NovelToon NovelToon
Rahim Yang Terbelenggu DENDAM

Rahim Yang Terbelenggu DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Bad Boy
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nufierose

“Capek tidak, Sayang? Aku masih mau sekali lagi.”
“Kamu kuat sekali, Mas,” jawab istrinya sambil tersenyum lelah.
Tama tertawa pelan dan mencium pipi wanita itu dengan penuh kasih. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya pelan,
“Sudah diminum pilnya?”
Senyum sang istri perlahan memudar.
“Harus terus, Mas? Aku lelah minum pil KB…”
Tama terdiam sejenak sebelum mengelus rambutnya lembut.
“Turuti saja, Sayang. Ini demi kebaikan kita.”
Istrinya tidak pernah benar-benar mengerti mengapa Tama selalu menolak memiliki anak.
Malam kembali hening saat Tama memeluknya dari belakang. bayangan masa lalu itu kembali datang.
Sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku takut kamu meninggalkanku jika tahu siapa aku sebenarnya,” bisiknya dalam hati.
Karena jauh di masa lalu, Tama pernah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Dan jika kebenaran itu terungkap…
yang hancur bukan hanya rahasianya.
Tetapi juga pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CINTA DI TENGAH BADAI

BAB 32

Tama tertegun, ponselnya hampir jatuh saat melihat titik merah laser itu menari-nari di dahi Alisya melalui layar CCTV. Tanpa memutus panggilan video dengan Kevin, ia berteriak parau ke arah interkom rumah.

"ARGO! TIARAP! BAWA ALISYA MASUK SEKARANG! ADA SNIPER!"

Di layar, ia melihat Argo bergerak secepat kilat. Tanpa banyak tanya, Argo menerjang Alisya hingga mereka berdua jatuh ke lantai balkon, tepat sesaat sebelum sebuah peluru memecahkan kaca pintu geser di belakang mereka.

"Kevin, kalau terjadi sesuatu pada Alisya, aku pastikan kamu tidak akan punya waktu untuk memohon ampun," desis Tama ke ponselnya dengan suara yang sangat dingin.

"Datanglah ke dermaga lama, Kak. Bawa dirimu sendiri, atau laser itu tidak akan meleset lagi," tantang Kevin sebelum mematikan sambungan.

Tama tidak membuang waktu. Ia memerintahkan Gani untuk memantau keamanan rumah secara penuh dari jarak jauh dan memastikan tim medis siaga untuk Alisya. Sementara itu, ia bersama Selin dan Gery memacu kendaraan menuju area utara Jakarta.

menjadi saksi bisu konfrontasi berdarah ini. Di bawah temaram lampu dermaga yang berkedip, suasana terasa sangat mencekam. Bau garam laut bercampur dengan aroma solar yang tajam.

Dermaga lama ini dipenuhi tumpukan kontainer tua yang berkarat, menciptakan labirin gelap yang sempurna untuk jebakan.

Lokasi ini memiliki akses terbatas dan pengawasan yang minim di malam hari, menjadikannya tempat persembunyian yang ideal bagi Kevin

Gery dan Selin berpencar untuk melumpuhkan para penjaga di sekitar gudang, sementara Tama melangkah sendirian ke tengah dermaga. Kevin muncul dari balik kontainer, memegang kendali jarak jauh di tangannya.

"Akhirnya, sang monster kembali ke sarangnya," ejek Kevin.

"Lepaskan Alisya dari bidikanmu, Kevin. Ini urusan kita berdua," balas Tama.

Tepat saat Kevin hendak menekan tombol pada alat di tangannya, sebuah tembakan terdengar dari kejauhan. Bukan dari anak buah Kevin, melainkan dari Selin yang berhasil melumpuhkan sniper di atas menara pantau.

Pertarungan fisik pun pecah. Tama menerjang Kevin dengan seluruh sisa amarahnya. Pukulan demi pukulan mendarat, bukan hanya untuk membela diri, tapi untuk setiap tetes air mata Alisya dan nyawa bayi mereka yang hilang.

Di saat Tama sudah berada di atas angin dan bersiap memberikan pukulan terakhir, ia teringat janji pada Alisya. Ia berhenti tepat sebelum tinjunya mengenai wajah Kevin yang sudah bersimbah darah.

"Aku tidak akan membunuhmu," bisik Tama.

"Karena itu terlalu mudah bagimu. Kamu akan menghabiskan sisa hidupmu membusuk di penjara, melihatku dan Alisya bahagia dari balik jeruji besi."

Gani dan tim kepolisian yang sudah dihubungi Gery merangsek masuk, memborgol Kevin yang hanya bisa tertawa histeris dalam kekalahannya.

Jam 1 dini hariTama kembali ke rumah. Alisya menunggunya di ruang tengah, duduk di sofa dengan selimut melingkar di bahunya. Begitu melihat Tama masuk dengan baju yang robek Alisya langsung berlari dan memeluknya.

"Mas... kamu pulang..." isak Alisya.

"Aku pulang, Sya. Dengan tangan yang bersih," jawab Tama lembut.

Di sudut ruangan, Gery mendekati Selin yang sedang menyeka keringat di dahinya. Gery merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna beludru merah.

"Badainya sudah lewat, Lin. Sesuai janjiku... maukah kamu menjadi perisai hidupku selamanya?"

Selin tertegun, matanya berkaca-kaca, sebuah pemandangan langka. Ia tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Di tengah reruntuhan konflik keluarga itu, sebuah harapan baru mulai tumbuh.

Tidak a da hal yang romantis, Gery melamar Selin bahkan setelah situasi tegang mereda. Bagi Gery yang terpanting adalah Selin menerima lamarannya.

itu sudah cukup baginya.

Gery tidak mau menunda lagi, dia takut akan kehilangan Selin sepenuhnya.

----

alam di apartemen Selin terasa begitu sunyi, hanya suara detak jam dinding yang menemani ketegangan yang perlahan mencair menjadi kehangatan. Di jari manis keduanya, kini melingkar cincin yang sama, sebuah janji bisu yang diikat Gery dalam sebuah lamaran mendadak yang sangat emosional beberapa jam lalu.

Gery menarik napas dalam, menghirup aroma tubuh Selin yang selalu menenangkannya. Ia berdiri di belakang Selin, menyandarkan dagunya di pundak gadis itu yang terekspos karena gaun tidur tipis berbahan sutra yang dikenakannya. Dengan lembut, Gery mendaratkan ciuman-ciuman kecil di pundak Selin, membuat Selin memejamkan mata dan sedikit bergidik.

"Nikahi aku bulan depan, Lin," bisik Gery parau, suaranya terdengar sangat memohon di telinga Selin.

Selin tertawa.

“Hihi itu Seharusnya dialog ku Ger.”

Selin membalikkan badan, memegang kedua pipi Gery. Matanya yang biasanya tajam dan dingin kini melunak, dipenuhi kasih sayang.

"Aku sudah bilang, Ger. Tugasku menjaga Tama dan Alisya belum selesai. Kevin masih berkeliaran. Aku tidak bisa fokus pada pelaminan saat sahabat kita masih dalam ancaman kematian."

Gery mengangguk menyetujuinya.

"Aku akan menunggumu, selalu. Tapi setidaknya biarkan aku di sini malam ini," jawab Gery, tangannya melingkar posesif di pinggang Selin.

Gery, dengan segala rasa rindu yang memuncak, mencoba menuntun Selin menuju ranjang. Hasratnya untuk memiliki Selin sepenuhnya sangat besar, apalagi setelah malam-malam penuh peluru dan darah yang mereka lalui. Namun, tepat saat suasana semakin memanas, Selin menahan dada Gery dengan telapak tangannya.

Ia menatap Gery lekat-lekat, memberikan senyum paling tulus yang pernah Gery lihat.

"Cukup sampai di sini, Gery," ucap Selin dengan suara yang lembut namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan.

"Pondasi imanku tidak akan runtuh hanya karena suasana malam. Kamu menghargaiku sebagai calon istrimu, bukan?"

Gery menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. Ia tersenyum menyerah, lalu mengecup kening Selin lama.

"Kamu benar-benar wanita yang luar biasa, Lin. Itulah kenapa aku tergila-gila padamu."

Gery menarik Selin lebih rapat, hingga tidak ada lagi jarak di antara tubuh mereka. Gaun tidur sutra Selin terasa dingin di kulit, namun panas tubuh Gery memberikan kontras yang membakar.

Gery menunduk, menyapukan hidungnya di sepanjang leher Selin, menghirup dalam-dalam aroma vanila dan sabun yang maskulin namun feminine, aroma yang selalu menjadi candu baginya.

"Ger..." desah Selin lirih, tangannya meremas kemeja Gery yang sudah berantakan.

Gery beralih ke telinga Selin, membisikkan kata-kata yang membuat pertahanan Selin goyah.

"Kamu tahu betapa sulitnya bagiku untuk hanya diam saat kamu sedekat ini, Lin? Setiap malam aku memimpikan saat-saat seperti ini... saat hanya ada aku dan kamu, tanpa senjata, tanpa musuh."

Gery mulai mengecupi bahu Selin yang terbuka, jejak bibirnya terasa hangat dan menuntut. Tangannya yang lebar meluncur ke punggung Selin, mengelusnya dengan gerakan memutar yang intim, menarik tubuh mungil namun kuat itu agar semakin menyatu dengan dadanya yang bidang.

“Ger, cukup.” Selin berdesis namun Gery seakan tak menghiraukannya.

Saat Selin mendongak, Gery langsung menyambar bibirnya. Kali ini bukan lagi ciuman pertama yang ragu-ragu, melainkan ciuman yang penuh gairah, rasa lapar, dan kepemilikan. Gery menciumnya seolah Selin adalah udara yang ia butuhkan untuk bernapas.

Selin membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya naik melingkar di leher Gery, menarik pria itu agar tidak pernah menjauh.

Ciuman itu semakin dalam, semakin panas. Lidah mereka bertemu dalam tarian yang intim, saling mengeksplorasi rasa satu sama lain. Gery merapatkan tubuh Selin ke dinding, tangannya mulai merayap turun ke pinggang dan paha Selin, mengangkat tubuh wanita itu hingga Selin harus melingkarkan kakinya di pinggang Gery untuk menopang diri.

“Ger..” Selin mencengkram kuat lengan Gery.

Napas mereka menjadi berat dan tersengal-sengal di sela-sela ciuman yang memabukkan itu. Gery membawa Selin ke atas ranjang, merebahkannya dengan sangat hati-hati di atas seprai satin yang dingin. Ia berada di atas Selin, menatap wajah Selin yang memerah dengan mata yang sayu karena gairah.

Tangan Gery mulai membuka satu per satu kancing kemejanya sendiri, matanya tidak pernah lepas dari Selin. Namun, saat tangannya bergerak menuju tali tipis gaun tidur Selin, Selin memegang pergelangan tangan Gery.

Selin menggeleng pelan, meski napasnya masih memburu hebat.

"Jangan lebih dari ini, Ger... Kumohon. Aku ingin malam pertama kita menjadi sesuatu yang sakral setelah janji itu terucap."

Gery tertegun, menatap Selin yang terlihat begitu cantik dan rapuh dalam balutan gairah. Ia memejamkan mata, mengambil napas panjang untuk mendinginkan kepalanya yang sudah mendidih.

Dengan gerakan penuh kasih, ia memilih untuk menjatuhkan dirinya di samping Selin, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang protektif.

"Sial, Lin... kamu benar-benar ujian terberat dalam hidupku," gumam Gery sambil mencium dahi Selin dengan sangat dalam.

Selin tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada Gery, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan mulai stabil.

Malam itu, mereka tertidur dalam posisi saling mengunci, membiarkan kehangatan tubuh masing-masing menjadi pelipur lara atas segala kekacauan yang menanti mereka esok hari.

1
Mita Paramita
lanjut 😭😭😭
Ipus
mewek q Thor dibab in sampai tersendat" suaraku😭😭
R⁸
aaahhh kaaannn.. mesti deh c alisya terpengaruh 😒
Ipus
mau komen kaya gimana ya Thor,,?🤔satu kata az lah, kerennnn😊.
R⁸
aq knp ya, klo baca part tama selin.. suka dagdigdug serrr.. suudzhon aja klo mereka ada something 🤭🤣🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
R⁸: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
R⁸
mending tama alisya bicara dari hati ke hati dulu deh, tama harus jujur sama alisya, ttg semua nya.. n yakin, alisya ga bakal ninggalin tama, klo emang cinta mereka kuat fondasi nya
Yeni Suprianti Laba'a
terima kasih thor ceritanya bagus lanjut jgn lama2 up-nya
Yeni Suprianti Laba'a
lanjut thor
Nufie: siap kakak.. jangan lupa follow author yaaa😍
total 1 replies
Yeni Suprianti Laba'a
ceritanya bagus thor tp updatenya lama sekali
Amelia Kesya
jgn lama" update nya thor aku semakin cinta karyamu ni
Amelia Kesya
semakin menarik.🥰🥰
Amelia Kesya
aaaaah semakin suka dgn ceritanya,jgn lama"donk thor upnya🙏
Nufie: siap kakak.. jangan lupa follow authornya yaaa😍
total 1 replies
Amelia Kesya
lama kali updatenya thor,,,,,kenapa?bolak balik ditunggu" nggak muncul".
Rekana
ceritanya keren. banyak rahasia yang belum terungkap bikin penasaran..
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut

love banget pokonya 😗 😗
Rekana
jangan lama² up nya kak.. ceritanya bagus banget.. seru
Ipus
terimakasih Thor ceritanya bagus,menarik. lanjut,,,,
Amelia Kesya: oke KK tp kenapa update nya lama kali.
total 2 replies
Amelia Kesya
masih ngikutin alur
R⁸
banyak bgt al nya, bayu ngobrol dgn selin, panggil al, gani dgn selin al lagi.. tokoh baru nongol al lagi😓
Nufie: maaf kak.. nanti di revisi
total 1 replies
Rekana
aduh siapa lagi itu..
antagonis mulai keluar nih kayanya
Rekana
tempramental banget si tama yaa... keras di luar lembut di dalam 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!