NovelToon NovelToon
Cinta Ditolak Sebab Status

Cinta Ditolak Sebab Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: Bila Official

Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.

Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.

Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.

Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.

Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.

Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Menyetujui Hubungan

Di rumah keluarga Argas, suasana pagi masih terasa sedikit canggung. Sudah beberapa hari sejak Arvano meninggalkan rumah dan meskipun tidak ada yang mengatakannya secara langsung, semua orang merasakan kehilangan yang sama. Kursi makan yang biasanya ditempati Arvano masih kosong. Tidak ada suara langkah kakinya di tangga, tidak ada suara dinginnya yang sering membuat Feni gugup.

Bahkan Bagaskara yang selama ini bersikap keras mulai merasakan dampaknya. Semalam Bagaskara hampir tidak bisa tidur. Kata-kata Indah terus terngiang di kepalanya, dari tentang Aurel, tentang Arvano, tentang cinta yang selama ini berusaha di pisahkan, dan kini setelah hatinya luluh, justru Arvano menghilang.

Bagaskara menghela napas panjang saat mobilnya memasuki area parkir kantor PT Argas. Hari ini Bagaskara harus menemukan putranya dengan apa pun caranya.

Bagaskara memasuki ruang direktur utama. Ruangan luas dengan jendela kaca besar yang menghadap kota Jakarta. Biasanya ruangan ini membuatnya nyaman, namun hari ini terasa berbeda. Pikirannya tidak bisa fokus pada pekerjaan.

Berkali-kali Bagaskara membuka berkas, namun tidak satu pun yang benar-benar dibacanya. Pikirannya terus kembali pada Arvano. "Anak yang keras kepala." Gumamnya pelan.

Namun kali ini tidak ada kemarahan dalam suaranya, yang ada justru kekhawatiran. Bagaskara mengambil ponselnya, kemudian membuka kontak Arvano. Menelepon, tidak diangkat. Dua kali, tetap tidak diangkat. Tiga kali, masih sama. Bagaskara menghela napas, kemudian mencoba mengirim pesan. Tidak ada balasan.

Lima menit berlalu, sepuluh menit berlalu. Tetap tidak ada jawaban. Bagaskara mulai merasa cemas, berdiri dari kursinya. Berjalan menuju jendela, lalu kembali duduk. Tidak bisa tenang dan tidak bisa diam. Akhirnya Bagaskara mengambil keputusan, kalau Arvano tidak bisa dihubungi, maka akan mencari melalui orang-orang terdekatnya.

Bagaskara membuka daftar kontak, lalu menekan salah satu nama yaitu Alga. Telepon langsung tersambung.

"Halo, Pak?" Suara Alga terdengar dari seberang.

"Alga."

"Iya Pak." Sahut Alga.

"Kamu bersama Arvano?" Tanya Bagaskara.

Di sisi lain telepon. Alga langsung menegang, karena sebenarnya tahu di mana Arvano berada. Namun Alga juga tahu Arvano tidak ingin keberadaannya diketahui siapa pun, terutama keluarganya.

Alga melirik Devon dan Fero yang sedang duduk di warung kopi dekat kantor mereka. Ketiganya saling pandang. Kemudian Alga menjawab. "Tidak Pak."

"Oh." Bagaskara terdengar sedikit kecewa. Lanjut Bagaskara "Kalau begitu tidak apa-apa."

Telepon berakhir.

Namun tidak lama kemudian. Bagaskara menelepon Devon, jawaban yang diterima sama. Kemudian Fero, jawabannya juga sama. Tidak ada yang mengaku bersama Arvano.

Di sebuah warung kopi sederhana berdiri di pinggir jalan. Tidak terlalu ramai, namun cukup nyaman. Di sana duduk empat orang pria, yaitu Arvano, Alga, Devon dan Fero.

Arvano masih terlihat lebih tenang dibanding beberapa hari lalu, namun jelas masih memikirkan Aurel. Di depannya terdapat secangkir kopi yang sudah hampir dingin. Sedangkan ketiga sahabatnya diam-diam saling melirik. Mereka baru saja berbohong kepada Bagaskara dan itu membuat mereka sedikit tidak nyaman, karena mereka tahu satu hal. Bagaskara bukan lagi pria yang marah seperti sebelumnya, ada sesuatu yang berubah.

Alga mengingat percakapan semalam dengan Indah, saat Indah diam-diam menghubunginya. Menanyakan apakah mereka tahu keberadaan Arvano. Dan dari nada bicaranya, Alga bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda. Seolah masalah besar itu mulai menemukan jalan keluarnya. Sementara itu, Arvano masih tidak tahu apa-apa. Arvano masih berpikir ayahnya tetap menolak hubungannya dengan Aurel, masih berpikir semua sudah berakhir. Padahal kenyataannya, tidak lagi seperti itu.

Kembali ke kantor PT Argas. Bagaskara menatap ponselnya beberapa saat, lalu menghela napas panjang. "Mereka pasti menyembunyikannya." Gumamnya.

Dan sebenarnya dugaannya tidak salah. Namun Bagaskara tidak marah, karena jika berada di posisi mereka, mungkin juga akan melakukan hal yang sama.

Sekitar setengah jam kemudian. Ponselnya berdering. Nama Alga muncul di layar.

Bagaskara langsung mengangkat. "Halo?"

"Pak." Kata Alga.

"Iya?" Jawab Bagaskara.

Alga terdengar ragu-ragu, kemudian berkata. "Maaf Pak."

Bagaskara mengernyit. "Kenapa?"

"Sebenarnya kami bohong." Jawab Alga.

Bagaskara langsung duduk tegak. "Bohong?"

"Iya Pak. Kami bertemu Arvano." Sahut Alga.

Bagaskara terdiam, mendapatkan kabar yang dicari. "Di mana dia?" Tanya Bagaskara.

Alga melirik Arvano yang sedang sibuk menatap jalan, belum menyadari apa yang sedang terjadi. "Kami sedang bersama dia sekarang."

Bagaskara memejamkan mata sesaat, rasanya lega perlahan muncul. Setidaknya putranya baik-baik saja. "Kenapa kalian bohong?"Tanya Bagaskara.

Alga tersenyum pahit. "Karena kami janji sama Arvano."

Bagaskara tidak bisa menyalahkan mereka, karena itu menunjukkan bahwa Arvano memiliki sahabat yang setia.

Beberapa detik kemudian. Bagaskara berkata pelan. "Alga."

"Iya Pak." Jawab Alga.

"Aku mau bilang sesuatu." Kata Bagaskara.

"Apa Pak?" Tanya Alga.

Bagaskara menarik napas panjang. Ucapannya terasa sangat berat, namun harus mengatakannya. "Aku sudah menyetujui hubungan mereka."

Alga membeku. "Apa?"

"Aku menyetujui Arvano dan Aurel." Jawab Bagaskara dengan ulang.

Kini justru Alga yang tidak bisa berbicara, karena benar-benar tidak menyangka. Di sampingnya, Devon dan Fero yang mendengar percakapan itu ikut membelalakkan mata. Mereka langsung mendekat.

"Pak serius?" Tanya Alga.

"Sangat serius." Jawab Bagaskara.

Lanjut Bagaskara "Aku salah. Aku sudah menyadarinya dan aku ingin memperbaiki semuanya."

Ketiga sahabat Arvano saling pandang, lalu tersenyum lebar. Karena mereka tahu. Ucapan Bagaskara adalah kabar terbaik yang bisa didengar Arvano.

"Aku ingin bertemu Arvano." Kata Bagaskara. Lanjut Bagaskara. "Aku ingin bicara langsung dan ingin meminta maaf."

Alga terdiam beberapa saat, lalu mengangguk. "Baik Pak."

Setelah telepon berakhir. Bagaskara meletakkan ponselnya perlahan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir. Dadanya terasa lebih ringan. Masih ada banyak hal yang harus diperbaiki, masih ada Aurel yang harus dicari, masih ada hubungan yang harus dipulihkan.

Namun setidaknya, Bagaskara sudah mengambil langkah pertama. Langkah yang selama ini terlalu sulit untuk dilakukan, yaitu mengakui kesalahannya.

Di sisi lain. Alga menurunkan ponselnya.

Devon langsung bertanya. "Gimana?"

Fero ikut mendekat. "Iya. Pak Bagaskara bilang apa?"

Alga tersenyum lebar. Senyum yang membuat kedua temannya penasaran. "Dia setuju."

"Hah?" Jawab mereka berbarengan dan bengong.

"Setuju apa?" Ucap Fero

"Arvano dan Aurel." Kata Alga.

Devon langsung berdiri. "Apa?!"

Fero hampir menjatuhkan gelas kopinya. "Serius?"

Alga mengangguk. "Sangat serius."

Ketiganya langsung menoleh ke arah Arvano, yang masih belum tahu apa pun. Masih duduk tenang sambil memandangi jalan. Tidak menyadari bahwa hidupnya mungkin akan berubah sebentar lagi.

Arvano menoleh heran, karena ketiga sahabatnya tiba-tiba memandangnya dengan ekspresi aneh.

"Ada apa?" Tanya Arvano.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Alga tersenyum. Devon menahan tawa. Fero menggeleng-geleng kepala. Membuat Arvano semakin bingung.

"Ada yang mau ngomong sama lo." Kata Alga akhirnya.

"Siapa?" Arvano mengernyit.

Alga mengangkat ponselnya, lalu menunjukkan nama yang masih terpampang di layar. Mata Arvano langsung membeku, karena nama itu adalah nama orang yang paling tidak Arvano duga akan mencarinya, yaitu Bagaskara. Ayahnya sendiri dan tanpa Arvano ketahui, telepon itu akan mengubah segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!