NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Malam Jakarta masih hidup—lampu-lampu jalan berpendar seperti bintang jatuh yang tersangkut di bumi. Deru kendaraan bersahutan, klakson saling menyela, dan angin malam membawa aroma aspal panas yang belum sepenuhnya hilang.

Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah motor sport hitam melesat cepat, membelah jalanan seperti bayangan hitam yang tak bisa dikejar.

Ryuga.

Rahaknya mengeras. Tatapannya tajam menembus helm visor gelapnya. Gas ditarik tanpa ragu, seolah kecepatan bisa menenggelamkan emosi yang sedang membakar dadanya.

Rencana perjodohan itu.

Naomi.

Nama itu terasa seperti racun di tenggorokannya.

“Gue bukan boneka yang bisa diatur seenaknya…” gumamnya dingin, meski tak ada yang bisa mendengar.

Angin menghantam tubuhnya, tapi tidak cukup kuat untuk meredakan kekacauan di dalam dirinya.

Yang dia butuhkan cuma satu.

Quinn.

Di rumah sakit, suasana kontras terasa.

Lampu putih terang, bau antiseptik yang khas, langkah kaki perawat yang teratur—semuanya terasa steril, tenang… hampir dingin.

Quinn duduk di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan kakaknya, Kael, yang masih dalam masa pemulihan.

“Lo harus cepet sembuh, tau gak sih,” gumamnya, nada suaranya sedikit kesal tapi penuh kekhawatiran. “Gue capek ngomel sendirian gini.”

Kael hanya menatapnya dari ranjang, diam. Matanya dingin seperti biasa, tapi ada sesuatu yang tak bisa dia sembunyikan—perhatian.

Tiba-tiba, ponsel Quinn bergetar.

Nama yang muncul membuat alisnya langsung berkerut.

Ryuga❤.

“Tumben banget nelpon jam segini…” gumamnya.

Dia mengangkat panggilan itu.

“Halo, Ga? Kamu kok—”

“Keluar.”

Suara Ryuga memotongnya. Pendek. Dalam. Dan… anehnya, terdengar lebih berat dari biasanya.

Quinn langsung duduk tegak. “Hah? Keluar? Kamu di mana?”

“Taman rumah sakit.”

Nada itu bukan sekadar dingin. Ada sesuatu di dalamnya—emosi yang ditahan.

Quinn mengernyit. “Kamu kenapa, sih? Aneh banget—”

“Vierra.”

Hanya satu panggilan nama itu. Tapi cukup untuk membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

“…iya, iya. Aku ke sana.”

Telepon ditutup.

Quinn menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mendesah pelan.

“Ini orang kenapa, sih…” gumamnya, tapi tanpa sadar ada senyum kecil terselip di bibirnya.

Dia berdiri, lalu menoleh ke arah Selena yang duduk tak jauh dari sana.

“Ma,” panggilnya pelan, “aku keluar sebentar ya. Ada Ryuga di luar.”

Selena tersenyum lembut. “Ryuga?”

Quinn langsung salah tingkah. “Iya…”

“Ya udah,” ujar Selena hangat. “Jangan lama-lama, ya.”

Quinn mengangguk. “Iya.”

Dia melangkah keluar.

Di ranjang, Kael hanya memperhatikan kepergian itu tanpa suara.

Tatapannya menyempit.

“Ryuga…” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

Ada sesuatu yang mengganggu di dalam dadanya—sesuatu yang cukup membuatnya tidak nyaman.

Taman rumah sakit itu cukup luas.

Lampu taman berwarna kekuningan, bangku-bangku kayu tersebar di bawah pohon-pohon rindang, dan suara jangkrik samar terdengar di sela malam.

Udara di sana lebih tenang dibandingkan jalan raya di luar.

Dan di salah satu bangku, berdiri seorang pria tampan dengan aura dingin yang terlalu kontras dengan suasana damai itu.

Ryuga.

Tangannya masuk ke saku jaket, tubuhnya tegap, tapi rahangnya masih mengeras.

Dia menunggu.

Dan ketika langkah kaki itu akhirnya terdengar mendekat—

Dia menoleh.

Quinn.

Cewek itu berjalan cepat, rambutnya sedikit berantakan, napasnya agak tersengal karena terburu-buru.

“Ryuga!” panggilnya. “Kamu kenapa sih—”

Belum sempat kalimat itu selesai—

Ryuga langsung menariknya ke dalam pelukan.

Kencang.

Seolah dia takut kehilangan.

Quinn membeku.

“Eh—eh?!”

Tangannya refleks terangkat, tapi tidak langsung membalas. Dia terlalu kaget.

“Ryuga…?” suaranya melemah.

Ryuga tidak menjawab.

Wajahnya tersembunyi di bahu Quinn, napasnya terasa berat.

Dan untuk pertama kalinya—

Quinn merasakan sesuatu yang jarang sekali dia lihat dari Ryuga.

Rapuh.

Perlahan, ekspresi Quinn berubah.

Tangannya yang tadi kaku akhirnya bergerak, membalas pelukan itu.

“Kamu kenapa…?” tanyanya pelan, kali ini lebih lembut.

Ryuga mengeratkan pelukannya.

“Aku kangen.”

Dua kata sederhana itu membuat jantung Quinn berdebar tak karuan.

“Apaan sih…” Quinn mendengus pelan, mencoba terdengar santai, meski pipinya mulai memanas. “Baru juga tadi kita ketemu—”

“Kangen lagi, Sayang.”

Ucap Ryuga pelan. Lebih dalam.

Quinn terdiam.

Ada sesuatu yang berbeda.

Dia menarik sedikit tubuhnya untuk melihat wajah Ryuga.

“Kamu bohong,” katanya pelan, matanya menyelidik. “Pasti ada apa-apa.”

Ryuga menatapnya.

Dalam.

Seakan ingin mengatakan banyak hal, tapi memilih menahannya.

“Aku cuma pengen liat kamu.”

Quinn menyipitkan mata. “Cuma itu?”

“Hm.”

“Halah, bohong.”

Ryuga menghela napas pendek, lalu—tanpa peringatan—menarik dagu Quinn agar menatapnya lebih dekat.

“Kenapa sih kamu banyak nanya?” gumamnya.

Quinn langsung manyun. “Ya karena kamu aneh! Biasanya dingin kayak kulkas jalan, sekarang tiba-tiba jadi… gini.”

“Gini gimana?”

“Gini!” Quinn menunjuk wajah Ryuga. “Kayak… kayak… ya pokoknya beda!”

Ryuga sedikit menyeringai.

“Gak suka?”

Quinn langsung salah tingkah. “B-bukan gitu…”

Ryuga mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Terus?”

Quinn memalingkan wajah. “Ya… suka, sih.”

Senyum tipis muncul di bibir Ryuga.

Dia kembali memeluk Quinn, kali ini lebih santai, tapi tetap protektif.

“Ya udah. Nikmati aja.”

Quinn mendengus pelan, tapi tanpa sadar dia menyandarkan kepalanya di dada Ryuga.

“Kamu buat aku khawatir, tau nggak…”

“Aku, baik-baik aja.”

“Bohong lagi.”

Ryuga diam.

Untuk sesaat, hanya suara malam yang mengisi ruang di antara mereka.

Dalam hati, Ryuga bergulat.

Dia ingin bilang.

Tentang perjodohan itu.

Tentang Naomi.

Tentang bagaimana semuanya terasa seperti ancaman bagi satu hal yang paling dia jaga—

Quinn.

Tapi dia tidak mau merusak momen ini.

Belum.

“Ra,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Kamu nggak akan pergi, kan?”

Quinn langsung mengangkat kepala, menatapnya heran.

“Pertanyaan apaan, sih itu?”

“Jawab.”

Quinn mendengus. “Ya nggak lah! Ngapain juga aku pergi? Aku kan masih mau gangguin kamu tiap hari.”

Ryuga menatapnya dalam-dalam.

“…janji.”

Quinn mengangkat alis. “Kamu kenapa sih? Serius deh aneh banget.”

Tapi dia tetap mengulurkan jari kelingkingnya.

“Ya ,,udah. Janji.”

Ryuga menatap jari itu beberapa detik, lalu mengaitkannya.

Kencang.

Seolah itu satu-satunya hal yang bisa dia pegang saat dunia mulai tidak masuk akal.

Dan saat itu—

“Romantis banget.”

Suara itu memotong suasana.

Dingin. Sinis.

Quinn langsung menoleh.

Ryuga tidak.

Dia sudah tahu siapa itu.

Kael.

Berdiri beberapa meter dari mereka, dengan ekspresi datar yang sedikit condong ke arah mengejek.

Quinn langsung panik. “KAK?!”

Ryuga mendengus pelan. “Ganggu aja sih lo. Pergi sana.”

Kael berjalan mendekat, langkahnya santai tapi penuh tekanan.

“Gue kira rumah sakit ini tempat orang sembuh,” katanya, matanya bergeser ke Ryuga. “Ternyata tempat orang pacaran juga.”

Quinn langsung menepuk lengan Ryuga pelan. “Eh, lepas dulu! Sekarang dia kakak aku!”

“Nggak mau.”

“Ryuga!”

Kael berhenti di depan mereka.

Tatapannya turun ke tangan Ryuga yang masih memeluk Quinn.

“Lepasin dia.” ucapnya dingin.

Ryuga menatap balik.

“Kenapa?”

“Dia adik gue.”

“Dia cewek gue.”

Sunyi.

Udara terasa lebih berat.

Quinn menutup wajahnya dengan tangan. “Ya Tuhan… ini kenapa jadi gini sih…”

Kael menyipitkan mata. “Cewek lo?”

Ryuga tidak goyah. “Hm.”

Kael tertawa kecil, tapi tanpa kehangatan.

“Lucu.”

Quinn langsung menatap Kael. “Kak, jangan mulai deh…”

“Lo diem dulu.” balas Kael tanpa menoleh.

Quinn langsung manyun. “Ih, nyebelin.”

Ryuga menggeser sedikit tubuh Quinn ke belakangnya, refleks protektifnya muncul.

Kael memperhatikan itu.

Dan entah kenapa—

Itu membuat sesuatu di dadanya semakin tidak nyaman. Ia takut Ryuga akan membawa pergi adiknya yang baru ia ketahui itu.

“Lo pikir gue bakal percaya?” kata Kael.

Ryuga mengangkat alis. “Gue nggak butuh lo percaya.”

“Dia bukan dunia lo, Ryuga.”

“Dan lo bukan siapa-siapa buat ngatur.”

Tatapan mereka bertabrakan.

Tajam.

Panas.

Quinn di tengah-tengah mereka hanya bisa menghela napas panjang.

“Aku capek…” gumamnya. “Kenapa sih cowok-cowok tuh hobinya ribut terus…”

Kael akhirnya mengalihkan pandangannya ke Quinn.

Ekspresinya sedikit melunak.

“Balik sana.”

“Nggak.”

“Quinn.”

“Nggak, Kak” ulang Quinn, kali ini lebih tegas. “Aku lagi ngobrol.”

Kael menatapnya beberapa detik.

Lalu menghela napas.

“Lima menit.”

“Sepuluh.”

“Tujuh.”

“Deal.”

Ryuga melirik Quinn. “Cepet amat deal-nya.”

Quinn nyengir. “Strategi, sayang.”

Ryuga mendengus pelan, tapi sudut bibirnya terangkat.

Kael memutar mata. “Gue tunggu di dalam.”

Dia berbalik, lalu berjalan pergi.

Tapi sebelum benar-benar menjauh, dia berhenti sejenak.

Tanpa menoleh, dia berkata—

“Jangan buat dia nangis.”

Ryuga terdiam.

Langkah Kael kembali berlanjut.

Meninggalkan mereka.

Sunyi kembali turun.

Quinn menghela napas panjang, lalu menoleh ke Ryuga.

“Kamu lihat kan? Sekarang ribet banget hidup aku.”

Ryuga menatap ke arah Kael yang menjauh.

Lalu kembali ke Quinn.

Tangannya terangkat, menyentuh pipi Quinn dengan lembut.

“Aku nggak akan buat kamu nangis.”

Quinn terdiam.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Janji?” bisiknya.

“Janji.”

Dan kali ini—

Tidak ada keraguan di suara Ryuga.

Tapi di dalam hatinya, badai itu belum reda.

Perjodohan itu.

Naomi.

Dan Kael.

Semua hal itu seperti bayangan gelap yang perlahan mendekat.

Dan Ryuga tahu—

Kalau dia tidak melawan sekarang…

Dia bisa kehilangan Quinn.

Satu-satunya orang yang membuat dunia dinginnya terasa… hidup.

...****************...

1
ollyooliver🍌🥒🍆
hidupmu dan pasanganmu lo yg tentuin, orngtua hanya pantas memberi masukan tapi yg jalani lo, jadi keputusan ya di lo😌
Nur Halida
semangat ga... 💪💪💪
Nur Halida
untung ortunya ryuga ngedukung anaknya .. gak takut sama si kakek
Nur Halida
gak beneer ini.. baru datang udah jodoh2in orang aja ..
naomi pasti terbang ini
ollyooliver🍌🥒🍆
faktanya..sekalipun kael gk tau quiin adiknya, tapi dia.mengatakan kejujuran bahwa quiin adalah mainan yg bisa dipake kek jalang. dan ya dari situ bisa disimpulkan kael gk hanya gk sopan dlm bertutur kata tapi juga pemain wanita..karna hidupnya bebas😌
ollyooliver🍌🥒🍆
gk baguslah dibaca kalimat ini
ollyooliver🍌🥒🍆
ndk sopan..meski gk tau itu ibu lu setidaknya bertutur kata yg bagus ..orangtua itu😒
ollyooliver🍌🥒🍆
baru chapter ini yg banyak paragrafnya cukup tebal..enak kan dibaca
ollyooliver🍌🥒🍆
jangan nyalahi ryuga donh, si kael itu juga yg salah..lo tau juga anaknya suka balap liar. mau sama mau..yaudin mereka berdua salah. hanya gergara kael kecelakaan bukan brrti salahnya di ryuga doang😒
ollyooliver🍌🥒🍆
lah, yg dluan si kael..katanya lo mainan trus mau dibawa.pulang lagi..kata"nya buat orng berpikir nih kael udah biasa main cw😌
Nur Halida
apa hunungan quinn dan ryuga bakal di tentang??
Angelia nikita Sumalu
kalau Kael memang kakak kembarnya Quiin berarti hidup quiin bakal lebih diposesifin Ama pacar dan sang kakak.. bakal banyak yg akan semakin iri apalagi 2²nya sama² ketua geng motor...
Yudi Chandra: Hahaha....iya iya. kamu bener🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
semoga kael emang kambarannya quinn dan bisa berkumpul lagi dg keluarganya
Yudi Chandra: Amiin😘😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
eh jelangkung nongol.. gak ada kapok2nya se naomi ini
Yudi Chandra: namanya juga cinta, sayyyy🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
fiks kael kembarannya quinn
Yudi Chandra: kayaknya iya😅😅😅😅
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
kael?🤔
Yudi Chandra: bingung ya🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
lah ngapain emosi kalau ibunya sendiri baru tau dan meminta memperkenalkan dengan baiik.
sikap ryuga ini boleh dingin, tapi haruslah menghormati orngtua jugaa karna dia hidup maih dengan uang orngtuanya😌
Yudi Chandra: Hahaha....kamu kritis banget ya. aku suka😘😘😘😘😘👍👍👍
total 1 replies
Nur Halida
eh beneran kael saudaranya quinn??
Yudi Chandra: maybe yes, maybe no🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Adinda
mungkin kael kakaknya Quin mungkin selena dan armand kehilangan anak pertamanya
Yudi Chandra: mungkin iya, mungkin nggak 😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
jangan jatuh cinta pada kael ya quinn...😔
Yudi Chandra: Siiip👍👍👍👍👍😘😘😘😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!