Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 (21+)
Fadhlan tersenyum, sebuah senyuman paling mempesona yang pernah Syifa lihat. Namun, dalam kepanikan dan kegugupan yang melanda, tangan Syifa yang meraba dinding tanpa sengaja menekan salah satu tombol digital di sana.
Syuuuut!
Kucuran air dingin dari shower di atas kepala mereka seketika tumpah dengan deras, mengguyur tubuh keduanya dalam sekejap mata.
Fadhlan terpejam sejenak, pasrah mendapati seluruh kemeja dan rambutnya basah kuyup. Alih-alih marah, helaian rambut basah yang jatuh di dahi Fadhlan justru membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan dan menawan. Berbeda dengan Syifa yang langsung membelalak ketakutan karena mengira suaminya akan mengamuk.
"M-maaf, Pak! Saya tidak sengaja—"
"Sepertinya, kamu memang sengaja memberi kode ingin mandi bersama saya, ya?" bisik Fadhlan dengan suara yang kian serak.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Syifa untuk membantah, Fadhlan menangkup wajah istrinya dan mendaratkan sebuah ciuman yang intens di bibir istrinya. Syifa meremas kuat kemeja basah suaminya.
Di bawah guyuran air shower yang dingin, dinginnya air seolah menguap digantikan oleh kehangatan atmosfer romantis di antara keduanya. Syifa yang semula kaku perlahan hanyut dalam pesona suaminya, kedua tangannya perlahan naik dan mengalung pasrah di leher Fadhlan, memberikan 'lampu hijau' yang membuat Fadhlan kian bersemangat.
Tangan Fadhlan mulai merayap ke belakang punggung Syifa, menyentuh resleting dress yang dikenakan istrinya dan mulai menurunkannya perlahan.
Sensasi dingin air yang menyentuh kulit punggungnya seketika membuat kesadaran Syifa kembali. "T-tunggu!" refleks Syifa menahan tangan kokoh Fadhlan di punggungnya.
Fadhlan menghentikan gerakannya. Ia menatap netra cokelat istrinya dalam-dalam, menangkap sirat ketidaksiapan dan ketakutan di sana. Fadhlan menarik napas panjang, meredam gejolak di dadanya. Ia memberikan satu kecupan singkat di kening Syifa sebagai penutup momen panas mereka, lalu melepaskan pelukannya dan berjalan keluar dari kamar mandi tanpa mengucap sepatah kata pun.
Syifa berdiri mematung di bawah kucuran shower. Ada perasaan bersalah dan sedikit menyesal yang mencubit hatinya saat melihat punggung suaminya menjauh pergi, namun di sisi lain, ia benar-benar belum siap mental untuk melangkah lebih jauh sore ini.
...----------------...
Selesai mandi dan berganti pakaian dengan bathrobe handuk, Syifa melangkah keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia mengira Fadhlan sudah pergi, namun ternyata suaminya itu sedang berdiri di depan cermin, baru saja selesai mengganti kemejanya yang basah dengan kaos rumahan yang santai.
Fadhlan menoleh. Pandangannya seketika terkunci pada sosok Syifa yang baru selesai mandi, rambut hitam kecoklatannya yang basah terurai acak di atas bahu, membingkai wajah alaminya yang merona segar di balik jubah mandi handuk yang longgar. Fadhlan menelan salivanya berat, berusaha keras menjaga fokusnya agar tidak kembali goyah.
Fadhlan berjalan mendekat, lalu mengulurkan tangannya untuk membelai lembut puncak kepala Syifa yang basah. "Saya mau ke ruang kerja sebentar. Cepat pakai bajumu, nanti kamu masuk angin kalau kelamaan pakai handuk begini."
"Iya. Ini juga mau langsung ganti pakaian kok."
Fadhlan tersenyum tipis. Ia merunduk sedikit, mengecup singkat kening istrinya dengan penuh kelembutan. "Ruang kerja saya ada di sebelah kamar ini, panggil saya kalau kamu butuh apa-apa, hm?"
Syifa mengangguk pelan, setidaknya rasa bersalahnya sedikit mengikis melihat suaminya tidak marah.
...----------------...
Saat waktu makan malam tiba, Syifa turun ke lantai satu dan langsung bergabung di dapur untuk membantu Bi Darsih dan Lastri menata makanan di atas meja makan kayu yang panjang. Tidak lama kemudian, Fadhlan turun dengan langkah santai.
Syifa melangkah maju untuk mengambil piring Fadhlan, menyendokkan nasi serta lauk pauk ke atasnya. Jemari Syifa sedikit gemetar dan gugup karena sejak tadi Fadhlan tidak mengalihkan pandangan matanya yang intens dari gerak-gerik sang istri.
"Wah, kelihatannya enak sekali masakan malam ini," ujar Fadhlan tersenyum sumringah begitu sepiring makanan tersaji di hadapannya.
Bi Darsih yang sedang menaruh mangkuk sayur langsung menyahut dengan heboh. "Pasti enak dong, Den! Wong masakan malam ini Non Syifa sendiri yang ikut bantu bibi ulek bumbunya di dapur tadi."
Syifa tersenyum malu, lalu matanya menatap Bi Darsih, Lastri, Mang Sholeh, dan Pak Agus (satpam rumah) yang berdiri segan di dekat pembatas dapur. "Bi Darsih, Lastri, ayo ikutan makan malam bersama kami di sini. Panggil Mang Sholeh sama Pak Agus juga sekalian, yuk."
Bi Darsih langsung gelagapan, melirik cemas ke arah Fadhlan yang terkenal sangat menjaga privasi dan tegas. "Eh... a-anu, Non. Bibi sama yang lain nanti saja makannya di belakang setelah Aden sama Non selesai."
"Ih, sekalian saja di sini, Bi. Lagian ini kursi mejanya banyak yang kosong. Masa cuma kami berdua yang makan di meja sebesar ini? Ayo dong, temani Syifa," rengek Syifa dengan wajah memohon yang sangat menggemaskan.
Melihat istrinya mulai mengeluarkan jurus merengek, Fadhlan menghela napas pelan lalu memberikan kode anggukan kecil yang tegas kepada Bi Darsih, mengisyaratkan agar menuruti kemauan istrinya.
Malam itu, suasana ruang makan yang biasanya sunyi senyap seperti kuburan berubah menjadi sangat hangat. Meski awalnya Bi Darsih dan yang lain merasa sangat segan dan kaku karena ini adalah pertama kalinya seumur hidup mereka duduk satu meja dengan sang majikan besar, keramahan Syifa berhasil mencairkan suasana.
"Kenapa makannya sedikit sekali? Ayo dong Bi, Lastri, Pak Agus, Mang Sholeh... ditambah nasi dan lauknya. Ini masih banyak banget loh di tengah," ujar Syifa bersemangat, menyodorkan piring lauk ke dekat mereka.
Fadhlan yang melihat itu ikut bersuara tenang. "Iya, tidak usah malu-malu. Santai saja."
"Hehe... tidak apa-apa, Non, Den. Lambung bibi sudah penuh, ini sudah kenyang banget," jawab Bi Darsih sungkan namun senang.
"Iya Non, porsi Lastri memang segini kalau malam," timpal Lastri sopan.
"Saya juga sudah cukup, Pak Bos. Terima kasih banyak," sahut Pak Agus menyeka mulutnya dengan tisu.
Fadhlan mengunyah makanannya pelan sambil menatap lekat wajah ceria istrinya yang sedang asyik bertukar cerita masa kecil dengan para pekerja rumah. 'Dek... dari dulu kamu memang tidak pernah berubah. Selalu baik dan tulus kepada siapa pun tanpa pernah membeda-bedakan kasta. Sifat polosmu yang menganggap semua orang di dunia ini baik... tetap sama seperti tiga belas tahun lalu.'
...----------------...
Keesokan paginya, sebelum Syifa bersiap-siap untuk berangkat ke kampus mengikuti jadwal kuliah paginya, ia menyempatkan diri untuk turun ke dapur lebih awal guna membantu Bi Darsih dan Lastri menyiapkan sarapan.
Lastri yang sedang memotong sayuran langsung melirik Syifa dengan senyum jahil yang menggoda. "Ciye... pengantin baru, kenapa sudah bangun pagi-pagi buta begini, Non? Biasanya kan kalau pengantin baru sukanya bangun kesiangan?"
Syifa mendesah pelan sambil mengaduk teh hangat di cangkir. "Hehe... soalnya semalam aku ngga bisa tidur nyenyak, La."
Mata Lastri langsung berbinar penuh semangat kelinci gosipnya. "Wah! Pasti semalam lembur sampai subuh ya sama Aden? Sampai ngga dikasih waktu tidur?"
Syifa mengerutkan kening polos, tidak menangkap arah pembicaraan Lastri. "Hm? Lembur apa? Pak Fadhlan semalam memang lembur sendirian kok di depan laptopnya, sibuk banget sampai aku ketiduran."
Bi Darsih yang sedang menggoreng telur langsung menoleh, ikut menyimak pembicaraan dengan wajah keibuan. "Aduh... Aden itu ya, kalau sudah urusan pekerjaan pasti suka lupa waktu dan sibuk sendiri. Harap maklum ya, Non Syifa. Aden itu selain jadi dosen kan tanggung jawab perusahaannya besar sekali. Jadi Non Syifa harus ekstra pengertian dan perhatian, apalagi kalian ini masih pengantin baru."
"Iya, Bi," jawab Syifa canggung, mulai merasa obrolan ini mengarah ke hal privat.
"Tapi Non Syifa juga jangan sampai lupa ya akan kewajiban utama seorang istri, yaitu melayani suami lahir dan batin," nasihat Bi Darsih bersemangat sambil mematikan kompor. "Biasanya ya Non, kalau suami lagi pusing tujuh keliling karena banyak pekerjaan, terus istrinya peka nawarin 'begituan' duluan... beuh, dijamin suaminya bakal langsung senang, segar, dan stresnya hilang!"
Syifa mengedipkan matanya polos. "M-maksud Bi Darsih 'begituan' gimana ya?"
Bi Darsih menepuk jidatnya pelan, lalu menoleh ke arah keponakannya. "La, tolong bawa piring nasi goreng ini ke meja makan depan dulu sana."
"Oh, iya Bude," sahut Lastri buru-buru pergi membawa piring agar sang bude bisa leluasa memberikan wejangan dewasa.
Setelah Lastri pergi, Bi Darsih mendekati Syifa dan memberikan isyarat dengan kode-kode jarinya yang saling bertautan. "Itu loh, Non... masa Non Syifa ngga paham sih? Hubungan suami istri yang di kamar itu. Dijamin Den Fadhlan langsung bergas, semangat, dan makin nempel sama Non! Apalagi kalau istri yang berinisiatif nawarin duluan, wah... pahalanya besar sekali di mata agama, Non Syifa."
Mendengar penjelasan gamblang dari Bi Darsih, memori Syifa seketika terlempar kembali pada momen panas di bawah guyuran shower kamar mandi kemarin sore. Bayangan tubuh basah Fadhlan yang menghimpitnya seketika membuat pipi Syifa merona merah padam seperti kepiting rebus.
Bi Darsih yang melihat perubahan drastis itu langsung menunjuk pipi sang nyonya. "Loh, loh... Non Syifa, kenapa pipinya mendadak merah merona begitu?"
"E-eh? Engga kenapa-kenapa kok, Bi! Ini... ini cuma karena hawa dapurnya mendadak gerah sedikit saja," kilat Syifa gugup, mengipasi wajahnya dengan tangan.
Bi Darsih menyipitkan mata penuh selidik, tersenyum menggoda. "Wah... apa jangan-jangan Non Syifa sedang teringat momen-momen malam pertama yang indah sama Aden, ya?"
Karena terlampau panik dan salah tingkah, pertahanan Syifa runtuh. "E-engga kok, Bi! Orang kami... belum melakukan apa-apa juga sejak menikah," ujar Syifa keceplosan dengan volume suara yang terlalu jujur.
Bi Darsih seketika melongo, sendok sayur di tangannya hampir terlepas. "Belum?! Maksud Non Syifa... Non sama Aden sampai detik ini... belum 'begituan' sama sekali?!"
Syifa yang baru menyadari kebodohannya langsung menggelengkan kepala dengan cepat, menunduk sedalam-dalamnya karena malu yang teramat sangat sampai rasanya ingin menghilang dari bumi.
"Ehm...Syifa ke atas dulu mau ambil tas kuliah!" pamit Syifa terbata-bata, lalu langsung berlari kecil meninggalkan dapur, menaiki anak tangga dengan langkah seribu.
......................
Bi Darsih memandangi kepergian Syifa dengan tatapan kosong, lalu berkacak pinggang di depan wajan. "Ya Allah... kenapa bisa begitu ya? Padahal sebelum menikah kemarin, Den Fadhlan sempat cerita ke bibi kalau Non Syifa ini adalah orang yang sangat-sangat disayangi dan dicintainya sejak Aden masih remaja. Eh... giliran sudah sah ucap Qobiltu, kenapa malah belum diapa-apain? Ah, kacau... kacau ini mah! Den Fadhlan mode kulkasnya kelewatan!" gumam Bi Darsih menggeleng-gelengkan kepala, berbicara sendiri.
"Apanya yang kacau, Darsih?" suara berat Pak Agus yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur membawa gelas kosong sukses membuat Bi Darsih terlonjak.
Bi Darsih langsung melemparkan tatapan sewot. "Pikiran saya yang kacau! Persis kayak modelan rambut kamu itu yang baru bangun tidur, berantakan! Sana bikin kopi sendiri!" omel Bi Darsih berlalu pergi, meninggalkan Pak Agus yang hanya bisa melongo kebingungan di pagi hari.
...****************...