Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Senja perlahan turun di langit Jakarta. Di dalam rumah Pratama, suasana terasa tenang dan itu terlalu tenang. Tidak ada suara televisi, tidak ada percakapan. Hanya bunyi kecil dari peralatan dapur yang sesekali terdengar.
Arsyi berdiri di depan kompor.
Tangannya sibuk mengaduk masakan, namun pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Sesekali ia melirik jam dinding yang tergantung di ruang makan.
Pukul enam lewat tiga puluh, dia terdiam sejenak. Arsyi menghela napas pelan. Namun, tetap saja ia memasak.
“Anggap saja ini kebiasaan lama…” gumamnya pelan, hampir seperti membela diri sendiri.
Beberapa saat kemudian, meja makan telah tertata rapi. Makanan tersaji sederhana dan tidak berlebihan, tapi cukup untuk dua orang.
Arsyi duduk di kursi.
Arsyi menatap layar ponsel beberapa detik sebelum akhirnya meletakkannya kembali.
“Mungkin masih di jalan…” bisiknya pelan. Namun, hatinya mulai terasa tidak nyaman.
Sementara itu, di sebuah restoran hotel yang mewah dan tenang, suasana sangat berbeda. Lampu temaram, musik lembut, dan meja-meja tertata elegan. Harsa duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya, manager dari perusahaan mitra bisnis yang sebelumnya membatalkan kerja sama.
Di sampingnya, Rina duduk dengan tenang, sesekali mencatat pembicaraan.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu, Pak,” ujar Harsa dengan nada profesional.
Pria itu mengangguk. “Kami juga merasa perlu menjelaskan secara langsung.”
Rina ikut tersenyum sopan. “Kami menghargai kesempatan ini.”
Percakapan pun berlangsung. Namun, di tengah diskusi itu ponsel Harsa bergetar. Ia melirik sekilas nama Arsyi muncul di layar.
Pesan masuk.
Namun, Harsa hanya menatap sebentar lalu membalik ponselnya. Rina yang duduk di sampingnya melihat hal itu. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya tersenyum tipis.
Pukul delapan malam, Arsyi masih duduk di meja makan. Makanan di depannya mulai dingin. Ia kembali meraih ponselnya. Kali ini, ia memberanikan diri mengetik.
[Kak Harsa, Kakak pulang jam berapa?]
Ia menatap pesan itu beberapa detik lalu menekan kirim. Arsyi menggigit bibir bawahnya pelan.
Ia mencoba tetap tenang.
“Mungkin masih rapat…” gumamnya. Namun kali ini, suaranya terdengar ragu.
Sedangkan di restoran Pembicaraan semakin serius.
“Keputusan pembatalan ini bukan tanpa alasan,” ujar pria itu pelan.
Harsa menatapnya tajam. “Saya ingin mendengar alasan yang sebenarnya.”
Rina ikut menyimak, sesekali mencuri pandang ke arah Harsa.
Ponsel Harsa kembali bergetar. Namun, kali ini ia bahkan tidak melirik. Fokusnya sepenuhnya pada pembicaraan. Dan tanpa ia sadari ada seseorang yang sedang menunggunya dengan perasaan tidak menentu.
Pukul sembilan malam, Arsyi berdiri di dekat jendela. Tangannya memeluk dirinya sendiri. Ia menatap ke arah gerbang. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Saya tidak minta ditemani…” bisiknya lirih.
“Saya hanya ingin diberi kabar…”
Di restoran Pertemuan akhirnya hampir selesai.
“Baik, Pak Harsa. Kami akan mempertimbangkan kembali kerja sama ini,” ujar pria itu.
Harsa mengangguk. “Saya harap keputusan yang diambil nanti bisa lebih jelas.”
Rina tersenyum sopan. “Terima kasih atas waktunya.”
Mereka berdiri. Saat berjalan keluar restoran, Rina berkata pelan,
“Malam ini cukup melelahkan, ya.”
Harsa mengangguk. “Tapi setidaknya kita mendapatkan sedikit kejelasan.”
Rina menatapnya sekilas. “Kadang … yang penting bukan hanya hasilnya. Tapi siapa yang menemani di prosesnya.”
Harsa tidak menanggapi.
Malam semakin larut ketika mobil Harsa akhirnya memasuki halaman rumah.
Lampu depan menyorot jalan setapak yang sepi. Tidak ada sosok yang menunggu di depan pintu seperti beberapa malam sebelumnya. Tidak ada bayangan seseorang yang berdiri dengan harap.
Harsa mematikan mesin mobil dan terdiam sejenak. Entah kenapa ada sesuatu yang terasa berbeda. Ia melirik ke arah jendela ruang tamu. Lampu masih menyala namun kali ini tidak ada siluet Arsyi di sana.
“Sudah tidur?” gumamnya pelan. Tanpa berpikir panjang, ia keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Pintu terbuka.
Suasana langsung menyambutnya dengan keheningan yang aneh. Biasanya ada suara langkah kecil atau suara pelan dari dapur.
Harsa menutup pintu perlahan, lalu melangkah ke ruang tamu. Matanya kemudian beralih ke ruang makan. Dan di sanalah ia melihatnya, meja makan masih tertata rapi. Harsa terdiam, langkahnya melambat. Ia mendekat, memperhatikan lebih jelas. Uap sudah tidak ada bahkan beberapa lauk terlihat mengering.
“Dia… menunggu,” gumamnya pelan.
Harsa berdiri cukup lama di depan meja itu, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju tangga. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya.
Di lantai atas, pintu kamar sedikit terbuka. Lampu di dalam masih menyala. Harsa mendorong pintu itu perlahan, dan di sana Arsyi duduk di samping boks bayi Melodi dan membelakanginya. Tangannya bergerak pelan, menepuk-nepuk lembut punggung bayi itu yang tampak sudah tertidur.
Arsyi tidak menoleh, seolah tidak menyadari kehadiran Harsa. Atau mungkin memilih untuk tidak menyadarinya. Harsa berdiri di ambang pintu beberapa detik.
“Aku pulang,” ucapnya akhirnya. Biasanya Arsyi akan langsung menoleh. Namun, kini hanya satu jawaban pelan, tanpa menoleh.
“Iya.”
Harsa mengerutkan kening.
“Kamu belum tidur?” tanyanya lagi.
Arsyi tetap pada posisinya. “Belum.”
Harsa melangkah masuk beberapa langkah. Tatapannya kini tertuju pada punggung Arsyi.
“Kamu menunggu?” tanyanya, kali ini dengan nada yang lebih rendah.
Beberapa detik hening, lalu Arsyi menjawab tanpa emosi.
“Tidak,”
Harsa menatapnya lebih dalam.
“Di bawah masih ada makanan,” ujarnya.
Arsyi akhirnya berhenti menepuk punggung Melodi.
“Itu sudah dingin,” jawabnya pelan.
Harsa menghela napas pelan. “Kenapa tidak dimakan dulu?”
Arsyi akhirnya menjawab, masih tanpa menoleh,
“Tidak lapar,"
Harsa yang kehabisan kata. Ia berdiri di sana, merasa seperti orang asing di dalam rumahnya sendiri.
“Lain kali … jangan menunggu,” ucapnya akhirnya, mencoba kembali pada sikap biasanya.
“Saya tidak menunggu.”
Arsyi menoleh, menatap Harsa. Tatapannya tidak berkaca-kaca.
Harsa terdiam.
Arsyi kembali mengalihkan pandangannya ke Melodi.
“Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan … saya mau istirahat,” ucapnya. Nada suaranya sopan namun jelas membatasi.
Harsa mengatupkan rahangnya, dia ingin mengatakan sesuatu, namun tak satupun kata yang keluar dari mulut Harsa.
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂