ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT IV—{Chapter 4}
Menariknya di sini, meskipun terbagi menjadi dua kubu, hitam tetaplah hitam dan putih tetaplah putih. Maksudnya, garis pemisah antara kedua kubu itu jelas. Tim warga mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan, begitu juga sebaliknya dengan mafia. Jadi, walaupun permainan ini dimainkan dalam satu kelompok yang sebelumnya telah melewati berbagai macam permainan bersama, permainan mafia ini memecahkan dua pihak dengan satu pemenang. Artinya, tidak ada lintas kubu baik dalam hal strategi maupun hadiah.
“Para gadis, kalian siap memulai permainan?” Suara moderator terdengar lebih lantang dari sebelumnya. Ia kini telah berpindah ke lapangan gedung asrama, meninggalkan tanggung jawabnya di klub penyiaran kepada rekannya.
“Ya, kami siap!” Para gadis menyahut secara serempak. Gaung suara mereka beradu, memantul di bawah kubah atrium besar yang mengumpulkan seluruh gelombang ke satu titik.
“Baiklah, kalau begitu..” Sang moderator membunyikan bel. Bunyinya panjang dan nyaring—mirip bel di gedung sekolah—dengan melodi khas yang mudah diingat. “Malam telah tiba. Semua orang terlelap dalam tidur..”
Para gadis menundukkan kepala. Ada yang hanya melakukannya begitu saja sambil memejamkan mata, ada pula yang menutup wajah menggunakan telapak tangan—yah, apa pun diperbolehkan asal bermain mengikuti peraturan.
Moderator melanjutkan, menyebut ketiga peran yang dapat bangun selama malam berlangsung. “Mafia, silakan bangun dan bunuh satu orang.”
Satu per satu anggota mafia dari setiap tim membuka mata secara perlahan, saling bertukar pandang dari kejauhan, lalu menunjuk sasarannya. Setelah itu mereka kembali menunduk.
“Dokter, silakan bangun dan pilih siapa yang akan diselamatkan.”
Giliran sang dokter mengangkat kepala. Dia mengulurkan tangannya kepada anggota lain guna menghidupkan kembali kalau-kalau mafianya memilihnya—tidak ada yang tahu, hanya mengandalkan firasat. Selain itu, ada juga yang menunjuk dirinya sendiri demi keselamatan pribadi. Mereka kembali menunduk.
“Polisi, silakan bangun dan identifikasi satu orang.”
Polisi melakukan pekerjaannya. Segera ia menunjuk satu orang sambil melirik-lirik kepada juri, penuh antusias saat satu identitas mulai terbongkar.
Pada permainan ini, kedua juri jadi perantara moderator dalam menyampaikan identitas pemain. Mereka berkeliling di sepanjang koridor sambil membawa buku catatan berisikan peran para gadis. Jadi setiap ketiga peran itu menunjuk, para juri akan menulis dan menyimpannya.
Moderator memberi arahan lagi, “Pagi pun telah tiba.”
Kemudian para juri—Pak Sion dan Bu Kaila—segera berbagi tugas menangani masing-masing 5 kamar. Mereka bergeser secara berurut untuk menyampaikan ada atau tidaknya korban yang dibunuh oleh mafia tadi malam.
“A telah terbunuh. A adalah warga.” Sorak-sorai setiap kelompok terdengar bersahut-sahut. Gelombang ketegangannya terus membesar seiring para juri bergeser ke kamar berikutnya sambil menyebutkan satu nama. Kebanyakan orang yang terbunuh adalah warga, sementara satu atau dua yang lain adalah seorang polisi.
Namun saat tiba giliran kamar 55, Bu Kaila justru mengatakan, “Tidak ada yang terbunuh.”
Para anggota yang sedang menundukkan kepala dengan khidmat guna menantikan satu nama, segera bereaksi lega sambil menatap Bu Kaila.
Bu Kaila melanjutkan, “Dokter menggunakan keahliannya untuk menyelamatkan seseorang. Selamat, tim 55. Tidak ada korban yang jatuh di putaran pertama.” lalu beranjak pergi menuju kamar berikutnya.
Dalam permainan, setelah hasil malam diumumkan, permainan berlanjut ke fase siang—diskusi bebas selama lima menit untuk mencari tahu siapa mafia yang bersembunyi di antara mereka.
“Apa lihat-lihat?!” Irene mengangkat dagunya saat ia berkata dengan nada sinis. Di sebelahnya, Karinn sedang menatap dirinya tanpa mengatakan apa-apa. Hanya diam dengan wajahnya yang datar mirip seekor rusa, tetapi berhasil membuatnya merasa tidak nyaman.
“Berapa kali pun aku memainkan permainan ini, rasanya tidak ada yang berkembang dalam menebak mafia.” Ayaa mengaduk-aduk smoothie menggunakan sedotan, bicara pada dirinya sendiri. Setelah itu dia kembali menyendok kue kloset. Berapa kali pun dia mengeluh betapa mualnya visualnya yang menjijikan itu, dia tetap terus memakannya dengan alasan sederhana; enak dan sayang kalau dibuang.
“Kau, kan sering memainkannya di kelas.”
Mendengar Villy memberi balasan atas gumamannya, Ayaa menoleh. “Itulah kenapa permainan ini terasa tidak biasa bila sudah dimainkan di Permainan Kelompok Asrama. Jumlah pemainnya sedikit, jadi kalau bermain asal-asalan, semuanya selesai dalam satu putaran. Kita hanya beruntung karena dokter berhasil menyelamatkan.”
“Oi, itu dia!” Tiba-tiba Karinn berseru penuh semangat. Jari telunjuknya diarahkan ke depan wajah Irene sementara dirinya menatap anggotanya satu per satu. “Dia mafianya!”
Yang ditunjuk hanya bereaksi datar. “Apa-apaan kau?!” Dia menepis tangan Karinn dari hadapannya.
“Oi, aku serius!” Karinn masih melanjutkan, membela diri sambil menunjukkan keseriusannya kepada para anggotanya. “Tadi, saat giliran mafia membunuh, aku merasakan sesuatu bergerak di sebelah kiriku. Aku yakin itu karena beruang laser ini sedang mengangkat kepalanya untuk menatap Bu Kaila.”
“Kau benar-benar cari mati rupanya.” Irene mulai menggulung lengan kemejanya sampai ke siku, siap mengeluarkan serangan.
“Apa alasanmu mencurigainya, Karinn?” Erica melontarkan sebuah pertanyaan sederhana, tentu dengan tujuan untuk melerai.
“Hmm, entahlah. Aku hanya ... punya firasat.” Karinn mengangkat bahu seolah tak peduli, lalu menyendok kue kloset dan memakannya.
“Bagaimana bisa kau memberi alasan konyol begitu?” Tanpa aba-aba, Irene menarik kerah baju Karinn, menggoyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang. “Kalau begitu aku juga bisa melakukan hal yang sama padamu. Apa kau mafianya, hu?”
Erica menepuk jidat, menyerah pada dirinya sendiri karena gagal dalam usahanya melerai. Perselisihan seperti ini memang sudah seharusnya terjadi, justru mustahil kalau tidak. Setiap anggota tanpa ragu saling melempar tuduhan, mengorek kelemahan lawan, lalu buru-buru membela diri saat diserang. Sorot mata dipenuhi oleh kewaspadaan, tetapi tetap terjaga dalam kendali dari setiap kata yang terucap dan gerakan yang dilakukan. Karena semua itu ... berada dalam kontrol akting.
Villy menyilangkan kedua tangannya sambil melihat ke sembarang arah. “Semalam, polisi ... sudah memeriksa seseorang, kan?”
Manik mata Karinn membulat besar. Jari tengahnya yang semula diacungkan di depan wajah Irene langsung diturunkan, kemudian dia berbalik badan. “Benar juga! Oi, polisi, tidakkah seharusnya kau memberi petunjuk pada kami?” Dia menatap anggotanya secara bergantian, menelisik wajah-wajah yang tampak mencurigakan.
“Oi, mana bisa begitu.” Ayaa menodongkan telapak tangannya, tidak setuju pada aksi Karinn.
“Kenapa pula tidak bisa?”
Erica menyikut lengannya, berbisik, “Mafia akan memburunya.”
“Ah, benar juga.”
Plak..! Luput dari kesadarannya, Irene secara impulsif melemparkan serangan pukulan di kepala bagian belakang Karinn. Dengan nada sinis seperti biasanya, dia membalas, “Lihat bagaimana caramu berpikir, bisa-bisanya kau bicara soal firasat.”
“Diam kau, kunyuk!”
Lima menit tak terasa berlalu dengan cepat bagai hitungan detik. Moderator di lapangan memberi pengumuman lagi. “Waktu identifikasi mafia telah berakhir! Para gadis, ulurkan jempol kalian dan sebutkan satu nama yang akan dieksekusi.”
Anggota kamar lain segera melanjutkan sesi debat sambil tuduh-menuduh. Suasana yang sempat hening selama beberapa saat langsung kembali riuh dipenuhi oleh macam-macam sahutan, umpatan, dan emosi yang bercampur jadi satu. Namun di kamar 55, pemandangannya jauh berbeda. Lingkaran tempat duduk mereka dipenuhi bukan oleh atmosfer dingin, melainkan tatapan tanpa arti yang saling dilemparkan. Tidak ada yang menunjuk ataupun sekadar melotot sambil mengeluarkan tuduhan tak berdasar. Mereka hanya saling menatap, tapi tetap saja tak menemukan apa-apa. Masing-masing dari anggota berusaha keras dalam mempertahankan perannya, jadi peluang untuk mendapatkan setidaknya satu orang mencurigakan itu terasa cukup sulit.
“Sekarang bagaimana? Kita harus memilih.” Erica angkat suara, sedikit gelisah karena kelompok lain telah mengeksekusi sementara kelompoknya masih terjebak di sini.
Di saat suasana hening dan para anggota sibuk berpikir tentang jalan keluarnya, Ayaa tiba-tiba mengulurkan tangan. Dia mengacungan jempol sembari berkata, “Pilih aku.”
“Kak, kenapa begitu?”
“Wah, situasi macam apa ini? Tak pernah kujumpai orang yang bersedia untuk mati.”
Ayaa mengibaskan telapak tangannya. “Bukan apa-apa. Aku hanya mau pergi ke kamar mandi,” katanya sembari menyendok lagi kue kloset yang tersisa sepertiga bagian. “Memakan kue ini membuatku ingin mengeluarkan yang asli.”
“Dasar jorok!” Villy dengan cepat melayangkan tinju di lengan Ayaa. Kemudian tangan kirinya yang menganggur segera diulurkan ke depan, mengacungkan jari jempol.
Ketiga junior saling tatap, ragu-ragu memilih mafia dengan cara dan alasan konyol begini. Tetapi karena sudah ada dua suara—satu sebenarnya, yakni sang ketua kamar—maka mereka pun manut saja ikut memberikan jari jempol. Setelah keempat jari terangkat, mereka secara bersamaan membalikkan posisi jari jempol menghadap ke bawah; artinya seseorang yang dipilih berhasil dieksekusi.
“Oke, sudah, kan? Aku mau pergi sekarang.” Belum juga Bu Kaila tiba di kelompok pertama untuk mengumumkan identitas asli pemain yang dieksekusi, Ayaa langsung memelesatkan kakinya pergi menuju kamar. Dari luar, suara dobrakan pintu mengaung jelas, cukup untuk membuat orang-orang di luar terkejut.
Suara riak-riuh mulai terdengar bersahut-sahut. Ada beberapa kelompok yang berhasil membunuh mafia, jadi mereka kompak berseru sambil berpelukan erat. Sementara yang lain saat juri mengumumkan bahwa yang mati adalah polisi atau dokter, mereka hanya bisa melengos tanpa banyak protes. Karena itu, permainan dianggap telah selesai bagi mereka yang berhasil membunuh mafia. Mereka pun berbondong-bondong masuk ke kamar untuk menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk acara api unggun. Bahan makanan yang mereka dapatkan dari seluruh permainan dikumpulkan jadi satu, kemudian diolah menjadi sebuah makanan enak yang tentunya bisa ditelan oleh tenggorokan.
Akhirnya Bu Kaila tiba di kamar 55. Dia membuka lembaran catatannya lalu berkata, “Ayaa telah dieksekusi. Ayaa adalah seorang warga.”
Keempatnya kompak menghela napas lega.
Permainan pun kembali berlanjut. Putaran kedua. Moderator berkata lagi, “Malam telah tiba.” dan semua pemain yang tersisa segera menundukkan kepala. “Mafia, silakan bangun dan bunuh satu orang.” Sang mafia melakukan tugasnya. Kebanyakan mereka sudah menemukan target yang harus mati karena dikhawatirkan akan mengancam keberadaannya sendiri. “Dokter, silakan bangun dan selamatkan satu orang.” Dokter juga melakukan tugasnya. Mereka secara acak menunjuk satu orang yang menurutnya paling dapat dipercaya. Kalau tidak menemukan orangnya, biasanya mereka akan memilih dirinya sendiri. “Polisi, silakan bangun dan identifikasi satu orang.” Polisi bertatap muka dengan juri saat salah satu identitas pemain terungkap. Sebagian ada yang bereaksi kecewa karena gagal menemukan mafia, sementara sebagian yang lain tersenyum puas saat mafia berhasil ditemukan.
“Pagi pun tiba..”
Para juri dengan cekatan langsung mulai memberi informasi tentang pemain yang terbunuh. Satu per satu gadis keluar dari zona permainan, menyingkir sambil menempeli juri untuk bertanya siapa yang telah membunuhnya—alias mafia.
Bu Kaila tiba di kamar 55. “Sayang sekali, mafia telah berhasil membunuh seseorang tadi malam. Dia adalah Villy.”
Yang disebut namanya secara spontan mengangkat kepalanya.
Bu Kaila melanjutkan, “Villy ... adalah seorang dokter.”
Ketiga juniornya kompak membulatkan mata sambil bereaksi kecewa. Mereka jelas tahu bahwa dokter telah berjasa menyelamatkan seseorang di putaran pertama. Namun entah bagaimana mafia dapat menemukannya, Villy menganggap itu bukanlah hal penting. Karena sekarang, yang jelas orang itu ada di antara ketiga juniornya. Dia bersembunyi sambil menunjukkan reaksi palsu untuk berkamuflase.
Gdubrak..! Pintu kamar dibiarkan terbuka sepanjang permainan berlangsung, jadi pemandangan tubuh Ayaa yang terguling hampir duduk karena terpeleset tampak jelas di tempat Bu Kaila berdiri. “Apa? Ada apa? Siapa yang terbunuh?” Buru-buru dia memakai sandal bulunya, lalu pergi menghampiri.
Villy bangkit dari lantai, tepat sebelum Ayaa benar-benar duduk di sebelahnya dan menjawab pertanyaannya.
“Oi, kaukah? Kau terbunuh?” Ayaa urung niat mendaratkan pantatnya di lantai. Tangannya yang siap untuk kembali menyantap kue kloset pun hanya bisa menggantung di udara. Dia memilih menyingkir. Lalu demi rasa penasarannya terpecahkan, dia mengejar Bu Kaila yang hendak berpindah ke kamar sebelah. Dia menarik tangannya kemudian meminta maaf, lalu mengajukan sebuah pertanyaan. “Anu, siapa ... mafianya, bu?”
Bu Kaila mendekatkan wajahnya ke telinga Ayaa, membisikkan sesuatu. Ketiga juniornya termasuk sang ketua kamar di belakangnya kompak memiringkan kepala, penasaran juga.
“Hah?! Sungguh?!” Ayaa memekik sambil menutup mulut, matanya membulat besar. Para gadis dari anggota sebelah jadi terkejut, sama halnya seperti anggotanya sendiri.
Bu Kaila berbalik badan sambil tersenyum. Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya, pergi ke kelompok berikutnya. Bagi anggota kamar 55 yang telah disampaikan informasi oleh juri, diperbolehkan untuk memulai sesi menganalisis mafia. Kelompok lain pun juga begitu, maka tuduh-menuduh dan membela diri pastinya terjadi lagi.
“Itu dia!” Di tengah keheningan rasa penasaran para junior dan perasaan syok Ayaa, tiba-tiba Karinn berseru lantang. Suaranya seperti membelah udara dengan sekali tebasan, sukses membuat semua anggotanya menoleh secara serempak. Di zona permainan, tersisa tiga pemain. Karinn mengulurkan tangan, menunjuk seseorang di sebelahnya. “Dia mafianya!” katanya lagi.
“Sialan, kau melakukannya lagi?” Irene menyalak galak, kemudian menepis tangan Karinn dengan kasar.
“Oi, itu kau!”
“Berhenti meracau. Apa kali ini kau akan bilang kau dapat firasat lagi, hu?”
“Tidak, kali ini aku tidak menggunakan firasat. Aku yakin 100% kau adalah mafia.”
Irene menghela napas sembari menyisir rambutnya ke belakang, frustasi. “Kau bisa mempertanggungjawabkan ucapanmu?”
Karinn mendekatkan jarak di antara mereka. Wajahnya dengan ujung hidung Irene hanya selisih satu jengkal. “Ya, tentu. Karena aku ... adalah polisi.”
Semilir angin dingin berembus pelan mengikuti ritme ucapan Karinn. Bukan hanya dua teman sebayanya, kedua senior pun juga bereaksi serupa. Mereka menunjukkan wajah penuh ketidakpercayaan.
Karinn melipat tangannya ke dada, melanjutkan lagi, “Pertama, aku memang tidak mengidentifikasimu. Tetapi aku yakin 100% kaulah mafianya.” Dia mengedarkan pandangannya kepada anggotanya satu per satu. “Erica adalah warga—aku telah memeriksanya di putaran pertama, Kak Ayaa juga warga, maka itu artinya yang tersisa hanyalah tiga peran penting. Aku polisi, Kak Villy dokter, maka kau ... pastinya adalah mafia. ”
Moderator mengumumkan bahwa waktu menganalisis telah berakhir. Dia dengan penuh semangat berkata, “Para gadis, waktu untuk mengidentifikasi mafia telah berakhir! Ulurkan jempol kalian dan sebutkan satu nama yang akan dieksekusi!”
...• • • • •...
Bersama empat rekannya yang siaga berdiri di belakang, Pak John mulai menyalakan api unggun. Dengan hati-hati, ia menyelipkan gulungan kertas yang sudah dilumuri cairan pembakar ke sela-sela susunan kayu berbentuk kerucut raksasa. Dalam hitungan detik, nyala kecil si jago merah merayap di antara bilah-bilah kayu, lalu perlahan membesar menjadi kobaran api yang menjilat-jilat udara. Hawa panasnya merambat ke sekitar, memecah dingin yang menusuk kulit. Percikan api beterbangan bersama embusan angin, berkilau di udara seperti butiran glitter yang menyala sebentar sebelum lenyap. Bau khas kayu terbakar memenuhi udara, berpadu dengan aroma samar semen yang menghangat di bawah kobaran api.
Petugas asrama dan guru berpencar ke tempat-tempat berbeda, bergerak cepat membagi tugas. Beberapa memasang pembatas tali untuk membuat lingkar aman di sekitar api, memastikan akan keselamatan para gadis untuk tidak berdiri terlalu dekat. Yang lain pergi ke sudut kanan lapangan, mempersiapkan panggung. Untaian kabel-kabel listrik diperiksa dengan cermat, kemudian ditarik rapat agar tidak menghalangi jalan dan menyebabkan kecelakaan. Baru setelah itu lampu panggung dinyalakan satu per satu, memancarkan cahaya biru, ungu, dan putih yang berganti-ganti menghiasi permukaan lapangan juga malam yang kian pekat. Beberapa petugas lain datang membawa perlengkapan musik, mulai bekerja sama mengatur posisinya sesuai rencana. Sebuah gitar akustik elektrik disandarkan di dekat mikrofon utama, diikuti cajón yang diletakkan agak ke belakang untuk pemain perkusi. Sementara itu biola dan selo tersimpan rapi di dalam kotaknya, menunggu giliran dimainkan oleh anggota klub musik yang akan tampil secara bergilir.
Tak jauh dari panggung, dua tim panitia yang terdiri dari guru dan anggota OSIS tengah sibuk bergotong-royong menyiapkan mesin kopi. Mereka meminjamnya dari kantin asrama sebagai tempat untuk meletakkan berbagai macam minuman panas. Bunyi mendesis terdengar pelan bersamaan dengan uap tipis yang membumbung dari corong, mengeluarkan aroma kopi segar yang kemudian menyatu dengan wangi kayu terbakar dari api unggun. Sementara itu di meja panjang—juga dipinjam dari kantin—kantong gula dan krimer tersusun rapi di sebelah tumpukan gelas kertas. Menariknya, pilihan minuman panas yang ada bukan hanya kopi, tetapi juga tersedia berbagai jenis teh, matcha, cokelat, serta susu yang masing-masing tersaji di dalam termos berukuran super besar. Memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk menikmatinya.