NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:872
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Deal

Gue mutusin buat balik ke Jakarta naik pesawat pagi itu juga. Kerjaan di Yogya lagi on track, tapi urusan tanah ini harus diselesaikan langsung sama Pak Krismono. Setelah sarapan cepet bareng Pipit, Poppy, dan Ulva, gue bilang, “Gue ke Jakarta bentar hari ini. Ada meeting penting sama bos. Malem atau besok gue balik.”

Poppy ngangguk, Ulva cuma senyum sambil lirik nakal. Pipit peluk gue erat, “Cepet balik ya Om.”

Pesawat landing di Soekarno-Hatta siang hari. Gue langsung ke rumah Pak Krismono di daerah elite Jakarta Selatan. Rumahnya besar, halaman luas, keamanan ketat. Pak Krismono sambut gue di ruang tamu yang mewah, Bu Krismono lagi di luar kota katanya.

“Gimana tanah di Piyungan?” tanyanya langsung sambil nyodorin kopi.

Gue laporin detail, legalitas lengkap, izin pembangunan villa sudah oke, lokasi strategis, dan villa contoh Bu Mutiara yang premium. “Harganya masih di angka yang dia tawarin kemarin, Pak. Tapi gue rasa masih bisa nego.”

Pak Krismono ngangguk-ngangguk, tapi mukanya agak nggak puas. “Harga itu masih tinggi buat gue. Bu Mutiara belum kasih penawaran final sih, tapi gue mau yang lebih pas dengan keuangan. Ada tanah lain nggak? Adiknya Bu Mutiara punya tanah bagus juga di sekitar situ katanya.”

Gue angkat alis. Ternyata Pak Krismono udah riset. “Iya Pak, bisa gue usahain. Gue yang akan langsung nego ke adiknya biar harga turun. Seolah-olah lu beli dari Bu Mutiara aja, biar nggak ribet.”

Pak Krismono nyengir. “Bagus. Lu jago urusan beginian. Kalau deal, tanah 500 m2 buat lu tetap jalan. Tapi nama sertifikat tetap atas nama gue dulu, lu yang urus semuanya.”

Gue ngangguk. Strategi ini masuk akal. Setelah meeting, gue langsung booking tiket balik ke Yogya sore harinya.

Sesampainya di bandara Adisutjipto, Bu Mutiara atau Tia udah nunggu di mobilnya. Dia pake dress santai yang ketat di tubuhnya yang masih mulus. “Mas, langsung ke villa yuk? Atau mampir hotel dulu?”

Gue senyum. “Hotel dulu deh, Tia. Capek perjalanan.”

Kami mampir ke hotel bintang empat di pusat Yogya. Begitu masuk kamar suite, Tia langsung berubah ganas. Dia dorong gue ke kasur, ciuman panas dan lapar. “Lama nggak ketemu Mas… Tia kangen banget.”

Gaunnya dilepas cepet, bikini dalamnya langsung keliatan. Tubuh 40 tahun itu masih kencang dan menggoda. Gue balas dengan sama panasnya. Tia minta dilayani habis-habisan. Dia naik di atas dengan gerakan liar, payudaranya bergoyang sensual, pinggulnya berputar nikmat. Gue remas pinggang rampingnya, bantu ritme yang makin cepat.

Kami ganti posisi berkali-kali. Tia sangat agresif, seolah lama banget nggak disentuh. Desahannya memenuhi kamar, badannya berkeringat. Gue capek duluan, tapi Tia masih mau lanjut. Akhirnya gue nyerah total, badan pegel semua setelah hampir dua jam sesi intens itu.

“Mas hebat,” bisik Tia sambil elus dada gue yang naik turun. Dia peluk gue erat, kulit mulusnya menempel hangat.

Sementara itu, di Kaliurang, Poppy dan Ulva mulai khawatir. Gue nggak kunjung pulang dari Jakarta. Poppy chat berkali-kali, “Lu di mana? Pipit nunggu.”

Ulva juga nelpon. “Kita cari ke kantor yuk, Pop. Kayaknya ada apa-apa.”

Mereka berdua naik motor nyari gue, tapi gue masih di hotel sama Tia.

Sore harinya gue lanjut ke Piyungan bareng Tia. Dia nunjukin tanah milik adiknya yang lebih luas dan posisinya lebih bagus. “Ini tanah Anggi, adik gue. Harga bisa lebih fleksibel.”

Kami ke rumah Anggi yang nggak jauh dari Kaliurang. Rumahnya mirip gaya Tia, mewah tapi hangat. Anggi keluar sambut kami. Gue langsung kaget mirip banget sama Tia. Usia sekitar 38, kulit mulus kuning langsat, tubuh proporsional dengan dada berisi, pinggang ramping, dan senyum yang sama menggoda. Anggi single, punya satu anak yang lagi tinggal sama orang tuanya.

“Mas dari kantor Pak Krismono ya? Silakan duduk,” kata Anggi ramah.

Gue langsung ke inti. Nggak panjang lebar, gue ajukan penawaran harga di bawah yang Tia kasih sebelumnya. Anggi dengerin sambil ngangguk, matanya sesekali lirik gue penuh arti. Negosiasi berjalan alot tapi lancar. Akhirnya deal di harga yang lebih rendah, pas dengan keinginan Pak Krismono.

“Tapi saya minta seluruh biaya yang nanggung Mas juga ditanggung,” kata Anggi tegas tapi manis. “Notaris, pajak, administrasi, semuanya.”

Gue setuju. “Deal. Besok gue siapin tanda jadi dan uang muka.”

Anggi senyum puas, jabat tangan gue agak lama. Tia di samping cuma nyengir, kayak tahu ada chemistry di antara kami.

Malam harinya gue pulang ke rumah Poppy. Pipit langsung lari peluk. “Om lamaaa! Tante Poppy sama Tante Ulva khawatir.”

Poppy dan Ulva natap gue curiga, tapi gue bilang meeting molor. Malam itu suasana tetap hangat. Setelah Pipit tidur, kami bertiga lagi habiskan waktu dengan penuh kelembutan dan gairah yang sudah biasa.

Pagi harinya gue lapor ke Pak Krismono via telepon dan email. “Deal Pak di harga lebih rendah. Tanah adik Bu Mutiara. Uang muka dan tanda jadi bisa gue urus hari ini. Seolah gue yang beli dulu, tapi nama akhirnya atas nama Bapak. Semua biaya Bapak tanggung.”

Pak Krismono ketawa puas. “Kerja bagus! Uang muka langsung gue transfer. Lu urus semuanya. Tanah hadiah buat lu tetap jalan.”

Gue senyum lebar. Semua berjalan sesuai rencana. Deal tanah ini bikin posisi gue di kantor makin kuat. Di Yogya, kerjaan cabang mulai stabil, Nada cekatan bantu administrasi, dan kehidupan pribadi… semakin ramai.

Siangnya gue ketemu Anggi lagi buat tanda tangan dokumen awal. Dia pakai dress sederhana tapi tetap seksi, mirip banget Tia. Obrolan kami nggak cuma soal tanah. Anggi cerita soal anaknya dan kehidupannya yang single. Ada kilat ketertarikan di matanya.

“Mas sering ke Yogya sekarang?” tanyanya sambil senyum.

“Iya, mungkin bakal boyongan.”

Anggi ngangguk, “Kalau ada waktu, mampir lagi ya. Bisa kita bahas… hal lain juga.”

Gue pulang ke kantor dengan pikiran penuh. Tanah Piyungan bakal jadi aset besar. Buat Pak Krismono, buat gue, dan mungkin buat masa depan.

Malam harinya di rumah Poppy, Ulva dan Poppy lagi masak bareng. Pipit main motor listrik baru dari Tia. Semuanya keliatan harmonis dari luar. Tapi gue tahu, di balik itu ada banyak rahasia Tia, Anggi, Rinda di Jakarta, Sinta yang hamil, Marita, Vera, Laras yang udah move on.

Gue duduk di teras, mikirin semuanya. Hidup ini kayak roda yang terus berputar cepet. Deal tanah ini bikin gue makin dipercaya Pak Krismono. Tapi harga yang harus dibayar kadang nggak cuma uang.

Poppy panggil gue makan malam. “Masuk yuk, udah siap.”

Gue masuk, peluk Pipit sebentar, lalu duduk bareng mereka. Senyum Poppy dan Ulva bikin gue tenang sementara. Besok urusan notaris dan transfer mulai jalan. Dan entah kenapa, gue udah mulai mikirin kapan ketemu Anggi lagi secara pribadi.

Yogya malam ini terasa lebih hangat. Tapi Jakarta, dengan Rinda yang nunggu, juga panggil gue balik sebentar lagi.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
Kim Borahae
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!