyaris tanpa suara.

**

Dinda melangkah menuju dapur. Meski sekarang ia adalah nyonya di rumah besar ini, jiwanya tetaplah gadis pabrik yang terbiasa mandiri. Ia butuh melakukan sesuatu untuk menenangkan debar jantungnya yang masih tidak karuan.

Sesampainya di dapur, ia dikejutkan oleh dua orang ART yang sedang sibuk menyiapkan bahan makanan.

"Loh, Nyonya Adinda? Kenapa sudah bangun?" salah satu ART, Bi Sumi, langsung mendekat dengan wajah panik. "Mari Nyonya duduk saja di meja makan, biar kami yang siapkan sarapannya."

Dinda tersenyum tipis, menggeleng lembut. "Tidak apa-apa, Bibi. Saya terbiasa bangun jam segini. Biarkan saya yang memasak nasi goreng dan membuat omelet. Saya rindu bau dapur ini."

"Tapi Nyonya, Tuan Alan sudah berpesan agar Nyonya tidak perlu melakukan pekerjaan rumah," cegah ART yang lain.

"Saya ingin melakukannya," ucap Dinda dengan nada yang lebih tegas namun tetap sopan. "Ini rumah saya, dan memasak untuk adik saya adalah kebahagiaan saya. Tolong biarkan saya ya, Bi?"

Melihat kesungguhan di mata Dinda, kedua ART itu akhirnya mengalah dan hanya membantu menyiapkan bumbu. Dinda mulai memotong bawang, mengocok telur, dan menumis nasi. Suara spatula yang beradu dengan wajan memberikan irama yang menenangkan baginya. Ini adalah terapi terbaik untuk melupakan sejenak status barunya sebagai istri seorang Ryuga.

**

Saat aroma sedap nasi goreng mentega mulai memenuhi ruangan, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Dika muncul dengan wajah yang masih mengantuk, namun matanya langsung berbinar saat mencium aroma masakan kakaknya.

"Nasi goreng ala Kak Dinda?" tanya Dika sambil menarik kursi di meja makan.

Dinda menoleh dan tersenyum lebar—senyum tulus pertama yang Dika lihat sejak pemakaman Dita. "Iya, Dik. Kamu mandi dulu sana, sebentar lagi matang."

"Baunya enak sekali," suara berat dari arah pintu dapur membuat keduanya menoleh.

Alan berdiri di sana, mengenakan kemeja yang sudah rapi namun kancing atasnya masih terbuka, menampakkan kesan santai. Matanya menatap Dinda dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa kagum dan kehangatan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

Alan mendekat ke arah Dinda yang sedang menyajikan nasi ke piring. "Kau bangun sangat pagi, Dinda. Dan kau tidak membangunkanku."

Dinda menunduk, kembali merasa canggung saat teringat posisi mereka di ranjang tadi. "Mas Alan tidurnya sangat nyenyak. Saya tidak tega membangunkan."

Dika berdehem keras, sengaja memutus kontak mata antara Alan dan kakaknya. "Ayo makan. Aku sudah lapar," cetus Dika ketus, berusaha mengingatkan Alan bahwa keberadaannya di rumah ini masih dalam pantauan tajam darinya.

Mereka bertiga duduk di meja makan yang sama—sebuah pemandangan yang ganjil namun terasa seperti awal dari dinamika baru di Mansion Maheswara. Dinda melayani Dika, lalu dengan ragu ia juga menyendokkan nasi ke piring Alan.

"Terima kasih, Dinda," ucap Alan tulus.

Pagi itu, di tengah denting sendok dan aroma masakan rumah, sejenak penderitaan mereka seolah tersamar.

*

Suasana di meja makan yang awalnya tenang mendadak berubah kaku. Denting sendok beradu dengan piring porselen terdengar lebih nyaring di tengah keheningan yang menyelimuti ketiga orang itu. Alan meletakkan sendoknya, menatap Dika yang duduk tepat di hadapannya dengan wajah datar.

"Dika," panggil Alan pelan namun berwibawa. "Kapan jadwal wisuda SMA-mu?"

Dika tidak langsung menjawab. Ia mengunyah nasi goreng buatan kakaknya dengan lambat, seolah makanan itu kehilangan rasanya. "Sabtu besok. Tiga hari lagi," jawabnya singkat dan dingin tanpa menoleh pada Alan.

"Bagus. Kita akan datang bersama," ucap Alan.

"Aku tidak akan datang," potong Dika cepat. Kali ini ia mendongak, menatap Alan dengan sorot mata yang terluka. "Untuk apa? Wisuda itu hanya akan mengingatkanku pada Dita. Harusnya aku bersama Dita memakai toga yang sama. Sekarang dia tidak ada. Menghadiri acara itu hanya akan menyiksaku."

Mendengar nama Dita disebut, Dinda terdiam. Tangannya yang sedang memegang gelas bergetar kecil. Luka kehilangan sang adik masih terlalu basah untuk dibicarakan di meja makan.

Alan menghela napas, ia memajukan tubuhnya sedikit. "Dika, datanglah. Setidaknya lakukan itu untuk kakakmu. Dinda sudah berkorban banyak agar kamu bisa menyelesaikan sekolahmu dengan tenang. Jangan biarkan pengorbanannya sia-sia hanya karena kamu menyerah pada rasa sedihmu."

Dika mengepalkan tangan di bawah meja. Kalimat "pengorbanan kakaknya" adalah duri yang menusuk ulu hatinya. Ia tahu persis pengorbanan apa yang dimaksud Alan—menikah dengan pria di depannya ini.

"Jangan bicara soal pengorbanan padaku, Alan! Kamu tahu persis kenapa semua ini terjadi!" Dika hendak berdiri, kursinya berdecit keras di lantai marmer.

"Dika, duduk," perintah Alan, suaranya kini lebih dalam dan serius. "Aku ingin bicara hal penting soal masa depanmu. Dinda, tolong minta adikmu duduk."

Dinda memegang lengan Dika dengan lembut. "Tolong, Dik... dengarkan Mas Alan dulu. Ini untuk kebaikanmu."

Dengan wajah ketus, Dika kembali duduk, meski punggungnya bersandar jauh dari meja, menunjukkan penolakannya.

"Soal Maheswara Group," lanjut Alan. "Seperti janjiku, seluruh saham dan aset perusahaan sudah resmi kembali atas nama kamu, Dika. Kamu sudah berusia 18 tahun, secara hukum kamu sudah bisa memilikinya. Tapi, aku tidak akan membiarkanmu memegang kendali penuh sekarang. Kamu belum punya pengalaman, dan perusahaan itu masih rapuh setelah aku ambil alih dari paman Richard."

Dika mendengus remeh. "Lalu? Kamu mau menguasainya lebih lama lagi?"

"Tidak. Aku akan menjadi mentormu. Kamu harus mendaftar kuliah jurusan bisnis mulai minggu depan. Sambil kuliah, kamu wajib datang ke kantor setidaknya tiga kali seminggu untuk memantau operasional. Kamu harus belajar bagaimana cara memimpin, sebelum aku benar-benar melepasnya padamu," tegas Alan.

Dika terdiam. Tawaran itu adalah impian ayahnya, sekaligus rantai baru yang mengikatnya pada Alan. Jika ia setuju, ia akan semakin berutang budi pada pria yang telah merusak kehormatan kakaknya. Namun jika ia menolak, warisan ayahnya akan hancur.

Dinda menatap adiknya penuh harap. "Dika, ini kesempatanmu. Mas Alan benar, ini yang terbaik untukmu dan untuk nama Ayah."

Dika menarik napas panjang, menatap Alan dengan kebencian yang masih murni namun kini bercampur dengan logika yang dingin. "Lakukan saja apa yang menurutmu terbaik untuk saat ini," ucap Dika ketus.

Ia berdiri, menatap Alan tepat di matanya. "Aku akan kuliah. Aku akan masuk ke kantor itu. Tapi jangan harap aku akan berterima kasih. Aku ingin segera mengambil alih semua milik orang tuaku, dan setelah itu, aku akan membayar setiap rupiah hutangku padamu agar aku bisa membawa Kak Dinda pergi dari hidupmu."

Tanpa menunggu jawaban, Dika berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang makan, menaiki tangga menuju kamarnya dengan langkah yang menghentak.

Dinda tertunduk, air matanya jatuh ke piring. Alan meraih tangan Dinda di atas meja, menggenggamnya erat. "Biarkan dia, Dinda. Dia butuh tujuan untuk bertahan hidup. Dan jika kebencian padaku adalah tujuannya, biarlah. Setidaknya dia akan tumbuh menjadi pria yang kuat."

***

Bersambung...

1
Lilik Juhariah
kadang kebaikan akan tertutup dg kebencian ,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!