NovelToon NovelToon
Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ali Rayyan

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.

Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.

Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tournament Tetap di laksanakan!

Pagi itu datang tanpa membawa ketenangan.

Langit di luar tampak pucat, seolah kota masih setengah tertidur. Jalanan tidak seramai biasanya. Kendaraan yang melintas pun terasa lebih jarang, seperti semua orang sepakat untuk menjaga jarak dari sesuatu yang tak terlihat.

Namun di dalam Rumah Sakit Pusat Argena, keadaan justru berlawanan.

Di balik dinding tebal, pintu otomatis, dan lapisan keamanan berlapis, aktivitas tidak pernah benar-benar berhenti.

Terutama di Level 3.

Tempat yang tidak pernah disebut dalam laporan resmi.

Tempat yang bahkan sebagian besar staf tidak tahu keberadaannya.

Dan pagi itu—ada sesuatu yang berubah.

---

Profesor Amatsuki Hiroshi berdiri di depan meja kerjanya, memegang sebuah tablet transparan. Matanya menyapu data yang terus bergerak, namun alisnya sedikit berkerut.

Ia bukan tipe orang yang mudah curiga.

Namun ia juga bukan orang yang bisa mengabaikan ketidaksesuaian.

“Tidak sinkron…” gumamnya pelan.

Ia menggeser data ke samping.

Membuka file lain.

Kemudian file berikutnya.

Semakin ia melihat, semakin jelas sesuatu yang mengganggu.

Data pasien.

Tanggal masuk.

Status kondisi.

Waktu kematian.

Semuanya terlihat normal… jika dilihat sekilas.

Tapi tidak jika diperhatikan.

“Kenapa berbeda?” bisiknya.

Ia memperbesar satu data pasien.

Seorang pria, usia 52 tahun.

Status: meninggal.

Waktu kematian: 02:14 dini hari.

Namun saat ia membuka log pemindahan—

waktu yang tercatat adalah 02:07.

Hiroshi terdiam.

Selisih tujuh menit.

Secara teknis, itu mungkin saja terjadi.

Namun bukan di sistem seperti ini.

Bukan di rumah sakit dengan standar setinggi ini.

Ia membuka pasien lain.

Hal yang sama.

Ada yang selisih lima menit.

Ada yang sepuluh.

Ada yang… tidak tercatat sama sekali.

Nafas Hiroshi sedikit tertahan.

“Ini bukan kesalahan manusia…”

Ia bergumam.

Ini terlalu rapi untuk disebut kesalahan.

Dan terlalu sering untuk disebut kebetulan.

Ia menekan akses ke database pusat.

Layar sempat memuat.

Lalu—

akses ditolak.

Hiroshi menyipitkan mata.

“Dibatasi?”

Ia mencoba lagi.

Kali ini, file sempat terbuka.

Namun hanya satu detik.

Lalu menghilang.

Seolah… ada yang menutupnya dari dalam.

Hiroshi menatap layar itu lebih lama.

Perasaan tidak nyaman mulai merayap.

“Sejak kapan…” ia bergumam, “sistem seperti ini bekerja sendiri?”

---

Di sisi lain Level 3, suasana sedikit lebih tegang.

Namun ketegangan itu tidak ditunjukkan secara terang-terangan.

Lampu tetap stabil.

Alat tetap berjalan.

Namun beberapa pasang mata terlihat lebih waspada dari biasanya.

Koordinator Medis berdiri di depan layar utama.

Tangannya terlipat.

Tatapannya tajam.

“Laporan terakhir.”

Seorang staf menjawab cepat.

“Tidak ada gangguan lanjutan.”

“Semua sistem kembali normal.”

Koordinator itu tidak langsung percaya.

“Subjek?”

“Stabil.”

Namun sebelum percakapan berlanjut—

sebuah suara kecil terdengar dari sisi ruangan.

Bip… bip…

Salah satu monitor menunjukkan perubahan.

Staf yang berjaga di sana langsung menoleh.

“Sir… ini…”

Ia ragu sejenak.

Koordinator mendekat.

Di layar—

Subjek 118.

Yang sebelumnya tidak menunjukkan aktivitas berarti—

grafiknya berubah.

Detak jantung muncul.

Pelan.

Tidak stabil.

Kepala Laboratorium yang berdiri di dekat sana ikut mendekat.

“Ini tidak mungkin…”

bisiknya.

“Dia sudah mati.”

Namun fakta di layar tidak bisa dibantah.

Garis itu bergerak.

Pelan.

Seolah seseorang… mencoba kembali.

Tiba-tiba—

mata subjek itu terbuka.

Hanya sedikit.

Namun cukup.

Staf di dekatnya refleks mundur.

“Dia… sadar?”

“Tidak,” jawab Koordinator cepat.

Matanya menyipit.

“Ini bukan kesadaran.”

Subjek itu tidak bergerak seperti manusia hidup.

Tatapannya kosong.

Tidak fokus.

Namun bibirnya… bergerak.

Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Salah satu staf mendekat sedikit, tanpa sadar.

“Dia bilang apa…?”

Suara itu hampir tidak terdengar.

Serak.

Patah.

“…da…tang…”

Semua membeku.

Dalam sepersekian detik—

alarm kecil berbunyi.

Koordinator langsung memberi perintah.

“Stabilisasi sekarang.”

Beberapa orang bergerak cepat.

Suntikan diberikan.

Monitor kembali tidak stabil.

Lalu—

garis itu kembali datar.

Sunyi.

Hanya suara mesin yang tersisa.

Beberapa staf saling pandang.

Wajah mereka tetap berusaha tenang.

Namun jelas—

ada yang terguncang.

Kepala Laboratorium berbisik pelan.

“Ini… efek dari kemarin?”

Koordinator tidak langsung menjawab.

Ia menatap tubuh subjek itu.

Lama.

Lalu berkata pelan—

“…kita sedang diperhatikan.”

Kalimat itu tidak ditujukan pada siapa pun secara spesifik.

Namun semua yang mendengarnya… mengerti.

---

Di sisi lain rumah sakit, tanpa mereka sadari—

seseorang memang sedang memperhatikan.

Namun bukan dari dekat.

Dan bukan dengan cara biasa.

---

Di rumahnya, Douma duduk santai di depan meja belajar.

Seragamnya masih rapi, meskipun ia tidak benar-benar memperhatikannya.

Di depannya, layar kelas daring terbuka.

Guru sedang menjelaskan sesuatu dengan suara yang sedikit terputus-putus.

“—jadi untuk reaksi kimia ini, kalian harus memperhatikan struktur molekulnya…”

Douma menopang dagunya dengan tangan.

Tatapannya mengarah ke layar.

Namun jelas—

fokusnya tidak sepenuhnya di sana.

Pikirannya masih memutar ulang apa yang ia lihat semalam.

Struktur.

Sistem.

Dan permainan yang terlalu jelas untuk disebut kebetulan.

“Hm…”

gumamnya pelan.

Tanpa sadar, ia sedikit menyipitkan mata.

Namun di luar itu—

ia tetap terlihat seperti siswa biasa.

Tidak ada gerakan mencurigakan.

Tidak ada tindakan aneh.

Hanya… diam.

Tiba-tiba—

suara notifikasi terdengar.

ting!

Pesan masuk dari grup kelas.

Shin:

“WOI ADA INFO BARU!”

Rei:

“Serius?? Apa lagi ini?? Jangan bilang tugas tambahan 😭”

Shin:

“Bukan bego! Turnamen basket tetap jalan!!”

Beberapa pesan langsung membanjiri.

“HAH?? SERIUS??”

“LAGI WABAH GINI??”

“GILA SIH SEKOLAH”

Tak lama, pesan resmi dari guru masuk.

Guru:

“Anak-anak, mohon perhatian. Sekolah telah menerima keputusan dari pihak yayasan dan sponsor.”

“Turnamen basket tetap akan dilaksanakan.”

Grup langsung meledak.

“WHAT???”

“INI GAK MASUK AKAL”

“BUKANNYA LAGI DARURAT??”

Guru melanjutkan.

“Namun dengan sistem tertutup. Tanpa penonton umum.”

“Seluruh pemain akan menjalani pemeriksaan medis ketat.”

“Dan kegiatan dilakukan dengan pengawasan penuh dari tim kesehatan.”

Beberapa detik hening.

Lalu—

Rei:

“Jadi… tetap jalan ya…”

Shin:

“GILA… INI SERIUSAN…”

Douma membaca itu semua tanpa ekspresi.

Matanya sedikit bergerak.

Turnamen tetap jalan.

Di tengah situasi seperti ini.

Ia menghela napas pelan.

“Huft…”

“Prioritas manusia…”

Ia bergumam kecil.

“Menarik juga.”

Ia tidak terlihat terganggu.

Tidak juga antusias.

Hanya… mencatat.

Karena baginya—

semua ini bukan kebetulan.

---

Sementara itu, kembali ke rumah sakit—

Hiroshi berjalan perlahan di lorong yang sepi.

Tablet masih di tangannya.

Pikirannya penuh.

Data yang ia lihat tadi tidak masuk akal.

Dan yang lebih mengganggu—

adalah bagaimana sistem itu bereaksi.

Seolah…

ada sesuatu yang menyembunyikan kebenaran.

Ia berhenti di depan sebuah pintu.

Tidak ada tanda khusus.

Tidak ada label.

Namun—

aksesnya terbatas.

Hiroshi menatapnya beberapa detik.

“Kenapa aku tidak pernah melihat ini sebelumnya…?”

Ia mencoba mengakses.

Lampu indikator menyala merah.

Akses ditolak.

Ia tidak terkejut.

Namun rasa penasarannya justru meningkat.

Ia melihat ke kanan dan kiri.

Lorong sepi.

Tidak ada siapa pun.

Tangannya sedikit terangkat.

Seolah mempertimbangkan.

“Kalau hanya melihat sebentar…”

gumamnya.

Namun sebelum ia benar-benar bertindak—

suara langkah kaki terdengar.

Hiroshi langsung menurunkan tangannya.

Seorang staf mendekat.

“Profesor Amatsuki?”

Hiroshi menoleh.

“Ya?”

“Direktur meminta Anda kembali ke lab utama. Ada sampel baru.”

Hiroshi diam sejenak.

Lalu mengangguk.

“Baik.”

Ia melirik sekali lagi ke pintu itu.

Tatapannya tajam.

Namun ia berbalik.

Melangkah pergi.

Tanpa menyadari—

bahwa ia sudah berada sangat dekat dengan sesuatu yang tidak seharusnya ia temukan.

---

Dan di tempat lain—

di balik sistem yang rapi—

di balik wajah-wajah yang tampak manusia—

sesuatu mulai bergerak.

Kesalahan kecil telah terjadi.

Dan dalam dunia yang terkontrol seperti ini—

kesalahan sekecil apa pun…

bisa membuka jalan menuju kehancuran.

Namun untuk saat ini—

semuanya masih terlihat… normal.

Terlalu normal.

Dan justru itu—

yang paling berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!