NovelToon NovelToon
LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.

Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Estetika Kehancuran

Asap hitam mengepul dari reruntuhan es yang hancur, namun He Xueyi tetap berdiri dengan dagu terangkat. Ia baru saja mengganti jubahnya dengan Sutra Awan Ungu yang berkilau setiap kali terkena cahaya lentera. Secara logika, mengenakan pakaian seharga satu blok bangunan di pusat Chang'an untuk bertarung adalah pemborosan, tapi bagi He Xueyi, itu adalah keharusan.

"Bian Zhi," ucap He Xueyi sambil merapikan sarung tangan sutranya. "Secara logika, jika aku harus menghancurkan tempat ini, aku ingin melakukannya dengan koordinasi warna yang pas. Api ungu lenteraku tidak cocok dengan dekorasi merah norak milik Permaisuri itu. Tolong bersihkan 'sampah-sampah' visual di sekitarku."

"Laksanakan, Tuan."

Tanpa banyak bicara, Bian Zhi melesat. Kecepatannya kini meningkat tiga kali lipat. Ia bukan lagi sekadar memotong arwah, tapi ia "membersihkan" area. Setiap kali pedangnya berayun, kabut merah yang mengganggu pemandangan He Xueyi langsung terserap ke dalam pusaran angin hitam yang diciptakan payungnya.

"Beraninya kau menyombongkan kecantikan di depanku!" raung Permaisuri Arwah. Tubuhnya kini membesar, kelopak persik di sekelilingnya berubah menjadi pisau-pisau kristal yang haus darah. "Aku adalah ibu dari negeri ini!"

He Xueyi membuka kipas hitamnya dengan gerakan malas. "Secara logika, 'Sayang', gelar itu sudah kedaluwarsa sejak kau memutuskan untuk membusuk di bawah tanah. Sekarang, kau hanyalah polusi udara bagi Chang'an."

Sang Permaisuri menerjang. Ribuan pisau kristal melesat bak badai meteor.

He Xueyi tidak menghindar. Ia hanya mengangkat Lenteranya tinggi-tinggi. "Bian Zhi, tahan fondasi istana ini. Aku tidak mau debu langit-langit mengotori rambutku."

Bian Zhi langsung menancapkan pedangnya ke lantai pualam, merapalkan mantra pengunci ruang yang membuat seluruh aula istana membeku dalam waktu.

Di saat yang sama, He Xueyi meniup sumbu lenteranya. "Logika Kematian: Mekar di Tengah Keheningan."

Bukan api yang keluar, melainkan ribuan helai benang energi ungu yang membentuk bunga teratai raksasa di udara. Benang-benang itu melilit setiap pisau kristal milik Permaisuri, mengubahnya menjadi debu berkilau dalam sekejap.

"Cantik, bukan?" He Xueyi tersenyum tipis, matanya berkilat narsis. "Secara logika, kehancuranmu harus terlihat seperti pertunjukan kembang api kelas atas. Biar orang-orang di Chang'an tahu, kalau Penjaga Paviliun sedang melakukan pembersihan besar-besaran."

He Xueyi melangkah maju, setiap pijakannya menciptakan riak energi yang menghancurkan mantra hitam di lantai. Ia berhenti tepat tiga langkah di depan Permaisuri yang kini gemetaran karena tekanan energi Yin He Xueyi yang jauh lebih murni dan "berkelas".

"Sekarang," He Xueyi melipat kipasnya dan mengetukkannya ke dagu sang Permaisuri yang ketakutan. "Beri tahu aku secara logika: Di mana kau simpan sisa esensi nyawa Kaisar yang kau curi? Jangan buat aku harus merobek gaunmu yang buruk ini untuk mencarinya."

Bian Zhi muncul di belakang Permaisuri, ujung pedangnya sudah berada di tengkuk sang arwah, siap mengeksekusi tanpa perlu perintah kedua.

Suasana istana mendadak hening, hanya ada suara detak jarum jam gaib yang menandakan bahwa waktu bagi sang Permaisuri sudah habis.

Permaisuri Arwah mencoba tertawa, namun suaranya pecah seperti kaca yang retak. "Kau pikir... kau sudah menang? Kaisar sudah memberikan jiwanya padaku sepenuhnya! Kami akan abadi dalam kegelapan!"

He Xueyi menguap kecil, tampak sangat bosan. "Secara logika, keabadian dalam kegelapan itu terdengar sangat membosankan dan... lembap. Aku lebih suka tidur di paviliunku yang wangi hio mahal."

Ia memutar lenteranya satu kali, dan seketika, bunga teratai ungu di udara menguncup, mengurung sang Permaisuri dalam penjara energi yang tak tertembus.

"Bian Zhi, bawa 'paket' ini kembali ke Paviliun. Aku bosan melihat wajahnya," perintah He Xueyi sambil berbalik pergi. "Dan oh, jangan lupa suruh Pangeran Li Wei membayar ganti rugi atas kerusakan jubahku ini. Secara logika, anggaran paviliun bulan ini harus tetap surplus."

He Xueyi melangkah keluar dari aula istana yang hancur lebur, meninggalkan Kaisar yang terduduk lemas meratapi kegagalannya. Di bawah sinar bulan Chang'an, He Xueyi tampak bersinar, bukan karena sihir, tapi karena kepercayaan dirinya yang berada di level dewa.

"Tuan," panggil Bian Zhi yang mengikuti di belakang sambil menyeret penjara energi Permaisuri. "Bagaimana dengan sisa pengikut Pangeran di luar?"

He Xueyi tidak menoleh, ia hanya terus berjalan menuju kereta kencananya. "Habisin. Secara logika, aku tidak mau ada saksi yang melihatku berkeringat sedikit tadi."

"Laksanakan, Tuan."

Malam itu, Chang'an kembali sunyi, namun bagi mereka yang mengerti, mereka tahu bahwa sang "Jang Man-wol" dari Paviliun Nyawa baru saja menyelesaikan satu lagi urusan pribadinya dengan gaya yang tak tertandingi.

1
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, sudah disuguhi pemandangan kayak gini awal-awal 😭
Diah nation: eh itu baru awalan lho tapi nanti pas tengah tengah bab bakal ada kejutan 😂😂baca aja dulu seru kok hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!