NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman Masa Kecil yang Mengganggu

Dilema soal map biru dari Pak Surya bener-bener bikin kepala Nara mau pecah. Pas dia baru aja mau naruh tasnya di sofa dan nyoba buat napas tenang, tiba-tiba bel apartemen bunyi berkali-kali kayak orang kesurupan.

"Siapa sih jam segini? Bayu biasanya pencet kode akses," gumam Arga sambil ngerutin dahi. Dia jalan nuju pintu, sementara Nara ngebuntutin dari belakang dengan perasaan was-was.

Pas pintu kebuka... SURPRISE!

"ARGA! MY BESTIE! Gila ya lo, nikah nggak ngundang-ngundang gue! Untung gue liat di akun gosip!"

Seorang cewek dengan rambut pendek blonde dan gaya yang super modis langsung nerjang Arga, meluk cowok itu erat banget. Nara yang berdiri di belakang Arga langsung matung. Mukanya cewek itu cantik banget, tipe-tipe model yang biasa ada di majalah high fashion.

"Vanya? Kapan lo balik dari New York?" Arga kelihatan kaget, tapi dia nggak ngelepasin pelukan cewek itu dengan kasar. Dia cuma nepuk-nepuk bahu cewek itu pelan.

"Baru tadi pagi! Langsung ke sini dong demi liat siapa sih cewek yang bisa naklukin 'Manusia Es' kayak lo," Vanya ngelepasin pelukannya, terus matanya yang tajam langsung tertuju ke arah Nara. Dia ngelihatin Nara dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan yang... sulit diartiin. "Oh, jadi ini Nara?"

Nara nyoba senyum ramah, biarpun hatinya mendadak ngerasa ciut. "Iya, gue Nara. Salam kenal, Vanya."

"Hai, Nara. Gue Vanya, temen main Arga dari jaman masih ingusan. Gue yang dulu nemenin dia belajar bisnis sampai subuh, dan gue juga yang paling tahu semua rahasia dia," Vanya ngomongnya santai, tapi tiap katanya kerasa kayak lagi nandain wilayah.

Vanya langsung masuk gitu aja ke dalem apartemen tanpa disuruh, terus duduk di sofa ruang tamu yang paling mahal. "Gila ya, Ga. Apartemen lo makin keren aja. Tapi kok... selera interiornya agak berubah ya? Agak... 'biasa' aja gitu semenjak ada cewek di sini?"

Nara ngerasa kesindir. Jelas banget Vanya lagi ngeremehin kehadirannya.

"Vanya, jangan mulai deh. Nara yang bantuin gue nata ulang biar lebih kerasa 'rumah'," sahut Arga sambil jalan nyamperin Vanya, tapi dia tetep narik Nara buat duduk di sampingnya.

Vanya cuma muter bola matanya. "Halah, 'rumah' apaan. Lo itu cocoknya di London, Ga. Di sana lingkungannya lebih 'berkelas'. Oh iya, gue denger lo mau ekspansi ke sana bulan depan kan? Kebetulan banget, gue juga baru dapet kontrak di agensi model London. Kita bisa sering-sering hangout kayak dulu lagi!"

Nara makin ngerasa terpinggirkan. Vanya sama Arga asyik ngobrolin masa kecil mereka, soal sekolah elit mereka di luar negeri, soal temen-temen sosialita mereka yang namanya asing banget di telinga Nara. Nara ngerasa kayak butiran debu di tengah percakapan kelas atas itu.

"Eh, Nara. Lo ikut ke London juga?" tanya Vanya tiba-tiba, tapi nadanya kayak ngeremehin. "Bisa bahasa Inggris kan? Soalnya di sana pergaulannya keras, apalagi buat orang yang... ya, lo tahu lah, bukan dari circle kita."

Arga mau buka suara buat belain Nara, tapi Nara lebih dulu nahan tangan Arga. Nara senyum tipis, biarpun hatinya sakit banget. "Gue masih mikir-mikir, Van. Mungkin gue emang lebih cocok di tempat yang... nggak terlalu banyak orang sok tahu."

Vanya cuma ketawa cantik, terus balik lagi ngobrol sama Arga soal bisnis. Nara ngerasa sesek. Kehadiran Vanya makin mempertegas omongan Pak Surya tadi: kalau dia ikut ke London, dia cuma bakal jadi bahan omongan dan beban buat Arga di tengah lingkungan elitnya.

Pas Vanya lagi asyik pamer soal prestasinya, Nara diem-diem masuk ke kamar. Dia ngelihat koper yang udah disiapin Arga di pojok ruangan. Dia ngerasa makin yakin. Antara karir Arga yang gemilang bareng orang-orang sehebat Vanya, atau beban masa lalu bareng dia?

Pucuk harapan yang baru tumbuh itu rasanya bener-bener lagi diinjek-injek sama realita yang namanya Vanya.

---

Nara cuma bisa mematung di ambang pintu kamar, dengerin suara tawa Vanya yang melengking manja dari ruang tamu. Tiap kali Vanya nyebut nama panggilan kecil Arga yang nggak Nara tahu, rasanya kayak ada sembilu yang nyayat pelan-pelan. Ternyata, sedekat apa pun Nara sama Arga beberapa hari terakhir, ada belasan tahun kenangan yang nggak bakal bisa dia kejar.

"Ra? Kok malah masuk?"

Suara Arga menginterupsi lamunan Nara. Arga berdiri di depan pintu kamar, mukanya kelihatan agak nggak enak hati. Dia nengok sebentar ke belakang, mastiin Vanya lagi asyik main HP di sofa.

"Gue... gue cuma mau naruh tas, Ga. Terus mau cuci muka bentar," dusta Nara, tangannya refleks ngeremes tali tas yang di dalamnya masih ada map biru dari Pak Surya.

Arga masuk ke kamar, terus nutup pintu pelan. Dia jalan mendekat, nangkup bahu Nara. "Vanya emang gitu orangnya. Mulutnya emang agak blak-blakan karena dia kelamaan di New York. Jangan dimasukin ke hati ya?"

Nara nengok ke arah Arga, nyoba nyari kejujuran di mata cowok itu. "Dia cantik ya, Ga. Pinter bisnis, model internasional lagi. Kayaknya dia nyambung banget kalau ngobrol sama lo soal saham atau ekspansi London."

Arga ngerutin dahi, dia narik dagu Nara biar mereka tatapan langsung. "Ra, lo cemburu?"

"Nggak! Siapa yang cemburu?" Nara ngelak, tapi matanya nggak bisa bohong. "Gue cuma sadar diri aja. Dia... dia tipe lo banget kan? Maksud gue, tipe yang bakal dibanggain sama Papa lo di depan kolega."

Arga ngehela napas panjang. Dia malah narik Nara ke dalem pelukannya, saking eratnya sampai Nara bisa denger detak jantung Arga yang tenang. "Tipe gue itu bukan soal siapa yang pinter bisnis atau siapa yang pinter bergaya di depan kamera, Nara. Tipe gue itu... cewek yang bikin gue ngerasa pengen cepet-cepet pulang tiap hari. Dan itu cuma lo."

Nara diem di pelukan Arga. Harusnya dia senang, tapi bayangan Vanya yang tadi ngetawain pergaulan "circle" mereka di London malah makin bikin Nara ngerasa terasing. Vanya itu gambaran masa depan Arga yang sempurna. Sedangkan Nara? Nara itu kerikil di sepatu mahal Arga.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk kencang. TOK TOK TOK!

"Arga! Lama banget sih di dalem? Gue laper nih, anterin cari makan yuk! Gue kangen banget makan sushi favorit kita yang di Senopati itu!" teriak Vanya dari luar tanpa rasa bersalah.

Arga ngelepas pelukannya, mukanya kelihatan kesel. "Vanya, gue lagi sama istri gue—"

"Halah, Nara juga pasti laper kan? Ayo bareng-bareng! Gue yang traktir deh sebagai kado pernikahan kalian yang telat!" Vanya langsung nyelonong buka pintu kamar, matanya ngeremehin adegan pelukan Arga dan Nara. "Duh, jangan mesra-mesraan terus dong, kasihan gue yang jomblo ini."

Vanya langsung narik lengan Arga, maksa cowok itu jalan keluar. Arga nengok ke arah Nara dengan muka serba salah, tapi Vanya terus-terusan narik dia sambil ngoceh soal menu sushi.

Nara cuma bisa berdiri matung di tengah kamar. Dia ngelihat tasnya yang tergeletak di kasur. Pilihan dari Pak Surya ke Paris rasanya makin masuk akal sekarang. Kalau dia tetep di sini, dia cuma bakal jadi penonton di hidup Arga yang gemerlap bareng orang-orang kayak Vanya.

"Entre kamu dan karir..." bisik Nara lagi, kali ini dengan air mata yang hampir jatuh. "Mungkin karir lo emang butuh orang kayak dia, Ga. Bukan orang kayak gue."

Nara ngeraih HP-nya, jempolnya ragu-ragu di atas nomor asisten Pak Surya. Satu ketikan lagi, dan dia bakal ngelepasin Arga buat selamanya demi kebaikan cowok itu sendiri.

---

Nara cuma bisa mematung di tengah kamar, dengerin suara cempreng Vanya yang masih asyik narik-narik lengan Arga di luar. Rasanya kayak ada tembok besar yang mendadak berdiri di antara dia dan Arga. Tembok yang dibangun dari kenangan masa kecil, status sosial, dan masa depan yang berkilauan di London.

"Ayo dong, Arga! Keburu waiting list lho tempatnya!" seru Vanya lagi, suaranya kedengeran makin menjauh nuju pintu depan.

Arga sempet nahan langkahnya, dia nengok ke arah Nara yang masih diem di tempat. Matanya penuh rasa bersalah, tapi dia juga nggak enak buat ngusir temen lamanya itu secara kasar di depan umum.

"Ra, lo ikut ya? Kita makan bareng-bareng," ajak Arga, suaranya lembut tapi ada nada memohon di sana. Dia pengen Nara ada di sampingnya buat ngebuktiin kalau posisinya nggak bakal terganti.

Nara maksa senyum, walau rasanya hambar banget. "Enggak deh, Ga. Gue tiba-tiba ngerasa agak pusing. Mungkin kecapekan gara-gara drama tadi pagi. Lo pergi aja sama Vanya, sekalian kalian bisa catch up banyak hal kan?"

Arga ngerutin dahi, dia mau nyamperin Nara lagi tapi Vanya udah teriak-teriak dari lorong apartemen. "Argaaa! Cepetan!"

"Lo beneran nggak apa-apa gue tinggal?" tanya Arga sangsi.

"Iya, serius. Gue mau tidur awal aja. Titip salam ya buat Vanya," dusta Nara. Padahal di dalem hati, dia pengen banget Arga bilang "Nggak, gue tetep di sini sama lo," tapi realitanya Arga cuma ngangguk pelan terus jalan keluar.

BLAM.

Pintu apartemen tertutup. Suasana mendadak jadi sunyi senyap, cuma ada suara detak jam dinding yang kerasa makin nyaring. Nara terduduk di pinggir kasur, ngerasa energinya bener-bener habis. Dia ngeraih tasnya, ngambil map biru dari Pak Surya yang tadi dia sembunyiin.

Dia buka isinya. Tiket pesawat kelas bisnis ke Paris atas nama Nara Atmadja. Tanggal keberangkatannya persis besok malam, cuma beda dua jam dari jadwal keberangkatan Arga ke London.

"Paris... atau London?" bisik Nara ke dirinya sendiri.

Dia nengok ke arah koper Arga yang udah setengah penuh. Di situ ada beberapa baju Nara yang dipilih Arga tadi pagi. Arga bener-bener mau bawa dia ke dunianya. Tapi liat Vanya tadi, Nara makin sadar kalau "dunia Arga" itu bukan tempat buat cewek yang punya banyak rahasia kelam kayak dia. Di London nanti, Arga bakal sibuk jadi tameng buat dia, sementara Vanya bakal selalu ada di sana buat ngingetin Arga kalau ada pilihan yang jauh lebih "mudah" dan "berkelas".

Nara ngeraih HP-nya, jarinya gemeteran pas ngetik pesan buat asisten Pak Surya.

> Nara: Mbak Sarah, saya ambil tawarannya. Besok malam saya berangkat ke Paris. Tolong pastikan Arga nggak tahu apa-apa sampai pesawat saya lepas landas.

Begitu pesan itu terkirim, Nara ngerasa sesek di dadanya sedikit berkurang, tapi keganti sama rasa hampa yang luar biasa. Dia ngelihat foto pernikahannya sama Arga yang ada di atas nakas. Foto sandiwara yang sekarang kerasa nyata banget sakitnya.

Malam itu, Nara mutusin buat nggak nangis. Dia mulai ngerapiin bajunya sendiri, tapi bukan buat dimasukin ke koper London, melainkan ke tas kecil yang bakal dia bawa ke Paris. Dia milih buat pergi bukan karena dia nggak sayang, tapi karena dia terlalu sayang sampai nggak tega liat Arga harus milih antara dia dan masa depannya sendiri.

1
Azkia Amalia
sumpah....
jadi mewek beneran thor
R.E.Y: aku juga yang nulis jadi mewek, kadang juga salting😭☺️
total 1 replies
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!