Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 PGS
Setelah sampai rumah sakit, Tri langsung meminta perawat untuk menangani istrinya. Tri sangat geram dengan apa yang sudah dialami oleh Wita. Wanita yang selama ini dia jaga dan dia jadikan Ratu, oleh orang lain malah disakiti seperti ini.
"Brengsek kalian semua, lihat saja saya akan membuat kalian menyesal," batin Daddy Tri emosi.
Tri menghubungi seseorang dan ia pun memerintahkan sesuatu kepada orang itu. Tri juga mengirimkan pesan kepada Sherina supaya jangan dulu pulang, karena dia akan kembali ke kampung setelah istrinya ditangani. Satu jam berlalu, setelah dibersihkan tubuh Wita akhirnya Wita sadar juga.
"Mommy," seru Daddy Tri.
Wita membuka matanya dan langsung memeluk suaminya itu. Wita menangis sesenggukan dipelukan suaminya. "Maafkan Daddy karena datang terlambat," ucap Daddy Tri merasa sangat bersalah.
Wita terus saja menangis, pelukan Wita semakin erat membuat Tri merasa sangat aneh dengan sikap istrinya. Ia tahu jika sudah seperti itu, maka istrinya sedang dilanda ketakutan yang luar biasa. Tri melepaskan pelukan Wita dan menangkup wajah Wita.
"Mommy kenapa? apa yang terjadi selama Daddy tidak ada?" tanya Daddy Tri.
Bukan jawaban yang Tri dapat, malah air mata yang terus mengalir. Tri menghapus air mata Wita dan berusaha menenangkan istrinya itu. Tri menatap Wita sangat dalam dan menyunggingkan senyuman.
"Sekali lagi Daddy tanya, apa yang sudah orang brengsek itu lakukan kepada Mommy dan juga anak-anak?" tanya Daddy Tri.
"Mommy takut, Dad," lirih Mommy Wita.
"Takut kenapa? sekarang ada Daddy di sini, Mommy jangan takut. Coba cerita apa yang sudah mereka lakukan? supaya Daddy bisa melaporkan mereka ke Polisi," ucap Daddy Tri.
Tangisan Wita semakin menjadi, akhirnya dengan terbata-bata Wita pun menceritakan semua apa yang sudah Tama lakukan. Tri semakin emosi, kali ini amarahnya benar-benar tidak bisa ditahan lagi. "Mommy tenang, jangan menangis Daddy pastikan Tama akan mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang sudah dia lakukan. Ternyata, si Tama sudah mulai membangunkan macan yang sedang tidur," seru Daddy Tri.
Beberapa saat kemudian, Wita terlihat tertidur mungkin karena efek obat. Tri meminta suster untuk menjaga istrinya karena dia akan pergi ke kampung menjemput anak-anak dan menyelesaikan semua masalah. Sementara itu, Sherina mengeluarkan beberapa iphone dari dalam tasnya.
"Ini untuk kalian," seru Sherina.
"Ya, ampun ini 'kan ponsel mahal yang dipakai artis-artis," ucap Nining kaget.
"Iya, aku kasih kalian masing-masing satu," sahut Sherina terkekeh.
"Tapi ini mahal Sher, kita gak enak untuk menerimanya. Bahkan harganya setara dengan satu kali hasil panen di kebun aku," ucap Badru.
"Tenang saja, kakak gua duitnya sudah gak berseri lagi jadi kalau cuma ngasih tiga iphone buat kalian itu hal kecil," seru Syarif.
Sherina menoyor kepala Syarif. "Apaan sih!"
"Keren, memangnya kamu kerja apa Sher?" tanya Mail.
"Doi punya perusahaan properti yang saat ini diurus sama Daddy juga," sahut Syarif.
"Lah, terus waktu kamu ngelamar jadi guru dan bilang cuma lulusan SMA, bohong dong," seru Nining.
"Busyet, kakak gua lulusan universitas di Amerika," sahut Syarif.
"Pantas saja bahasa Inggris kamu bagus," sahut Nining.
"Oh iya, baju-baju aku juga kamu bawa saja ya, Ning lumayan buat ganti sehari-hari," ucap Sherina sembari tersenyum.
"Ya, Allah terima kasih Sher. Baju kamu bagus-bagus mana ada aku pakai buat sehari-hari sayang, nanti aku pakai buat bepergian," sahut Nining.
"Terserah kamu saja," ucap Sherina.
"Baju-baju gua juga kalian bagi dua saja," ucap Syarif.
"Wah, terima kasih ya," sahut Badru dan Mail bersamaan.
Beberapa jam kemudian, Tri datang dengan membawa Polisi. Ningsih dan Nia kembali menangis dan memohon untuk memaafkan mereka. Sherina dan yang lainnya keluar dan kaget saat melihat sudah ada mobil polisi di sana.
"Bangunkan si bajingan itu!" seru Daddy Tri menunjuk ke arah Tama.
"Baik, Tuan."
Anak buah Tri menyeret Tama ke hadapan Tri. "Kamu boleh bawa saya ke penjara, tapi tolong lepaskan mereka kasihan mereka masih muda," ucap Juragan Tama memohon.
"Giliran begini kasihan, tapi disaat kalian menyiksa anak-anak dan istri saya tidak ada belas kasihannya. Ternyata kamu tadi mau berusaha memperkosa istri saya, bajingan kamu Tama!" teriak Daddy Tri penuh amarah.
Tri menghantam wajah Tama sampai tersungkur ke tanah. Semua orang membelalakkan matanya, termasuk Ariel dan keluarganya. Mereka tidak menyangka jika Tama sudah berbohong tapi ternyata dia sendiri yang sudah melakukan hal bejad.
"An**ng memang Lu, Tama!" Syarif ikut emosi mendengar ucapan Daddynya.
Syarif memukuli Tama membabi buta, tapi polisi sigap melerai. "Sudah, hentikan Mas," seru Pak Polisi.
"Pak, bawa mereka semua ke penjara karena mereka sudah melakukan pelecehan dan penganiayaan terhadap istri dan anak-anak saya," tegas Daddy Tri.
"Tri, saya mohon mereka jangan dibawa," seru Juragan Tama memohon.
Ningsih dan Nia histeris melihat anak-anak mereka dibawa. "Bunda, tolong Fuja gak mau di penjara!" teriak Fuja histeris.
"Mama, Rossa juga gak mau dipenjara!" Rossa meraung-raung.
Berbeda dengan Ariel yang terlihat pasrah tidak bicara sedikit pun. Dia mengaku salah, dan dia akan mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia perbuat. "Tuan, kami mohon jangan bawa anak-anak," seru Mama Ningsih dengan deraian air mata.
"Oh iya, mereka itu urusan anak-anak saya. Semuanya saya serahkan kepada Sherina dan juga Syarif," sahut Daddy Tri.
Fuja dan Rossa berlutut di hadapan Sherina dan Syarif dengan deraian air matanya. "Sherina, maafkan aku jangan masukan aku ke dalam penjara aku gak mau dipenjara," seru Fuja.
"Syarif, maafkan aku. Aku rela mencium kaki kamu asalkan jangan masukan aku ke dalam penjara," sambung Rossa.
"Baru sadar Lu? giliran mau dipenjara Lu meraung-raung, tapi kemarin-kemarin Lu nginjak-nginjak harga diri gua gak pakai otak. Asalkan Lu tahu, gua gak terlalu memikirkan hinaan Lu sama gua tapi gua sakit saat Lu menyiksa Mommy gua. Gua gak akan pernah mengampuni siapa pun yang sudah menyakiti Mommy dan kakak gua, jadi air mata Lu gak ngaruh buat gua dan Lu harus dipenjara supaya Lu bisa merenungi apa yang sudah Lu lakuin," sahut Syarif.
"Tidak Syarif, aku gak mau dipenjara aku mohon." Rossa histeris.
"Sudah Pak, bawa saja mereka ke penjara gak ada maaf buat mereka dan aku gak mau maafin mereka," seru Sherina dingin.
Tangisan mereka pun semakin menjadi tapi Polisi tetap membawa keempatnya masuk ke dalam mobil. Ariel menoleh ke arah Sherina saat berjalan melewati Sherina, tapi Sherina membuang wajahnya dia sudah muak melihat wajah Ariel. Ningsih dan Nia meraung-raung, bahkan para warga terlihat ketakutan karena mereka juga ikut menyiksa Wita dan menghina Sherina.
oh Ariel punya sekolah TK juga ya ..kirain SD di kampung itu aja dulu ...rasakan sekarang susah kau jadi tukang ojek