NovelToon NovelToon
Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Berondong / Aliansi Pernikahan / Tamat
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir Kisah

Gavin melangkah mendekat. Setiap derap langkah kakinya di atas karpet beludru yang tebal terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur keberanian Devina. Gugup yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya.

Gavin berhenti tepat beberapa jengkal di depan Devina. Ia bisa mencium aroma parfum melati yang menyerbak dari tubuh istrinya, bercampur dengan wangi bunga lili yang menghiasi sanggul Devina.

"Kamu nampak sangat cantik hari ini, Nyonya Aryaga," bisik Gavin. Tangannya yang besar dan hangat terangkat, menyelipkan seuntai rambut Devina yang terlepas dari sanggulnya ke balik telinga.

Sentuhan fisik itu, meski sangat lembut, memberikan efek kejut listrik yang membuat tubuh Devina meremang. Devina menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap langsung mata elang suaminya. "Terima kasih, Gavin... atas semuanya. Atas keberanianmu, dan atas pernikahan yang indah ini."

"Sshhh... tidak perlu berterima kasih. Itu sudah menjadi tugasku. Dan mulai detik ini, tugas itu menjadi lebih mutlak lagi," jawab Gavin lembut.

Suasana kembali hening. Kecanggungan yang manis mulai merayap di antara mereka berdua.

Gavin kemudian mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang melepaskan seluruh ketegangan otot yang ia tahan sejak pagi hari tadi. Tanpa beban atau rasa canggung sedikit pun, Gavin mulai melepaskan kancing beskap pernikahan putih tulangnya satu per satu.

Mata Devina membelalak kecil saat mendengar suara kain yang saling bergesekan. Melalui sudut matanya, ia melihat Gavin dengan santainya melepaskan beskap mewahnya itu dan menyampirkannya di atas sandaran sofa kulit di dekat tempat tidur.

Tidak berhenti di situ, Gavin kemudian meraih ujung kemeja dalaman putihnya yang melekat di tubuhnya yang atletis dan mulai melepaskannya juga.

Dalam hitungan detik, tubuh bagian atas Gavin terekspos di bawah temaramnya cahaya lampu tidur. Devina yang tak sengaja melihat pantulan tubuh suaminya di cermin rias langsung merasakan wajahnya memanas hebat. Rona merah jambu yang pekat menjalar cepat di kedua pipinya yang mulus.

Tubuh Gavin adalah hasil dari latihan fisik yang keras dan disiplin tinggi selama bertahun-tahun. Otot-otot dadanya tercetak bidang dan kokoh, dengan garis-garis otot perut yang tegas. Namun di balik kesempurnaan fisik yang membuat dada Devina berdegup tak karuan itu, matanya menangkap beberapa goresan luka lama dan baru yang menghiasi punggung serta lengan suaminya—sisa-sisa perjuangan fisik saat Gavin melindunginya selama setahun terakhir ini.

****

Devina membalikkan badannya membelakangi Gavin dengan gerakan cepat, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang gemetar.

"Gavin... ka-kamu sedang apa?" tanya Devina dengan suara yang sangat pelan dan terbata-bata karena malu yang luar biasa.

Gavin yang sedang meletakkan kemejanya di keranjang pakaian kotor terkekeh pelan. Suara tawa ringannya terdengar sangat seksi di telinga Devina. Gavin berjalan mendekati Devina dari belakang, hingga Devina bisa merasakan radiasi panas tubuh suaminya yang tidak lagi terhalang oleh helai benang.

Gavin meletakkan kedua tangannya di bahu Devina yang tertutup kebaya tipis, membalikkan tubuh istrinya secara perlahan agar kembali menghadap ke arahnya. Devina tetap menundukkan kepala, enggan menatap dada bidang suaminya yang terbuka.

"Kenapa wajahmu merah begitu, hmm?" goda Gavin, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Devina. "Kita sudah resmi menjadi suami istri yang sah di mata agama dan hukum beberapa jam yang lalu, Devina. Apa kamu lupa?"

"A-aku tahu... tapi, aku belum terbiasa dengan ini semua, Gavin," bisik Devina dengan suara yang hampir tidak terdengar. Jantungnya kini berdegup sangat kencang, seolah-olah hendak melompat keluar dari rongga dadanya.

Gavin tersenyum penuh pengertian. Ia meraih kedua tangan Devina yang menutupi wajahnya, menurunkannya secara perlahan hingga Devina terpaksa mendongak dan menatap sepasang mata elang suaminya.

"Aku mengerti," ucap Gavin dengan suara yang sangat dalam dan penuh dengan ketulusan emosional. "Aku tidak akan memaksamu melakukan apa pun yang belum siap kamu lakukan malam ini, Devina. Aku tahu jiwamu masih lelah setelah kejadian tadi sore. Aku hanya ingin membersihkan diri dan beristirahat bersamamu. Itu saja."

Devina menatap mata Gavin. Di dalam manik mata hitam pekat milik suaminya itu, ia tidak menemukan nafsu yang menuntut, melainkan sebuah samudra ketenangan, perlindungan, dan cinta yang begitu tulus yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun di dunia ini.

Gegap gempita di dadanya perlahan mereda, berganti dengan rasa hangat yang menjalar di hatinya. Ketakutan akan Aris, rasa canggung yang baru saja ia rasakan, semua melebur menjadi satu perasaan pasrah yang indah di bawah tatapan pria yang kini menjadi hidup dan matinya.

"Terima kasih... Suamiku," bisik Devina dengan senyuman kecil yang sangat manis yang merekah di bibirnya yang ranum.

Wajah Gavin melembut mendengar panggilan baru itu keluar dari bibir Devina. Ia menarik Devina ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif, menenggelamkan wajahnya di antara rambut wangi istrinya. Mereka berpelukan dalam diam, menikmati detik demi detik kebersamaan yang murni di tengah dunia luar yang masih membara oleh api dendam.

****

Sementara itu, jauh di bawah sana, di sebuah gorong-gorong pembuangan air yang gelap dan berbau busuk tidak jauh dari area hotel, Aris Wicaksana sedang merayap di dalam air yang dingin. Tubuhnya yang dipenuhi luka goresan kaca merintih kesakitan, namun matanya yang menyala merah di dalam kegelapan pekat menatap ke arah dinding beton di atasnya.

Aris mengepalkan tangannya yang berlumuran lumpur dan darah. Sumpah berdarah yang ia ucapkan di ruang resepsi tadi masih bergema kuat di dalam kepalanya. Malam ini, di dalam selimut kemewahan, Devina dan Gavin mungkin merasa menang. Namun di dalam rahim kegelapan bawah tanah ibu kota, sang predator yang terluka sedang menyusun ulang taktik barunya yang jauh lebih mematikan.

****

Pagi di Jakarta merekah dengan langit yang bersih, seolah alam semesta akhirnya merelakan noda darah dan air mata tersapu oleh sang surya. Namun, kedamaian itu hanyalah sebuah jeda singkat sebelum kepolisian melancarkan serangan pamungkas mereka untuk mengakhiri teror yang telah berlangsung terlalu lama.

Tim gabungan Jatanras, Densus, dan K-9 berhasil melacak sinyal dan jejak pelarian Aris hingga ke sebuah mercusuar tua yang terbengkalai di pesisir utara Jakarta. Tempat itu terisolasi, dikelilingi oleh deburan ombak laut Jawa yang ganas dan tebing-tebing karang yang tajam. Aris terkepung sepenuhnya.

"ARIS WICAKSANA! LETAKKAN SENJATA ANDA! KAWASAN INI SUDAH DIKEPUNG TOTAL! TIDAK ADA JALAN UNTUK LARI!"

Suara megafon polisi memecah deburan ombak. Ratusan moncong senjata api laras panjang terkunci pada puncak mercusuar.

Aris berdiri di balkon tertinggi mercusuar. Tubuhnya compang-camping, darah mengering di berbagai luka di tubuhnya, dan matanya yang cekung memancarkan kegilaan yang sudah mencapai batas puncaknya. Ia memegang sebuah botol kaca berisi bahan bakar dan sebuah pemantik api di tangan lainnya. Di pinggangnya, terselip belati yang selalu ia asah.

Ia melihat ke bawah. Ratusan polisi, lampu sorot, dan anjing pelacak menunggunya. Ia tahu, kali ini tidak akan ada pintu ventilasi yang terbuka. Tidak ada sipir yang bisa disuap. Ini adalah akhir dari labirin pelariannya.

Sebuah tawa yang melengking, hancur, dan mengerikan keluar dari tenggorokan Aris, terbawa angin laut yang kencang.

"Kalian pikir bisa memenjarakanku lagi?!" teriak Aris dengan suara parau yang memecah langit senja. "Kalian tidak akan pernah bisa mengurung angin! Kalian tidak akan pernah mendapatkan kepuasan untuk melihatku membusuk di balik jeruji besi!"

Aris menatap ke langit, membayangkan wajah Devina untuk terakhir kalinya—bukan dengan cinta, melainkan dengan obsesi yang telah merusak seluruh jiwanya.

"Jika aku tidak bisa memilikimu, Devina... maka tidak ada satu pun hukum di dunia ini yang boleh memilikiku!"

Sebelum tim taktis sempat merangsek naik untuk melumpuhkannya, Aris membuang pemantik apinya. Dengan sebuah senyuman mengerikan yang dingin dan tanpa penyesalan, ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Aris menjatuhkan dirinya ke belakang, terjun bebas dari ketinggian puluhan meter menuju lautan karang yang tajam di bawahnya.

****

Kabar tewasnya Aris sampai ke telinga Devina saat ia sedang duduk di ruang keluarga apartemennya, menggenggam cangkir teh hangat dengan tangan yang masih sering bergetar jika teringat malam resepsi. Gavin masuk ke dalam ruangan dengan langkah perlahan, lalu duduk di samping istrinya.

"Dia sudah tiada, Dev," ucap Gavin dengan suara yang sangat dalam dan penuh kelegaan. "Aris bunuh diri saat penyergapan di mercusuar utara. Semuanya... benar-benar sudah selesai sekarang."

Devina tertegun. Cangkir teh di tangannya diletakkan perlahan di atas meja. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar. Kemudian, setetes air mata jatuh membasahi pipinya—bukan air mata duka, bukan pula ketakutan. Itu adalah air mata kelegaan murni yang membasuh seluruh sisa-sisa racun trauma yang selama ini mengendap di dasar jiwanya.

Devina memeluk Gavin dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya yang selama ini menjadi tameng terbaiknya. "Terima kasih, Tuhan... Terima kasih..." isak Devina.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Devina bisa memejamkan matanya dan tidur dengan sangat lelap tanpa harus terbangun karena mimpi buruk tentang bayang-bayang maut.

****

Waktu berlalu dengan cepat, membalut luka-luka masa lalu dengan kebahagiaan baru yang tumbuh subur. Satu tahun telah berlalu sejak malam berdarah di mercusuar tersebut.

Di halaman belakang rumah mewah keluarga Aryaga yang kini dipenuhi oleh tanaman bunga melati dan mawar yang tumbuh subur, suasana nampak sangat hangat. Bu Imroh yang kini tinggal bersama Gavin dan Devina duduk di kursi taman sambil tersenyum lebar, jemarinya lincah menggerakkan tasbih kayu dengan tenang. Tidak ada lagi ketakutan di wajahnya yang kini nampak jauh lebih segar.

Di atas rumput hijau yang bersih, Devina duduk beralaskan tikar piknik. Di pangkuannya, seorang bayi laki-laki berusia beberapa bulan sedang tertawa cekikikan saat Devina memainkan jari-jemari mungilnya.

Bayi itu bernama Erik Aryaga.

Erik memiliki sepasang mata elang yang tajam, hidung yang mancung, dan senyuman yang sangat khas—warisan genetik yang mutlak dari ayahnya, Gavin. Menatap wajah Erik adalah seperti menatap replika mini dari Gavin yang selalu memberikan rasa aman.

Gavin berjalan mendekat dari arah rumah, membawa nampan berisi camilan sore. Ia meletakkan nampan tersebut lalu duduk di samping Devina, merangkul bahu istrinya dengan penuh kasih sayang sementara tangan lainnya mengusap lembut pipi gembil Erik.

"Dia mirip sekali denganmu saat sedang serius seperti ini, Gavin," ucap Devina sambil mengecup kening putranya.

Gavin terkekeh, menatap Erik dengan binar kebanggaan seorang ayah. "Tentu saja. Dia adalah masa depan kita, Dev. Penerus yang akan menjaga senyumanmu saat aku menua nanti."

Mereka bertatapan, saling melempar senyum penuh cinta. Di kejauhan, burung-burung berkicau riang menyambut senja yang damai. Badai yang maha dahsyat telah benar-benar berlalu, meninggalkan pelangi kebahagiaan yang abadi bagi mereka yang berani bertahan memperjuangkan cahaya di tengah kepungan kegelapan.

T A M A T

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!