Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 — Malam yang Tidak Pernah Selesai
“Leon, sisa darah ini... kau tidak merasakannya?”
Suara Alice terdengar ragu di tengah rintik hujan yang mulai merembes masuk ke celah pintu bunker yang terbuka. Hujan turun perlahan, membasuh ujung jaket taktis Leon dan membawa sisa-sisa darah dari pertarungan tadi jatuh ke lantai beton, menciptakan genangan merah yang encer. Leon berdiri diam, memunggungi Alice. Tubuhnya tegak, namun pikirannya tidak lagi berada di Sektor Nol. Ia sedang terseret kembali ke dalam pusaran waktu yang gelap.
“Apa yang kau lihat di balik kegelapan itu?” tanya Alice lagi, melangkah pelan mendekat. Ia tidak memaksa, hanya mencoba menarik Leon kembali ke realitas.
Leon tidak segera menjawab. Tatapannya lurus ke arah reruntuhan pabrik di depannya, namun pandangannya kosong. Sesuatu di dalam dirinya terasa retak, melepaskan ingatan yang selama ini ia kunci rapat-rapat. “Malam yang tidak pernah benar-benar selesai,” bisik Leon akhirnya. Suaranya serak, seolah kata-kata itu berasal dari lubang hitam di masa lalunya.
Di dalam benaknya, sebuah layar ponsel lama menyala di tangan ayahnya. Marcus Vane, seorang polisi dengan prinsip baja, membaca pesan itu tanpa berkedip. Nama Owen Foster tertera di sana, membawa pesan singkat namun mematikan: “Mereka tahu. Helix sudah tahu riset ini kuubah demi kebaikan. Lindungi Alice. Aku tidak punya waktu lagi.”
Marcus menutup matanya sejenak, bukan karena ragu, tapi karena ia tahu ini adalah awal dari kehancuran. Di ruangan lain, Elian kecil—sebelum dunia mengenalnya sebagai Leon—duduk di lantai sambil merakit potongan logam. Dunianya sederhana dan tenang, sampai ibunya, Sarah, masuk dengan wajah tegang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
“Elian, ke sini sekarang. Jangan bertanya apa pun,” bisik Sarah. Suaranya lembut, namun ada getaran ketakutan yang merambat ke tangan Elian saat ibunya menggenggam jemarinya.
“Bawa dia, Sarah! Cepat!” perintah Marcus dengan suara otoriter yang tergesa-gesa. Tidak ada waktu untuk penjelasan panjang. Di luar, suara deru mesin mobil mendekat, diikuti suara pecahan kaca yang memekakkan telinga. Pintu depan dihantam paksa oleh langkah-langkah kaki yang berat dan teratur.
Sarah menarik Elian masuk ke dalam ruang sempit di bawah tangga yang gelap. Pintu kecil itu ditutup perlahan, dan tubuh Elian didekap erat dalam pelukan ibunya yang gemetar. “Tutup matamu, Elian. Jangan bersuara,” bisik Sarah tepat di telinganya.
Namun, Elian tidak menutup mata. Dari celah kayu yang sempit, ia mendengar suara dingin seorang pria menembus keheningan rumah mereka. “Di mana datanya, Marcus Vane? Jangan biarkan istrimu menjadi janda malam ini.”
“Kalian tidak akan mendapatkan apa pun,” jawab Marcus tegas, diikuti bunyi pukulan yang membuat jantung Elian seolah berhenti berdetak. Elian melihat bayangan ayahnya tersungkur ke lantai.
“Elian... tutup matamu,” Sarah terisak tanpa suara, memeluk putranya seolah pelukan itu bisa menjadi perisai dari maut. Kesempatan terakhir diberikan, namun ayahnya memilih diam. Lalu, bunyi tembakan itu meledak. Satu peluru, satu detak jantung yang hilang.
Dunia Elian berhenti seketika. Langkah kaki para pembunuh itu mendekat ke arah persembunyian mereka. Pintu kecil itu dibuka paksa, membiarkan cahaya lampu senter yang menyilaukan masuk. Sarah berdiri, merentangkan tangannya di depan Elian. “Jangan sakiti anakku!” teriaknya.
Tembakan kedua terdengar lebih dekat, lebih sunyi di telinga Elian yang mendenging, dan sepenuhnya final. Elian tidak bersuara; suaranya tertinggal di tempat yang baru saja mati bersama ibunya. Saat langkah kaki para pembunuh itu menjauh, Elian merangkak keluar. Tubuhnya gemetar, namun matanya yang jernih tidak mengeluarkan air mata. Ia hanya merasakan kemarahan yang membakar.
Ia berlari keluar, menerobos hujan deras menuju mobil-mobil hitam yang hendak pergi. Elian tidak berhenti. Ia berdiri di tengah jalan, menghadang monster-monster itu dengan tubuh kecilnya. Ban mobil berdecit kencang. Elian terpental saat salah satu dari mereka keluar dan menghantamnya dengan kasar.
“Kalian... akan mati...” Elian berbisik dengan suara retak di tengah aspal yang basah.
Seorang pria dengan seragam Helix menatapnya, lalu mengeluarkan tawa pendek yang dingin. “Itu anaknya Marcus? Buang saja subjek gagal ini ke tempat pembuangan. Discard him.”
Kalimat itu menempel di kepalanya, menjadi mantra yang membangkitkannya dari kematian berkali-kali. “Leon?” suara Alice kembali memanggil, menariknya dari fragmen ingatan yang menyakitkan itu.
Leon berkedip. Napasnya berat, seolah ia baru saja berlari maraton menembus waktu sepuluh tahun. Perlahan matanya fokus pada wajah Alice yang dipenuhi kecemasan. “Aku tidak ingat semuanya secara utuh,” bisik Leon pelan. “Hanya potongan-potongan tajam yang melukai setiap kali aku mencoba menyentuhnya.”
Ia menatap tangannya yang masih memegang pistol, rahangnya mengencang hingga otot lehernya menonjol. “Tapi potongan itu cukup untuk membuatku tahu siapa yang memulai neraka ini.”
Alice terdiam. Ia merasakan sesuatu di dalam dirinya bergerak, sebuah firasat yang mulai menyatu. Leon melanjutkan dengan nada yang lebih rendah, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. “Nama Foster... aku pernah mendengar nama itu di malam rumahku terbakar. Marcus, ayahku, menyebutnya.”
Tubuh Alice membeku. Jantungnya berdegup kencang, namun ia memilih untuk tidak bicara. Ia belum siap mengungkapkan bahwa Owen Foster yang disebut Leon adalah ayahnya sendiri. Pria yang risetnya menjadi alasan kematian keluarga Leon.
Leon tidak menyadari perubahan ekspresi Alice. Ia sudah kembali menatap kegelapan di depannya, kembali menjadi Phantom yang tidak mengenal ampun. “Kalau aku berhenti sekarang, mereka akan terus melakukan hal yang sama pada orang lain. Mereka akan menghancurkan keluarga lain.”
Di kejauhan, suara mesin helikopter mulai terdengar mendekat, memecah kesunyian Sektor Nol. Leon mengangkat senjatanya, tatapannya kini tajam dan penuh kepastian yang mematikan. “Aku akan mengakhiri ini, Alice. Tidak ada lagi pelarian.”
Alice berdiri di belakangnya, menatap punggung kokoh itu dengan perasaan yang campur aduk antara rasa bersalah dan kekaguman. Ia mulai mengerti sekarang bahwa ini bukan sekadar tugas perlindungan. Ini adalah perang suci bagi Leon, perang yang sudah dideklarasikan sejak ia berdiri di tengah hujan sepuluh tahun lalu sebagai Elian.
Hujan terus turun, membasuh noda darah di atas beton, namun tidak pernah benar-benar mampu membasuh memori Leon tentang malam yang tidak pernah selesai itu. “Ayo pergi,” ajak Alice lembut. “Kita hadapi mereka bersama.”
Leon hanya mengangguk pelan, menyongsong badai yang datang dari langit. Tidak ada lagi keraguan, hanya sisa-sisa Elian yang menuntut keadilan.