Seorang anak yatim yang tumbuh tanpa arah…
kembali sebagai sosok yang tak bisa diabaikan.
Bima pemuda sederhana dengan senyum tenang, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Ia hanya ingin hidup damai… membuka tempat latihan, dan menjalani hari seperti orang biasa.
Namun kampung itu… sudah berubah.
Di balik senyapnya desa, kekuasaan gelap mengakar. Orang-orang tak lagi bebas. Ketakutan bersembunyi di setiap sudut.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya justru mengusik sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Diserang tanpa alasan. Diawasi tanpa henti.
Bahkan darahnya sendiri… menginginkan kematiannya.
Tapi mereka melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Bima masih belum bangkitkan yang ada dalam dirinya.
Padahal…
di balik sikap polosnya, tersembunyi kekuatan yang besar dalam dirinya yang sedang terkunci.
Saat kegelapan mulai bergerak…
dan para pemburu datang mengincar…
Bima tidak lagi berlari.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, dunia akan melihat kembangkitan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LENYAP
Angin berhenti bukan mereda,
Tapi… tunduk.
Sosok utama itu mengangkat tangannya.
Energi hitam di sekitarnya berdenyut.
Sekali.
Dua kali.
Lalu
MELEDAK.
DUUUUUMMMMM!!!
Gelombang tekanan menyapu seluruh area, Pohon-pohon tercabut.
Tanah terangkat.
Udara… bergetar.
Namun di tengah itu semua Bima tetap berdiri.
Tidak bergeser.
Tidak goyah.
“…?”
Salah satu pemburu mundur selangkah.
Untuk pertama kalinya rasa itu muncul.
takut.
“kenapa dia tidak terdorong…?”
Debu perlahan turun.
Dan di sana Bima masih di tempat yang sama.
Bedanya…
bayangan di bawah kakinya…
tidak lagi diam.
Ia bergerak.
Mengalir.
Menyebar.
Seperti makhluk hidup.
Sosok utama menyipitkan mata.
“jadi ini… kekuatanmu yang sebenarnya.”
Bima mengangkat wajahnya tatapannya lurus.
Dalam.
“bukan.”
Sunyi.
“ini… hanya permukaan.”
WUSSSHHHHH!!!
Seluruh bayangan di sekitarnya tiba-tiba meledak keluar.
Bukan seperti aura.
Seperti… dunia lain yang mencoba keluar.
Empat pemburu langsung melompat mundur.
Refleks.
Insting.
Namun terlambat.
Bayangan itu menyentuh kaki salah satu dari mereka.
Sekejap.
Tubuhnya… membeku.
“apa—?!”
Ia mencoba bergerak.
Gagal.
Bayangan itu merayap naik.
Pelan.
Pasti.
“LEPASKAN—!!”
Bima hanya menatap.
Tidak ada amarah.
Tidak ada kebencian.
Hanya… kepastian.
“kau terlalu berisik.”
KRRRRRRRKKK!!
Bayangan itu menelan tubuh pemburu itu,
Bukan menghancurkan tapi menghapus.
Sunyi.
Tiga yang tersisa mundur.
Lebih jauh.
“dia… bukan manusia…”
Sosok utama itu tetap diam.
Namun kali ini tidak ada senyum.
“memang.”
Ia melangkah maju.
Satu langkah.
Tanah di bawahnya retak.
Namun bayangan di sekitar Bima…
tidak terganggu.
“makanya… kau harus dihentikan di sini.”
Tangannya terangkat.
Energi hitam di langit merespon.
Retakan itu
membuka lebih lebar.
Dan dari sana sesuatu turun.
Bukan cahaya.
kegelapan yang lebih pekat.
DUUUUUMMMM!!!
Ia jatuh di belakang sosok utama.
Membentuk sosok
lebih besar.
Lebih tinggi.
Lebih mengerikan.
Seperti bayangan… yang diberi bentuk.
Tiga pemburu lainnya langsung berlutut.
“dipanggil…?”
Sosok utama itu tersenyum tipis.
“aku tidak berniat kalah di tempat seperti ini.”
Matanya menatap Bima.
“kalau kau bukan manusia…”
Aura di sekelilingnya melonjak.
“maka aku juga tidak akan bermain sebagai manusia.”
WRAAAAAAAMMMM!!!
Makhluk di belakangnya bergerak.
Satu langkah saja tanah ambruk.
Bima… tetap diam.
Namun untuk pertama kalinya, bayangannya berhenti bergerak.
Hening.
“akhirnya… sesuatu yang layak.”
Ia melangkah.
Satu langkah.
Dan saat kakinya menyentuh tanah
DUUUMMMM!!!
Seluruh bayangan di area itu menyusut.
Masuk kembali ke dalam tubuhnya.
Tenang.
Terlalu tenang.
Mata Bima… kini bukan sekadar gelap.
Ia… kosong.
Seperti tidak ada batas.
“jangan menyesal.”
WUSSH!!!
Bima menghilang.
Bukan cepat.
hilang.
Makhluk besar itu langsung mengayunkan tangannya.
BRAAAKKKK!!!
Tanah hancur.
Udara pecah.
Namun tidak mengenai apa-apa.
“di mana”
CRAAASSSHHH!!!
Satu garis hitam muncul.
Makhluk itu…
terbelah.
Sunyi.
Tubuh raksasa itu diam sejenak.
Lalu
TERPISAH.
DUUAAAAARRR!!!
Ia runtuh.
Hancur
Sosok utama membelalak.
“tidak mungkin…”
Di belakangnya Bima berdiri.
Tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
“itu terlalu lambat.”
Hening.
Tiga pemburu yang tersisa… Tidak bergerak.
Mereka tidak berani.
Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka tahu.
Ini bukan misi berburu.
Ini adalah kesalahan.
Sosok utama itu perlahan menoleh.
Menatap Bima.
Dan untuk pertama kalinya…
suaranya…
tidak sepenuhnya tenang.
“apa kau…”
Bima menatap balik.
“terlambat bertanya.”
Langkahnya maju, Pelan.
Namun setiap langkah membuat udara semakin berat.
“sekarang…”
Bayangan kecil kembali muncul di ujung kakinya.
Berdenyut.
“giliran kalian yang diburu.”
Angin kembali berhembus.
Namun kali ini ia tidak membawa dingin.
Ia membawa… ketakutan.
para pemburu yang tersisa mulai merasa gelisa.
Mereka mundur perlahan dan ingin melarikan diri.
tapi semua itu terlambat, bayangan bima lebih cepat dari Mereka.
WUSSH....
KRRRRRRRKKK...!!
Sebagai badan mereka sudah mulai menghilang tapi di tarik kembali oleh bayangan bima.
Seketika Mereka semua di hilang tanpa jasad Tampa abu.
Lenyap Tak tersisah.
Malam semakin gelap, semakin sunyi.
Bima menatap keatas langit.
“sepertinya tidak ada waktu lagi untuk ku beristirahat.” gumamnya.
“aku harus segera menyelesaikan semua ini.”
“Sebelum itu aku harus pulang untuk berpamitan,” gumamnya.
Sekarang bima tidak akan menunggu lagi.
Ia tidak mau di buru lagi tapi dia yang akan memburu mereka sekarang.