Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Lampu-lampu sorot berwarna rose gold dan amber berpendar redup di seluruh area rooftop resort, menciptakan pantulan mewah pada permukaan kolam renang yang tenang. Musik EDM bertempo lambat yang dimainkan oleh DJ ternama mulai mengalun, mengisi udara malam Kepulauan Anambas dengan getaran yang modern namun tetap intim. Setelah prosesi adat yang sakral, kini tibalah saatnya bagi mereka untuk merayakan kebebasan sejenak dalam acara after party yang tertutup.
Selena tampil memukau dengan gaun satin berwarna rose gold yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Potongan backless pada gaun itu memperlihatkan punggung mulusnya yang bersinar di bawah lampu pesta. Di sampingnya, Elvano tampak jauh lebih santai namun tetap memancarkan aura mahal. Ia menanggalkan jas pengantinnya, menyisakan kemeja sutra berwarna senada dengan gaun Selena. Dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya yang atletis—pemandangan yang sanggup membuat siapa pun menahan napas.
Keduanya berdansa di tengah lantai dansa, bergerak mengikuti ritme musik yang semakin memanas. Elvano melingkarkan tangannya di pinggang Selena, menariknya begitu dekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
“Kamu terlihat sangat berbahaya dengan gaun ini, dr. Selena,” bisik Elvano dengan suara bariton yang serak, tepat di telinga istrinya.
Selena tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Elvano yang kokoh. “Dan kamu terlihat terlalu menggoda untuk ukuran seorang suami yang baru sah beberapa jam, El,” sahut Selena sambil mengerlingkan matanya jahil.
Pesta itu benar-benar menjadi milik mereka. Nia dan Dira yang berdiri di sudut bar tampak masih berusaha mencerna kemewahan di depan mata mereka. Bagi mereka yang terbiasa dengan lingkungan rumah sakit yang steril, gemerlap dunia hiburan kelas atas seperti ini terasa seperti mimpi di siang bolong.
Beberapa saat kemudian, pasangan itu memutuskan untuk memisahkan diri sejenak demi menyapa tamu masing-masing. Selena memilih untuk duduk di sofa lounge bersama Nia dan Dira. Begitu Selena mendaratkan tubuhnya, Dira langsung condong ke depan dengan mata yang membelalak lebar, seolah tabung oksigennya baru saja dilepas.
“Dokter! Tolong jelaskan padaku sebelum aku mati penasaran! Bagaimana ceritanya Dokter bisa menikah dengan Elvano Alvendra? Ini gila! Ini benar-benar kejutan paling ekstrem abad ini!” seru Dira dengan suara tertahan namun penuh penekanan.
Selena menyesap jus jeruknya perlahan, mencoba meredam detak jantungnya yang masih tidak keruan.
“Jujur saja, Dira, ini adalah hasil dari perjodohan keluarga,” jawab Selena dengan nada bicara yang jujur.
Dira hampir saja menjatuhkan gelasnya. “Perjodohan? Dokter bercanda ya? Aku tidak percaya kalau kalian dijodohkan. Cara Elvano menatap Dokter tadi... itu bukan tatapan orang yang dipaksa menikah. Kalian sama sekali tidak canggung, malah terlihat seperti orang yang sudah saling mencintai selama bertahun-tahun!” sahut Dira menggebu-gebu.
Nia yang sejak tadi menyimak hanya tertawa kecil sambil menyenggol bahu Dira. “Apa kamu lupa, Dira? Sahabatku ini kan Dr. Sunshine. Dia itu paling jago membuat orang lain merasa nyaman dalam hitungan detik. Jangankan Elvano yang manusia, batu pun mungkin bisa luluh kalau bicara dengan Selena,” puji Nia yang membuat wajah Selena bersemu merah.
Dira ikut tertawa, namun rasa penasarannya belum tuntas. “Benar juga ya, kenapa aku baru sadar. Tapi Dokter, tolong bisikkan padaku... bagaimana rasanya punya suami seorang Elvano? Apakah dia sedingin dan sependiam yang terlihat di wawancara TV?” tanya Dira lagi dengan nada kepo maksimal.
Selena terdiam sejenak, melirik ke arah Elvano yang sedang tertawa bersama teman-temannya di kejauhan.
“Pendiam dan kaku itu mungkin sudah bawaan karakternya ya. Tapi, sejauh yang aku jalani, dia itu pria yang sangat hangat dan perhatian di balik pintu tertutup. Dia tipe yang tidak banyak bicara, tapi tindakannya selalu tepat sasaran,” jawab Selena dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.
Sementara itu, di meja tinggi seberang ruangan, Elvano dikelilingi oleh sahabat-sahabat prianya dari kalangan aktor dan produser. Darian berdiri di sampingnya, memegang gelas sampanye dengan gaya kemenangan.
“El, jujur saja pada kami. Di mana kau bisa menemukan dokter cantik dan berkelas seperti itu? Kau ini tertutup sekali soal kehidupan pribadi, tahu-tahu sudah memberikan kami undangan ke pulau terpencil saja,” tanya salah satu aktor papan atas yang merupakan sahabat karib Elvano.
Temannya yang lain menimpali sambil menepuk punggung Elvano. “Iya, El! Selama ini tidak pernah terdengar kau dekat atau jalan dengan perempuan mana pun. Kami pikir kau sudah menikah dengan pekerjaanmu sendiri!”
Elvano hanya tersenyum tipis, senyum misterius yang membuat fansnya sering histeris.
“Kadang hal terbaik dalam hidup datang di saat kau tidak mencarinya,” jawab Elvano singkat namun berkesan.
Darian yang hobinya meledek Elvano langsung menyahut dengan wajah tanpa dosa. “Ah, kalian tidak tahu saja. Elvano ini menemukan dokternya di rumah sakit. Istilahnya, cintaku terpentok gizi buruk! Dia itu pasien paling manja kalau sudah di depan Selena,” celetuk Darian dengan nada mengejek.
“Sialan kau, Darian!” umpat Elvano sambil tertawa kecil, membuat teman-temannya ikut terbahak-bahak.
Suasana malam itu benar-benar sempurna. Penuh keromantisan, kehangatan, dan kegembiraan yang tulus. Elvano kembali mendekati meja Selena, bermaksud mengajak istrinya itu untuk beristirahat karena malam sudah semakin larut.
**
Suasana malam di Kepulauan Anambas terasa begitu magis. Angin laut yang tenang membawa aroma garam dan melati, menyelinap masuk melalui celah pintu geser balkon villa pengantin yang berdiri megah di atas tebing karang. Di dalam ruangan, pencahayaan hanya berasal dari beberapa lampu dinding temaram berwarna amber, menciptakan bayangan romantis yang menari di dinding kayu jati.
Selena melangkah perlahan menuju balkon, berdiri tepat di depan pintu kaca besar yang menampilkan hamparan laut gelap berkilau tertimpa cahaya bulan. Gaun rose gold-nya tampak berkilau lembut, senada dengan rona bahagia di wajahnya. Ia menarik napas dalam, merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkar posesif di pinggangnya. Selena tersentak kecil, namun segera rileks saat mencium aroma parfum sandalwood dan musk yang sangat ia kenali. Elvano menyandarkan dagunya di bahu Selena, lalu mendaratkan kecupan-kecupan manis di pundak polos istrinya yang terasa halus seperti sutra.
“Apa kamu bahagia malam ini, Selena?” bisik Elvano dengan suara baritonnya yang rendah dan dalam, tepat di depan telinga Selena hingga embusan napasnya membuat bulu kuduk wanita itu meremang.
Selena memejamkan mata, menikmati kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Tentu saja aku sangat bahagia, El. Kamu sendiri bagaimana?” tanya Selena lembut sambil mengelus tangan Elvano yang masih mendekapnya erat.
Elvano terkekeh pelan, getaran di dadanya terasa jelas di punggung Selena. “Apakah perlu aku jelaskan juga secara lisan?” tanya Elvano dengan nada menggoda, sedikit mengeratkan pelukannya seolah tidak ingin ada jarak di antara mereka.
Selena memutar tubuhnya perlahan di dalam dekapan Elvano hingga kini mereka berdiri saling berhadapan. Jarak di antara mereka begitu terkikis, membuat Selena harus sedikit mendongak untuk menatap mata tajam namun teduh milik suaminya.
“Perempuan itu selalu butuh penjelasan yang detail, El. Meskipun dia sudah tahu jawabannya, dia tetap ingin mendengarnya langsung dari mulut pria yang dia sayangi,” ujar Selena dengan senyum manis yang membuat pertahanan Elvano runtuh seketika.
Elvano menatap wajah segar Selena, lalu dengan gemas mencolek hidung mancungnya. “Terima kasih sudah memberitahuku satu rahasia perempuan itu. Kamu tahu sendiri kan, aku tidak pandai memahami isi hati perempuan. Selama ini aku hanya hidup di duniaku yang kaku,” ucap Elvano jujur.
Selena tertawa kecil, tangannya bergerak merapikan kerah kemeja Elvano yang sedikit berantakan. “Sama-sama, Tuan Bintang. Anggap saja itu pelajaran pertama. Seterusnya, aku akan menunjukkan rahasia-rahasia perempuan lainnya padamu, supaya kelak tidak ada salah paham di antara kita,” jawab Selena penuh semangat.
“Good. Aku akan menjadi murid yang paling tekun untukmu,” sahut Elvano pendek. Ia kemudian menarik Selena lebih dekat dan mengecup keningnya dengan sangat lembut dan lama. Suasana kamar yang temaram seolah mengunci mereka dalam dunia mereka sendiri.
Setelah melepaskan kecupannya, Elvano menatap Selena dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan ketulusan yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.
“Terima kasih, Selena. Terima kasih karena kamu mau menerima diriku menjadi suamimu, meskipun aku tahu rasa cinta itu mungkin belum benar-benar tumbuh kokoh di antara kita saat ini,” bisik Elvano parau.
Selena tertegun sejenak, lalu ia melingkarkan tangannya di pinggang Elvano, memeluknya dengan erat seolah sedang menguatkan pria itu.
“Aku juga ingin mengucapkan terima kasih padamu, El. Dan untuk rasa cinta itu... mari kita saling belajar bersama. Bukankah jika kita ingin sebuah hubungan berkembang, kita harus berani menanam bibitnya terlebih dahulu?” tanya Selena sambil menatap mata Elvano dengan binar keyakinan.
Elvano mengangguk setuju, jemarinya membelai rambut Selena yang terurai indah. “Kamu benar. Kita akan menanam bibitnya malam ini. Kita akan menyiraminya setiap hari, memberikan pupuk terbaik, hingga dia tumbuh menjadi pohon yang besar, kuat, dan sehat,” ujar Elvano dengan metafora yang indah.
“Tentu saja. Tapi ingat, kita harus merawatnya dengan sangat hati-hati, El. Tanaman itu akan rawan terkena penyakit, diterjang badai, bahkan mungkin bisa mati jika kita lengah sedikit saja,” tambah Selena dengan nada memperingatkan, mengingatkan pada kerasnya dunia luar yang mereka hadapi.
“Aku mengerti. Mari kita berjanji untuk belajar melakukan itu bersama-sama. Menanam dan menjaga perasaan kita sampai akhir,” sahut Elvano dengan nada absolut yang tidak terbantahkan.
“Hmmm,” jawab Selena sambil mengangguk kecil, menyandarkan wajahnya di dada bidang Elvano, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang seirama dengan miliknya.
Elvano perlahan mengangkat wajah Selena. Ibu jarinya menyentuh rahang Selena yang tegas namun feminin, mengelusnya dengan sangat lembut seolah sedang menyentuh porselen yang sangat mahal. Mata Elvano menggelap, dipenuhi oleh gairah dan kasih sayang yang memuncak.
Secara perlahan, Elvano menundukkan kepalanya. Saat bibir mereka bersentuhan, seolah-olah ada aliran listrik yang menyengat keduanya. Ciuman itu awalnya terasa sangat lembut dan ragu-ragu, seolah Elvano sedang meminta izin. Namun, saat Selena membalas dengan remasan lembut di pundak Elvano, ciuman itu berubah menjadi sangat menggelora dan penuh kasih.
Elvano mengeksplorasi setiap inci bibir Selena dengan penuh pemujaan, sementara Selena melingkarkan lengannya di leher Elvano, menarik pria itu semakin dalam ke dalam ciuman mereka.
Suasana di dalam villa itu mendadak terasa panas, mengaburkan suara deburan ombak di luar sana. Ciuman itu bukan hanya sekadar penyatuan fisik, melainkan janji bisu bahwa mereka akan saling memiliki, menghadapi badai apa pun yang akan menerjang rumah tangga mereka nanti.
***