Syela tak ingat apapun yang terjadi malam itu, berawal dari pesta di sebuah klub membuatnya harus kehilangan kegadisannya.
Apa yang harus dilakukannya pun ia tak tahu...
Apakah harus????.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.A.Hanifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Syela membawa Catherine masuk kedalam kamarnya, keduanya duduk dikursi samping pintu. Catherine masih tertunduk sambil sesekali mengelap bekas air matanya.
"Jadi untuk apa kamu kemari?" tanya Syela.
Catherine menggelengkan kepala sebelum menjawab pertanyaan Syela. "Aku capek Sel, Aku nggak sanggup jalanin ini semua".
"Jadi kamu mau apa, mau bunuh diri lagi iya?" tanya Syela sarkas.
Ditanyai begitu kembali membuat Catherine menangis. "Haish jangan nangis mulu, nanti anakku bangun, jangan ngerepotin kenapa sih" ucap Syela lagi tak suka.
Susah payah Catherine coba menghentikan tangisannya. "Aku pengen mati aja" ujarnya.
"Terus kalau kamu mati, masalah bisa selesai gitu, yang ada malah nambah masalah, iya kalau kamu tenang kalau kamu jadi setan gimana" ujar Syela serius tapi terdengar bercanda, dia seperti tengah menghibur sahabat lama.
Dan tak ayal membuat Catherine sedikit terhibur juga, dia tertawa kecil. "Padahal kamu selalu baik begini tapi aku malah membuatmu menderita" ucap Catherine penuh nada penyesalan.
"Baik?" Syela tersenyum miring. "Aku bukan orang yang baik, kata kataku tadi bukan untuk menghiburmu, tapi akibat bunuh diri memang semenakutkan itu" jawabnya santai.
Catherine menghela napas panjang. "Hanya itu yang bisa kupikirkan, Aku malu dan merasa bersalah sama kamu, aku hamil tapi Miko tak mau menikahi ku, dia bilang ingin mengambil anak ini jika lahir.... dari pada aku memberikannya lebih baik kubawa mati saja anaknya bersamaku, kepalaku rasanya ingin pecah karena semua beban ini".
Mendengar ucapan panjang lebar Catherine, Syela tertawa sumbang. " Dasar bego, dulu kamu ngejar dia sampai tega menjelekkan aku, sekarang kamu nyerah gitu aja padahal sudah ada jaminan ditanganmu, emang bego dasar".
Dia tak membahas masalah jebakan untuk dirinya, dia sudah muak membicarakan itu toh takkan ada yang berubah juga, begitu kan ujar Handoko dan istrinya.
"Maaf Sel, aku......... dia mencintaimu bukan aku, dia tak ingin menikah denganku walaupun aku sudah mengandung anaknya".
"Dia juga nggak bakal nikah sama aku, aku nggak mau jadi orang jahat yang mengambil seorang Ayah dari anaknya" ucap Syela serius.
"Tapi Sel, Miko...... ".
"Besok aku akan bicara dengan Miko, tapi kalau aku sudah bicara dan dia masih pada keputusannya, terserah kamu mau apa, dan jangan bawa bawa aku lagi dalam masalah kalian, aku tau kamu mau aku membujuk Miko iya kan" ucap Syela memotong kalimat yang akan diutarakan Catherine.
Mendengar ucapan Syela, Catherine sedikit bersemangat. "Terima kasih" ucapnya.
"Ini yang terakhir aku membantumu, itu juga demi anak dalam perutmu, bukan kamu ataupun keluargamu" tegas Syela yang diangguki gadis dihadapannya. "Sudahlah aku lelah, kamu pergilah" tambahnya.
Catherine pun keluar dari kamar Syela setelah mengucapkan kata terima kasih berkali kali yang terdengar memuakkan sekali.
*****
Keesokan harinya Syela kembali menitipkan sang Putra pada pengasuh harian yang biasa dia panggil. Lalu dia sendiri pergi menuju sebuah cafe tempat dimana dirinya dan Miko berjanji untuk bertemu.
Kenapa mereka memutuskan tempat itu karena jika dirumah Syela, Miko tak ingin bertemu Catherine karena gadis itu terus menghubunginya nyaris menganggu aktivitasnya. Sedangkan jika dirumah Miko, Syela beralasan mau bicara berdua saja.
Miko sudah gembira berpikir jika Syela ingin membahas tentang kelanjutan hubungan keduanya, soal anaknya dalam kandungan Catherine dia akan memikirkannya nanti. Dia bisa membujuk Syela untuk menerima anak itu jadi saudara Ansel nantinya.
"Sel, disini" teriak Miko saat melihat Syela sudah masuk melewati pintu cafe. Syela pun menoleh, mengangguk lalu mendekatinya.
Lagi lagi Miko terpukau dengan tampilan Syela. Ibu satu anak itu nyatanya masih terlihat seperti gadis remaja, bahkan hanya mengenakan celana jeans dan switer berwarna soft pink membuatnya terlihat amat cantik. Apalagi dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai indah.
"Ekhhhh, Mik" ucap Syela melambaikan tangannya kedepan wajah Miko.
"Ehhhhh i.... iya duduk lah Sel" ujar Miko setelah sepenuhnya sadar, senyumnya nampak salah tingkah.
"Kita pesan makanan dulu ya" ujar Miko memanggil pelayan. "Nggak usah Aku sudah makan, minum aja" tolak Syela.
"Beneran?" tanya Miko memastikan dan Syela menganggukkan kepala. Akhirnya Pria itu memesan dua minuman dan dua potong kue untuk cemilan.
Obrolan basa basi menghiasi percakapan keduanya sebelum pesanan mereka datang. Setelah pelayan meletakkan minuman dan kue diatas meja, Miko baru mulai membuka percakapan seriusnya.
"Jadi kenapa kamu ingin kita bertemu Sel?".
Syela meletakkan gelas yang tadi sempat dia sesap isinya sebelum menjawab pertanyaan Miko. "Aku ingin bicara masalah Catherine" jawabnya.
Mendengar jawaban Syela membuat raut wajah Miko berubah masam. "Aku tak ingin membicarakannya".
"Tapi ini harus Mik, kalian harus menemukan jalan keluar untuk masalah kalian" tuntut Syela.
Miko menghela napas berat sambil menyandarkan tubuh nya kekursi. "Aku sudah bilang kalau akan bertanggung jawab untuk anaknya, tapi aku tidak akan menikahinya".
Syela menatap Miko serius. "Aku tanya Mik, kamu laki laki kan seorang pria dewasa yang mampu dari segi apapun kan?" tanyanya, Miko menganggukkan kepala.
"Terus kenapa kamu bisa memutuskan jalan keluar yang seperti itu, tega kamu?" tanya Syela lagi mencoba menyadarkan Miko. "Kamu tega memisahkan Ibu dan anaknya, kamu tega membuat seorang gadis kehilangan harapan dan masa depan, kamu tega anakmu hidup tanpa seorang Ibu, atau kamu tega Ibu dan anak itu pergi selamanya meninggalkanmu?" tambahnya panjang lebar.
Ditanyai seperti itu Miko tak bisa menjawab, sebelumnya dia sudah memikirkan semua jalan keluar yang terbaik tapi salah satunya harus mengorbankan perasaannya pada Syela, dia lebih memilih mengorbankan Catherine gadis yang tak dicintainya.
"Catherine adalah Ibu dari anakmu, seburuk apapun dia dimatamu kamu tetap harus bertanggung jawab padanya juga".
"Tapi aku tak mencintainya Sel, aku mencintaimu dan ingin menikahimu".
Syela menghela napas sepertinya Miko benar benar jatuh cinta setengah mati padanya. "Dalam masalah ini perasaan nomor kesekian Mik, yang harus di nomer satukan adalah tanggung jawab, apalagi kamu sebagai seorang pria sekaligus calon Ayah, harusnya kamu bisa bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan".
"Lagi pula aku sudah menolakmu kan, hatiku sudah mati rasa untuk menerima seorang pria jadi Ayahnya Ansel, kamu tau itu".
Miko kembali duduk tegak menatap Syela dengan serius. "Tapi Sel, aku benar benar tak ingin menikah dengan Catherine yang manipulatif itu".
Syela terdiam sebentar lalu berkata. "Aku sudah berusaha untuk membuka pikiranmu yang tersendat, Aku harap kamu bisa sadar dan mau bertanggung jawab sepenuhnya, ingat kamu adalah seorang pria Mik, jangan jatuhkan harga dirimu hanya karena Catherine, tapi kembali pada pilihanmu sendiri yang jelas Aku tak akan bisa berada disampingmu lagi".
Setelah mengucapkan kalimat panjang lebarnya, Syela dan Miko sama sama terdiam. Syela hanya sesekali kembali meminum minumannya sedangkan Miko sibuk dengan pikirannya.
"Aku akan pikirkan lagi nanti, tapi apa sudah tak ada tempat untukku lagi darimu Sel, ini yang terakhir kali aku bertanya" ucap Miko pelan. Sudah tak ada semangat dalam dirinya saat ini.
"Kamu tau jawabanku Mik, Tidak" ucap Syela yakin.
"Baiklah" jawab Miko lirih.
"Tapi aku ingin bertanya satu hal" ucap Syela yang penasaran akan hal ini dan dia mau tau jawabannya. "Saat dirumah sakit menurutku kamu sudah tau Catherine hamil anakmu, berarti kalian pernah melakukannya, kapan kalau aku boleh tau" tambahnya.
Miko terdiam menerawang kejadian yang dirinya tak menyangka akan jadi masalah sebesar ini.
"Hari itu Aku galau karena tak kunjung mendapatkan kabarmu, lalu Om Handoko tiba tiba memberitahu kalau kamu sudah bersama orang lain diluar negeri, aku marah aku frustasi........" Sejenak Miko menghentikan ucapannya.
"Karena ajakan Catherine kami pergi ke klub untuk menghibur diri, disana entah berapa botol minuman yang sudah kuhabiskan Aku tak sadar, Aku hanya sadar saat Catherine berkata ingin menggantikanmu dan Aku menyetujuinya, setelahnya aku tak ingat lagi lalu saat aku bangun kami berdua sudah terbaring diranjang kamar hotel" tambahnya lagi menerangkan kejadian hari itu.
Bersambung....
****************
Malam ini aku up lagi, jadi kaya double update sebenernya
Karena kemungkinan besok upnya bakal agak lama, nggak seperti biasa kalau pagi udah up.
Nggak kerasa cerita ini sudah 30 episode aja ya...
Yang nunggu munculnya Ayah kandung Ansel pasti geregetan deh iyakan, ngaku🤣🤣
Sama loh aku juga geregetan pengen cepat muncullin batang idungnya🤣
Tapi apalah daya cerita harus sesuai alurnya, sabar yah nggak sampai episode 40 pria malam itu sudah muncul kok 😁😁😁
Jangan bosen baca sambil menunggu kehadirannya ya.... Like, komen sharenya ditunggu loh ya sepi banget soalnya😢😢
Oia jangan lupa juga follow akun ig dan tiktok ku ramaikan juga disana
See you epribadihhhhh👋👋
Pasti bakal muncul kok, cuman belum waktunya
sesuai sama judul sih aku buat ceritanya, kalau cepet ketemunya bakal pendek ceritanya