NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 — Sisa yang Tidak Mati

"Berapa lama lagi?”

Suara Alice terdengar rendah, hampir menyerupai bisikan yang tertelan oleh dengung konstan sistem pendingin server. Meski begitu, suaranya tidak gemetar. Ia berdiri tepat di belakang Leon, bahunya hampir bersentuhan dengan jaket taktis pria itu. Matanya yang tajam sebagai seorang dokter kini terpaku pada layar monitor utama; di sana, titik-titik merah bergerak dalam formasi yang mengerikan, menyerupai rahang predator yang siap mengatup.

Gray tidak langsung menjawab. Jemarinya menari dengan kecepatan mekanis di atas konsol, menciptakan simfoni ketukan yang ritmis. Cahaya biru dari layar memantul di kacamatanya, menyembunyikan emosi di balik lensa tersebut.

“Mereka tidak lagi sekadar menjaga jarak atau melakukan pengintaian pasif,” kata Gray akhirnya, suaranya sedatar garis pada monitor jantung yang mati. “Mereka mempersempit lingkaran. Radius perimeter kini di bawah tiga ratus meter.”

Leon berdiri membeku, tangannya bertumpu pada meja logam yang dingin. Ia tidak bergerak, tidak menunjukkan kepanikan, namun seluruh serat otot di tubuhnya sudah terkunci dalam mode siaga penuh. Baginya, ketegangan ini adalah udara yang ia hirup setiap hari.

“Berarti mereka akan segera masuk,” ucap Leon dingin.

“Ya. Dan mereka tidak akan mengetuk pintu,” balas Gray pendek.

Sunyi sejenak menyergap bunker beton itu. Alice menarik napas pelan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai berpacu liar di balik dadanya. Ia menatap punggung Leon, sosok yang selama ini menjadi dinding antara dirinya dan maut.

“Dan kita?” tanya Alice, menuntut sebuah kepastian di tengah ketidakpastian.

Leon tidak menoleh saat ia menyambar jaketnya. Dengan gerakan yang efisien dan tanpa suara, ia mengenakan sarung tangan taktis hitamnya, memastikan setiap buku jarinya terlindungi.

“Menunggu mereka melakukan kesalahan langkah pertama,” jawab Leon. Suaranya tidak mengandung keraguan, hanya kesiapan murni untuk kekerasan yang akan datang.

Waktu sepuluh menit berikutnya terasa seperti tarikan napas yang sangat panjang dan menyiksa. Di dalam bunker, oksigen seolah menipis seiring dengan detak jantung yang beradu dengan waktu. Suara pertama tidak datang dari pintu baja di depan mereka, melainkan dari langit-langit beton. Sebuah dentuman kecil yang diredam, namun getarannya cukup kuat untuk merambat melalui lantai logam dan membuat struktur bangunan bergetar hebat. Alice langsung menoleh ke atas, pupil matanya melebar.

“Itu suara apa?” tanya Alice cepat, tangannya secara refleks mencengkeram tas medisnya lebih erat.

“Drone pembuka,” potong Gray tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. “Mereka sedang memetakan struktur internal melalui sensor seismik.”

Lampu di ruangan itu berkedip. Sekali, dua kali, menciptakan efek stroboskopik yang menjeda gerakan mereka, lalu stabil kembali dalam pendar merah darurat yang mencekam. Leon sudah berdiri di dekat pintu keluar, tubuhnya merunduk rendah. Pistol Glock-17 di tangannya terasa seperti bagian dari lengannya sendiri.

“Aku keluar. Aku harus memotong jalur mereka di lorong utama,” kata Leon datar.

“Kau tidak akan pergi sendirian,” sahut Alice segera. Ia melangkah maju, menantang tatapan dingin Leon.

Leon menoleh, menatap Alice tepat di matanya. Beberapa detik berlalu dalam sunyi yang padat, sebuah komunikasi tanpa kata antara seorang pembunuh dan seorang dokter. Leon melihat keteguhan di mata Alice, sebuah keberanian yang keras kepala.

“Tetap di belakangku. Jangan pernah lebih jauh dari satu jangkauan tangan,” perintah Leon akhirnya.

Alice mengangguk mantap. Pintu baja itu terbuka dengan desisan hidrolik yang pelan. Udara malam Sektor Nol yang lembap dan berbau karat segera menyeruak masuk, membawa aroma ancaman yang pekat. Leon melangkah keluar lebih dulu, bergerak sehalus bayangan yang meluncur di atas lantai beton yang retak. Alice mengikuti tepat di belakangnya, langkahnya cepat namun terkontrol, meniru ritme pergerakan Leon.

Satu detik. Dua detik. Kesunyian menyelimuti lorong gelap itu, hanya menyisakan suara tetesan air dari pipa bocor yang terdengar seperti hitungan mundur. Lalu, ketenangan itu robek oleh suara TAT! Peluru pertama menghantam dinding beton tepat beberapa inci di samping kepala Leon, menciptakan percikan api dan serpihan semen yang beterbangan.

“Kontak!” desis Leon.

Dalam satu gerakan yang hampir mustahil diikuti mata manusia, Leon menarik bahu Alice ke bawah. Tubuh mereka menghantam lantai beton yang dingin dengan keras saat rentetan peluru berikutnya menyapu ruang kosong di atas kepala mereka.

“Dua orang di sektor kanan! Posisi jam dua!” suara Gray menggema melalui earpiece Leon.

Leon tidak menjawab. Ia sudah meledak dari posisinya. Ia berputar, membidik, dan melepaskan satu tembakan presisi dalam satu rangkaian gerak yang mulus. Pfft! Tembakan yang diredam itu menemukan sasarannya. Satu tubuh di kegelapan jatuh berdebam ke lantai. Alice membeku di posisinya. Semuanya terjadi terlalu cepat. Ia bahkan tidak melihat kapan Leon membidik atau bagaimana pria itu bisa tahu posisi lawan di tengah kegelapan yang nyaris total.

Tiba-masing, tiga sosok pria berpakaian taktis hitam muncul dari balik bayangan pilar beton. Pergerakan mereka sangat rapi, disiplin, dan terkoordinasi. Unit elit Helix. Leon tidak memilih untuk mundur atau mencari perlindungan statis. Ia justru merangsek maju, menerjang badai peluru. Dua tembakan dilepaskan Leon sambil berlari. Dua target jatuh seketika dengan lubang tepat di pusat massa mereka.

Satu orang tersisa mencoba menarik diri ke balik kontainer besi, tangannya gemetar saat mencoba mengisi ulang pelurunya. Namun, Leon sudah berada di depannya. Terlalu dekat. Terlalu cepat untuk ukuran manusia biasa. Sebuah pisau taktis berkilat di tangan kiri Leon. Sebuah gerakan melingkar yang singkat, sebuah gesekan logam yang bertemu jaringan lunak, dan sunyi kembali turun. Tubuh itu merosot jatuh ke aspal basah tanpa sempat mengeluarkan suara.

Leon berdiri tegak di atas tubuh yang baru saja ia robohkan. Napasnya stabil, terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja melakukan pertarungan hidup dan mati. Namun, saat matanya melirik ke bawah, ia melihat sesuatu yang memicu gelombang di dalam benaknya. Pada leher pria yang tewas itu, terdapat sebuah tato kecil berbentuk lingkaran dengan garis yang terpotong secara vertikal di tengahnya.

Seketika, binar lampu merah di lorong itu memudar di mata Leon, ditarik paksa oleh benang merah masa lalu yang menyakitkan. Pandangannya tidak lagi menatap gedung tua itu, melainkan sebuah kilas balik yang menyengat. Lampu mobil yang menyilaukan dan bau aspal terbakar muncul di ingatannya. Sebuah suara pria terdengar dingin dan tanpa ampun: “Singkirkan anak itu. Dia cacat produksi.”

Leon berkedip, namun tangannya sudah bergerak lagi karena memori otot yang liar. Ia mengokang senjatanya dengan keras, gerakannya kasar. Namun pikirannya kembali terseret ke sebuah malam di mana darah merembes di atas lantai kayu panti asuhan. Ia melihat tangan kecil yang mungil, gemetar, mencoba meraih sesuatu yang sudah hilang di tengah suara api yang melahap segalanya.

Satu musuh lain muncul dari celah di sisi kiri, namun Leon tidak lagi membidik dengan perhitungan dingin. Ia menembak beruntun, membabi buta namun tetap mengenai sasaran dengan presisi yang mengerikan. Dua peluru di kepala. Terlalu keras. Terlalu brutal. Di telinganya, suara tembakan itu bercampur dengan suara napas yang terputus selamanya di tengah kegelapan laboratorium bertahun-tahun silam. Cahaya putih yang menyengat menusuk matanya, wajah-wajah asing yang memakai masker medis bergumam: “Subjek tidak merespons. Buang saja ke selokan.”

“Leon!”

Suara itu menyeretnya kembali ke lantai beton yang dingin. Suara itu dekat, terlalu dekat. Alice. Leon menoleh dengan cepat, moncong senjatanya nyaris terarah ke arah sumber suara tersebut. Untuk sepersekian detik yang menyakitkan, ia tidak melihat Alice Arden. Ia melihat wajah dari masa lalunya yang terkubur, seorang gadis yang menangis di bawah cahaya lampu laboratorium.

Leon membeku di tempatnya. Hanya satu detik gangguan mental, namun di dunia mereka, satu detik adalah keabadian yang mematikan. Seorang musuh terakhir muncul dari balik bayangan di belakang Leon, senapan serbunya sudah terangkat, siap menarik pelatuk ke arah punggung Leon yang terbuka. Alice melihatnya lebih dulu. Matanya membelalak. Tanpa berpikir panjang, ia merogoh pistol kecil yang sempat diberikan Leon sebagai perlindungan darurat.

“LEON!”

Terlambat—

BANG!

Suara tembakan itu memecah kesunyian, lebih nyaring karena tidak menggunakan peredam. Tubuh musuh di belakang Leon tersentak hebat, lalu jatuh berdentum ke lantai logam. Tembakan itu bukan berasal dari Leon. Alice berdiri di sana, kedua tangannya memegang pistol dengan gemetar hebat. Asap tipis masih mengepul dari moncong senjata itu. Napasnya tidak stabil, dadanya naik turun dengan cepat. Leon menatapnya dengan pandangan kosong yang perlahan-lahan mulai fokus kembali.

Hanya ada suara rintik hujan yang mulai menderas di luar bangunan dan deru statis dari radio musuh yang rusak. Leon berdiri di tengah tumpukan mayat, dikelilingi oleh kematian yang ia ciptakan. Ia diam, namun Alice bisa melihat sesuatu yang telah berubah dalam diri pria itu. Tatapan Leon tidak lagi sama. Matanya yang biasanya jernih dan analitis kini tampak lebih gelap, lebih jauh.

“Leon…” Alice memanggil pelan, suaranya mengandung kecemasan yang mendalam.

Leon tidak segera menjawab. Ia hanya menatap tubuh di kakinya dengan tatapan yang sangat asing. Lalu, ia berbicara dengan suara yang sangat pelan, namun setiap katanya memiliki bobot yang mampu meremukkan suasana.

“Mereka tidak pernah benar-benar berhenti,” gumam Leon.

“Apa?” tanya Alice, tidak mengerti arah pembicaraan pria itu.

Leon tidak menoleh ke arahnya. “Mereka tidak pernah berhenti mengejar… bahkan setelah mereka menganggap semuanya sudah selesai dan mati.”

Kalimat itu bukan ditujukan untuk Alice. Itu adalah sebuah dialog internal yang bocor ke permukaan, sebuah pesan untuk hantu-hantu di dalam kepalanya yang baru saja bangkit kembali. Gray muncul dari ambang pintu bunker, memegang sebuah perangkat pemindai.

“Ini baru gelombang pertama, Leon. Unit pengintai mereka sudah dikonfirmasi tewas semua,” kata Gray sambil menatap mayat-mayat itu.

Leon mengangkat kepalanya sedikit, menatap ke arah kegelapan lorong yang masih panjang. “Berapa banyak lagi yang tersisa di luar sana?”

Gray menatap layar kecil di tangannya, wajahnya mengeras. “Cukup banyak untuk mengubah seluruh distrik ini menjadi kuburan massal dalam waktu kurang dari satu jam.”

Sunyi kembali jatuh. Alice menatap Leon, dan akhirnya, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia melihat Leon dengan kejelasan yang menakutkan. Di hadapannya bukan hanya seorang pelindung yang efisien atau kurir ilegal yang tangguh. Tapi seseorang yang pernah melewati neraka yang tidak manusiawi, dan neraka itu kini sedang menuntutnya kembali.

Leon akhirnya menoleh ke arah Alice. Tatapan mereka bertemu di bawah lampu merah yang berkedip. Untuk pertama kalinya, Alice merasa tidak lagi mengenali pria di depannya.

“Jangan mendekat saat aku sedang seperti ini, Alice,” ucap Leon rendah. Suaranya dingin, sebuah peringatan murni, bukan ancaman.

Alice tidak menjawab, namun ia tidak mundur satu langkah pun. Ia tetap berdiri di sana, memegang pistolnya yang masih panas, menolak untuk membiarkan Leon kembali ke dalam kegelapannya sendirian. Leon menatap kegelapan di depan mereka, tempat di mana ia tahu gelombang berikutnya akan datang dengan kekuatan yang lebih besar. Tangannya mengencang di gagang pistol, buku jarinya memutih.

“Kalau memang Helix menginginkan perang terbuka…” ucap Leon pelan, tanpa emosi, tanpa ragu sedikit pun.

Ia menatap lurus ke depan, ke arah maut yang menantinya di ujung lorong.

“…aku akan memastikan mereka tidak punya satu pun sisa yang bisa dibawa pulang untuk diceritakan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!