Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemerdekaan dalam Pelarian
"Aku tidak akan membunuhnya sekarang. Terlalu berisiko jika dua putra Widjaya mati berurutan."
Brotojoyo mematikan teleponnya. Ia memutar kursi, menatap ke arah pintu yang terbuka. Tedjo segera bersembunyi di balik bayangan lorong, keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Ia baru saja menyadari bahwa iblis yang membunuh kakaknya bukan orang asing, melainkan orang yang lahir dari rahim yang sama dengannya. Dan kini, iblis itu sedang bersiap untuk merencanakan strategi melenyapkannya. Ia hampir saja menjatuhkan gelas di tangannya. Bunyi detak jantungnya sendiri terasa seperti guntur di telinga. Ia segera melangkah mundur, berusaha selembut mungkin agar kakinya yang gemetar tidak menimbulkan suara di atas lantai marmer. Namun, tepat saat ia berbalik, sebuah suara menghentikan aliran darahnya.
"Dek? Kamu belum tidur?"
Tedjo membeku. Di ujung lorong yang remang, Brotojoyo sudah berdiri di sana. Padahal, sedetik yang lalu Tedjo yakin pria itu masih di dalam ruangan. Brotojoyo berjalan mendekat, wajahnya kembali terpasang dalam "topeng" kakaknya yang paling perhatian.
"Belum, Kang. Mau... mau ambil air minum," jawab Tedjo, suaranya parau. Ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan getaran di tangannya.
Brotojoyo menatap gelas kosong di tangan Tedjo, lalu beralih ke mata adiknya yang liar ketakutan. Senyum tipis muncul di sudut bibir Brotojoyo—sebuah senyum yang tidak sampai ke mata.
"Wajahmu pucat sekali. Kamu dengar sesuatu yang mengejutkan?" tanya Brotojoyo sambil melangkah satu langkah lebih dekat, memasuki ruang pribadi Tedjo.
"Tidak. Tidak dengar apa-apa."
"Bagus," Brotojoyo menepuk bahu Tedjo dengan telapak tangan yang terasa sangat berat.
"Duka bisa membuat orang berhalusinasi, Dek. Dek Suryo sudah tenang. Sekarang, sebaiknya kamu minum obat, lalu tidur."
Akhir-akhir ini Tedjo susah tidur. Jadi, dokter mengharuskan dia untuk minum obat. Namun, obat milik Tedjo sudah diganti Brotojoyo dengan obat yang mampu membuat tampak lamban, bicaranya tidak jelas dan sering lupa waktu. Hari demi hari, Tedjo tampak seperti orang yang sedang depresi berat. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana.
Suatu malam, Brotojoyo mencampurkan obat tidur dosis tinggi ke minuman Tedjo hingga dia pingsan. Saat Tedjo tak sadarkan diri, Brotojoyo menyayat sedikit pergelangan tangan Tedjo, lalu menelpon ambulans dengan panik.
"Tolong! Adik saya mencoba mengakhiri hidupnya karena depresi!"
Saat Tedjo bangun di rumah sakit, dia sangat marah dan menuduh Brotojoyo adalah dalang dibalik ini semua. Tedjo dinyatakan menderita gangguan obsesif-paranoia karena terus menuduh Brotojoyo tanpa bukti fisik yang sah.
Brotojoyo duduk di samping Tedjo, merangkul bahunya dengan lembut.
"Sabar, Dek. Ini semua demi kebaikanmu. Kamu butuh istirahat di klinik yang tenang."
Tedjo ingin bicara, tapi obat-obatan yang dipaksakan padanya selama ini membuatnya sulit fokus. Lidahnya terasa kelu. Ia memiliki ingatan yang akurat tentang niat jahat Brotojoyo. Kesadarannya masih utuh. Meskipun jiwanya waras, otak fisik Tedjo sedang diserang. Zat-zat kimia yang diberikan memaksa sistem sarafnya mengirimkan sinyal yang salah. Dia melihat bayangan, tapi itu bukan karena imajinasinya, melainkan karena reaksi kimia di matanya. Dia mungkin bicara melantur, tapi itu karena otot lidahnya melemah bukan karena pikirannya kacau.
Hingga tiba waktunya pengadilan menetapkan Brotojoyo sebagai wali sah atas seluruh aset dan kepentingan hukum Tedjo hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Tiga bulan di Rumah Sakit Jiwa sudah cukup bagi Tedjo untuk mempelajari satu hal : Kepatuhan adalah kunci kebebasan. Dia tidak lagi berteriak. Dia tidak lagi marah. Dia menelan ludahnya setiap kali perawat memberikan pil, namun dengan cekatan lidahnya menyembunyikan benda pahit itu di celah gusi, untuk kemudian dibuang ke lubang toilet. Tanpa racun kimia di tubuhnya, pikiran Tedjo kembali tajam.
Hari itu, Brotojoyo datang berkunjung.
"Bagaimana kabarmu, Dek?" tanya Brotojoyo, suaranya masih semanis madu yang beracun.
Tedjo menatapnya dengan kosong yang sudah dia latih sebelumnya.
"Kang Suryo tadi titip salam. Katanya, kopi di sini kurang manis," gumam Tedjo pelan, sengaja melantur.
Brotojoyo tertawa puas. Baginya, itu adalah bukti kemenangan mutlak. Tedjo sudah hancur. Keesokan harinya, Brotojoyo menandatangani surat pemindahan Tedjo ke panti rehabilitasi swasta yang lebih longgar penjagaannya, sebuah kesalahan fatal karena dia sudah merasa terlalu aman.
Saat hujan badai melanda, Tedjo beraksi. Dia tidak membawa apa-apa selain baju yang melekat di badan dan sebuah memori pahit. Dia memanjat pagar belakang panti, mengabaikan duri yang menyayat lengannya. Dia tidak pergi ke polisi. Dia tahu Brotojoyo punya uang untuk menyuap siapa saja. Dia juga tidak kembali ke rumah besar itu.
Harta Widjaya sudah terasa seperti tanah kuburan baginya. Dia tidak butuh warisan itu jika harganya adalah kewarasannya. Dia tidak ingin mengenal Brotojoyo lagi, bahkan dalam dendam sekalipun. Baginya, Brotojoyo hanyalah sebuah hantu dari masa lalu yang tidak lagi punya kuasa untuk menyentuhnya.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
"Jadi... itu alasannya Kakek memilih hidup di jalanan?" Suara Bara memecah keheningan. Matanya menatap lekat pada sosok renta di hadapannya.
Kakek Tedjo mengangguk pelan. Sebuah senyum kecut tersungging di bibirnya yang kering, senyum yang menyimpan luka.
"Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan, Le?" tanya Kakek Tedjo.
Bara menggeleng pelan, meski kepalanya masih dipenuhi tanda tanya yang berdesakan.
"Aku cuma heran saja, Kek. Kok bisa ada orang yang sekejam itu..." Kalimatnya menggantung, seolah lidahnya kelu menyebut nama Brotojoyo.
"Cuma gara-gara harta," lanjutnya dengan nada getir.
"Harta itu hanya bungkusnya, Bara. Di dalamnya ada rasa iri yang sudah berkarat. Brotojoyo tidak hanya menginginkan uang Bapakku, dia menginginkan pengakuan yang tidak pernah bisa ia dapatkan karena perbedaan darah."
Bara tertegun. Ia melihat tangan Kakek Tedjo yang gemetar, namun sorot matanya masih sangat tajam—sorot mata seorang putra ningrat yang menolak tunduk pada pengkhianatan dan rela menukar istana dengan kemerdekaan jiwanya.
Kakek Tedjo kemudian mengeluarkan selembar foto usang yang pinggirannya sudah mengeriput. Di sana tampak tiga pemuda berbaju batik, berdiri tegak di depan sebuah rumah Joglo yang megah.
"Itu Kang Suryo, aku dan Kang Broto"
Bara mengamati foto itu. Sosok Tedjo muda tampak begitu cerah, kontras dengan pria di sampingnya—Brotojoyo—yang tersenyum namun dengan sorot mata yang sulit dibaca.
"Apa Kakek tidak ingin kembali? Menuntut hak Kakek?" tanya Bara hati-hati.
Kakek Tedjo terkekeh pelan, suara tawanya terdengar seperti gesekan kertas kering.
"Menuntut apa, Le? Harta yang didapat dari darah saudara tidak akan pernah membawa berkah."
Beliau menepuk bahu Bara, memberikan kekuatan yang tak kasat mata.
"Biar saja, Le. Yang penting aku bisa tidur dan makan itu saja sudah bahagia."
Bara menyadari bahwa Kakek Tedjo telah menemukan "istana" yang lebih megah di dalam hatinya sendiri—sebuah ruang bernama kedamaian yang tak akan pernah bisa dibeli oleh seluruh harta apapun. Bagi Tedjo, menghilang adalah cara terbaik untuk tetap hidup.