Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Olivia masih berdiri dengan napas memburu, dadanya naik turun menahan emosi yang belum mereda. Ia tidak bisa percaya sepenuhnya pada ucapan pria itu, tatapannya kembali mencari sosok Oliana yang baru saja pergi, seolah berharap kakaknya itu berubah pikiran dan kembali menjelaskan semuanya.
Tapi tidak, hanya ada kesunyian dan kekosongan dan itu justru membuat amarahnya semakin memuncak.
“Sebenarnya apa sih masalahnya, Kak?!” teriaknya lagi, meski tahu mungkin tidak akan dijawab.
Ia berbalik, menatap pria di depannya dengan kesal lalu kembali berteriak ke arah Oliana menghilang dari pandangannya.
“Kalau lu cinta sama Kak Juna, ya nikah sama dia! Harusnya itu hidup lu!” suaranya bergetar. “Atau jangan-jangan…”
Ia menyipitkan mata, menatap tajam pria itu.
“Jangan-jangan cowok ini pacar lu?” tudingnya tanpa pikir panjang. “Atau… suami lu? Hah? Lu jatuh cinta sama dia?”
Tangannya bahkan terangkat, menunjuk langsung ke arah pria itu.
Hening. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, tampak menahan sesuatu—entah kesal, entah lelah dengan tuduhan yang terus diarahkan padanya.
“Selesai?” tanyanya datar.
Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat Olivia semakin kesal. Namun sebelum sempat membalas, pintu di ujung koridor tertutup. Oliana benar-benar pergi dan itu seperti memutus sisa kesabaran Olivia.
“Oliana! Balik!” teriaknya sambil melangkah cepat mengejar.
Namun tubuhnya belum sepenuhnya pulih, langkahnya goyah, tiang infus yang ia tarik ikut terseret dan dalam satu detik yang terlalu cepat kakinya tersandung.
Bruk.
Olivia jatuh. Tiang infusnya ikut terhempas ke lantai. Selang infus tertarik kasar dari tangannya.
“Liv—!”
Pria itu langsung bergerak cepat, namun sudah terlambat. Jarum infus terlepas dan darah merembes keluar dari punggung tangan Olivia. Merah pekat dan jelas mengalir. Olivia membeku, matanya membesar, napasnya tercekat. Ia menatap darah itu seolah melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan..Tubuhnya seketika langsung melemah.
“Gue…” suaranya gemetar. “Gue…”
Pandangan mulai berkunang, dunia berputar dan sebelum sempat mengatakan apa pun lagi, tubuhnya limbung. Pria itu dengan sigap menangkapnya sebelum benar-benar terjatuh lagi.
“Hey—hey! Olivia!”
Namun kesadaran Olivia sudah menghilang. Tubuhnya lemas sepenuhnya di pelukan pria itu. Dengan cepat, pria itu mengangkat Olivia kembali ke kamar. Langkahnya tergesa, tapi tetap hati-hati.
Ia membaringkan Olivia di atas ranjang, merapikan posisi tubuhnya, lalu segera mengambil peralatan medis di samping.
Tangannya bergerak cekatan, terlatih, seolah ini bukan pertama kalinya ia melakukan hal seperti ini. Ia membersihkan luka di tangan Olivia, menghentikan aliran darah lalu dengan hati-hati memasang kembali infus.
Jarum kembali masuk, selang terpasang, cairan mengalir. Semua dilakukan dengan tenang, presisi dan tanpa ragu.
Beberapa menit kemudian,.semuanya kembali stabil. Olivia terbaring diam, wajahnya pucat, napasnya pelan tapi teratur, seolah hanya… tidur.
Pria itu duduk di samping ranjang, menatapnya lama tanpa berkata apa-apa. Tatapannya tidak lagi setajam biasanya. Ada sesuatu yang berbeda di sana, sesuatu yang jarang ia tunjukkan.
Rasa iba, rasa kasihan dan… keinginan untuk melindungi. Ia menghela napas pelan.
“Harusnya bukan hidup kayak gini…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Matanya masih tertuju pada wajah Olivia yang tenang, seorang gadis yang seharusnya masih bebas, masih menikmati hidup bukan terjebak dalam pernikahan yang tidak ia inginkan.
Bukan berada di tengah permainan kekuasaan yang bahkan tidak ia pahami dan bukan… hampir mati di laut.
Pria itu menunduk sejenak, tangannya hampir saja terulur, namun berhenti di udara. Ragu, lalu perlahan ia menarik kembali tangannya. Menjaga jarak seperti mengingat sesuatu atau… menahan diri dari sesuatu.
Sebelum ia sempat berdiri, pintu kamar sedikit terbuka. Oliana berdiri di sana dengan diamnya, mengamati.
Pria itu langsung menoleh dan ekspresinya berubah tegang.
“Lu ngapain di sini?” suaranya rendah.
Oliana tidak langsung menjawab, namun satu hal jelas tatapannya tertuju pada Olivia dan itu bukan tatapan biasa. Melainkan tatapan yang penuh arti, seolah mengetahui sesuatu yang bahkan belum Olivia sadari.
Pintu itu terbuka sedikit lebih lebar, cahaya dari lorong masuk ke dalam kamar, membentuk siluet seseorang yang berdiri diam di ambang pintu.
“Gue tanya sekali lagi,” ucapnya rendah, penuh tekanan. “Lu ngapain di sini?”
Oliana akhirnya melangkah masuk. Wajahnya tenang… tapi matanya tidak. Ada sesuatu di sana—gelisah, khawatir, dan… keputusan yang belum selesai.
“Gue cuma mau lihat dia,” jawabnya pelan.
Tatapannya langsung jatuh pada Olivia yang terbaring lemah di atas ranjang, langkahnya mendekat perlahan.
Namun pria itu bergerak sedikit, seperti refleks ingin menghalangi—meski akhirnya ia membiarkannya.
Oliana berdiri di samping ranjang, menatap adiknya. Wajah yang sama tapi hidup yang… benar-benar berbeda sekarang.
“Gue nggak nyangka dia bakal sampai sejauh ini…” bisiknya lirih.
Pria itu menyandarkan tubuh ke dinding, melipat tangan di dada.
“Lu yang ninggalin dia,” jawabnya dingin. “Bukan dia yang milih semua ini.”
Oliana menutup mata sebentar. Seolah kalimat itu… terlalu tepat.
“Gue tau.”
Dua kata itu terdengar lemah.
“Makanya gue bilang—harusnya dia nggak ada di sini,” lanjut Oliana, kini menatap pria itu. “Semakin dia tau, semakin besar bahaya buat dia.”
“Dia udah di tengah bahaya itu dari awal,” balas pria itu cepat. “Tanpa dia sadar.”
Hening. Oliana menggigit bibir bawahnya. Ragu namun jelas ia menyimpan sesuatu. Sesuatu yang jauh lebih besar dari yang terlihat.
“Apa lu yakin?” tanyanya pelan. “Kalau dia tau semuanya… dia bakal tetap kuat?”
Pria itu melirik Olivia sekilas. Wajah pucat, nafas pelan, tubuh lemah tapi entah kenapa ia menjawab tanpa ragu.
“Dia lebih kuat dari yang lu kira.”
Oliana terdiam, matanya kembali ke Olivia, lama. Seolah mencoba membaca sesuatu yang bahkan belum terjadi. Lalu pelan—
“Gue nggak bisa kehilangan dia juga…”
Kalimat itu nyaris seperti bisikan, tapi cukup untuk membuat pria itu mengernyit.
“Juga?” ulangnya.
Oliana langsung tersadar, terlambat. Ia memalingkan wajah.
“Lupakan.”
Namun pria itu sudah berdiri tegak, tatapannya tajam.
“Maksud lu kehilangan siapa?”
Tidak ada jawaban, ruangan kembali sunyi dan tegang. Sebelum pria itu sempat mendesak lagi, suara kecil terdengar dari ranjang. Lemah, nyaris tak terdengar.
“…kak…”
Keduanya langsung menoleh. Olivia. Jarinya bergerak sedikit, kelopak matanya bergetar dan perlahan ia membuka mata. Pandangan masih buram namun cukup untuk melihat dua sosok di depannya.
“Kalian…” suaranya lirih.
Oliana langsung mendekat.
“Liv…”
Sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Olivia menatap lurus ke arahnya dengan mata yang masih lemah… tapi penuh satu hal yang tidak bisa disembunyikan lagi. Kecurigaan.
“Lu… nyembunyiin apa dari gue?”
Pertanyaan itu sederhana namun menghantam tepat di tengah. Oliana membeku, pria di samping hanya diam menunggu. Detik itu terasa jauh lebih lama dari seharusnya, karena jawaban apa pun akan mengubah segalanya.
Oliana menarik napas dalam… lalu berkata pelan,
“Yang selama ini lu kira keluarga… belum tentu benar-benar keluarga.”
...***...