Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Nantikan kelanjutan cerita yaa🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twis G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 31
DING!
[Analisis target.....⏳]
[Menelusuri jejak energi, pola racun, dan simbol tersembunyi]
[Sinkronisasi data... 10%... 35%... 67... 100%]
DING!
[Hasil ditemukan]
Mata Yin Yin sedikit menyipit, namun ekspresinya tetap polos di luar.
"Katakan!"batin Yin Yin tenang.
DING!
[Identitas kelompok sekte naga hitam, salah satu organisasi bayangan di kota kekaisaran]
[Pembunuh bayaran dengan pencurian informasi tingkat tinggi]
[Menjalankan misi dari salah satu putra gubernur di kota kekaisaran untuk menyelidiki asal usul roti gandum madu]
[Tujuannya mendapatkan resep dengan cara membeli dengan harga murah, memaksa atau mencuri jika tidak di jual resepnya]
[Status misi, gagal]
Yin Yin terdiam cukup lama. Akhirnya, Dia mengetahui informasi tentang pembunuh bayaran itu. Namun, Dia masih bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa sampai ke Desa Shanyin. Padahal, desa ini sangat sulit di jangkau oleh orang luar, bahkan di peta pun tidak ada nama Desa Shanyin. Sungguh desa yang misterius.
Angin hutan berhembus pelan, mengerakkan ujung rambut Yin Yin.
"Sekte Naga Hitam? Hais! Masih ada juga sekte-sekte seperti itu di zaman ini," gumamnya dalam hati.
Tatapan Yin Yin perlahan menjadi lebih dalam. "Seorang anak gubernur sampai mengirim pembunuh hanya untuk sebuah resep roti? Berarti nilai sebenarnya dari roti gandum madu jauh lebih besar dari yang terlihat."
Sekilas, kilatan dingin melintas di mata Yin Yin.
"Bodoh, kalau hanya sekedar mencuri resep, mereka bahkan tidak mengerti cara pembuatannya."
Yin Yin menarik napas pelan, lalu menatap sekali lagi ke arah mayat pria itu.
"Lupakan. Aku tidak takut jika mereka mencuri resep itu, tapi jangan sampai mereka berani menganggu keluarga Yin atau Desa Shanyin."
Yin Yin lalu mengalihkan pandangan ke arah para pengawal bayangan.
"Terimakasih sudah menolongku, Paman-Paman," ucapnya pelan dengan nada lugu.
Salah satu pengawal mengangguk. "Sama-sama, kami kebetulan lewat jadi tak perlu sungkan."
Yin Yin tersenyum kecil. "Kalau begitu, aku akan pulang dulu Paman-Paman."
Pengawal itu menatapnya sejenak, lalu memberi isyarat halus untuk pergi. Dalam sekejap mereka menghilang.
WHUUSS!
Semua pengawal bayangan itu kembali melebur dalam kegelapan hutan.
Kini hanya tersisa Yin Yin seorang diri. Dia menatap ke arah langit yang mulai meredup
"Huh! Masalah mulai berdatangan, sepertinya aku tidak bisa terlalu santai lagi."
Dengan tenang, langkah kakinya berbalik. Yin Yin berjalan keluar dari hutan seolah tidak terjadi apa-apa. Tak lama kemudian, Dia tiba di depan rumah barunya. Lampu minyak di dalam rumah sudah menyala, cahaya hangatnya menembus celah jendela, memberikan kesa damai dan nyaman.
Yin Yin membuka pintu rumah perlahan, Dia melangkah masuk dengan tenang, seolah hanya benar-benar keluar sebentar.
Lin Mei Hua yang sedang merapikan barang langsung menoleh. "Yin Yin, kamu sudah kembali?"
Yin Yin tersenyum lembut "Iya, Ibu. Gergajinya sudah aku kembalikan."
Yin Guo Shan yang duduk santai ikut menyahut, "Baguslah. Lain kali jangan terlalu lama ya."
"Iya, Yah," jawab Yin Yin patuh.
Xiao Lan berlari mendekat. "Kakak! Cepat lihat kamarku! Besar sekali!"
Yin Chen juga menarik tangannya. "Kak! Kamarku dekat dengan kamar ayah dan ibu."
Lin Meli yang tak mau kalah, juga menarik tangan Yin Yin. "Kamarku juga! Kita tidur bersama ya malam ini!"
Yin Yin tertawa kecil, membiarkan dirinya ditarik oleh adik-adiknya.
"Baiklah, baiklah..."
Namun, di balik senyum hangat itu, pikirannya tetap dingin dan jernih.
"Hum! Anak gubernur, dan sekte Naga Hitam ya! Kalau mereka gagal sekali, mereka pasti akan mencoba lagi."
Langkahnya berhenti sejenak di ambang tangga, tatapannya sedikit menunduk.
"Kalau begitu, mari kita liat apa yang bisa kalian lakukan di desa Shanyin. Siapa yang memburu dan siapa yang diburu kita lihat saja nanti."
Kilatan tajam sempat melintas di matanya. Namun, dalam sekejap, tatapan itu kembali berubah menjadi wajah polos seorang anak kecil.
"Kakak Yin Yin, cepat!" panggil Lin Meli dari lantai atas.
"Iya, aku datang!"
Yin Yin pun berlari kecil menaiki tangga, menyatu kembali dalam kehangatan keluarganya.
Bersambung....