NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Tolong Saya, Elara

Sagara. Ia masuk tanpa menunggu. Langkahnya yang biasa terukur, kali ini sedikit tergesa. Tatapannya lurus. Bukan pada Kaluna. Bukan pada yang lain. Hanya pada Shafiya.

Tepat di samping Kaluna ia berhenti.

Kaluna--yang sejak awal melihat kemunculan Sagara sudah seperti kehilangan napas--kini benar-benar tidak bisa bernapas dengan utuh.

Ia tidak siap dengan kemarahan Sagara.

Tidak siap dengan reaksinya.

Tapi lebih tidak siap lagi…

dengan apa yang dilakukan lelaki itu sekarang.

Sagara meraih tangan Shafiya.

Menariknya mendekat--tanpa kata.

Tarikan itu cukup kuat.

Cukup untuk membuat jarak di antara mereka… lenyap.

Shafiya kini berdiri sangat dekat.

Terlalu dekat.

Ia bisa mencium aroma tubuh Sagara.

Merasakan hangat napasnya.

Namun Sagara tidak berhenti.

Ia mendekat lagi--hingga dagunya bertumpu di pundak Shafiya.

Gerakan refleks Shafiya muncul.

Sedikit menjauh.

Namun--suara pelan Sagara menahannya.

“Tolong saya, Elara.”

Kaluna tidak bergerak.

Ia masih berdiri di sana.

Namun kali ini--bukan karena menahan diri. Tapi karena… tidak mampu.

Seolah sesuatu di dalam dirinya runtuh sekaligus dengan cepat. Dan tanpa peringatan.

Napasnya tertahan.

Tidak hilang--tapi tidak sampai.

Tatapannya masih mengarah ke depan.

Pada dua orang itu.

Pada jarak yang tidak seharusnya ada.

Pada kedekatan yang… tidak pernah ia bayangkan.

Dan perlahan--rasa sakit itu menyebar.

Bukan di dada.

Tapi ke seluruh tubuhnya.

Seperti membuat tulangnya… kehilangan kekuatan. Kosong. Rapuh.

Kaluna tidak jatuh.

Tapi juga tidak benar-benar berdiri.

Ia ada di sana--tanpa pijakan.

Pintu kembali terbuka.

Agam masuk.

Langkahnya terhenti sejenak, menangkap situasi.

Tatapannya bergeser.

Dari Sagara--ke Shafiya--lalu… ke Kaluna.

Satu detik cukup.

Ia mendekat.

Tidak banyak bicara. Hanya memberi satu isyarat kecil.

“Kaluna.”

Suaranya rendah, tapi tegas.

“Keluar.”

Bukan perintah yang keras.

Tapi cukup untuk menarik Kaluna kembali ke realitas.

Kaluna tidak langsung bergerak.

Namun perlahan--jemarinya mengepal.

Menarik sisa kekuatan yang masih ada.

Satu langkah. Lalu satu lagi.

Tanpa menoleh. Tanpa suara.

Ia berjalan keluar.

Dan saat pintu itu tertutup--yang tertinggal bukan lagi ketegangan.

Tapi sesuatu yang… sudah patah.

Di dalam ruangan.

Shafiya terdiam beberapa detik setelah mendengar ucapan Sagara.

Lalu ia bergerak sedikit.

“Kamu--kenapa?”

Sagara belum mengambil jarak.

Juga belum menjawab.

Seolah… masih ingin berada di posisi itu lebih lama dari seharusnya.

Itu membuat Shafiya mendorong dadanya dengan ujung jari telunjuk.

Dorongan ringan.

Jika Sagara mundur, itu bukan karena dorongan tersebut.

Tapi karena ia memutuskan… cukup.

Sagara akhirnya mengambil jarak.

Shafiya masih menatapnya tanpa jeda.

"Ini sandiwara?" Ada jeda tipis. "untuk melindungi saya dari dia?"

"Dia?"

"Perempuan itu. Entah dia siapamu. Kekasih atau--"

"Dia bilang apa tentang saya?" Sagara memotong dengan pertanyaannya.

"Dia bilang kamu tidak mau punya ikatan."

"Benar." Sagara mengangguk. "Dalam bentuk apapun, termasuk ikatan perasaan."

Kalimat itu cukup untuk menepis asumsi Shafiya.

"Lagi," kata Sagara kemudian. "Saya tidak perlu bersandiwara kalau hanya untuk melindungimu dari siapapun."

"Jadi?" Shafiya sengaja menggantung pertanyaan.

"Saya butuh kamu barusan mendekat, Elara."

"Untuk apa?"

Sagara menarik napas pelan.

“Meeting saya belum selesai.”

Bukan jawaban.

“Terus?”

“Saya keluar karena…”

Sagara berhenti sejenak.

“…kurang nyaman.”

Tatapan Shafiya tidak berubah.

Menuntut penjelasan.

Sagara menghela napas tipis.

“Gangguan kesehatan. Seperti biasa.”

“Kamu sakit?”

Nada suara Shafiya berubah. Lebih lembut.

“Sudah diperiksa dokter Raka?”

“Sudah.”

“Apa diagnosanya?”

“Seperti sindrom couvade.”

Shafiya diam. Satu detik. Dua detik.

“Kehamilan simpatik…”

Suaranya lirih.

“Ya.” Sagara menjawab singkat.

Hening.

Pikiran Shafiya mulai merangkai sesuatu.

Potongan-potongan yang sebelumnya terpisah kini mulai mendekat.

Ia kembali menatap Sagara.

“Ariana…”

jeda singkat,

“apa sebenarnya dia masih hidup?”

Tatapan itu menajam.

“Dan sedang mengandung anakmu?”

Sagara menggeleng.

“Dia meninggal. Dipastikan.”

“Lalu?”

Alis Shafiya mengernyit.

“Kenapa kamu mengalami sindrom couvade?”

Sagara tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru jatuh pada wajah Shafiya.

“Kalau kamu,” ucapnya pelan,

“punya satu pertanyaan… saya punya dua.”

Shafiya terdiam sesaat.

“Dua pertanyaan?"

Sagara mengangguk.

“Kenapa saya mengalami itu. Dan--"

tatapannya tidak lepas dari Shafiya,

“kenapa semua itu… hilang setiap kali saya dekat kamu.”

“Apa?” Shafiya terkejut. Hingga merasa perlu untuk koreksi ulang apa yang ia dengar.

“Itu juga alasan saya butuh kamu di dekat saya."

Shafiya menatap Sagara dalam.

"Itu, sudah lama?"

"Sudah beberapa kali saya rasakan."

Shafiya diam. Cukup lama.

“Kalau begitu…”

Katanya kemudian.

“ini bukan kebetulan.”

Sagara tidak menyela.

“Ini mungkin petunjuk.”

Nada Shafiya tenang. Cukup yakin.

“Dan petunjuk itu tidak datang tanpa alasan.”

"Petunjuk apa?" Sagara bukan tak paham arah, hanya ingin lebih memastikan.

"Anak ini, apakah milikmu?"

Sagara tidak langsung menjawab.

Tatapannya turun sesaat--ke arah perut Shafiya.

Lalu kembali naik.

“Kalau itu milik saya…”

suaranya rendah, terukur,

“saya akan pastikan. Dengan cara yang tidak bisa dibantah.”

Sagara tetaplah Sagara.

Ia percaya pada bukti--bukan keyakinan.

Pada data--bukan dugaan.

Ia berjalan di atas hal-hal yang bisa dibuktikan.

Sedangkan hidup…

tidak selalu memberi waktu

untuk menunggu semuanya menjadi pasti.

1
Deuis Lina
kayanya kaluna panik karena anaknya butuh biaya besar,,
Deuis Lina
lanjuut makin seru,,,
Deuis Lina
akan terungkap ketika tes DNA,,
Deuis Lina
waduh kaluna terlalu nekad,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Ayuwidia
Kaluna pasti memendam perasaan spesial. Namun sayang, Sagara tidak pernah melihatnya benar-benar ada. Sakit, tapi itulah resiko mencintai seseorang yang mungkin tidak memiliki rasa yang sama....
Ayuwidia: wkkk iya, mendadak amnesia aku 😄😆
total 2 replies
Ayuwidia
Uhuk, manis banget😍
Ayuwidia
Iya, dia sangat membutuhkanmu saat ini, Shafiya
Deuis Lina
Sagara mulai goyah karena perkataan safiya ada benarnya,
Ayuwidia
Mungkin dengan mendatangkan Shafiya, inilah cara Sagara mencari apa yang masih samar.
Ayuwidia
Betul sekali, Shafiya. Doa itu senjata, bahkan kedahsyatannya melebihi Sajam atau taktik. Tak ada yang tidak mungkin terjadi, jika Dia sudah berkehendak
Ayuwidia
Takdir yang membawa Shafiya ke dalam rengkuhan Sagara.

Alhamdulillah, final baca bab-bab yg tertinggal. Lanjut, Kak Naj. Sambil ngopi & nongkrong ☕
Ayuwidia
Di manapun, perebutan takhta itu mengerikan. Segala cara dihalalkan, bahkan bisa sampai saling melenyapkan.
Ayuwidia
Keputusan Ravendra yang terlalu terburu-buru saat ini, mungkin kelak akan menjadi bumerang, boom waktu yang akan meluluh lantakkan nya.

Keren, Kak Naj...
Ayuwidia
Bagussss, Sagara. Serang terus si Ravendra 😎
Ayuwidia
Nah, ini yang aku tunggu, Sagara 😍
Ayuwidia
Aku berharap, Sagara menampar Pandu dan Ravendra dengan ucapannya yang tenang, namun tajam menghujam.
Ayuwidia
Aku setuju dengan ucapan Raka. Jadi, jangan lagi bertengkar. Bicara dengan kata-kata yang adem, meski pasti sulit bagi Sagara yang kaku 😄
Ayuwidia
Aku berharap dan meyakini, janin yang dikandung Shafiya milik Sagara 😉
Deuis Lina
lanjut makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!