NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 — Pertanyaan yang Tidak Diajukan

“Kalau aku terus menatapmu seperti ini… kau akan mulai merasa terganggu?”

Suara Alice memecah keheningan ruangan yang pengap oleh aroma ozon dan logam. Layar besar di dinding sudah gelap kembali, namun pendar sisa data Helix yang baru saja ditampilkan seolah masih tertinggal di udara, menciptakan atmosfer vakum yang menyesakkan.

Leon berdiri di dekat meja logam, tidak terpengaruh oleh intensitas tatapan Alice. Ia sibuk membersihkan pistol Glock-17 miliknya. Gerakannya tenang, ritmis, dan penuh presisi. Seperti sebuah metronom maut yang tidak mengenal rasa lelah. Ia tampak terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengetahui skala ancaman yang sedang mengepung mereka.

“Tidak,” jawab Leon singkat tanpa menoleh.

Klik.

Bagian senjata terkunci dengan bunyi mekanis yang tajam. Alice menyilangkan tangan di depan dada, menyandarkan bahunya pada pilar beton yang dingin.

“Tidak terganggu… atau kau memang tidak peduli?” kejar Alice lagi.

Leon tidak langsung menjawab. Ia meletakkan pistolnya dengan perlahan di atas kain flanel, seolah benda itu adalah bayi yang rapuh. Barulah ia menoleh, menatap Alice dengan iris matanya yang datar dan tidak terbaca.

“Ada perbedaan?” tanya Leon balik.

Alice tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung sedikit rasa pahit. “Bagi orang normal? Ada perbedaan besar antara toleransi dan ketidakpedulian.”

Sunyi sejenak menyergap. Alice berjalan perlahan mendekat, langkah sepatunya terdengar pelan di atas lantai logam. Ia tidak terburu-buru, tidak juga mencoba menekan, namun jelas—ia sedang melakukan apa yang paling ia kuasai: observasi klinis.

“Kau bergerak terlalu cepat, Leon,” katanya akhirnya, berhenti tepat dua meter di depan pria itu.

Leon tidak memberikan reaksi fisik apa pun. Wajahnya tetap seperti pahatan batu.

“Refleksmu,” lanjut Alice, matanya menelusuri garis otot di lengan Leon yang tampak tegang. “Itu bukan sesuatu yang biasanya dimiliki seseorang hanya dari latihan fisik biasa. Aku sudah melihat banyak atlet dan tentara, tapi kau… berbeda.”

Leon menatapnya lurus. “Aku tidak pernah bilang latihanku biasa.”

Alice mengangguk kecil. Jawaban itu masuk akal bagi orang awam, namun belum cukup untuk memuaskan nalar seorang dokter neurologi.

“Sebagai dokter, aku terbiasa melihat pola biologis,” katanya pelan, suaranya kini selembut bisikan. “Tubuh manusia punya batas mekanis, Leon. Dan milikmu seolah tidak mengenal batas itu.”

Keheningan kembali merayap. Leon bersandar sedikit ke meja logam, menciptakan jarak yang tipis namun tegas. “Lalu, apa kesimpulanmu, Dokter?”

Alice menghela napas ringan, bahunya sedikit merosot. “Belum ada kesimpulan. Hanya tumpukan pertanyaan yang mulai menggunung.”

Ia menatap Leon lebih dalam, mencoba menemukan retakan di balik topeng Phantom yang dingin itu. “Aku tidak sedang mencoba membongkar rahasiamu, Leon. Aku hanya mencoba memahami dengan siapa aku sedang berusaha bertahan hidup.”

Kalimat itu menggantung di udara. Sebuah pernyataan yang jujur, tanpa tuduhan, namun penuh dengan beban emosional yang selama ini Leon hindari. Leon menatapnya selama beberapa detik yang terasa abadi.

“Aku seseorang yang memastikan kau tetap hidup,” sahut Leon. Nada suaranya rendah dan stabil, seolah itu adalah satu-satunya identitas yang ia izinkan untuk Alice ketahui.

Alice tersenyum kecil, kali ini senyumnya terasa lebih tulus. “Aku tidak meragukan itu.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan suasana sedikit mencair sebelum melontarkan pertanyaan yang sedari tadi berputar di benaknya. “Apakah kau pernah terlibat dengan Helix sebelumnya? Secara personal?”

Pertanyaan itu keluar dengan sangat halus, tanpa tekanan maupun jebakan. Leon tidak menjawab selama beberapa detik. Kali ini, keterdiamannya bukan karena ia sedang menyembunyikan sesuatu, melainkan karena ia sedang memindai memori di kepalanya. Memori yang terasa kabur dan penuh lubang.

“Tidak,” jawab Leon. Satu kata, jelas, dan tanpa ragu sedikit pun.

Alice memperhatikannya dengan saksama, mencari tanda-tanda kebohongan pada mikroskopik ekspresi Leon, namun ia tidak menemukannya. Leon benar-benar yakin dengan jawabannya.

“Tidak pernah?” Alice memastikan sekali lagi.

Leon menggeleng perlahan. “Kalau aku pernah berada di dekat mereka sebelumnya, aku pasti sudah membunuh mereka sejak lama. Aku tidak punya alasan untuk bekerja sama dengan orang-orang seperti itu.”

Nada suaranya tetap dingin, namun Alice bisa merasakan kejujuran yang mutlak di sana. Alice mengangguk pelan, seolah sedang mencentang satu kotak di dalam kepalanya. Ia mundur satu langkah, memberikan ruang bagi Leon.

“Baik.”

Ia tidak melanjutkan interogasinya. Ia tahu kapan harus berhenti menekan. Namun, pikirannya tetap bekerja dengan kecepatan tinggi, menyusun fragmen-fragmen keanehan biologis Leon yang tidak sinkron dengan pengakuannya.

“Kalau begitu…” gumam Alice pelan, hampir seperti sedang berdialog dengan dirinya sendiri, “kau hanyalah manusia yang terlalu keras melatih dirinya hingga melampaui batas kewajaran.”

Leon melirik sekilas ke arah Alice saat ia mengambil botol air dari meja. “Di kota seperti Valmere, menjadi tidak wajar adalah cara untuk tetap bernapas.”

Alice tersenyum tipis. “Tidak. Yang normal biasanya sudah berakhir di dalam kantong mayat.”

Sunyi kembali turun, namun kali ini atmosfernya tidak lagi tegang. Ada rasa saling pengertian yang mulai tumbuh di antara mereka. Sebuah ikatan yang lahir dari bahaya. Leon melempar botol air mineral itu ke arah Alice tanpa peringatan.

Dengan refleks yang mengagumkan, Alice menangkapnya dengan satu tangan. Tepat dan cepat. Leon memperhatikan gerakan itu sekilas, memberikan pengakuan bisu tanpa perlu banyak komentar.

“Kau juga tidak lambat,” komentar Leon datar.

Alice membuka tutup botol, meneguk airnya sedikit. “Insting bertahan hidup. Bukan refleks untuk membunuh.”

Leon tidak menanggapi, namun Alice menyadari bahu pria itu sedikit lebih rileks dibandingkan sepuluh menit yang lalu. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang ditemani dengung mesin server di latar belakang. Alice berjalan menuju jendela kecil yang tertutup rapat, hanya menatap bingkai besinya.

“Leon.”

“Ya.”

Alice tidak menoleh, suaranya terdengar jauh. “Kalau suatu hari aku mengetahui sesuatu tentangmu… sesuatu yang bahkan kau sendiri tidak menyadarinya…”

Ia menjeda kalimatnya, menciptakan ketegangan yang halus.

“…apakah kau ingin tahu?”

Pertanyaan itu terasa aneh dan berat. Leon terdiam, mempertimbangkan setiap kemungkinan di dalam benaknya. “Jika informasi itu membantuku menjagamu tetap hidup, maka ya.”

Alice mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban pragmatis itu. “Dan kalau tidak?”

Hening. Jawaban Leon datang setajam silet, tanpa keraguan. “Kalau tidak memberikan keuntungan taktis… maka itu tidak penting.”

Alice tersenyum pahit. “Kadang, Leon… hal yang kau anggap tidak penting justru adalah hal yang paling sanggup menghancurkan seseorang berkeping-keping.”

Leon tidak menjawab. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud Alice, setidaknya belum saat ini. Baginya, dunia adalah hitam dan putih, hidup atau mati.

“Cukup.”

Suara Gray memotong percakapan mereka. Suaranya tenang, namun memiliki otoritas yang langsung mengubah suhu di dalam ruangan. Alice dan Leon serentak menoleh ke arah sudut ruangan yang paling gelap.

Gray berdiri di dekat konsol utama. Sejak tadi ia berada di sana, memposisikan dirinya sebagai pengamat yang tidak terlihat, mendengarkan setiap getaran suara mereka dengan kalkulasi yang dingin.

“Kalau kalian sudah selesai membahas filosofi eksistensial yang tidak akan kalian akui itu…” Gray menekan beberapa tombol pada panel kontrol. Pendar biru dari layar besar kembali menerangi wajah-wajah mereka yang tampak lelah. “…mungkin kalian ingin melihat kenyataan yang sedang bergerak di luar sana.”

Leon menyipitkan mata, melangkah mendekati Gray. “Apa yang kau temukan?”

Gray tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memutar layar ke arah mereka. Data-data baru mulai muncul, memetakan topografi digital Valmere yang kini dipenuhi oleh titik-titik merah yang berkedip cepat. Jumlahnya sangat banyak.

Alice menahan napas, tangannya menutup mulut. “Itu…?”

“Perimeter penyisiran Helix,” jawab Gray datar. “Mereka tidak lagi bergerak dalam skala kecil. Mereka mulai mengaktifkan protokol pembersihan penuh.”

Sunyi yang turun kali ini terasa sangat berat. Leon menatap layar itu tanpa berkedip, memindai pola pergerakan musuh dengan otak taktisnya. “Seberapa cepat mereka bergerak?”

Gray bersandar pada kursi ergonomisnya, menatap Leon dengan tatapan yang sangat serius. “Lebih cepat dari yang kuprediksi. Mereka menggunakan infrastruktur kota untuk melacak kita.”

Alice menatap Leon. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda di balik wajah dingin sang pelindung. Bukan sekadar Phantom, tapi seorang pria yang sudah terlalu lama bertarung sendirian di dalam kegelapan.

Gray melanjutkan, suaranya kini ditujukan langsung pada Leon. “Sekarang kau bisa berhenti berpura-pura bahwa semuanya masih berada di bawah kendalimu, Leon.”

Hening yang menyesakkan.

“Mereka tidak lagi mencari untuk menangkap,” lanjut Gray dengan ketajaman yang mengerikan. “Mereka akan mulai menghancurkan apa pun yang menghalangi jalan mereka.”

Ruangan itu mendadak sunyi, namun itu bukan sunyi yang mendatangkan ketenangan. Ini adalah sunyi yang muncul sesaat sebelum sebuah bangunan raksasa runtuh. Alice menggenggam botol air di tangannya lebih erat, hingga jemarinya memutih.

“Leon…” suaranya pelan, namun mampu memotong dengung mesin. “Ini semua terjadi karena keberadaanku, kan?”

Leon tidak menjawab. Dan keterdiamannya adalah kejujuran yang paling menyakitkan bagi Alice. Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan hatinya yang mulai retak. Ia tidak panik, tidak juga menangis. Ada ketegasan baru yang muncul di wajah sang dokter.

“Aku mengerti sekarang,” kata Alice lirih.

Leon menoleh, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Ini bukan tentang sekadar bertahan hidup lagi,” lanjut Alice, matanya mengunci tatapan Leon. “Ini tentang seberapa lama kita bisa tetap bernapas sebelum mereka memutuskan untuk mengakhiri drama ini.”

Leon tidak menjawab, namun Alice melihat tangan pria itu perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Gray memperhatikan mereka berdua dalam diam, terus menghitung setiap variabel dan kemungkinan yang tersisa. Di dalam bunker itu, perang yang sebenarnya telah resmi dimulai dan tidak ada jalan untuk kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!