Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian yang Tak Terduga
Hari-hari yang tenang itu akhirnya mulai terasa seperti rutinitas baru bagi Rania.
Bangun pagi.
Menyiapkan Rafa.
Menunggu Arga datang.
Dan menjalani hari dengan lebih ringan dibanding sebelumnya.
Semua terasa… stabil.
Namun Rania tahu…
Hidup tidak pernah benar-benar berjalan mulus tanpa ujian.
Dan pagi itu…
Ujian itu datang tanpa peringatan.
“Bunda…”
Suara Rafa terdengar lemah dari dalam kamar.
Rania yang sedang di dapur langsung menghentikan aktivitasnya.
“Iya, Nak?”
Ia masuk ke kamar dan mendapati Rafa masih terbaring.
Wajahnya pucat.
Dan tubuhnya terasa hangat saat disentuh.
“Rafa panas, Bunda…”
Jantung Rania langsung berdebar.
“Ya ampun…”
Ia segera mengambil termometer.
Dan benar saja…
Suhu tubuh Rafa cukup tinggi.
“Bunda… pusing…” gumam Rafa pelan.
Rania langsung memeluknya.
“Iya, kita ke dokter ya.”
Namun di saat itu juga…
Rania merasa panik.
Ia sudah lama tidak menghadapi situasi seperti ini sendirian.
Dulu…
Ia selalu punya seseorang untuk diandalkan.
Namun sekarang…
Tok tok tok.
Suara ketukan di pintu membuatnya tersadar.
Arga.
Seperti biasa.
Namun kali ini…
Kehadirannya terasa seperti jawaban.
Arga masuk dan langsung menyadari suasana berbeda.
“Kenapa?”
Rania menatapnya dengan wajah cemas.
“Rafa demam…”
Arga langsung mendekat ke kamar.
Melihat kondisi Rafa.
Wajahnya langsung serius.
“Kita bawa ke dokter sekarang.”
Tanpa banyak kata.
Tanpa ragu.
Perjalanan ke klinik terasa cepat namun menegangkan.
Rania duduk di belakang sambil memeluk Rafa.
Tangannya tidak berhenti mengusap kepala anaknya.
“Tidak apa-apa ya, Nak…”
Arga mengemudi dengan fokus.
Sesekali melihat ke kaca spion.
Memastikan mereka baik-baik saja.
Sesampainya di klinik, Rafa langsung diperiksa.
Dokter mengatakan bahwa itu hanya demam biasa.
Namun tetap perlu istirahat dan obat.
Rania menghela napas lega.
Namun rasa khawatirnya belum sepenuhnya hilang.
Setelah kembali ke rumah, Rafa langsung dibaringkan.
Arga membantu menyiapkan obat.
“Ini diminum ya, jagoan,” katanya lembut.
Rafa hanya mengangguk pelan.
Wajahnya masih lemas.
Rania duduk di samping tempat tidur.
Matanya tidak lepas dari Rafa.
Namun pikirannya mulai berkelana.
Jika tadi Arga tidak datang…
Ia tidak tahu harus bagaimana.
Perasaan itu membuat hatinya bergetar.
“Rania…”
Suara Arga membuatnya menoleh.
“Iya?”
“Kamu belum makan.”
Rania menggeleng.
“Aku tidak lapar.”
Arga menatapnya serius.
“Kamu harus tetap kuat.”
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa sangat berarti.
Arga kemudian duduk di sampingnya.
“Kamu tidak sendiri.”
Rania menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya hari itu…
Air matanya jatuh.
“Aku takut…”
Arga langsung menggenggam tangannya.
“Aku di sini.”
Siang itu terasa panjang.
Rafa tidur hampir sepanjang waktu.
Rania tidak beranjak dari sisinya.
Namun Arga tetap di rumah.
Membantu.
Menjaga.
Dan memastikan semuanya baik-baik saja.
Sore hari, Rafa mulai sedikit membaik.
Ia membuka matanya.
“Bunda…”
“Iya, Nak.”
“Arga masih di sini?”
Arga langsung mendekat.
“Aku di sini.”
Rafa tersenyum kecil.
“Jangan pulang…”
Arga tertawa pelan.
“Baik.”
Melihat itu…
Hati Rania terasa hangat.
Namun juga tersentuh.
Kehadiran Arga bukan hanya untuknya.
Namun juga untuk Rafa.
Dan itu berarti lebih dari apa pun.
Malam hari, Rafa sudah bisa tidur dengan lebih tenang.
Demamnya mulai turun.
Rania akhirnya bisa sedikit bernapas lega.
Ia keluar ke teras.
Arga sudah duduk di sana.
Menunggunya.
“Terima kasih…” kata Rania pelan.
Arga menoleh.
“Untuk apa?”
“Untuk hari ini.”
Arga tersenyum kecil.
“Itu hal yang harus aku lakukan.”
Rania menggeleng.
“Tidak semua orang akan melakukan itu.”
Arga menatapnya dengan serius.
“Aku tidak ingin hanya ada saat kamu bahagia.”
Kalimat itu membuat hati Rania bergetar.
“Aku juga ingin ada saat kamu takut.”
Rania terdiam.
Angin malam berhembus pelan.
Suasana terasa hangat.
Namun juga penuh makna.
Rania menatap Arga.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia merasakan sesuatu yang lebih dalam.
Bukan hanya nyaman.
Bukan hanya bahagia.
Namun juga…
Kepercayaan.
“Aku mulai percaya padamu,” kata Rania pelan.
Arga sedikit terkejut.
Namun ia tersenyum.
“Itu lebih dari cukup.”
Malam itu…
Rania kembali duduk di teras.
Namun hatinya tidak lagi gelisah.
Karena ia tahu…
Saat ujian datang…
Ia tidak sendirian.
Dan mungkin…
Inilah arti sebenarnya dari seseorang yang tepat.
Bukan yang hanya datang saat semuanya mudah.
Namun yang tetap tinggal…
Saat keadaan menjadi sulit.
Rania menutup matanya perlahan.
Dan tersenyum.
Karena kali ini…
Ia benar-benar merasa aman.