Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Marcus berjalan di depan, langkahnya mantap menyusuri koridor panjang yang diterangi lampu gantung kristal.
“Ini kamar Anda, Nona Meng.”
Pintu dibuka.
Liora melangkah masuk… lalu berhenti. Ruangan itu luas. Terlalu luas untuk disebut kamar biasa.
Tempat tidur besar dengan seprai putih bersih. Lemari kayu elegan. Sofa kecil di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang.
Semuanya… sempurna.
Terlalu sempurna.
“Jika Anda membutuhkan sesuatu, Anda bisa langsung memberi tahu saya atau pelayan lain,” ujar Marcus.
Liora mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Marcus sedikit menunduk, lalu pergi, menutup pintu dengan pelan.
Klik.
Sunyi.
Liora berdiri di tengah ruangan.
Menatap sekeliling.
“Ini bukan kamar… ini seperti hotel bintang lima,” gumamnya pelan.
Ia berjalan perlahan, menyentuh permukaan meja, lalu duduk di tepi tempat tidur.
Lembut.
Nyaman.
Beberapa saat kemudian, ia menghela napas dan bangkit. “Lebih baik aku memeriksa kondisi pasien dulu…”
Di sisi lain rumah...
Nathan berdiri di balkon kamarnya.
Angin malam berhembus pelan, menggerakkan tirai tipis di belakangnya.
Tangannya memegang gelas, namun isinya tak ia sentuh. Tatapannya mengarah ke kejauhan.
Dingin.
Tenang.
Namun… ada sesuatu yang sulit ditebak di baliknya.
Ketukan pelan terdengar.
Tok. Tok.
Nathan tidak menoleh.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Liora berdiri di sana, sedikit ragu. “Tuan, Saya ingin memeriksa kondisi luka Anda,” ucapnya, profesional.
Nathan akhirnya menoleh.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Beberapa detik… hening.
“Masuk,” ulang Nathan singkat.
Liora melangkah masuk, membawa tas medisnya.
Ia berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang, meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Duduk,” kata Nathan sambil menunjuk kursi di dekatnya.
Namun Liora menggeleng kecil.
“Lebih baik Anda yang duduk.”
Nathan menatapnya sejenak… lalu tanpa banyak bicara, menurut.
Ia duduk.
Liora mendekat.
Jarak mereka kini… sangat dekat.
“Lepaskan pakaian anda,” ucap Liora tanpa berpikir.
Hening.
Liora langsung tersadar. Wajahnya sedikit memanas.
“Maksud saya ... bagian baju Anda… agar saya bisa melihat lukanya,” koreksinya cepat.
Nathan menatapnya.
Lama.
Lalu tanpa berkata apa-apa, ia membuka beberapa kancing kemejanya.
Perlahan.
Memperlihatkan perban di bagian perutnya.
Liora menahan napas sejenak.
Luka itu… tidak ringan.
Ia segera fokus, membuka perban lama dengan hati-hati.
“Lukanya cukup dalam. Anda seharusnya lebih banyak istirahat,” gumamnya sambil bekerja.
Nathan tidak menjawab.
Ia hanya… menatap Liora.
Dekat seperti ini, ia bisa melihat dengan jelas... ekspresi serius di wajah gadis itu.
Fokus.
Tanpa kepura-puraan.
Tangannya bergerak lembut, namun pasti.
Berbeda… dari orang-orang yang biasa ia temui.
“Terluka seperti ini… bukan hal biasa,” lanjut Liora pelan. “Apa Anda sering berada dalam situasi berbahaya?”
Nathan tersenyum tipis.
“Apa itu penting?”
Liora berhenti sejenak, lalu menatapnya.
“Sebagai perawat… ya, itu penting.”
Tatapan mereka bertemu lagi.
Kali ini… lebih lama.
Nathan sedikit menyandarkan tubuhnya. “Kalau aku bilang iya?”
Liora tidak langsung menjawab.
Ia kembali fokus membalut luka dengan rapi.
“Kalau begitu, Anda harus lebih berhati-hati.”
Jawaban sederhana.
Di saat Liora sedang fokus pada tugasnya, Nathan menatap tato mawar yang di bagian pundak gadis itu.
Setelah selesai, Liora merapikan peralatannya.
“Sudah selesai. Jangan sampai basah, dan hindari aktivitas berat.”
Ia berdiri, hendak pergi.
“Liora!”
Suara Nathan menghentikan langkahnya.
Liora yang sudah hampir mencapai pintu berhenti, lalu perlahan menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan Nathan yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak.
“Tato itu…?” tanya Nathan pelan.
Refleks, Liora mengangkat tangan dan menyentuh pundaknya, tepat di mana tato berbentuk mawar itu berada.
“Ada apa?” tanyanya, sedikit heran dengan pertanyaan itu.
Nathan tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada tato tersebut.
“Sungguh unik,” ujarnya akhirnya. “Apakah kau menyukai bunga mawar?”
Liora mengerutkan kening tipis, lalu menggeleng pelan. “Mungkin… aku juga tidak begitu yakin,” jawabnya jujur.
Jawaban itu membuat sorot mata Nathan berubah samar.
"Calista… tato itu aku yang membuatnya untukmu dengan tanganku sendiri…" Suara batinnya bergetar, namun wajahnya tetap tenang seperti biasa.
“Rawatlah dengan baik,” ucap Nathan kemudian, nadanya rendah namun bermakna. “Tato itu… mungkin menyimpan sesuatu yang berarti.”
Liora sedikit tertegun.
Keningnya berkerut semakin dalam.
“Kenapa Anda bisa berkata seperti itu?” tanyanya, kini mulai merasa aneh.
Nathan tersadar dari pikirannya. Ia mengalihkan pandangan sejenak sebelum kembali menatap Liora dengan ekspresi datar.
“Tidak ada apa-apa,” jawabnya singkat. “Hanya sekadar mengingatkan.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
“Aku mendapat informasi bahwa kau kehilangan ingatanmu. Kalau diberi kesempatan… apakah kau ingin mengingat masa lalumu?”
Pertanyaan itu membuat Liora terdiam.
Ia menunduk sedikit, seolah mempertimbangkan sesuatu yang selama ini sengaja ia hindari.
“Aku yang sekarang… sudah cukup baik,” jawabnya pelan. “Aku tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Mungkin memang ada alasan kenapa aku kehilangan ingatan.”
Nathan menatapnya lebih dalam.
“Alasan?” tanyanya singkat.
Liora tersenyum tipis, meski ada sesuatu yang samar di matanya.
“Mungkin ada hal-hal yang tidak perlu aku ingat,” ujarnya. “Jadi… aku memilih untuk tidak memikirkannya.”
Hening sejenak.
Nathan melangkah sedikit lebih dekat.
“Bagaimana kalau… ada seseorang yang mencarimu di tempat lain?” tanyanya pelan.
Liora mengangkat pandangannya.
Tatapannya tenang, namun terselip keraguan yang samar.
“Selama lima tahun,” katanya perlahan, “kata Kakak Chu tidak ada yang mencariku. Tidak ada laporan kehilangan.”
Ia menarik napas kecil.
“Bisa saja… aku memang tidak punya keluarga.”
“Kenapa kau begitu yakin?” tanya Nathan lagi, suaranya sedikit lebih dalam.
Liora menjawab tanpa ragu,
“Kakak Chu pernah ke kantor polisi untuk memeriksa. Mencari tahu apakah ada yang melaporkan kehilanganku. Tapi… tidak ada.”
Ia menunduk sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Jadi, mungkin memang tidak ada yang menungguku.”
Nathan terdiam.
Tatapannya tertuju pada gadis di depannya.
Lama.
Nathan melangkah mendekat.
Langkahnya tenang, namun membawa tekanan yang membuat Liora tanpa sadar menahan napas. Dari saku dalam celananya, ia mengeluarkan sebuah kalung.
Kilau logamnya sederhana—tidak mencolok, tapi terlihat mahal dan rapi. Liontinnya kecil, berbentuk bulat dengan ukiran halus yang hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan.
Liora menatap benda itu, lalu kembali menatap Nathan.
“Ini…?”
Nathan tidak langsung menjawab. Ia berdiri cukup dekat di hadapan Liora, lalu mengangkat tangannya perlahan.
“Bawa ini,” ujarnya singkat.
Sebelum Liora sempat bereaksi, Nathan sudah memasangkan kalung itu ke lehernya.
Ujung jarinya sempat menyentuh kulit Liora.
Hangat.
Sekejap saja, namun cukup membuat Liora sedikit tertegun.
Nathan menarik tangannya kembali, seolah tidak terjadi apa-apa. Wajahnya kembali datar seperti biasa.
“Kemana pun kau pergi, pakai ini,” lanjutnya. “Kalung itu sudah dipasang pelacak.”
Liora langsung mengernyit.
“Pelacak?”
Nathan mengangkat sedikit pergelangan tangannya, menunjukkan jam yang ia pakai.
“Kalau terjadi sesuatu, tekan tombol kecil di liontin itu,” jelasnya. “Sinyalnya akan langsung terhubung ke jam tanganku.”
Liora refleks menyentuh kalung di lehernya. Jarinya meraba bagian liontin, menemukan tonjolan kecil yang dimaksud.
"Aku sering menjadi incaran musuh, karena kau adalah perawat ku, mungkin saja kau akan menjadi incaran mereka. Demi keselamatanmu jangan pernah lepaskan kalungnya," ujar Nathan.
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???