Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 Jagung yang di Bakar
Pagi-pagi sekali Wei Ying sudah sibuk di lapak miliknya yang kemarin ia sewa dari Nyonya Gu, di bantu oleh Lu Shu anak sulungnya.
Wei Ying menyiapkan perapian dan wajan besar, ia juga menuangkan air yang banyak di wajan lain. Ia berniat hendak merebus kacang dan jagung. Di sampingnya Lu Shu berkutat dengan satu tungku perapian lain, menusuk jagung dan memanggangnya seperti yang pernah Ibu Wei lakukan dulu saat masih dalam perjalanan.
Orang-orang yang lewat melirik lapak baru itu, pada awalnya tak ada yang mendekat dan secara acuh lewat begitu saja. Namun, semua berubah saat aroma harum dari jagung yang bakar menguar di udara.
"Aroma ini..." bisik Lu Shu dengan meneguk air ludahnya menatap jagung bakar yang ia bakar sendiri.
Wei Ying tertawa kecil, memang tak bisa di pungkiri aroma jagung bakar yang di baluri mentega sangat harum, belum lagi saat di taburi cabai bubuk.
Seorang wanita yang menggandeng anaknya datang mendekat, ia lalu menanyakan apa yang sedang di bakar oleh mereka itu.
"Apa ini jagung?" tanya wanita itu.
"Benar, nyonya. Ini jagung bakar!" jawab Lu Shu.
Nyonya itu sedikit mengerutkan keningnya, lalu seraya menunjuk jagung ia kembali bersuara. "Anak muda, dari mana kami tau jika jagung bisa di bakar seperti ini? Aku baru pertama kali melihatnya..." ujarnya.
Lu Shu tersenyum dan menunjuk ke arah Ibu Wei, "Ibu yang memberitahu, rasanya tak kalah dengan jagung yang di rebus.."
Nyonya itu terlihat sedikit tertarik, dan tanpa di sangka anak yang bersamanya terlihat menginginkan jagung bakar itu.
"Ibu, aku mau bu.." rengeknya sambil menunjuk jagung bakar itu.
"Aku mau 2 jagung bakarnya, nak.." seru Nyonya itu pada akhirnya.
Lu Shu segera memberikan 2 jagung bakar yang baru saja matang sempurna.
"Berapa harganya?"
"5 Wen untuk 1 jagung bakar, nyonya..."
Nyonya itu terlihat terkejut, "Woh, murah sekali..." ujarnya.
Setelah memberikan uang 10 Wen untuk w jagung bakarnya, nyonya itu kembali pergi. Tak lama ada beberapa orang lagi yang datang, sepertinya setelah melihat nyonya dan anaknya yang pergi membawa jagung bakar membuat mereka juga penasaran dan tertarik.
Tak butuh lama, jagung bakar dari lapak Wei Ying terjual laris. Kabar dari mulut ke mulut membuat berita tentang jagung yang di bakar dengan harga murah, membuat orang-orang tertarik.
Meski di dunia ini pun ada jagung dan sayuran lainnya, tapi cara memasak mereka tak lebih dari di rebus atau di kukus dengan campuran kelapa parut sebagai ganti gandum. Jagung bakar menjadi sesuatu yang baru bagi orang-orang di sini.
Tepat saat lapak menjadi ramai oleh para pembeli, Lu Bao dan Lu Xue datang. Kedua anak itu membawa satu keranjang penuh jagung.
"Wow, banyak sekali pembelinya..." bisik Lu Bao.
Tapi Lu Xue yang melihat hanya jagung bakar saja yang laris, memiliki ide cemerlang.
"Ibu-ibu!" Panggil Lu Xue. "Sepertinya kacang rebus kita tak terlalu di lirik oleh mereka.."
Wei Ying mengangguk, dan mulai berpikir.
"Ibu, bagaimana jika kita memberi mereka 1 bungkus kacang untuk orang yang membeli 2 jagung bakar?" ujar Lu Xue.
Wei Ying melotot, terkejut dengan ide yang keluar dari kepala mungil itu. "Bagaimana kamu bisa memikirkan ide cemerlang itu!" seru Wei Ying.
Lu Xue tersenyum dan menggosok ujung hidungnya merasa bangga.
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭