Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal dari Rasa yang Mulai Berubah
Suhu jalannya debat memanas, namun Randy selalu bisa menjaga emosinya dan senantiasa menjawab dengan sopan dan cool, bahkan beberapa kali mengakui kehebatan ilmu kedokteran modern.
“Saya akui, ilmu pengobatan modern sangat hebat, dok, bahkan saya juga pergi ke dokter sewaktu sakit,” kata Randy pelan. “Mungkin kemampuan saya hanya untuk melengkapi hal-hal yang belum tersentuh medis.”
Tepuk tangan menggema dari para hadirin karena jawaban dari Randy itu sangat bagus.
dr. Nadia nampak semakin kesal, tapi juga kelihatan penasaran. “Anak muda ini berbeda, biasanya orang yang merasa memiliki kemampuan akan bersikap sombong dan membanggakan kemampuannya. Tapi Randy terdengar rendah hati.” gumamnya dalam hati.
Akhirnya konferensi pers selesai dengan media terbelah dua. Sebagian besar mendukung Randy, namun ada sebagian kecil yang mendukung dr. Nadia.
Selesai konferensi pers, dr. Nadia menjenguk Andika lalu melihat Randy sedang berbicara di telepon di lorong rumah sakit depan kamar Andika dirawat. Tanpa sengaja ia mendengar potongan pembicaraan.
“Iya Mulan sayangku, urusanku hampir selesai. Besok aku jemput kamu ya, Lan. Kita makan malam bareng lagi.”
Nadia berhenti melangkah. “Mulan? Jadi dia sudah punya pacar?” katanya dalam hati.
Entah kenapa, ada perasaan kecewa yang sedikit muncul di hatinya. Namun dengan cepat dr. Nadia menggelengkan kepalanya.
“Pikiran apa ini? Aku harus profesional!”
Beberapa hari setelah konferensi pers itu, Suwanto kembali muncul di rumah sakit dengan menyamar sebagai wartawan lepas dari sebuah media kesehatan online yang katanya bebas dari kepentingan apa pun. Ia mengenakan kemeja yang rapi, berkacamata, dan membawa alat kecil serta ID palsu agar nampak berpenampilan meyakinkan. Yang menjadi target bukan Randy, melainkan dr. Nadia, sebab ia paham ambisi dan rasa penasaran dari dokter muda dan cantik itu adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggangkan hubungan Randy dan Mulan.
Suwanto mendekati Nadia di ruangannya dengan senyum yang nampak intelek.
“Selamat pagi, Dokter Nadia. Maaf mengganggu waktu dokter, saya Andi Santoso dari Health Insight. Saya sedang membuat artikel tentang fenomena penyembuhan alternatif yang mulai diakui keberadaannya oleh dunia medis.”
dr. Nadia hanya melihat sekilas dan nampak tidak terlalu antusias.
“Saya hadir dalam konferensi dokter bersama Randy beberapa hari lalu, dan setelah konferensi kemarin, banyak yang bilang Randy itu tabib yang unik,” kata Suwanto memainkan manipulasinya. “Tapi saya melihat dokter terlihat sangat penasaran akan sosok Randy. Apakah saya boleh mewawancarai dokter sebentar?”
Nadia nampak ragu-ragu, tapi kata-kata “diakui dunia medis” itu mulai membuatnya tertarik dan menyentuh egonya sebagai dokter yang sangat berpegang pada nalar. Lalu dia menerima Suwanto alias Andi Santoso itu untuk berbincang di kantor, dan Suwanto pun mulai dengan provokasi halus tingkat tingginya.
“Saya dengar Randy jarang mau membuka kemampuannya ke orang sembarangan. Dia cenderung merupakan orang yang tertutup,” ujar Suwanto. “Saya mengerti banyak soal karakter Randy, karena saya sudah sering mewawancarainya sebelum ini.”
dr. Nadia diam saja dan memperhatikan Suwanto dengan sangat serius.
“Kalau dokter benar-benar ingin memahami nalar dan logika di balik kasus-kasusnya yang fenomenal itu, mungkin harus dilakukan secara lebih dekat alias secara personal, bukan cuma di konferensi pers,” ujar Suwanto dengan gaya yang intelek. “Menurut pengakuan Randy, pasien-pasiennya bisa sembuh karena ada ikatan batin tertentu.”
“Maksudnya?” tanya dr. Nadia.
“Dokter tahu sendiri, ilmu seperti itu tidak bisa dipelajari dari jarak jauh,” kata Suwanto lebih lanjut. “Dan saya menyimpulkan orang seperti Randy tidak bisa diajak berdiskusi secara terbuka di konferensi pers, tampaknya harus diajak berdiskusi secara personal, dan nanti akan banyak informasi-informasi yang akan keluar dari mulutnya.”
dr. Nadia mengerutkan kening, tapi matanya kelihatan berbinar dan mulai tertarik. Penasaran. “Baik, saya mulai mengerti jalan pikiran Mas Andi.”
Suwanto tersenyum penuh kemenangan dalam hati, tapi wajahnya harus tetap menunjukkan netralitas agar meyakinkan lawan bicaranya. “Saya hanya seorang wartawan, dok. Kapasitas saya tidak cukup untuk berdiskusi dengan Randy soal medis, dokter yang lebih kompeten.”
dr. Nadia membetulkan letak kacamatanya sambil terus mengikuti apa yang dibicarakan Suwanto.
“Dari pengamatan saya, Randy itu paling terbuka saat sedang ‘tertarik’ pada seseorang. Bukan tertarik dalam arti romantik, tapi tertarik dalam hal intelektual,” Suwanto makin leluasa memainkan perannya sebagai Andi Santoso, sang wartawan. “Kalau dokter berhasil membuat dia merasa dibutuhkan, misalnya sebagai partner riset, mungkin dia mau membuka tentang ilmu yang dimilikinya itu dengan lebih dalam.”
dr. Nadia mengangguk dan berkata, “Baik, saya paham maksud Mas Andi.”
“Sebagai orang awam, bukan sebagai wartawan, saya berharap siapa tahu fenomena Randy ini bisa jadi terobosan besar buat dunia medis.”
Malam harinya, Suwanto mengirim foto Randy saat konferensi pers dengan dr. Nadia pakai nomor asing ke WhatsApp Mulan, “Randy melakukan konferensi pers dengan dr. Nadia dalam debat yang berlangsung panas dan akhirnya akan melakukan riset bersama-sama.”
Mulan yang membaca pesan itu hanya menatap sekilas, dan tidak menanggapi pesan dan foto yang dikirimkan oleh orang yang tak dia kenal tersebut. Beberapa reels di Facebook dan Instagramnya juga berisi tentang konferensi pers Randy dengan dr. Nadia itu. Kemudian dia mulai memegang ponselnya, dan setelah sekitar 10 menit dia menelepon Randy.
“Halo, Rand, apa kabar?” tanya Mulan dalam percakapan teleponnya.
“Halo, Lan. Kenapa, kangen ya?” gantian Randy dengan nada celelekan.
“Ah, jangan geer,” balas Mulan sambil tertawa yang tidak terdengar ceria. “Tapi kamu akhir-akhir ini jarang punya waktu buat aku.”
“Maafkan, Lan,” kata Randy. “Dokter itu lagi nge-pressure aku banget belakangan ini.”
“Dokter Nadia?” tanya Mulan. “Dia dokter yang muda dan cantik.”
“Kok kamu tahu tentang dia?” tanya Randy heran.
“Konferensi pers kamu dengan dr. Nadia sudah tersebar di beberapa berita tentang kesehatan dan medsos,” ujar Mulan. “Kamu udah jadi selebriti, lupa dengan anak penjual kue ini.”
“Wah, kok jadi begini?” jawab Randy. “Mana bisa aku lupa sama Mulan? Besok deh aku ke rumahmu.”
“Ntar batal lagi?” sindir Mulan. “Aku dengar kamu mau bikin riset bersama dokter Nadia?”
“Nggak akan batal,” jawab Randy. “Dan info dari siapa itu aku mau bikin riset sama dr. Nadia? Aku nggak pernah ngomongin soal itu.”
Mulan diam sebentar, lalu melanjutkan. “Kamu harus jujur sama aku, Rand.”
“Astaga, Lan,” tegas Randy. “Aku nggak pernah ngomongin soal riset sama dr. Nadia. Sumpah.”
“Ya sudah,” kata Mulan lalu menutup teleponnya.
Suwanto yang menguping pembicaraan Mulan dan Randy di ponsel, di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Mulan yang hanya disekat tripleks, itu pun tersenyum dengan penuh kemenangan.
“Ya, masuk dalam skenario!” bisiknya pelan sambil mengepalkan tangan.
Randy kemudian hanya bisa menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. “Riset? Isu apa lagi ini?” gumam Randy pelan kepada dirinya sendiri. Randy coba menelepon balik Mulan, namun tidak diangkat, lalu dia menuliskan pesan kepada Mulan. “Riset apa, Lan? Aku nggak pernah ngomongin soal riset dengan dr. Nadia.”
Namun pesan itu hanya dibaca oleh Mulan tapi tidak dibalas.
Tak lama kemudian datang pesan WhatsApp dari dr. Nadia: “Randy, besok sore bisa temui aku di Rumah Sakit Harapan Bangsa? Ada sesuatu yang penting yang harus aku bicarakan.”