Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32. Ketahuan 2
Happy Reading
"Aily sayang, kamu udah tidur kan?" Tanya Tiara di balik pintu kamar anaknya sembari membawa pemukul baseball.
Mereka berdua sangat terkejut mendengar suara Tiara di balik pintu.
"Lo buka kunci jendelanya. Gue langsung naik ke atap."
"Di atas dingin, kenapa gak di lemari aja?"
"Kalo nyokap lo masuk, terus buka lemari, mampus gue."
"Kamu bisa naiknya?"
Tangan kokohnya dengan cekatan menopang tubuhnya dan menariknya sampai ke atas atap. Ini hal yang mudah untuknya, tentu saja, ototnya yang kuat sangat terlihat dan tidak perlu diragukan lagi.
Aily yang melihat Alderza sudah aman di atas sana langsung mengunci jendelanya.
"Aily, kamu belum tidur ya?"
Dengan tergesa-gesa, Aily membuka pintu kamarnya dan tersenyum manis.
"Belum Ma."
Tanpa meminta izin, Tiara langsung membuka kamar mandi yang ada di kamar Aily. Kosong, tidak ada siapa-siapa di sana.
Setelah itu, Tiara membuka lemari, mencari-cari seseorang yang ingin dia pukul menggunakan pemukul baseball.
Tapi sayangnya, tidak ada siapa pun. Di bawah kasur pun, tidak ada apa-apa.
"Mama tadi denger suara cowok!" Ucap Tiara dengan tatapan menyelidik.
"Ta-tadi lagi nonton drama Korea, Ma."
Sebenarnya tubuh Aily bergetar hebat, apa lagi melihat Tiara membawa pemukul baseball. Mungkin saja Alderza mati di tangannya.
Dia kembali mengajak Aily berbincang-bincang, rasanya belum puas jika belum menyelidiki putri kesayangannya ini.
Setelah 15 menit berlalu, Tiara merapikan rambut Aily, lalu tersenyum manis.
"Tidur ya, udah malem. Besok kan sekolah. Jangan nonton film terus!"
"Iya, Ma."
"Awas kalau bergadang lagi. Mama sayang sama kamu, Aily."
Aily mengangguk setuju, lalu Tiara keluar dengan tongkat baseball milik putranya tersebut.
Di atas atap, Alderza menatap langit yang indah dengan bulan dan bintang. Begitu indah memang, tapi tetap saja Alderza tidak mau menyamakan Aily dengan indahnya bulan.
Karena jika dilihat dari jauh, bulan itu sangat indah, cahayanya mampu menerangi seluruh dunia saat malam datang. Namun, jika dari dekat, permukaan bulan itu bolong-bolong, tidak seindah aslinya.
Begitulah, semuanya indah pada tempatnya masing-masing.
Saat ia sedang melamun, terdengar suara jendela yang terbuka, muncullah wajah Aily sambil tersenyum cerah.
"Lama ya?"
"Banget."
"Maaf, abisnya Mama aku gak mau pergi."
Alderza tentu saja tidak akan marah. Lagipula, kenapa Aily harus minta maaf? Semuanya sudah terjadi.
Saat Alderza ingin turun dari atap rumah, Aily menahannya. Dia malah membawa satu kursi lagi agar semakin mudah untuk mengikuti Alderza naik ke atap.
"Heh, lo ngapain? Ini atap loh, hati-hati!" Alderza tentu saja khawatir melihat Aily dengan santai sedang naik ke atap."
"Kamu gak tahu aja, aku suka naik ke sini." Balas Aily.
Dengan cekatan, tangan mungilnya langsung menaiki jendela tersebut tanpa kendala. Ini kebiasaannya sejak dulu, jika ingin melihat bulan dan bintang lebih dekat, dia selalu naik ke atas atap sembari menulis.
"Lo gak takut?"
"Nggak."
"Biasanya cewek-cewek suka caper. Takut ketinggian lah, takut ini lah, takut itu lah, padahal niatnya cuma pengen deket sama gue."
Aily menatap Alderza, lalu duduk di sampingnya. Tidak ada niatan dalam dirinya untuk pura-pura jatuh atau meminta uluran tangan Alderza untuk membantunya. Tidak, itu sama sekali bukan dirinya.
"Sayangnya, aku gak bisa kayak gitu. Mama aku bilang, perempuan itu memang sangat ingin diperhatikan, tapi jika caranya berlebihan, perhatian itu bakal berubah jadi terpaksa."
Alderza merasa iri kepada Aily memiliki ibu yang perhatian. Meskipun ayahnya sudah meninggal, tapi tetap saja ibunya memperhatikannya melebihi apa pun.
"Lo enak ya, punya mama yang perhatian. Gue dari dulu gak pernah diperhatiin."
Aily sebenarnya sudah tahu. Ini adalah cerita masa kecil yang kelam dan selalu Alderza ceritakan berulang-ulang karena lukanya.
"Mereka berdua nikah gara-gara dijodohin, alasannya buat memperkuat kerja sama perusahaan. Setelah gue lahir, gue gak dianggep, perhatian mereka cuma fokus sama perkerjaan."
Hatinya yang mulai sedikit tenang kembali teriris saat mendengar Tiara yang begitu perhatian.
Rasa-rasanya, gue hanya seperti angin berlalu saja bagi mereka. Hampir tidak pernah dianggap ada. Dan bahkan, semua hal yang mereka atas dasarkan sebagai kekhawatiran mereka terhadap gue membuat gue muak. Ucap Alderza di dalam hati.
"Meskipun kayak gitu, aku yakin mereka sayang banget sama kamu." Aily mengelus-elus punggungnya, berusaha menenangkan setiap keluh kesahnya.
"Orang tua gue bakal cerai, Aily." Alderza menahan tangis, lalu kembali berkata.
"Gue tahu gue cowok, gue kuat, gue berandalan, gue ditakutin banyak orang, tapi kenapa gue selalu lemah kalo hadepin mereka."
Aily tahu Alderza sedang menahan tangisnya. Tangannya bergerak sendiri menuju bahu Alderza, merangkulnya dan memberinya kehangatan.
Alderza tidak bisa menahannya lagi, dia kembali memeluk Aily. Kali ini, tubuh Alderza rasanya ingin roboh. Hatinya hancur berkeping-keping.
Ternyata, usahanya selama ini untuk mencari perhatian mereka berdua sangatlah sia-sia.
Percuma dia keluar malam, tidak ada gunanya, mereka tetap bercerai.
"Aku gak bakal bilang kamu lemah atau apa pun. Cowok kuat juga pasti bakal nangis kalo menyangkut orang yang mereka sayang."
Alderza memeluk Aily lebih kencang. Ini sungguh-sungguh Hely yang dia kenal dahulu. Hely yang selalu memeluknya ketika orang tuanya berulah. Hely yang selalu menghiburnya di saat ia menangis.
Matanya seperti disiram oleh perasan bawang, sangat perih, air matanya sudah tidak bisa ia tahan lagi.
"Gue mabuk, gue ngerokok, gue jadi berandalan di sekolah, tapi tetep aja mereka gak pernah peduli. Jadi, yang selama ini gue lakuin sia-sia! Dan sialnya, gue udah hancur, gak bisa balik kayak dulu!"
Alderza sungguh menyesal, jika dia tahu usahanya untuk menarik perhatian mereka akan gagal, lebih baik dia menjadi anak yang penurut, berprestasi dan pendiam seperti dulu.
Dengan menjadi anak berandalan, mungkin mereka akan bekerja sama untuk menghentikannya, mencari solusi bersama untuk mendidiknya. Alderza berharap, dengan seringnya mereka bersama, akan tumbuh benih-benih cinta dalam hatinya.
Tapi... semua impiannya hanya omong kosongnya belaka yang terbang tertiup angin.
"Kamu bisa jadi lebih baik lagi. Aku yakin. Di dunia ini, gak ada yang gak mungkin kalo kita mau berusaha."
Alderza terdiam untuk beberapa saat. Dia ingin terus memeluk Aily seperti ini. Dia merasa nyaman. Hatinya menjadi sejuk hanya dengan mendengar kata-katanya.
"He-Hely, makasih udah temenin gue malem ini."
Aily kembali terkejut. Apa Alderza sudah mengetahui identitasnya atau hanya mengigau karena merindukan teman masa kecilnya.
Sepertinya begitu, Alderza saat ini sedang merindukan Hely yang selalu memeluknya.
"Iya, Sama-sama. Hely gak bakalan ninggalin kamu, Alderza." Jawaban Aily barusan adalah jawaban yang selalu Hely berikan ketika Alderza sedang menangis.
Dan saat itu juga, di bawah sana. Tiara sedang mendengarkan Alderza dan Aily yang sedang bercerita.
Alderza? Ucap Tiara dalam hati sembari melihat ke atas jendela atap yang terbuka.
Thank you yang udah baca, kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, mohon dikoreksi ya. Love you all guys.