Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29: Penyelidikan yang Ganas dan Rencana yang Lebih Jahat
Empat minggu telah berlalu sejak Alexandria dan Darius pergi ke desa Oakhaven. Leonard telah mengirim lebih dari sepuluh surat memohon maaf dan menjelaskan bahwa dia telah menjadi korban intrik, namun semua surat hanya mendapatkan balasan yang sama, Alexandria mengatakan dia masih membutuhkan waktu dan belum siap untuk kembali.
"Kirimkan surat lagi besok pagi," perintah Leonard pada sekretarisnya dengan suara yang penuh dengan tekad namun juga rasa kelelahan.
"Aku tidak akan berhenti sampai dia mau mendengarkan penjelasanku."
Selain mengirim surat, Leonard juga telah memerintahkan Marcus untuk meningkatkan intensitas penyelidikan. Mereka telah menyelidiki semua pelayan yang bertugas malam itu, memeriksa setiap sudut kamar utama, bahkan mengumpulkan sampel dari gelas anggur yang digunakan malam itu untuk diperiksa oleh ahli ramuan istana.
"Hasil pemeriksaan sudah keluar, Yang Mulia Raja," ucap Marcus dengan serius saat masuk ke ruang kerja Leonard.
"Gelas anggur memang mengandung zat bius perangsang yang dibuat dari ramuan haram, ramuan yang biasanya hanya bisa diperoleh dari seorang ahli ramuan yang sangat terampil atau dari orang yang memiliki akses khusus ke pasar gelap."
Leonard mengerutkan kening mendengarnya. "Siapa saja yang memiliki akses ke ramuan semacam itu di kerajaan?"
"Beberapa ahli ramuan istana, beberapa bangsawan kuno, dan juga beberapa pedagang yang memiliki izin khusus," jawab Marcus sambil memberikan sebuah daftar nama.
"Kami sedang menyelidiki setiap nama di daftar ini satu per satu."
Namun penyelidikan tidak berjalan mulus. Beberapa orang yang diselidiki tiba-tiba tidak bisa ditemukan, atau memberikan kesaksian yang tidak konsisten. Leonard merasa bahwa ada tangan yang kuat yang sedang mencoba menutupi jejak mereka, membuat penyelidikan semakin sulit.
Sementara itu, di desa Oakhaven, kehidupan Alexandria dan Darius terasa lebih damai namun juga penuh dengan rasa rindu. Darius sering bertanya tentang ayahnya, menginginkan untuk bermain bersama seperti dulu di taman istana.
"Kapan kita bisa kembali ke Ayah, Bu?" tanya Darius dengan suara yang penuh dengan rasa rindu saat mereka sedang makan makan malam bersama.
"Aku ingin menunjukkan padanya pohon apel yang sudah mulai menghasilkan buah di halaman rumah kita."
Alexandria merasa hatinya tertekan mendengar pertanyaan putranya. Dia juga merindukan Leonard, merindukan pelukan hangatnya dan cara dia melihatnya dengan penuh cinta. Namun rasa sakit dan kecewa yang ada di dalam hatinya masih terlalu besar untuk bisa segera melupakannya.
"Belum tahu sayangku," jawabnya dengan lembut, menyentuh pipi putranya dengan lembut. "Kita tinggal di sini sebentar saja ya, sampai Ibu bisa berpikir dengan jernih."
Beberapa hari kemudian, sebuah surat dari Leonard datang lagi, kali ini yang kesebelas. Dalam surat itu, Leonard mengatakan bahwa penyelidikan sudah mulai menemukan petunjuk penting dan memohon agar Alexandria mau memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan semua secara langsung. Namun sekali lagi, Alexandria menolak dengan lembut, mengatakan bahwa dia masih belum siap.
"Aku tidak bisa melihatnya sekarang, Pak Mentari," ucap Alexandria dengan suara penuh kesedihan saat menunjukkan surat itu kepadanya.
"Setiap kali aku membayangkan wajahnya, aku hanya bisa melihat apa yang kudengar dan lihat pada malam itu."
Pak Mentari mengangguk dengan pengertian.
"Aku mengerti, Yang Mulia. Tapi terkadang kita perlu memiliki keberanian untuk menghadapi hal yang membuat kita sakit agar bisa menemukan kebenaran yang sebenarnya."
Sementara itu, Seraphina melihat dengan puas bagaimana rencana pertamanya berhasil dengan baik. Alexandria masih tinggal di desa Oakhaven dan menolak untuk kembali, sementara Leonard semakin lemah akibat stres dan rasa sakit yang dia alami. Sekarang saatnya untuk menjalankan rencana kedua yang telah dia siapkan dengan sangat cermat.
"Sekarang waktunya untuk membuat mereka tidak mungkin bisa kembali bersama lagi," gumam Seraphina dengan senyum jahat saat bertemu dengan Liana di kamar rahasianya.
"Kita perlu membuat semua orang percaya bahwa hubunganmu dengan Raja Leonard sudah sangat serius, bahkan mungkin ada sesuatu yang membuat mereka harus menikah."
Liana mengangguk dengan penuh semangat. "Apa yang harus kulakukan, Nyonya Seraphina?"
"Kamu akan mulai menyebarkan kabar bahwa kamu sedang mengandung anak Raja Leonard," perintah Seraphina dengan suara yang penuh dengan kejam.
"Kita akan menyusun segala sesuatu sehingga semua orang akan percaya padamu, bahkan mungkin kita bisa menemukan seorang dokter yang bersedia untuk berbohong demi uang."
Liana sedikit ragu mendengarnya. "Tapi bagaimana jika mereka melakukan pemeriksaan medis yang menyeluruh?"
"Jangan khawatir," jawab Seraphina dengan penuh keyakinan.
"Aku sudah menyusun segala sesuatunya. Kita akan menemukan cara untuk membuat semua orang percaya bahwa anak di dalam kandunganmu adalah milik Raja Leonard. Dan ketika kabar itu sampai ke telinga Alexandria, dia akan pasti tidak akan pernah mau kembali lagi."
Dalam beberapa hari berikutnya, kabar bahwa Liana sedang mengandung anak Leonard mulai menyebar dengan sangat cepat di seluruh istana dan bahkan ke desa-desa sekitar. Beberapa pelayan yang telah dibayar oleh Seraphina mulai menyebarkan cerita bahwa mereka telah melihat tanda-tanda kehamilan pada Liana, bahkan ada yang mengatakan bahwa dokter istana telah mengkonfirmasikannya.
"Yang Mulia Raja, kabar tentang kehamilan Liana sudah menyebar luas," lapor Marcus dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran saat menemui Leonard.
"Rakyat mulai merasa sangat kecewa dan beberapa bahkan mulai memprotes di luar istana."
Leonard merasa darahnya membeku mendengarnya.
"Itu tidak mungkin! Aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali! Ini pasti kebohongan yang dibuat oleh orang yang sama yang berada di balik semua ini!"
Namun meskipun dia bersikeras demikian, kabar itu terus menyebar dan semakin banyak orang yang mulai mempercayainya. Beberapa menteri kerajaan mulai datang padanya dengan saran untuk segera menikahi Liana agar bisa menjaga martabat kerajaan.
"Yang Mulia Raja, ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nama baik kerajaan," ucap salah satu menteri tua dengan suara yang penuh dengan keprihatinan.
"Jika Anda tidak menikahi dia, rakyat akan semakin marah dan mungkin akan terjadi kerusuhan."
Leonard merasa sangat frustrasi dan marah mendengarnya. Dia tahu bahwa semua ini adalah kebohongan, namun dia tidak memiliki bukti yang cukup untuk membuktikannya. Tubuhnya semakin lemah akibat stres yang luar biasa, dia sering merasa pusing dan tidak bisa makan dengan baik, namun dia tetap bekerja keras untuk menjalankan pemerintahan dan mengawasi penyelidikan.
"Aku tidak akan menikahi wanita itu atau siapapun selain Alexandria!" tegas Leonard dengan suara yang penuh dengan tekad.
"Aku akan menemukan bukti bahwa semua ini adalah kebohongan dan membuktikan kesucianku!"
Sementara itu, di desa Oakhaven, kabar tentang kehamilan Liana juga mulai terdengar. Alexandria merasa seperti mendapatkan pukulan keras di hatinya saat mendengarnya dari salah satu penduduk desa yang datang dari kota besar.
"Yang Mulia Ratu, saya sungguh menyesal harus memberitahu Anda ini," ucap penduduk desa itu dengan rasa kasihan.
"Namun kabar itu sudah sangat luas dan banyak orang yang mempercayainya."
Alexandria merasa tubuhnya menjadi lemah dan dia hampir pingsan. Darius yang melihatnya khawatir segera berlari untuk memanggil Pak Mentari. Setelah diberikan ramuan penyembuh, Alexandria akhirnya bisa bernapas dengan lega, namun wajahnya tetap penuh dengan rasa sakit yang luar biasa.
"Semua yang kulakukan adalah salah besar ya, Pak Mentari?" bisiknya dengan suara yang lemah dan penuh dengan keputusasaan. "Apakah dia benar-benar telah berubah dan tidak mencintaiku lagi?"
Pak Mentari menyangkal dengan kuat.
"Tidak ada yang lebih jauh dari kebenaran, Yang Mulia Ratu. Raja Leonard adalah orang yang sangat mencintai Anda dan Putra Darius. Semua ini pasti adalah bagian dari rencana jahat yang dibuat oleh orang yang tidak suka melihat Anda berbahagia."
Namun meskipun kata-kata Pak Mentari memberikan sedikit penghiburan, rasa sakit dan kecewa yang ada di dalam hati Alexandria semakin dalam. Dia mulai meragukan apakah dia akan pernah bisa mempercayai Leonard lagi, atau apakah mereka akan pernah bisa kembali seperti dulu.
Di istana, Leonard merasa semakin tertekan dan kesepian. Dia sering menghabiskan malam hari sendirian di kamar utama mereka, menatap foto keluarga mereka dan memegang kalung kumbang yang pernah dia berikan pada Alexandria. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melakukan segala yang bisa untuk membongkar kebohongan itu dan membujuk Alexandria untuk kembali, bahkan jika itu harus menghabiskan seluruh sisa hidupnya...