Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Setiap sentuhan Lucien membuat tubuh Alyysa terasa semakin panas.
Jantungnya berdetak tidak teratur saat pria itu terus mencium bibirnya perlahan dan penuh kesabaran.
Keduanya saling berpelukan erat di atas ranjang.
Tangan Lucien perlahan bergerak naik dan memasukan tangannya ke dalam celana d4l4m istrinya.
Napas Alyysa mulai terdengar sedikit bergetar.
Lucien mencium bibir istrinya berkali-kali seolah tidak pernah merasa cukup.
Tatapan pria itu begitu dalam dan penuh keinginan yang selama ini ia tahan.
"Alyysa..." bisiknya rendah.
Wanita itu memejamkan mata sambil memegang bahu Lucien erat.
Untuk pertama kalinya sejak sekian lama...
Alyysa merasakan dirinya benar-benar dihargai dan diinginkan, bukan hanya dijadikan pelampiasan.
Lucien menatap Alyysa dalam-dalam.
Napas pria itu mulai berat saat melihat wajah istrinya yang memerah di bawahnya.
Kesabaran yang selama ini ia tahan perlahan runtuh.
"Alyysa..." suara Lucien terdengar serak dan rendah."aku ingin memilikimu malam ini juga."
Wanita itu hanya mampu menggenggam bahu Lucien sambil memejamkan mata.
Tatapan Lucien perlahan dipenuhi keinginan yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Pria itu kemudian melepaskan jubah dan pakaian Alyysa perlahan satu per satu dengan penuh kehati-hatian, seolah sedang membuka sesuatu yang sangat berharga baginya.
Cahaya bulan menyinari tubuh mereka samar dari balik tirai tipis kamar.
Lucien terus mencium kening, pipi, hingga leher istrinya penuh kelembutan.
Tidak ada sikap kasar ataupun terburu-buru.
Yang ada hanya rasa posesif dan kasih sayang yang begitu dalam.
Setelah keduanya tanpa sehelai benang, Lucien bangkit dan melebarkan pangkalan paha istrinya, ia melakukan penyatuan dengan lembut.
Alyysa merasakan sesuatu yang tegang menghujam dirinya. Semakin lama semakin dalam.
Lucien menggoyangkan pinggulnya dengan perlahan dan menikmati malam yang begitu panas.
Malam semakin larut.
Lucien memeluk Alyysa erat di dalam pelukannya.
Napas keduanya masih belum sepenuhnya tenang setelah malam pertama mereka sebagai suami istri.
Alyysa bersandar di dada pria itu sambil memejamkan mata pelan.
Tubuhnya masih terasa lemas.
Sementara Lucien mengusap rambut istrinya perlahan dengan tatapan jauh lebih lembut dibanding biasanya.
Untuk sesaat tidak ada yang berbicara.
"Lucien..." panggil Alyysa lirih.
"Hm?"
"Kenapa kau begitu baik padaku?" tanyanya pelan.
Lucien menunduk lalu mencium kening wanita itu lembut.
"Karena kau adalah istriku."
Jawaban singkat itu membuat hati Alyysa terasa hangat.
Selama ini dirinya selalu hidup dalam tekanan dan rasa tidak aman.
Tetapi di sisi Lucien...
Untuk pertama kalinya Alyysa merasa benar-benar dilindungi.
Lucien memeluk pinggang istrinya lebih erat.
"Mulai hari ini," bisiknya rendah, "tidak ada lagi yang bisa menyakitimu."
Tatapan pria itu perlahan berubah gelap.
"Termasuk keluarga Fan."
Alyysa perlahan menggenggam tangan Lucien.
Meskipun dirinya masih merasa takut pada masa depan...
Malam itu, dalam pelukan pria tersebut, Alyysa memilih untuk percaya sekali lagi pada kehidupan dan cinta.
***
Lima tahun kemudian...
Waktu berlalu dengan cepat sejak Alyysa resmi menikah dengan Lucien Fan.
Kehidupan wanita itu berubah sepenuhnya.
Tidak ada lagi penghinaan, tangisan, ataupun tekanan dari keluarga Fan seperti dulu.
Kini dirinya hidup tenang bersama Lucien dan Kael di mansion mewah suaminya.
Sementara itu...
Kael yang dulu masih bayi dalam pelukannya kini telah tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat aktif dan tampan.
Halaman belakang mansion mewah itu sangat luas dan khusus dibangun seperti taman bermain anak-anak.
Rumput hijaunya terawat rapi.
Di sana terdapat berbagai permainan seperti perosotan besar, ayunan, rumah-rumahan kayu, jungkat-jungkit, hingga arena panjat kecil.
Suasana taman dipenuhi suara tawa ceria.
"Kejar aku kalau bisa!" teriak Kael sambil berlari cepat.
Anak laki-laki berusia lima tahun itu terlihat sangat lucu dan tampan.
Wajahnya putih bersih dengan lesung pipi kecil yang muncul jelas saat tersenyum.
Rambut hitamnya sedikit berantakan karena terus bermain.
Kael mengenakan kaus putih kecil dan celana pendek hitam sambil membawa pistol mainan di tangannya.
"Tuan Muda, jangan lari lagi!" teriak salah satu pengawal yang mengejarnya sampai kewalahan.
"Tidak mau!" jawab Kael keras kepala sambil tertawa lebar.
Anak itu sangat aktif dan sulit diam.
Ia terus berlari memutari taman sambil sesekali memanjat permainan dengan lincah.
"Aku menang lagi!" serunya bangga dari atas rumah-rumahan kayu.
Beberapa pengawal besar berbadan kekar hanya bisa saling pandang pasrah sebelum kembali mengejar anak itu.
Padahal biasanya mereka semua adalah pria dingin dan menakutkan.
Tetapi di depan Kael...
Mereka benar-benar tidak berdaya.
"Awas! Musuh datang!" teriak Kael penuh semangat sambil menembakkan pistol mainannya.
Salah satu pengawal langsung pura-pura jatuh.
"Ah! Kami kalah lagi dari Tuan Muda!"
Kael langsung tertawa puas sampai lesung pipinya terlihat semakin jelas.
Di balkon lantai dua mansion...
Lucien berdiri sambil memandang anak itu dengan tenang.
Tatapan dingin pria tersebut perlahan melembut.
"Tuan Muda benar-benar sangat aktif," ujar Lucas pelan di sampingnya.
Lucien menghisap cerutunya perlahan. "Dia terlalu berisik," jawabnya dingin.
Tetapi sudut bibir pria itu samar terangkat.
Semua orang tahu...
Lucien sangat memanjakan Kael.
Tidak jauh dari sana, Alyysa berjalan keluar membawa jus buah segar.
"Kael, istirahat dulu!" panggilnya lembut.
"Sebentar lagi, Mama!" jawab Kael cepat sebelum kembali berlari mengejar para pengawal dengan penuh semangat.
Tiba-tiba ponsel Lucas bergetar.
Pria itu segera menatap layar ponselnya sebelum wajahnya berubah serius.
"Bos," ucapnya rendah.
Lucien mengalihkan tatapannya dari Kael yang sedang bermain di taman.
"Ada apa?"
Lucas mendekat beberapa langkah lalu berkata pelan, "Wanita malam itu telah ditemukan."
Tatapan Lucien langsung berubah dalam.
"Dia membawa seorang anak laki-laki ke pusat perbelanjaan."
Suasana seketika terasa sunyi.
Lucien perlahan mematikan cerutunya. "Apa kau yakin dia wanita malam itu?" tanyanya dingin.
Lucas mengangguk tegas.
"Benar. Saya sudah memeriksa berulang kali. Dia adalah wanita yang masuk ke kamar Anda malam itu."
Lucien terdiam beberapa detik.
Tatapannya perlahan mengarah ke halaman bawah.
Di sana Alyysa sedang duduk sambil tertawa melihat Kael berlari mengejar para pengawal.
Wajah Lucien perlahan berubah rumit.
Sementara Lucas hanya diam menunggu perintah.
"Mari kita temui dia," ucapnya rendah.
"Baik, Bos."
Lucien kembali memandang Alyysa sesaat sebelum berbalik dan melangkah pergi bersama Lucas.
bagus kael. lawan dia yang bikin gara gara sama kamu aku mendukungmu.
selagi kau tidak bersalah jangan pernah tunduk sama siapapun kecuali sama ibumu.
ha ha ha ha
jangan jangan si kael ini adalah anak kandung dari lucien ya.
aku kok berharapnya seperti itu. bukan cuma sebagai anak sambung saja.
thor, bikinlah cerita seperti itu 😍😍🙏🙏🙏🙏🙏
jadilah wanita tangguh. selidiki anak itu tanpa sepengetahuan lucien. yaaah untuk berjaga jaga aja. karena aku iru curiga anak itu bukan anaknya lucien. aku curiga ini hanya jebakan untuk lucien.
thor, jangan di bikin orang lain yg tidur dgn lucien lima tahun lalu . buatlah yang tidur malam itu adalah allisyya.
mungkinkah itu alyssa sendiri. kau harus benar benar mencari tau ya. jangan gegabah.