NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERROR

Pagi itu, Farhan membawa Claudia dan Rafna ke sebuah taman bermain di tengah kota.

Cuaca cukup bersahabat. Matahari hangat, angin berembus pelan—cocok untuk sekadar berjalan santai atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Asih menggelar tikar tipis di atas rumput, lalu perlahan meletakkan Rafna di sana.

Bayi lima bulan itu mulai menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Tubuhnya lebih berisi. Tangannya mulai aktif menggenggam.

Sesekali ia berusaha tengkurap, mengangkat kepala kecilnya dengan susah payah.

"Masyaallah… alhamdulillah," ucap Asih haru.

Tak jauh dari sana, Claudia tertawa riang di atas ayunan.

"Ayah!" pekiknya senang saat tubuhnya terangkat tinggi.

Farhan berdiri di belakang, mendorong ayunan itu dengan hati-hati.

"Hati-hati, sayang," ujarnya lembut.

Ia sengaja membawa dua anaknya ke sana, sebagai permintaan maaf terutama pada Claudia.

Sementara Rani? Farhan tidak mengajak istrinya, karena Rani masih tidur ketika mereka pergi.

Bukan Farhan tidak membangunkannya. Sejak subuh, Rani enggan bangun beralasan tengah datang bulan. Farhan pun tak lagi membangunkannya.

Di rumah, Rani yang sudah bangun mendapati rumahnya kosong. Hanya seorang asisten rumah tangga yang tengah membersihkan seluruh ruangan dan seorang sekuriti, Pak Sukun yang duduk di kursi teras sambil menikmati kopinya.

"Bi Siti!" panggil Rani karena tak mendapati suaminya.

"Ya, Nyah?" Siti datang menghadap.

"Kemana semuanya?" tanyanya.

"Bapak, Bi Asih, Non Claudia dan Neng Rafna pergi ke taman Kota, Nyah!" jawab Siti.

Rani terdiam, ia tak menyangka jika Farhan tega meninggalkannya. Ia menatap jam di dinding. Sudah pukul sepuluh pagi. Ia memang bangun terlalu siang.

"Mana sarapan?" Rani akhirnya ke ruang makan dan duduk di sana.

"Bapak tadi nggak nyuruh bikin sarapan karena mau makan di luar Nyonya," jawab Siti.

"Terus karena Bapak bilang gitu. Kamu nggak buat sarapan?" tanya Rani sinis.

"Kata Bapak nggak usah. Takut mubazir!" jawab Siti tenang.

"Tolong buatkan saya sarapan, mie rebus!" suruh Rani.

"Iya Nyah!" angguk Siti.

"Pakai telor sama sosis!" seru Rani sebelum Siti membuat sarapannya.

"Iya Nyah!"

Sepuluh menit, sarapan itu terhidang di hadapan. Rani menikmatinya dengan tenang.

Usai makan, Rani berjalan ke arah ruang tamu. Di atas sana sudah tidak ada lagi amplop putih itu. Mungkin sudah dibereskan Siti.

"Bi, amplop yang di sini mana?" tanya Rani.

"Kemarin saya lihat Bapak bawa ke ruang kerjanya!"

Deg! Jawaban Siti membuat Rani langsung gelisah. Ia gegas naik ke atas, menuju ruang kerja suaminya.

Ketika sampai depan pintu jati berukir itu, tangan Rani sempat menggantung di udara. Ia hendak meraih handel pintu.

Untuk membantah pikirannya, Rani menggerakkan tangannya dan pintu terbuka. Ia masuk secara hati-hati.

Matanya tertuju pada meja kerja Farhan. Amplop putih itu terletak di sebuah rak map-map berkas kerja suaminya.

Tangannya menjulur menggapai amplop itu. Lalu mengambilnya, perlahan ia pun keluar dari ruangan. Dengan langkah cepat ia langsung menuju kamarnya.

Sampai kamar ia menutup pintu dan menguncinya. Merobek amplop dan menjatuhkan isinya ... pluk! Dua lembar foto jatuh.

Rani menunduk, meraih foto itu. Matanya melebar. Ia sangat tau foto siapa yang dipegangnya.

"Foto pernikahanku dan Mas Iqbal?" gumamnya gemetar.

Terlihat jelas di sana senyumnyw dan Iqbal yang bahagia. Bahkan ada tertera tanggal pengambilan. Lalu satu fotonya saat Iqbal mengecup keningnya. Mata Rani seperti mau keluar dari sarangnya.

Dunia di sekitar Rani seolah runtuh seketika. Oksigen di dalam kamarnya yang mewah mendadak hilang, membuatnya megap-megap seperti ikan yang dilempar ke daratan kering.

Lembaran kertas foto di tangannya terasa lebih berat daripada bongkahan batu, menghimpit seluruh sendi tubuhnya hingga lemas.

Rani jatuh terduduk di tepi ranjang. Tangannya gemetar hebat, membuat foto-foto itu bergetar di genggamannya. Di foto pertama, ia melihat dirinya dua belas tahun lalu—tampak lebih muda, polos, dan tersenyum tulus di samping Iqbal yang mengenakan kemeja putih sederhana.

Di foto kedua, kecupan Iqbal di keningnya seolah-olah menjadi cap kutukan yang kini menagih nyawanya.

"Bagaimana... bagaimana foto ini bisa ada di tangan Mas Farhan?" bisiknya parau. Suaranya pecah, hilang ditelan kesunyian kamar.

Pikiran Rani melayang liar. Iqbal. Pasti Iqbal. Pria itu benar-benar psikopat. Dia tidak hanya ingin uang, dia ingin menghancurkan martabat Rani berkeping-keping di depan pria yang telah menyelamatkannya.

"Siti bilang Mas Farhan membawa ini ke ruang kerjanya..." Rani mencengkeram rambutnya frustrasi.

"Berarti Mas Farhan sudah melihatnya? Atau... dia sengaja menyimpannya untuk menungguku mengaku?"

Rani menggeleng kuat-kuat, ia yakin sebelum amplop ia robek. Tak ada tanda jika amplop itu sudah dibuka.

"Semoga Mas Farhan hanya menyimpannya saja dan belum membuka amplop ini!" gumamnya lagi sambil merobek dua foto yang ada di tangannya.

Menjelang makan siang, Farhan baru pulang. Claudia masuk rumah dengan suara cemprengnya memberi salam.

"Assalamualaikum!"

Farhan juga masuk dan Siti datang menyambutnya. Tas kantung kresek yang dibawa Farhan langsung berpindah tangan.

"Susun makanan ini untuk makan siang kami ya, Bi," ujarnya meminta.

"Baik, Pak!" angguk Siti.

Perempuan itu langsung ke dapur dan memindahkan semua makanan yang tadi majikannya beli.

Asih langsung mengawasi Rafna ke kamar.

"Ayo sayang, ganti baju!" ajak Farhan pada Claudia dan menggandeng tangan gadis kecil itu.

Keduanya naik ke atas, di sana, Rani keluar kamar. Tampak kekikukan melanda. Claudia masih marah pada ibunya.

"Aku ganti baju dulu ya, Yah!" Farhan mengangguk.

"Mas ... Udah pulang?" tanya Rani basa-basi.

"Iya, aku mau ganti baju dulu," Rani hanya mengangguk ia turun sementara suaminya masuk ke kamar.

Di bawah, Rani menatap meja makan yang sudah siap. Jujur sudah lama ia tak berkutat di dapur. Dirinya juga tak pernah lagi masak, walau masakan yang ia tahu hanya sup sederhana.

"Tring! Tring!" sebuah notifikasi pesan masuk.

Rani membukanya, tiba-tiba tubuhnya menegang.

081167272727

(fotonya udah sampai?)

Tak lama nomor itu menelpon. Semua menoleh, Rani gugup. Jika ia menolak panggilan itu. Semua tentu curiga, ia pun menjawabnya.

'Halo!"

"Hai sayang ... Long time no see!" sebuah suara yang Rani kenali.

"Rani!" Farhan memanggil, Rani masih mendengarkan orang di seberang telepon.

'Siapa itu Ran?" tanya Farhan.

Rani langsung mematikan telepon dan memasukkannya ke saku.

"Layanan pinjol, ada kredit limit sampai seratus juta ...."

"Kamu mau pinjol buat apa?" tanya Farhan.

"Siapa yang bilang aku mau pinjol?" tanya Rani.

"Tadi?"

"Kan aku bilang layanan pinjol. Jadi ada robot anomali yang menelpon nomor ponsel secara random untuk menawarkan pinjol!" jawab Rani menjelaskan.

"Oh!" sahut Farhan lalu acuh.

"Ayah ... Makanan yang aku pilih tadi mana?" tanya Claudia berteriak memecah kecanggungan antara Rani dan Farhan.

"Tentu sudah disiapkan sayang!" jawab Farhan menyambut Claudia.

Mereka pun duduk dan makan bersama. Sementara Rani hanya makan dalam diam.

Bersambung

Next?

1
nurry
lanjut terus kak 🙏💪❤️
nurry
akhirnya terungkap kebenaran bahwa Rani sudah bercerai dgn Iqbal walau belum disahkan oleh negara
vania larasati
lanjut kak
nurry
lanjut terus kak Maya 🙏💪❤️
vania larasati
lanjut kak
nurry
lanjut kak Maya 🙏💪❤️
vania larasati
lanjut kak
Sulfia Nuriawati
cpt Thor bikin shock terapi utk Rani yg lbh lg, biar g seenaknya k anak² semua anak2 g ada yg mau ikut rani
Atik Marwati
betul....
nurry
betul betul betul 😄
nurry
lanjutkan kak Maya 🙏💪❤️
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Anita Barus
memupuk kebohongan dan kebohongan .
gina altira
Sinta harus diberi pelajaran biar ga sombong.
Atik Marwati
suatu hari nanti kalau Rani terusir karena perbuatannya sendiri biar clau ikut Farhan ajalah thor...
gina altira
Rani beneran ga bersyukur
gina altira
untung ada Asih,
nurry
lanjut kak Maya 🙏💪❤️
nurry
betul betul betul 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!