Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja Makan yang Beku
Malam semakin larut, suasana di kediaman utama keluarga Wijaya semakin sepi.
Namun, Axel tak kunjung bisa memejamkan matanya. Kalimat demi kalimat dari om dan tantenya yang ia curi dengar tadi terus berputar di kepala, membakar dadanya dengan rasa sinis yang pekat.
Axel merasa muak dengan segalanya. Ia akhirnya menoleh ke samping. Ia memilih membangunkan Elio yang sedang tidur terlelap di sebelahnya.
"El... El, bangun," bisik Axel sambil menggoyang pelan bahu adiknya.
Elio mengerjap lesu, mengusap matanya yang masih berat. "Hoam... kenapa, Kak? Ini masih malam..."
"Kita pulang sekarang. Ayo pakai jaketmu," perintah Axel mutlak, langsung turun dari ranjang dan menyambar tas mereka.
Keputusan impulsif di tengah malam buta itu jelas memicu kepanikan. Langkah kaki Axel yang menuntun Elio di koridor bawah langsung dicegat oleh Genevieve yang terbangun karena mendengar suara berisik.
"Axel! Astaga, kalian mau ke mana malam-malam begini, Nak?" tanya Genevieve cemas, menatap kedua cucunya dengan pandangan tidak percaya.
"Pulang, Oma. Sopir dirumah pasti bisa datang kalau ditelepon sekarang," jawab Axel datar, wajahnya mengeras cuek.
"Tidak boleh, Axel. Ini sudah jam dua malam, bahaya di jalan. Besok pagi saja Oma antar, ya?" larang Genevieve lembut namun tegas, mencoba menahan lengan cucu sulungnya.
Namun, Axel dengan halus menepisnya. Pembangkangan di matanya terlihat begitu nyata. "Enggak, Oma. Kami harus pulang ke rumah kami sendiri sekarang. Elio, ayo."
Melihat kekehnya sikap Axel, Genevieve hanya bisa berdiri terpaku di ambang pintu dengan hati yang hancur.
Ia tahu, tembok pertahanan anak dua belas tahun itu sudah terlampau tebal untuk diruntuhkan.
Akhirnya, dengan berat hati, sebuah mobil sedan hitam dikirim malam itu juga untuk mengantar mereka menembus dinginnya jalanan kota kembali ke rumah asli mereka—sebuah kuburan es yang sunyi.
...----------------...
Senin pagi akhirnya datang, menjadi alarm paling menyakitkan setelah drama kepulangan darurat mereka.
Sisa kehangatan dari rumah Oma seketika menguap, digantikan oleh realitas yang kembali menapak bumi.
Rumah mewah berarsitektur modern milik sang ayah telah kembali ke setelan pabriknya.
Axel menuruni anak tangga dengan seragam putih-biru yang sudah rapi melekat di tubuhnya.
Sambil membetulkan letak tali tas ransel di bahu, matanya melirik ke arah meja makan panjang di ruang tengah.
Langkah kakinya sempat tertahan satu detik. Di sana, di balik meja bar marmer yang luas, sosok pria tinggi besar dengan kemeja abu-abu yang disetrika sempurna sudah duduk tenang.
Pria itu adalah Arsen, ayah mereka.
Di depan Arsen, sebuah tablet kerja menyala menampilkan grafik bisnis yang rumit, ditemani secangkir espresso yang masih mengepulkan uap tipis.
"Kak Axel! Sini, Bi Sumi bikin nasi goreng sosis!" panggil Elio riang dari kursi seberang Arsen. Bocah TK itu tampak kontras dengan seragam kotak-kokak merahnya, seolah sudah lupa dengan kejadian malam tadi.
Axel berjalan mendekat, lalu menarik kursi di sebelah Elio dengan gerakan sengaja dibuat agak berisik. "Iya, makasih Bi," ucap Axel datar saat Bi Sumi meletakkan sepiring nasi goreng di depannya.
Sejak mereka duduk di sana, tidak ada satu pun sapaan yang keluar dari bilah bibir Arsen.
Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet, seolah-olah kedua anaknya hanyalah dua buah patung pajangan yang kebetulan diletakkan di sana.
"Papa," panggil Elio tiba-tiba, memecah denting sendok yang beradu dengan piring.
Arsen hanya bergumam pendek tanpa menoleh, "Ya."
"Kemarin di rumah Oma seru banget, Pa. Elio main kereta api besar sama Noah di taman belakang," cerita Elio dengan mata bulat yang berbinar polos. "Terus Oma bikin kue sus cokelat enak banget! Papa suka kue sus juga enggak?"
Axel yang sedang mengunyah nasi gorengnya langsung memperlambat gerakannya. Matanya melirik tajam ke arah Arsen, menunggu respons dari pria kaku itu.
Arsen terdiam dua detik, jemarinya bergerak menggeser layar tablet sebelum akhirnya menyahut dengan nada suara yang teramat datar dan tanpa emosi. "Papa tidak suka manis. Habiskan makananmu, jangan banyak bicara saat makan."
Seketika itu juga, binar di mata bulat Elio meredup. Tangan kecilnya yang semula bergerak ceria perlahan turun. Ia menunduk dalam-dalam, menatap nasi gorengnya yang mendadak terasa tidak menarik lagi.
Melihat perubahan raut wajah adiknya, dada Axel berdesir panas. Rasa sinis dan amarah yang tertahan sejak semalam mendadak naik ke permukaan.
Ia meletakkan sendoknya dengan ketukan yang cukup keras ke atas piring, menciptakan bunyi klang yang nyaring di keheningan ruangan itu.
Arsen akhirnya menghentikan gerakan jemarinya di atas layar tablet. Mata elangnya yang tajam dan dingin perlahan terangkat, menatap lurus ke arah Axel dengan alis yang bertaut samar.
Axel tidak berkedip. Ia membalas tatapan mengintimidasi dari ayahnya itu dengan sepasang mata bulatnya yang tak kalah dingin dan menantang.
"El, piringnya geser ke Kak Axel sini," ujar Axel, suaranya sengaja dibuat dingin namun tegas, memutus atensi antara dirinya dan Arsen.
Elio mendongak bingung. "Kenapa, Kak?"
"Sini, Kakak suapin biar cepat habis. Kita berangkat sekarang, Kakak malas lama-lama di sini," tukas Axel kentara sekali menyindir pria dewasa di depan mereka. Ia menyendok nasi goreng Elio dan menyodorkannya ke mulut sang adik. "Ayo buka mulutnya."
Arsen memperhatikan interaksi itu dengan rahang yang perlahan mengeras. Aura di sekitar meja makan itu mendadak turun beberapa derajat, terasa kian mencekam.
"Axel," panggil Arsen, suaranya berat dan rendah, penuh dengan nada peringatan yang kentara. "Jaga sopan santunmu di meja makan."
Axel menelan nasinya sendiri dengan susah payah, lalu mengulas senyum sinis yang teramat tipis di sudut bibirnya.
Ia bahkan tidak sudi menatap wajah Arsen lagi. "Sopan santun hanya untuk orang yang punya rasa, Pa. Bukan untuk robot."
Brak!
Arsen meletakkan cangkir espressonya dengan hantaman keras ke atas meja marmer, membuat sisa kopi di dalamnya mencuat keluar dan mengotori permukaan meja.
Bi Sumi yang sedang mencuci piring di dapur kotor seketika mematung ketakutan dengan tubuh gemetar.
"Kurang ajar! Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu pada orang tua, Axel?!" bentak Arsen, suaranya menggelegar memenuhi ruang makan yang luas, membuat Elio tersentak kaget dan refleks mencengkeram ujung seragam kakaknya.
Tatapan mata Arsen kian menajam bagai mata pisau, "Tetap duduk, atau Papa kunci kamu di gudang!"
Namun, ancaman itu sama sekali tidak membuat Axel gentar. Anak berumur dua belas tahun itu justru berdiri dengan tenang, menyambar tas ranselnya yang tergeletak di lantai, lalu meraih pergelangan tangan Elio dengan lembut namun erat.
"Ayo, El. Pakai sepatumu di depan, Pak sopir sudah tunggu," ajak Axel tanpa memedulikan sisa nasi di piring mereka maupun murka ayahnya.
"Tapi Kak, nasinya belum—"
"Habiskan di mobil saja. Ayo," potong Axel final.
Axel menuntun adiknya melangkah lebar meninggalkan area meja makan tanpa pernah menoleh ke belakang lagi, melangkah acuh melewati kemarahan Arsen.
Ia membiarkan langkah kaki mereka menggema di koridor rumah yang sepi sebelum akhirnya suara pintu depan yang tertutup terdengar berdentum pelan.
Begitu deru mobil anak-anaknya perlahan menjauh dan hilang dari pelataran rumah, keheningan mencekam kembali menelan ruang makan itu.
Arsen berdiri tegak di tempatnya, napasnya naik-turun memburu menahan sisa amarah yang menggelegak di dada.
Sepasang matanya menatap tajam ke arah dua piring nasi goreng yang masih tersisa separuh di atas meja, lalu beralih pada tumpahan espresso yang perlahan melebar di atas marmer putih.
"Sialan," umpat Arsen lirih, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut nyeri.
Sifat keras kepala dan pemberontak Axel barusan benar-benar menampar harga dirinya sebagai seorang ayah sekaligus kepala rumah tangga.
Pria itu perlahan kembali mendudukkan tubuhnya di kursi. Kemarahan yang meluap-luap tadi mendadak surut, berganti dengan rasa lelah yang teramat pekat.
Riuh gema bentakannya sendiri yang baru saja memenuhi ruangan seolah memantul balik, mengejeknya dalam kesendirian.
Arsen termenung, menatap lurus ke arah kursi kosong di depannya.
Di tengah kemegahan rumah yang ia bangun dari hasil keringat dan kesuksesannya sendiri, ego dan kekosongan itu kembali mencuat tegak.
Ucapan sinis Axel seolah meninggalkan gaung tak kasat mata di kepalanya; mengingatkannya bahwa di bawah atap mewah ini, dia memang telah berhasil membangun sebuah kerajaan, namun gagal menyisakan ruang untuk sebuah rasa.