NovelToon NovelToon
Randy Sang Tabib Tampan

Randy Sang Tabib Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Harem / Dokter Ajaib
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.

Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.

Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tantangan Sang Dokter Cantik

Hari ini hari terakhir ujian semesteran yang cukup membuat Randy stress, coffee  shop kecil dekat kampus menjadi tujuannya untuk healing sejenak usai melewati minggu ‘neraka’ di kampus.

“Biasa. Xavira, cappucino 1,” kata Randy kepada Xavira, waitress sekaligus owner  coffee shop itu yang sudah dikenalnya dengan baik.

“Kirain sudah lupa, sama Xavira dan coffee shop ini,” kata Xavira tersenyum centil.

“Nggaklah, mana bisa lupa?” jawab Randy sambil membalas senyum Xavira. “Tiap hari juga lewat, cuma belakangan ini sibuk, apalagi barusan selesai ujian semesteran.”

“Kirain karena udah makin ngetop, coffee shop sekecil ini nggak level buat Bang Randy, maunya ke coffee shop-coffee shop yang bergengsi,” balas Xavira sambil meracik kopi pesanan Randy. Xavira bukan cuma berbasa-basi, nama Randy semakin tenar sebagai penyembuh segala penyakit, walau sekuat apapun dia menyembunyikan hal tersebut.

“Hah, top itu maksudnya Tolong Orang Pusing,” canda Randy sambil menanggapi gurauan Xavira. “Tahu  aja kamu, Xav,  aku lagi pusing mikirin ujian semesteran.”

“Tapi serius, bang Rand, beberapa kali abang muncul di reel facebook, youtube atau tiktok sedang menyembuhkan orang sakit,” kata Xavira kali ini dengan mimik serius.

Randy belum sempat menjawab, pintu coffee shop tiba-tiba terbuka, dan masuklah Tono, teman seangkatan Randy di kampus.

“Rand, gua cari elu dari tadi, rupanya bener lu mungkin lagi nongkrong di sini kata Susanto,” kata Tono sambil terengah-engah. “Gua butuh bantuan sentuhan ajaib lu buat nyembuhin anak kecil.”

“Ada apa,Ton, sampai segitunya?” tanya Randy.

“Tetangga sebelah rumah gua, cucunya sakit parah, Rand,” kata Tono. “Nih anak sudah yatim piatu, ayah-ibunya sudah meninggal karena kecelakaan, jadi ikut kakek-neneknya sekarang. Kasihan, kayaknya perlu bantuan lu, Rand.”

Randy diam saja dan berpikir sejenak, lalu berkata, “gua sebenarnya ada janji sore ini, tapi gua batalin deh, dan gua ikut lu, di mana mereka sekarang?”

“Makasih, Ran,” kata Tono. “Mereka sekarang ada di RS Harapan Bangsa.”

“Oke, sebentar, gua batalin janji dulu ya Ton,” kata Randy sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelpon Mulan. Agak lama, baru Mulan mengangkat telepon.

“Halo, Lan, apa kabar,” kata Randy membuka percakapan di ponsel. “Sorry, mendadak aku harus ke rumah sakit, jadi batal dulu ke rumah kamu sore ini. Mungkin besok ke rumah kamunya.”

“Waduh, siapa sakit?” Tanya Mulan. “Padahal mama tadi buatin kamu es sarang burung.”

“Tetangga Tono, temen kuliah,” ujar Randy. “Es sarang burungnya masukkin kulkas aja, besok aku minum.”

“Iya deh, hati-hati,” kata Mulan lalu ponsel ditutup.

Setelah menyelesaikan pembayaran di coffee shop milik Xavira Randy dan Tono segera bergegas menuju rumah sakit beriringan dengan motor masing-masing. Tidak sampai sejam mereka sudah tiba di rumah sakit kecil dan yang tidak terlalu mewah itu, namun sesak oleh pengunjung. Mereka segera menuju kamar tempat cucu sang kakek itu dirawat.

“Pak Wiryono,” kata Tono sesampainya di kamar tempat cucu kakek itu dirawat. “Perkenalkan ini Randy, pak, kawan kuliah saya yang akan mencoba menolong cucu bapak.

Pak Wiryono segera melepaskan pelukannya dan meletakkan kepala cucunya di bantal tempat tidur. Anak itu tergolek lemah dan berwajah pucat, lalu mengulurkan tangannya.

“Wiryono,” kata pak Wiryono yang tampak layu dan penuh duka mendalam. “Kasihan anak ini, ayah-ibunya sudah meninggal, dan saya yang merawat, sekarang malah kena penyakit liver stadium akhir.”

“Saya Randy, pak,” kata Randy sambil melihat ke rah anak berusia sekitar 7 tahun yang sedang tergolek lemah. “Tono sudah cerita tentang bapak, apk. Semoga saya mampu menolong bapak.”

Tanpa membuang waktu, Randy melakukan ritual yang seperti biasa. Dia fokus memejamkan mata dan mendekatkan ke perut anak yang malang itu. Sensasi hangat kemudian muncul, diikuti ribuan setrum kecil yang menjalar di telapak tangannya dan telapak tangannya sedikit berwarna merah yang berpindah ke perut anak itu.

Tidak memakan waktu lama, ritual penyembuhan itu selesai. Dan tak berapa lama anak yang malang itu nampak mulai menggerakkan kelopak matanya.

“Andika,” bisik sang kakek memanggil nama cucunya.

“Biarkan dulu, Pak, biar proses penyembuhannya berjalan,” kata Randy. “Kami menunggu di ruang tunggu di luar ruangan ini saja.”

“Oh, baik nak Randy,” kata pak Wiryono mencoba tegar, tapi matanya yang tirus dan berair itu tidak bisa menyembunyikan perasaan hatinya. “Saya tidak tahu harus berterimakasih bagaimana.”

“Berterimakasihlah kepada Yang Diatas, pak,” jawab Randy pelan. “Saya hanya perantara.”

Lalu Randy dan Tono keluar kamar dan duduk di ruang tunggu di depan kamar.

Ruang tunggu Rumah Sakit Harapan Bangsa penuh sesak. Kakek berusia 78 tahun yang semalam dinyatakan sudah tidak ada harapan itu kini sudah bisa duduk dan tersenyum lemah kepada Pak Wiryono. Dengan instinct dalam mencari berita, para wartawan dan kamera TV tiba-tiba sudah berkerumun di sekitar Randy. Entah dapat info dari mana mereka.

Randy berdiri tenang dengan kaos hitam sederhana, dan tangannya memainkan kunci motornya. Seorang wartawan, atau setidaknya dari penampilannya dia mencerminkan dia seorang wartawan, memisahkan diri agak jauh ke belakang dan menelpon seseorang.

“Hari ini Randy melakukan miracle lagi pak, di Rumah Sakit Harapan Bangsa,’ kata seseorang itu.

“Baik, nanti kalau sudah sempat laporkan ke saya kronologi detailnya,” jawab orang di seberang telepon.

“Siap, pak,” jawab wartawan aspal itu.

Tiba-tiba seorang wanita bersepatu hak tinggi yang tegas dan lantang bersuara terdengar.

“Perhatian semuanya!”

Randy agak tersentak mendengar suara yang lantang dan tiba-tiba itu. Lalu dia membaca name tag yang ada di bagian dada jas putih wanita tersebut, Dokter dr. Nadia Pertiwi, Sp. PD.

Tanpa senyum dr. Nadia berbicara kepada para wartawan, lalu melangkah pelan ke arah Randy. Wajahnya nampak cantik tapi tampak ketus, dan jarang tersenyum. Namun aura tegasnya langsung mendominasi ruangan.

Lalu Ia berhenti tepat di depan Randy.

“Kamu namanya Randy kan?” tanpa basa-basi dia mengajak bicara Randy dengan suara lantang dan tegas. “Kamu baru saja melakukan praktik pengobatan di rumah sakit ini tanpa izin.”

Randy terkesiap mendengar perkataan dari dokter itu tanpa di sangka-sangka.

“Tim medis sudah tidak berhasil menangani penyakit pasien, lalu sekarang tiba-tiba sembuh setelah kamu melakukan pengobatan alternatif yang tanpa ijin itu?”

Semua kamera langsung menyorot mereka berdua.

“I… ini bukan inisiatif Randy dok,” kata Tono yang terbata-bata karena merasa tidak enak dengan Randy. “Saya yang memintanya, dok.”

Dr. Nadia diam saja dan tidak menanggapi perkataan Tono. Lalu dia melanjutkan bicara dengan suara yang semakin lantang, “Besok pagi jam 09.00 di ruang konferensi pers rumah sakit ini, saya minta kamu datang dan membuktikan secara ilmiah apa yang kamu lakukan.”

Randy hanya diam saja dan menelan ludah.

“Kalau tidak bisa, saya akan melakukan apa yang seharusnya saya lakukan!” lanjut dr. Nadia.

“Ada maksudnya dengan ‘tindakan yang seharusnya saya lakukan’”? Tanya Randy dalam hati.

Dengan cepat, Randy menguasai dirinya, dan menjawab dengan tenang, “baik dok, saya coba akan jelaskan besok semampu saya.”

Dr. Nadia agak terkejut melihat respons Randy yang membalas dengan tenang, tanpa gelagapan atau emosi yang berlebihan. Satu poin buat Randy bahwa dia mempunyai kontrol diri yang bagus. Namun, bagaimanapun dia usahakan tetap mempertahankan imagenya sebagai seorang dokter yang tegas dan menjawab dengan ekspresi datar, ‘baik, aku tunggu kamu, besok. Mohon kedatangan rekan-rekan wartawan juga.”

Sambil beringsut meninggalkan ruang tunggu pasien itu, dr. Nadia berkata dalam hati, salut juga anak muda itu bisa begitu tenang menghadapi para wartawan.”

Sebelum jam 9 pagi esoknya Randy ditemani Tono sudah berada di lobi rumah sakit Harapan Bangsa. Randy dan Tono langsung menuju lift lantai 5 rumah sakit itu, lokasi ruangan konferensi pers berada menurut resepsionis rumah sakit itu

Ruangan konferensi pers milik rumah sakit itu tidak terlalu luas, namun penuh sesak dengan beberapa hadirin dan para wartawan. Jumlah wartawan yang hadir di konferensi pers hari ini lebih banyak dari kemarin, dan beberapa diantaranya sibuk memfoto dan ruang itu ramai dengan kilatan-kilatan lampu flash para wartawan foto.

Di bagian depan sudah ada dr. Nadia dan beberapa dokter dan staf rumah sakit, dan Randy yang ditemani Tono dengan tangan kosong, hanya membawa sebuah buku agenda kecil’

“Selamat pagi semua, saya langsung ke inti masalah saja,” kata dr. Nadia membuka jumpa pers itu. “Menurut catatan medis, anak Andika, pasien yang ditangani oleh Saudara Randy, seharusnya tidak mungkin sadar dalam waktu 24 jam. Saudara Randy, jelaskan secara ilmiah apa yang sudah Anda lakukan.”

“Selamat pagi para dokter dan bapak-ibu sekalian, termasuk rekan wartawan,” Randy membuka waktu menjawabnya dengan tenang. “Saya tidak pernah mengklaim atau menjanjikan kesembuhan bagi pasien, karena saya memang tidak memiliki keahlian dan kompetensi di bidang itu.”

Dr. Nadia lalu semakin memojokkan Randy, “terus, apa yang sudah anda lakukan kemarin?”

“Dokter,” kata Tono menengahi. “Nama saya Tono, teman kuliah Randy. Benar apa yang dikatakan Randy, bahwa dia tidak pernah menawarkan jasanya dan tidak pernah menjanjikan kesembuhan pasiennya. Pak Wiryono, kakek Andika, pasien tersebut, adalah tetangga saya, dan saya prihatin dengan kondisinya, maka saya ajak Randy kesini dan tanpa bayaran apa-apa.”

“Terima Kasih, tapi saya menunggu penjelasan dari saudara Randy,” potong dr. Nadia dengan nada tinggi.

“Pertama-tama saya tidak berkompeten dalam hal medis, pahami itu dulu,” jawab Randy. “Dan mengenai apa yang telah saya lakukan, kalau saya jelaskan dokter, bapak dan ibu sekalian tidak akan percaya kalau saya jelaskan.”

“Bukan masalah percaya atau tidak percaya,” kata seorang wartawan. “Kami butuh penjelasan dari mas.”

Randy diam sejenak, tampaknya dia mempertimbangkan sesuatu sebelum menjelaskan. “Baik, kemampuan penyembuhan itu saya peroleh secara gaib.”

“Hah?” terdengar seruan kaget berbarengan dari para hadirin dan wartawan saling berpandangan, lalu ruangan yang sempit itu makin terasa sempit karena semua bersuara menunjukkan keheranannya.

Dr. Nadia tampak tidak puas dengan jawaban itu. “Itu bukan penjelasan ilmiah. Itu murni dongeng dan mitos.”

Randy tersenyum mendengar jawaban itu. “Sebelumnya saya juga tidak percaya hal-hal beginian, tapi setelah mengalami sendiri, mau tak mau saya harus percaya.”

Dan seseorang yang berpenampilan wartawan, merekam apa yang terjadi di ruangan tersebut termasuk pertanyaan dr. nadia dan jawaban Randy, sambil sesekali menelpon.

“Informasi yang bagus, teruskan,” kata suara di seberang telpon dengan nada memberi instruksi.

Randy tidak menyadari bahwa berbaur dengan para wartawan itu, juga ada Suwanto bertopi baseball, mengenakan kacamata dan bermasker.

“dr. Nadia bisa aku gunakan untuk menggagalkan hubungan Randy dengan Mulan,” kata Suwanto dalam hati sambil tersenyum walaupun  senyumnya itu tersembunyi di balik masker. “Bisa membuka chance nih.

“Ide gua, kalau hubungan Randy dan Mulan putus, terbuka celah Rody bisa menjalin hubungan dengan Mulan sebagai syarat agar utang gua lunas.”

1
Anonymous
semangat kak
Anonymous
semsngst kak
sitanggang
gak ada gregetnya ,masih polos monoton gitu2 saja
jc: ada masukan, biar greget?
total 1 replies
sitanggang
mcnya kok lemah yaa, parah siih ini🤦
jc: lemahnya dimananya ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!