Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Tolong Saya, Elara
Sagara. Ia masuk tanpa menunggu. Langkahnya yang biasa terukur, kali ini sedikit tergesa. Tatapannya lurus. Bukan pada Kaluna. Bukan pada yang lain. Hanya pada Shafiya.
Tepat di samping Kaluna ia berhenti.
Kaluna--yang sejak awal melihat kemunculan Sagara sudah seperti kehilangan napas--kini benar-benar tidak bisa bernapas dengan utuh.
Ia tidak siap dengan kemarahan Sagara.
Tidak siap dengan reaksinya.
Tapi lebih tidak siap lagi…
dengan apa yang dilakukan lelaki itu sekarang.
Sagara meraih tangan Shafiya.
Menariknya mendekat--tanpa kata.
Tarikan itu cukup kuat.
Cukup untuk membuat jarak di antara mereka… lenyap.
Shafiya kini berdiri sangat dekat.
Terlalu dekat.
Ia bisa mencium aroma tubuh Sagara.
Merasakan hangat napasnya.
Namun Sagara tidak berhenti.
Ia mendekat lagi--hingga dagunya bertumpu di pundak Shafiya.
Gerakan refleks Shafiya muncul.
Sedikit menjauh.
Namun--suara pelan Sagara menahannya.
“Tolong saya, Elara.”
Kaluna tidak bergerak.
Ia masih berdiri di sana.
Namun kali ini--bukan karena menahan diri. Tapi karena… tidak mampu.
Seolah sesuatu di dalam dirinya runtuh sekaligus dengan cepat. Dan tanpa peringatan.
Napasnya tertahan.
Tidak hilang--tapi tidak sampai.
Tatapannya masih mengarah ke depan.
Pada dua orang itu.
Pada jarak yang tidak seharusnya ada.
Pada kedekatan yang… tidak pernah ia bayangkan.
Dan perlahan--rasa sakit itu menyebar.
Bukan di dada.
Tapi ke seluruh tubuhnya.
Seperti membuat tulangnya… kehilangan kekuatan. Kosong. Rapuh.
Kaluna tidak jatuh.
Tapi juga tidak benar-benar berdiri.
Ia ada di sana--tanpa pijakan.
Pintu kembali terbuka.
Agam masuk.
Langkahnya terhenti sejenak, menangkap situasi.
Tatapannya bergeser.
Dari Sagara--ke Shafiya--lalu… ke Kaluna.
Satu detik cukup.
Ia mendekat.
Tidak banyak bicara. Hanya memberi satu isyarat kecil.
“Kaluna.”
Suaranya rendah, tapi tegas.
“Keluar.”
Bukan perintah yang keras.
Tapi cukup untuk menarik Kaluna kembali ke realitas.
Kaluna tidak langsung bergerak.
Namun perlahan--jemarinya mengepal.
Menarik sisa kekuatan yang masih ada.
Satu langkah. Lalu satu lagi.
Tanpa menoleh. Tanpa suara.
Ia berjalan keluar.
Dan saat pintu itu tertutup--yang tertinggal bukan lagi ketegangan.
Tapi sesuatu yang… sudah patah.
Di dalam ruangan.
Shafiya terdiam beberapa detik setelah mendengar ucapan Sagara.
Lalu ia bergerak sedikit.
“Kamu--kenapa?”
Sagara belum mengambil jarak.
Juga belum menjawab.
Seolah… masih ingin berada di posisi itu lebih lama dari seharusnya.
Itu membuat Shafiya mendorong dadanya dengan ujung jari telunjuk.
Dorongan ringan.
Jika Sagara mundur, itu bukan karena dorongan tersebut.
Tapi karena ia memutuskan… cukup.
Sagara akhirnya mengambil jarak.
Shafiya masih menatapnya tanpa jeda.
"Ini sandiwara?" Ada jeda tipis. "untuk melindungi saya dari dia?"
"Dia?"
"Perempuan itu. Entah dia siapamu. Kekasih atau--"
"Dia bilang apa tentang saya?" Sagara memotong dengan pertanyaannya.
"Dia bilang kamu tidak mau punya ikatan."
"Benar." Sagara mengangguk. "Dalam bentuk apapun, termasuk ikatan perasaan."
Kalimat itu cukup untuk menepis asumsi Shafiya.
"Lagi," kata Sagara kemudian. "Saya tidak perlu bersandiwara kalau hanya untuk melindungimu dari siapapun."
"Jadi?" Shafiya sengaja menggantung pertanyaan.
"Saya butuh kamu barusan mendekat, Elara."
"Untuk apa?"
Sagara menarik napas pelan.
“Meeting saya belum selesai.”
Bukan jawaban.
“Terus?”
“Saya keluar karena…”
Sagara berhenti sejenak.
“…kurang nyaman.”
Tatapan Shafiya tidak berubah.
Menuntut penjelasan.
Sagara menghela napas tipis.
“Gangguan kesehatan. Seperti biasa.”
“Kamu sakit?”
Nada suara Shafiya berubah. Lebih lembut.
“Sudah diperiksa dokter Raka?”
“Sudah.”
“Apa diagnosanya?”
“Seperti sindrom couvade.”
Shafiya diam. Satu detik. Dua detik.
“Kehamilan simpatik…”
Suaranya lirih.
“Ya.” Sagara menjawab singkat.
Hening.
Pikiran Shafiya mulai merangkai sesuatu.
Potongan-potongan yang sebelumnya terpisah kini mulai mendekat.
Ia kembali menatap Sagara.
“Ariana…”
jeda singkat,
“apa sebenarnya dia masih hidup?”
Tatapan itu menajam.
“Dan sedang mengandung anakmu?”
Sagara menggeleng.
“Dia meninggal. Dipastikan.”
“Lalu?”
Alis Shafiya mengernyit.
“Kenapa kamu mengalami sindrom couvade?”
Sagara tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru jatuh pada wajah Shafiya.
“Kalau kamu,” ucapnya pelan,
“punya satu pertanyaan… saya punya dua.”
Shafiya terdiam sesaat.
“Dua pertanyaan?"
Sagara mengangguk.
“Kenapa saya mengalami itu. Dan--"
tatapannya tidak lepas dari Shafiya,
“kenapa semua itu… hilang setiap kali saya dekat kamu.”
“Apa?” Shafiya terkejut. Hingga merasa perlu untuk koreksi ulang apa yang ia dengar.
“Itu juga alasan saya butuh kamu di dekat saya."
Shafiya menatap Sagara dalam.
"Itu, sudah lama?"
"Sudah beberapa kali saya rasakan."
Shafiya diam. Cukup lama.
“Kalau begitu…”
Katanya kemudian.
“ini bukan kebetulan.”
Sagara tidak menyela.
“Ini mungkin petunjuk.”
Nada Shafiya tenang. Cukup yakin.
“Dan petunjuk itu tidak datang tanpa alasan.”
"Petunjuk apa?" Sagara bukan tak paham arah, hanya ingin lebih memastikan.
"Anak ini, apakah milikmu?"
Sagara tidak langsung menjawab.
Tatapannya turun sesaat--ke arah perut Shafiya.
Lalu kembali naik.
“Kalau itu milik saya…”
suaranya rendah, terukur,
“saya akan pastikan. Dengan cara yang tidak bisa dibantah.”
Sagara tetaplah Sagara.
Ia percaya pada bukti--bukan keyakinan.
Pada data--bukan dugaan.
Ia berjalan di atas hal-hal yang bisa dibuktikan.
Sedangkan hidup…
tidak selalu memberi waktu
untuk menunggu semuanya menjadi pasti.
Alhamdulillah, final baca bab-bab yg tertinggal. Lanjut, Kak Naj. Sambil ngopi & nongkrong ☕
Keren, Kak Naj...