Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
“REINFORCE.”
Dalam sekejap, mana mengalir ke seluruh tubuhnya.
Ototnya menegang. Indranya semakin tajam.
“…tapi akan ku buat kalian jadi samsak untuk latihanku malam ini.”
Kai melesat maju.
Dan para kobold itu juga bergerak.
Seperti yang Kai rasakan melalui deteksinya—
Mereka tidak menyerang lurus.
Mereka berpencar.
Satu ke kiri, satu ke kanan, satu tetap di tengah—membentuk pola serangan bersamaan.
“Hmm…” Kai tersenyum kecil.
“Mereka berpencar untuk menyerang bersamaan, ya…”
Langkahnya tidak melambat.
“Seperti biasa… gerakan kalian terlalu licik…”
SHING!
Satu tebasan cepat.
Kobold pertama bahkan tidak sempat bereaksi—tubuhnya terbelah sebelum serangannya mencapai Kai.
Darah muncrat ke tanah.
Kai berhenti sepersekian detik.
“…tapi—”
Ia mengangkat sedikit kepalanya.
“—ngelawan aku yang sekarang…”
Dua kobold lainnya menyerang dari sisi berlawanan , tapi namun tiba-tiba mereka berhenti.
“…meskipun jumlah kalian lebih dari ini…”
Ia memutar tubuhnya ringan.
Kedua kobold yang tersisa menatap tubuh rekan mereka yang tergeletak tak bernyawa.
Namun yang terjadi berikutnya… justru di luar dugaan.
Mereka mundur.
Lalu—berbalik arah.
Kabur.
Kai yang melihat itu langsung mengernyit.
“HAH? Lho kok malah kabur…?”
Untuk sesaat ia hanya berdiri, benar-benar tidak menyangka reaksi seperti itu dari makhluk yang biasanya agresif.
Namun—
Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
“Dia memang cepat sih… tapi…”
Tubuhnya menghilang.
—Teleport—
Dalam sekejap, Kai muncul tepat di hadapan kedua kobold yang sedang berlari itu.
“Kalian nggak bisa kabur lho…” ucapnya ringan. “…hihi.”
SHING!
Kedua kobold itu tumbang bersamaan tanpa sempat melawan.
Kai menghentakkan katana-nya ke samping, darah segar terpercik ke tanah.
“Hah…” ia menghela napas pendek. “Sekarang aku malah makin gampang buat ngalahin mereka…”
Ia mulai memasukkan kembali katana ke sarungnya—
GRRRRRRR—
Geraman berat.
Dalam jumlah banyak.
Kai langsung berhenti.
Perlahan ia menoleh ke belakang.
Dan saat itulah—
Matanya sedikit melebar.
Di balik semak-semak dan sepanjang jalan setapak—
Puluhan… tidak—
Ratusan kobold berdiri.
Mata-mata merah menyala dalam gelap.
“Sebanyak ini…?”
Kai terdiam sejenak.
‘Aku bisa aja ngalahin mereka… tapi…’
Pikirannya bergerak cepat.
‘Aku harus menggunakan skill—’
Ia berhenti sendiri.
‘Tidak… skill itu pasti bakal menarik perhatian party ini…’
Belum sempat ia menyelesaikan pikirannya—
“Kenapa, Kai?”
Suara dari belakangnya.
Santai.
Namun familiar.
“Kalau kau mau bantai-bantai… ajak kami dong.”
Kai langsung menoleh.
“...Kalian semua…?”
Di belakangnya, anggota White Snow sudah berdiri.
Sebagian masih tampak mengantuk, tapi aura mereka… siap bertarung.
“Maaf… kalian jadi kebangun, ya…” ucap Kai pelan.
Amane melangkah maju sedikit. Wajahnya memang masih menyimpan sisa kantuk, tapi senyumnya tetap ada.
“Cerita detailnya kita bahas nanti,” katanya ringan. “Yang lebih penting sekarang… makhluk-makhluk itu.”
Tanpa menunggu lagi—
Nia maju lebih dulu.
Ia menarik senjata panjangnya—pedang yang bentuknya menyerupai tombak, dengan sisi bergerigi yang terlihat brutal.
“Wah… akhirnya,” gumamnya.
Dengan satu ayunan penuh tenaga—
SWOOSH—CRASH!
Beberapa kobold langsung terbelah dalam satu serangan.
“Naah… pestanya baru dimulai sekarang loh!”
Pertarungan langsung pecah.
Anggota lain bergerak tanpa ragu.
Ada yang melantunkan sihir—bola api, kilatan cahaya, dan gelombang energi melesat ke arah musuh.
Ada juga yang maju dengan senjata di tangan—tebasan cepat, tusukan presisi.
Dalam hitungan detik—
Formasi kobold runtuh.
Jeritan mereka menggema singkat… lalu menghilang.
Kai hanya berdiri di belakang.
Diam.
Menyaksikan.
Serangan demi serangan menghantam tanpa ampun.
Dan tak lama—
Semua selesai.
Hutan kembali sunyi.
Tubuh-tubuh kobold berserakan di tanah.
Nia menyandarkan senjatanya di belakang leher, tersenyum puas.
“Sudah lama juga ya… White Snow pesta bareng begini.”
Kai akhirnya melangkah mendekat ke arah mereka.
Ia sedikit menundukkan kepalanya.
“Anu… terima kasih sudah menolong saya.”
Amane menggeleng kecil.
“Tidak perlu dipikirkan,” jawabnya. “Walaupun saya sendiri tidak berbuat apa-apa sih.”
Lalu ia menatap Kai.
“Selain itu… kenapa anda tidak segera memanggil kami?”
Kai sedikit gugup.
“Itu… m-maafkan saya… saya menyesal…”
Amane melangkah mendekat.
Tatapannya serius.
“Mungkin anda besar kepala setelah anda berhasil mengalahkan saya tadi siang,” katanya. “Tapi kenapa anda nekat bertarung… saat anda tahu anda kalah jumlah?”
Ia mendekatkan wajahnya.
Membuat Kai tanpa sadar mengangkat wajahnya sedikit.
“Anda harus merenungkannya baik-baik.”
“Ba-baik…”
Namun kemudian—
Ekspresi Amane berubah.
Melunak.
“...Tapi yang terpenting,” lanjutnya pelan, “saya lega anda baik-baik saja.”
Senyumnya kali ini—
Sangat lembut.
Dan entah kenapa—
Membuat Kai sedikit kehilangan kata-kata.
“Lain kali… tolong lebih andalkan kami,” katanya.
“Karena… anda sudah menjadi teman kami.”
Mata Kai membesar.
“Amane-san…”
Di kejauhan.
Di atas sebuah bukit.
Seseorang berdiri.
Jubah hitamnya berkibar tertiup angin malam.
Wajahnya setengah tertutup bayangan.
“Keliatannya… dia terlibat lebih dalam dengan White Snow dari yang ku kira…”
Matanya menatap langsung ke arah Kai.
( THANKS YANG UDAH BACA CERITA AKAN BERLANJUT PADA 18 JUNI 2026 )
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin