"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Tidur Bersama
Pukul tujuh malam, Reno baru sampai di rumah. Ia melepas sepatunya di samping pintu utamanya, dan melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
"Reno, syukurlah kamu sudah pulang." ujar Nyonya Ellen menghentikan makannya, menatap kedatangan Reno yang mendekatinya.
"Makanlah dulu, Ren." ucap Tuan Samuel.
"Daddy pulang... !!" pekik Lena girang, ia tertawa pelan, "Daddy, Daddy, Len mau jalan-jalan sama Daddy dan Mommy." lanjut Lena lagi dengan nada yang tak sabar.
Deana yang sedang menemani Lena makan itu terkejut mendengar perkataan Lena, Deana menatap semuanya lalu berakhir tatapannya pada Reno, kepalanya menggeleng pelan. Deana takut jika Reno akan berpikir jika ia yang membujuk Lena untuk melakukannya.
Reno mendekati Lena dan mencium kedua pipinya lembut, "Berhenti berbicara Len, makan dengan baik."
"Sorry Daddy." Lena mengangguk.
Reno merasa haus, ia mengambil cangkir berwarna perak itu dan menuangkan isinya di dalam gelas, hanya air putih biasa saja dan Reno meneguknya hingga tandas tak tersisa.
"Daddy ke kamar dulu, Lena habiskan makanannya." ucap Reno lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
"Iya Daddy." balas bocah kecil itu dengan suara cemprengnya.
Deana hanya membantu Lena makan, selebihnya ia diam saja, tak berani mengambil apapun di atas meja makan itu.
***
Semua sudah selesai makan malamnya, dan Reno baru saja turun dari kamarnya. Rambutnya yang masih basah itu menandakan bahwa Reno sudah selesai mandi.
Reno sudah berpakaian lebih santai, celana dan baju pendeknya membuat tubuh atletisnya semakin terlihat. Guratan otot-otot yang dimilikinya pun terlihat jelas karena baju yang dipakainya press boddy.
"Daddy, malam ini Len mau tidur dengan Daddy dan Mommy. Boleh?" Lena menggendong bonekanya dan menghampiri Reno.
Reno menggendong Lena dan mencium ujung hidungnya, "Em... Ya, nanti Daddy temani Lena tidur." karena tidak ingin mengecewakan putrinya, akhirnya Reno mengiyakannya.
Reno menurunkan Lena di depan Deana. Deana sedang mengemasi mainan Lena ke dalam boxnya karena sudah jam sembilan malam dan sudah waktunya Lena tidur.
"Yeay, Mommy! Aku boleh tidur dengan Mommy dan Daddy!" ungkap Lena senang lalu merangkul leher Deana dari belakang.
Reno menggeleng pelan melihat tingkah laku putrinya yang semakin hari semakin pintar itu.
Deana menelan salivanya susah payah. Bagaimana jika itu terjadi... Sungguh di luar ekspetasinya. Deana berharap jika Lena akan merubah permintaannya.
Deana berbalik badan dan ingin meminta penjelasan pada Reno, tapi Reno sudah pergi menghilang dari pandangannya.
"Ah ya... ayo sayang, kita pergi ke kamar. Mommy temani Len tidur."
Lena bersedekap dada, ia memanyunkan bibirnya ke depan, "Aku mau tidur di kamar Daddy. Kan sama Mommy...." ujarnya memperjelas.
"Kamar Daddy itu luas loh Mommy! Ayo kita ke kamar Daddy saja!" Lena menarik tangan Deana agar cepat menuju kamar Reno.
Deana pasrah mengikuti ke arah Lena berjalan walaupun semua mainannya belum terkemas rapi.
Berapa langkah berjalan, Deana langsung menggendong Lena dan membawanya menuju kamar Lena, "Sebelum tidur, ingat, Lena harus apa...??"
Lena meraih pipi Deana dengan tangan kecilnya dan menciumnya sekilas, "Len harus cuci tangan sama kaki, sikat gigi dan ganti baju, Mommy."
"Pintar." puji Deana mengangguk, "Supaya Len tidurnya nyenyak, jadi tubuh Lena harus nyaman." ucap Deana memberi pengarahan pada bocah kecil berusia lima tahun itu.
Lena yang belum sepenuhnya mengerti itu hanya mengangguk-angguk.
***
Bukan Lena saja yang mengganti bajunya, tapi Deana juga mengganti bajunya dengan daster, tapi karena putrinya ingin tidur di kamar Reno, Deana membalut tubuhnya lagi dengan cardigan panjang dan hijabnya.
"Walaupun dia tidak mengaggapku sebagai istrinya, lebih baik antisipasi saja daripada nanti aku kena batunya, dia kan mulutnya manis sekali bisa membolak balikkan fakta, hish!" Deana menggosok pelan tubuhnya setelah dibalurkan lotion. Kini, tubuhnya wangi.
Lena membawa Deana memasuki kamar Reno. Baru kali ini, Deana memasuki kamar suaminya, kamarnya sangatlah luas seperti apa yang dikatakan oleh Lena tadi, Deana sampai memujinya berkali-kali dalam hatinya.
Deana memandangi sudut kamar itu. Matanya menangkap sebuah foto bingkai berukuran besar di ujung kamar, tepatnya di atas sofa berwarna coklat tua itu. Memperlihatkan sebuah foto pernikahan Reno bersama Bella.
Deana menutup pintunya rapat-rapat, kakinya melangkah ke arah sana, "Oh... Ini Mbak Bella." gumamnya. Deana melihat wajah mantan istri suaminya itu dengan jelas, Deana akui Bella memang sangat cantik dan jauh sekali dengannya.
Melihat ke arah laci yang berada di sudut ruangan kamarnya juga terjejer rapi foto Reno dan Bella yang sedang travelling ke beberapa luar negeri itu, wajah keduanya sangatlah bahagia, berbanding terbalik jika Reno bersama dengan Deana sendiri.
Tangan Deana terulur mengelus bingkai-bingkai foto itu, "Kalian memang pasangan yang serasi sekali." Deana tersenyum tipis lalu mengembalikan bingkai itu di tempat semula.
Ceklek~
Pintu terbuka lebar, Deana terlonjak kaget saat mendengar pintu terbuka.
Reno menatap tajam ke arah Deana. Melihat Deana berada di sana membuat hatinya membara, "Apa yang sedang kamu lakukan di sana, hah?! saya tidak mengizinkanmu masuk ke kamar saya! Pergi kamu!"
Deana melirik ke arah kasur, ternyata Lena tidak ada di sana. Bahkan Deana tidak mendengar suara Lena yang berpamit pada dirinya, entah bocah kecil itu ke mana perginya.
"Le... Lena membawaku kemari, aku... Aku tidak tahu, Tuan." Deana menunduk pelan.
Reno berjalan cepat ke arah Deana lalu mencengkram erat pergelangan tangan Deana.
Deana sampai meringis kesakitan karena cengkraman Reno terlalu kuat sampai terasa seperti dicubit.
"Tuan, tolong lepaskan, ini sakit...." Deana menepis tangan Reno.
"Berani kau bawa-bawa nama anakku. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah mengizinkan kakimu menginjak ke kamarku. Mengerti!" tegas Reno lagi.
Deana menutup hidungnya dan sedikit menunduk, perutnya tiba-tiba terasa seperti diaduk. Ia mencium bau yang sangat busuk dan asam.
Karena tidak kuat lagi, Deana berlari menuju kamar Lena, ia memasuki kamar mandi dan mencuci wajahnya serta mulutnya, ia tidak muntah, hanya saja merasa mual karena mencium bau yang terasa tidak enak.
Reno menggeram, ia sangat sensi melihat tangan Deana yang menutup hidungnya itu.
Reno mengangkat kedua tangannya ke atas dan mencium kedua ketiaknya bergantian, "Dasar perempuan itu, beraninya mengataiku bau sampai menutup hidungnya seperti seseorang yang jijik denganku." dengusnya pelan.
Di kamar Lena, Lena yang melihat Mommynya kembali ke kamar itu kesal, "Mommy kenapa ke sini lagi? Len kan cuman mau ambil buku dongeng saja supaya bisa dibacakan Daddy." ujar Lena, tangan kecilnya sudah membawa beberapa tumpuk buku cerita itu.
Deana mengelap mulutnya yang basah itu dengan tisu, "Lena, maafkan Mommy ya... Lena ajak Daddy untuk tidur di sini saja, Mommy lebih suka di kamar Lena karena... Wangi." lanjut Deana di kata akhirnya hanya dalam hati.
Lena nampak menimang permintaan Deana itu, beberapa detik kemudian mengangguk, "Baiklah Mom, Len mau ajak Daddy ke sini. Mommy tunggu di sini."
Deana tersenyum lalu mengangguk, "Oke sayang."
Suster Ina memasuki kamar Lena, "Nyonya, kenapa Nona kecil belum juga tidur? Ini sudah mau jam sepuluh malam, seharusnya Nona Lena sudah tidur. Apa ada kendala? Saya bisa membantunya Nyonya." ucap Suster Ina dengan lembut. Ia tidak berani mengejar Lena yang sudah masuk ke dalam kamar Reno itu.
"Tidak ada Sus Ina, Lena memang ingin mengajak Tuan Reno untuk tidur bersama di sini." balas Deana.
Suster Ina justu melebarkan senyumannya, "Berarti dengan Nyonya juga. Baiklah kalau begitu saya tidak akan mengganggunya... Selamat malam Nyonya." ucap Suster Ina mengulum senyumnya lalu meninggalkan kamar Lena.