Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 Ketua Aliansi Murim Ikut Beli Jagung Bakar Ibu Wei
"Beli 2 jagung bakar, gratis 1 bungkus kacang rebus! Ayo di beli! Penawaran terbatas untuk 50 orang saja!" seru Wei Ying.
Lu Xue pun turut membantu, ia berteriak di luar lapak dengan semangat.
"Ayo di beli! Tuan dan nyonya! Beli 2 jagung bakar, gratis 1 bungkus kacang rebus yang manis dan lezat."
Mendengar teriakan Lu Xue yang dengan semangat mempromosikan lapak Ibu Wei, semakin banyak orang yang turut mampir dan berakhir membelinya.
Kerumunan warga yang terlihat tidak biasa itu lalu mengusik seorang pria tua berjanggut putih panjang, ia terdiam melihat kerumunan itu kemudian bertanya pada orang yang berpapasan dengannya.
"Permisi, itu kerumunan apa?"
Pria yang baru saja ditanya menjawab dengan senyum cerah, "Itu penjual jagung bakar, tuan. Rasanya enak dan harganya pun murah!" ujarnya seraya memperlihatkan jagung bakar di tangannya. "Dan jika anda beli 2 jagung bakar, anda akan mendapat 1 bungku kacang rebus ini. Kacangnya terasa gurih dan ada sedikit rasa manis.."
Pria itu lalu kembali berjalan meninggalkan pria tua itu yang terdiam sambil mengelus janggutnya.
"Jagung bakar? Sejak kapan jagung bisa di bakar?"
Lalu karena rasa penasaran dan respon orang-orang yang antusias, pria tua itu tak mampu untuk menolak dan berakhir berdiri di depan lapak itu, mengantri bersama warga lainnya.
"Banyak sekali orang, ini semakin membuatku penasaran!" ujar pria tua itu.
Hingga tibalah dirinya maju dan berdiri tepat di depan lapak dimana Lu Shu sedang membakar jagung, setelah bertahan beberapa saat di antara orang-orang.
"Oh, inikah tampilan jagung bakar itu.." Bisik pria tua itu dalam hati.
"Berapa jagung yang anda mau, Tuan?" Tanya Lu Shu dengan sopan dan ramah tentunya.
"Beri aku 2, anak muda!"
"10 Wen, Tuan!" seru Lu Shu.
"Oh! Jika anda beli 2 anda mendapat 1 bungkus kacang rebus ini Tuan!" Seru Lu Xue.
Lu Xue membatu kakaknya membungkus jagung bakar dan kacang rebusnya. Lalu menyerahkannya pada pria tua itu. Pria tua yang sudah mendapat pesanannya, berjalan menjauh dari kerumunan itu. Sembari berjalan ia mengamati jagung bakar di tangannya sebelum akhirnya menggigitnya sedikit.
Seketika, sensasi gurih, manis, asin dan sedikit pedas menyapa lidahnya. Aroma butter dan cabai bubuk yang di panggang bersama membuat hidungnya tergelitik.
"Oh... Tak buruk! Ini jauh lebih pantas untuk makanan seharga 5 Wen!" ujarnya. "Pantas saja lapaknya ramai!"
.
.
Di sebuah bangunan yang mewah, seorang pria tua berjalan memasuki halaman yang luas dan di tumbuhi tanaman rindang.
Seorang anak perempuan berlari menghampirinya, "Kakek! Kakek darimana saja?!"
Pria tua itu tertawa kecil menyambut coletehan cucunya, lalu tangannya menyodorkan jagung bakar.
"Ini, kakek beli ini tadi di jalan.."
Anak perempuan itu merajuk, "Kenapa tak membawaku! Aku juga ingin ikut kakek!"
"Iya maaf, karena kakek tidak mengajakmu, lain kali akan kakek ajak."
Anak perempuan itu lalu menatap sesuatu yang tadi kakeknya sodorkan, terlihat bingung dan ragu, "Ini jagung? Kenapa warnanya seperti ini!" serunya.
Pria tua itu tertawa kecil, "Ini jagung bakar, rasanya enak.. kakek berani jamin!"
Meski sedikit ragu, anak itu mencobanya sedikit dan reaksinya sangat lucu. "Wow! Kakek! Ini enak, tidak seperti warnanya yang aneh!"
Pria itu pun membuka bungkusan kacang rebus yang tadi, ia membukanya satu-satu. Sembari menemani cucunya yang dengan lahap menggigit jagung bakarnya.
Dari kejauhan seorang pemuda berjalan cepat menghampirinya, "Tetua! Darimana saja? Para kepala keluarga dan pemimpin sekte sudah berkumpul untuk rapat membahas pertandingan seni beladiri Dragon and Phoenix. Jika anda selaku pemimpin aliansi murim tidak datang, rapatnya harus di undur lagi."
Pria tua itu tertawa, "Oh, aku lupa tentang itu.. gara-gara jagung bakar ini." bisiknya dalam hati.
"Ayo, kita pergi."
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭